
SYDNEY
***Kamar tidur Chris dan Emma***
"Bangun Emma! Sudah waktunya makan siang!" panggil Chris sambil membelai pipi Emma dengan lembut.
Emma membuka matanya secara perlahan dan melihat wajah close up tampan Chris di hadapannya.
"Sudah waktunya makan siang?" Emma bertanya untuk memastikan, sambil mendekatkan pergelangan tangan kiri untuk melihat jelas jarum jam di jam tangannya.
"Iya, Emma. Kamu merasa lapar kan?" tanya Chris.
Emma memegang perutnya spontan. "Sedikit," jawab Emma saat memastikan perutnya memang terasa lapar.
"Ayo kita turun ke bawah," ajak Chris.
"Turun ke bawah? Kita berada di lantai berapa?" tanya Emma dengan wajah kebingungan.
"Lantai dua," jawab Chris sambil mengambil sepasang sandal rumah untuk Emma.
Emma turun dari tempat tidur dan memakai sandal. Emma tidak menyangka Chris menggendongnya hingga ke kamar tidur lantai dua. Padahal dirinya tidak merasakan tanjakan anak tangga dan masih tertidur pulas dalam gendongan Chris.
Chris menggandeng tangan Emma menuruni anak tangga. Rocky mengikuti mereka dari belakang.
Sepanjang perjalanan, Emma mengedarkan pandangannya saksama ke seluruh isi rumah besar Chris.
Mansion Watson lebih luas dibandingkan dengan rumah besar Chris, tetapi rumah Chris sangat nyaman dengan perabot modern perpaduan budaya timur dan barat.
Beberapa saat kemudian, Chris dan Emma sudah duduk di ruang makan. Dua pelayan wanita menghidangkan lauk pauk di atas meja.
"Rocky. Ayo makan bersama," ajak Emma.
"Terima kasih Nona Emma," jawab Rocky. Rocky duduk di kursi yang agak jauh dari sisi Emma dan Chris.
Pak Panca yang siap siaga berdiri di ruang makan dan mengawasi para pelayan menghidangkan makanan dengan teratur, segera memberi perintah ke pelayan wanita membawakan piring set untuk Rocky.
__ADS_1
"Wah! Ada rendang ayam!" ucap Emma dengan antusias.
Mata Emma berbinar-binar menatap satu piring rendang ayam, yang dihidangkan tepat di hadapannya.
"Tuan Chris memasak rendang ayam ini khusus untuk nyonya muda," ucap Pak Panca.
"Chris! Kamu bisa memasak?" tanya Emma.
"Masakan simpel saja. Ayo dicoba dan beri penilaian," jawab Chris.
Chris mengambil satu paha ayam rendang dan meletakkannya di atas piring Emma. Emma tersenyum kecil karena yakin Chris memperhatikan jenis makanan kesukaannya sewaktu makan bersama di Mansion Watson.
Bahkan daging ayam bagian paha yang paling disukainya juga diketahui oleh Chris. Satu piring ayam rendang masakan Chris semuanya berupa bagian paha ayam.
Setiap kali koki pribadi Mansion Watson memasak ayam rendang, sepasang paha ayam pasti disisihkan untuk Emma seorang saja. Tom, Dylan, dan Liam akan makan daging ayam bagian lainnya.
"Enak! Dagingnya empuk banget. Nilainya 100. Perfect! Aku bisa makan dua piring nasi," ucap Emma sambil mengacungkan jempol kanan ke Chris.
Chris tersenyum puas melihat Emma makan dengan lahap. Acara makan siang berjalan dengan lancar dan menyenangkan.
***
Chris mengajak Emma yang kekenyangan untuk berjalan santai mengelilingi taman di belakang rumah besar. Rocky mengikuti dari belakang dengan jarak yang cukup untuk memberi privacy bagi Chris dan Emma.
Beberapa pelayan dan tukang kebun yang berpapasan dengan Chris dan Emma, menyapa dengan sopan dan senyuman ramah. Emma menemukan sesuatu hal yang menarik mengenai para pelayan yang bekerja di rumah besar Chris.
Chris dan Emma duduk santai di bangku taman setelah berjalan santai selama dua puluh menit. Pepohonan dan bunga-bunga di taman membuat suasana sejuk, cantik, dan menyenangkan.
Kedua tangan Chris dan Emma masih saling bergandengan erat. Emma menoleh ke samping, menatap wajah tampan suaminya.
"Ada apa Emma?" tanya Chris dengan lembut.
"Chris! Kenapa rata-rata pelayan yang bekerja di rumahmu ini bisa Bahasa Indonesia?" tanya Emma penasaran.
Emma merasa terkejut karena para pelayan menyapa dengan bahasa yang sangat familiar dengannya. Bukan hanya itu saja, beberapa orang kepercayaan Chris juga asli berasal dari Indonesia.
__ADS_1
Semula Emma mengira Chris memilih membawa Rio ke Bali menemui rekan bisnis untuk memudahkan percakapan dan bernegosiasi, tetapi ternyata jabatan Rio memang sekretaris pribadi di Perusahaan Christian.
Pak Endy dan Pak Panca juga orang Indonesia asli sehingga membuat Emma semakin penasaran.
"Mama Owen asli Indonesia. Dia meninggal saat melahirkan Owen di rumah sakit. Ketika Owen mulai belajar bicara, aku sengaja mencari pelayan yang bisa Bahasa Indonesia agar Owen bisa fasih bahasa itu dan juga memahami kebudayaan ibunya," jawab Chris tanpa beban.
Chris berbicara jujur ke Emma. Bagi Chris, saling terbuka satu sama lain akan membuat hubungan suami istri bisa langgeng. Dari pada menutup-nutupi sehingga menimbulkan kecurigaan dan rasa tidak nyaman di kemudian hari.
Dugaan Chris sangat tepat karena Emma tidak pernah merasa cemburu ataupun tidak menyukai istri pertama Chris. Bahkan Emma merasa kagum karena wanita itu berkorban demi Owen. Sama seperti mamanya.
"Ternyata begitu. Di mana Owen? Aku belum melihatnya sejak tiba di sini," ucap Emma.
"Owen masih tinggal di asrama sekolah. Aku sudah meminta pengasuh membawanya pulang sabtu ini. Kalian bisa saling mengenal dekat di weekend," kata Chris.
"Baiklah," jawab Emma.
Emma masih mengingat jelas cerita Chris mengenai Owen saat mereka mengobrol di lounge Airport Ngurah Rai.
Sejak kecil Chris sendiri yang mengasuh Owen sehingga tidaklah mengherankan Chris bisa memasak.
Ketika Owen berusia enam tahun, Perusahaan Christian semakin berkembang dan mengharuskan Chris untuk melakukan perjalanan dinas ke luar negeri setiap waktu.
Oleh karena itu, Chris mencarikan seorang pengasuh untuk Owen dan mendaftarkan Owen ke sekolah yang mempunyai asrama. Di sana Owen ditemani pengasuh dan seorang bodyguard, yang disewa khusus oleh Chris untuk melindungi Owen.
***
Selamat malam readers tercinta. Semuanya hebat-hebat nih bisa nebak babang Chris masak untuk Emma 😍
Pertemuan Emma dan Owen di bab besok ya.
Terima kasih yang sudah memberikan vote dan dukungan lainnya, berupa like, hadiah, tips iklan, dan komentar positif🥰
LOVE YOU ALL
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE