
Sejak pertemuan di Restoran Italia, William tidak pernah mencari Emma dan anggota Keluarga Watson lagi.
William fokus bekerja di kantor dan sering lembur kerja. William ingin membuktikan kepada para pemegang saham bahwa dirinya masih layak menjabat CEO Perusahaan Pattinson.
William menggunakan waktu seminggu berpikir dan mengambil keputusan untuk masa depannya.
William memberitahu Hans bahwa dirinya bersedia dipindah tugaskan ke salah satu cabang perusahaan di Singapura selama satu tahun.
Hans sangat senang dengan hasil keputusan William. Hans berharap selama satu tahun ini William bisa melepaskan obsesinya yang berlebihan terhadap Emma dan mencari pasangan hidup yang cocok.
Sementara Jimmy masih menetap di Bali. Saudara sepupu Chris itu menyewa beberapa bodyguard untuk melindunginya. Jimmy sedang menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencana kedua.
***
Waktu berlalu dengan cepat. Tanpa terasa hari keberangkatan William ke Singapura tinggal dua hari lagi.
Kebetulan malam ini perayaan ulang tahun Perusahaan Watson di ballroom hotel bintang lima dan mengundang banyak rekan bisnis dari perusahaan lain.
Tentu saja Perusahaan Pattinson mendapatkan undangan. William meminta izin ke Hans untuk menghadiri acara perayaan ulang tahun Perusahaan Watson.
Semula Hans menolak keras permintaan William, tetapi William bersumpah tidak akan mengacaukan acara itu sehingga Hans mengabulkannya dengan perasaan was-was.
Hans membawa serta dua bodyguard ke sana untuk mencegah kemungkinan buruk yang terjadi apabila William tidak bisa mengendalikan diri.
***
Perayaan Ulang tahun Perusahaan Watson resmi dimulai saat ballroom hotel dipenuhi para tamu undangan.
Chris dan Emma memakai jas dan gaun berwarna putih yang serasi. Owen pun memakai jas putih dipadu dengan dasi kupu-kupu.
Dansa pertama di ballroom dilakukan oleh Chris dan Emma. Sepasang sejoli itu menari dengan indah mengikuti alunan musik. Senyuman menghias di bibir Emma tanpa berhenti.
Sementara di salah satu sudut ruangan, William menatap Emma tanpa berkedip. William akui dalam hati kecilnya bahwa Emma yang sekarang terlihat lebih ceria, cantik, dan bahagia.
Sepasang mata Emma hanya fokus kepada Chris saja membuktikan wanita muda itu sangat mencintai suaminya.
Kemesraan Emma dan Chris membuat hati William semakin terluka. Bahkan gelas anggur di tangannya digenggam dengan erat.
Gerak gerik William dilihat jelas oleh Rocky, yang mengawasi William sejak pria itu berada di ballroom. Akan tetapi, Rocky belum mengambil tindakan apapun karena Hans terlihat lebih waspada dan mengawasi William dengan ketat.
Dua bodyguard Hans sudah bersiaga di sisi kiri dan kanan William untuk mencegah William mengacaukan acara malam ini.
Chris mengantarkan Emma ke tempat duduk mereka semula setelah selesai berdansa.
"Emma! Kamu pasti sudah lapar. Aku ambil makanan untukmu.Tunggu di sini ya," kata Chris.
"Oke!" jawab Emma sambil tersenyum.
Chris saling bertatapan dengan Rocky terlebih dahulu dan memberi isyarat mata agar Rocky menjaga Emma, sebelum menuju meja buffet untuk mengambil makanan.
Emma mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dylan dan Tom sedang berbincang dengan rekan bisnis, sedangkan Liam berbincang dengan Jack.
"Sejak kapan Kak Liam dekat dengan Jack?" batin Emma.
Emma merasa heran Liam yang pendiam bisa mengobrol dengan Jack yang dingin. Biasanya Liam hanya akan berbicara panjang lebar mengenai hal yang berhubungan dengan pekerjaannya sebagai dokter.
Malam ini Alana tidak datang karena sakit. Tom meminta Chris mengundang Jack secara pribadi sehingga Jack datang sebentar, lalu pulang menjenguk Alana.
"Mungkin Jack menanyakan tentang Alana," batin Emma.
Emma tahu Alana sedang dirawat di rumah sakit Medical Health, tetapi Alana melarangnya untuk menjenguk. Emma menghormati privacy Alana dan hanya mengirimkan keranjang buah serta ucapan semoga cepat sembuh ke rumah sakit.
"Sepertinya ada yang kurang!" batin Emma sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling lagi.
"Emma!"
__ADS_1
Emma menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya. William berdiri dan menatap Emma sambil tersenyum.
"Ada apa CEO William?" tanya Emma dengan nada datar.
Malam ini banyak rekan bisnis dari perusahaan lain yang hadir, termasuk wartawan majalah Sunshine dan majalah Kiss. Emma tidak mau dirinya menjadi berita besar di internet maupun majalah besok pagi.
Oleh karena itu, Emma menjawab sapaan William dengan nada datar, seolah-olah berbicara dengan orang asing.
"Lusa aku pindah tugas ke Singapura selama satu tahun," jawab William.
Emma diam tanpa memberi reaksi apapun. Hasil keputusan meeting internal ini sudah diketahui oleh Emma beberapa waktu yang lalu. Emma tidak mengerti mengapa William mengatakannya lagi.
"Aku harap kamu bisa bahagia!" lanjut William.
"Tentu saja! Aku sangat bahagia bersama Chris!" jawab Emma spontan.
"Jika satu tahun lagi kamu bercerai, apakah kamu bersedia bersamaku lagi?" Perkataan yang sudah di ujung mulut William tidak terucapkan karena pandangan Emma teralihkan ke arah lain.
Senyuman lebar menghias di sudut bibir Emma saat melihat Chris datang membawakan piring makan.
Chris duduk disamping Emma dan memberikan garpu ke tangan Emma. "Makanlah, honey!" kata Chris.
Emma menganggukkan kepala dan mencicipi spaghetti di piringnya. Chris tersenyum kecil dan menatap intens Emma menyantap makanannya. Sesekali Chris mengelap sudut bibir Emma yang terkena saus spaghetti.
Sepasang sejoli itu saling berinteraksi satu sama lain dan melupakan William yang masih berdiri di sana.
William membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju tempat Hans berada dengan lesu. Saat ini William sadar dirinya sudah kalah sepenuhnya.
Hubungan Emma dan Chris sangatlah erat. Bahkan terlihat jelas Emma sangat bergantung ke Chris sehingga kemungkinan mereka bercerai sangat minim.
Hans menarik napas lega melihat William berhasil mengendalikan kemarahannya dan menepati janjinya. Tadi William meminta izin untuk berbicara sebentar dengan Emma.
"Papa! Ayo kita pulang ke mansion!" ucap William.
"Baiklah," jawab Hans.
"Emma! Wil mengganggumu lagi?" tanya Tom.
Emma tertawa kecil melihat wajah khawatir Tom dan Dylan.
"Enggak, Pa!" jawab Emma.
"Apa yang dikatakannya tadi?" tanya Dylan.
"Dia bilang mau pindah tugas ke Singapura satu tahun," jawab Emma.
"Benarkah, Rocky?" tanya Tom dan Dylan bersamaan.
"Benar!" jawab Rocky dengan pasti.
"Jadi Wil pergi begitu saja," gumam Tom.
Tom mengira William akan menggila seperti biasanya. Dylan pun sepemikiran dengan Tom sehingga mereka berdua segera menghampiri Emma.
"Dia tahu sudah kalah," ujar Chris dengan nada datar.
Sebagai sesama pria, Chris bisa membaca ekspresi kekecewaan mendalam di wajah William tadi.
"Baguslah! Awas kalau dia masih berani mengganggu Emma lagi!" ucap Tom.
"Papa! Kak Dylan! Ayo kita makan bersama!" ajak Emma.
Emma tahu Tom dan Dylan masih belum makan sejak acara dimulai.
Tom dan Dylan menuju meja buffet untuk mengambil makanan. Emma melanjutkan menyantap spaghetti nya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Tom dan Dylan sudah bergabung dan mencicipi makanan yang tersaji di piring mereka.
"Papa! Kak Dylan! Di mana Owen?" tanya Emma.
Sewaktu Emma dan Chris dansa pertama, Owen masih berada di sisi Tom. Akan tetapi, sekarang Owen tidak terlihat di sekitar Tom maupun Dylan.
"Owen!" Dylan dan Tom pun mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Mungkin Owen di toilet! Aku cari ke sana!" ucap Chris sambil berdiri dari kursi dan berjalan cepat menuju toilet cowok.
Tom dan Dylan makan dengan perasaan tidak tenang. Begitupun juga dengan Emma. Spaghetti yang masih tersisa tiga suap tidak dihabiskan olehnya.
Sepuluh menit berlalu dan Chris masih belum kembali sehingga Emma menyusul ke toilet cowok diikuti Rocky.
***
Rocky masuk ke toilet cowok dan memeriksa setiap kamar toilet dengan saksama. Tidak ada sosok Chris maupun Owen di sana.
Emma segera menelepon handphone Chris. Firasat buruk menghantui pikiran Emma saat ini.
"Emma!" panggil Chris saat menerima sambungan telepon.
"Kamu di mana Chris? Owen ketemu?" tanya Emma dengan suara bergetar.
"Aku di ruang cctv hotel. Kamu tunggu aku di dalam ballroom ya," ucap Chris dengan suara lembut.
"Baiklah," jawab Emma.
Emma berjalan menuju ballroom hotel dan duduk di tempat semula. Emma menyadari wajah Tom sangat tegang, sedangkan Dylan tidak ada di sana. Bahkan Liam dan Jack pun menghilang dari ballroom.
"Papa!" panggil Emma dengan mata berkaca-kaca.
"Tenang Emma! Kita tunggu mereka!" ucap Tom sambil menepuk punggung tangan Emma dengan lembut.
Emma menganggukkan kepala pelan. Lidahnya terasa kelu untuk mengatakan apa yang tersirat di pikirannya saat ini. Emma hanya berharap dugaannya salah total.
Lima belas menit berlalu dan terasa sangat lama. Chris, Dylan, Liam, dan Jack menghampiri meja tempat Emma dan Tom berada.
Chris menggenggam erat tangan Emma. Hati Chris terasa sakit karena tangan Emma sangat dingin. Chris yakin Emma khawatir dan ketakutan saat ini.
"Honey! Kamu dan papa pulang ke mansion ya," ucap Chris.
"Pulang? Kamu? Kamu dan Owen?" tanya Emma.
Walaupun pertanyaan Emma tidak jelas, tetapi Chris mengerti maksudnya.
"Tenang, Emma! Aku dan Jack pasti akan menemukan Owen," janji Chris.
Emma memeluk Chris dengan erat. "Chris! Kamu harus menemukan Owen!" ucap Emma dengan suara serak.
"Pasti, Emma! Kamu tunggu kabar baik di mansion," jawab Chris sambil menepuk punggung Emma dengan lembut.
Emma melepaskan pelukannya dengan cepat. Emma tahu prioritas utama Chris sekarang adalah menemukan Owen secepatnya.
"Papa! Ayo kita pulang!" kata Emma.
"Aku dan Liam sudah menghubungi bala bantuan untuk mencari Owen," kata Dylan.
***
Selamat malam readers. Bab ini sudah panjang, hampir dua bab.
Jangan lupa baca kelanjutan cerita besok ya. Mudah-mudahan besok bisa tamat, jika kehaluan author ga berkepanjangan lagi 😅😁😁
TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE