
***Perusahaan Pattinson***
"Masuk!" perintah William dari dalam ruang kerja saat mendengar suara ketukan dari luar.
Gibson, sekretaris pribadi William berjalan menghampiri meja kerja.
"Ada apa?" tanya William.
"Maaf mengganggu,Tuan William. Nona Sisi dan Nona Mimi ingin menemui Tuan William!" lapor Gibson.
William sudah memberi pesan ke Gibson sebelumnya untuk menemuinya jika kedua model itu datang.
"Antar mereka ke ruanganku sekarang juga!" perintah William.
"Baik, Tuan William!" jawab Gibson patuh.
Beberapa saat kemudian, Gibson membawa Sisi dan Mimi masuk ke dalam ruang kerja William.
"Tuan William!" sapa Sisi dan Mimi bersamaan.
"Duduklah!" perintah William.
Sementara Gibson keluar dari ruang kerja William agar tidak mengganggu privacy bos nya. Lagipula William tidak meminta Gibson untuk tinggal sehingga sekretaris pribadi itu berinisiatif keluar.
"Bagaimana?" tanya William tanpa basa-basi.
"Tuan William. Semua foto barang belanjaan Nona Emma ada di dalam usb ini," jawab Mimi sambil meletakkan satu buah usb ukuran kecil ke hadapan William.
Foto-foto dari galeri handphone milik Mimi sudah dipindahkan semuanya ke dalam usb agar William bisa melihatnya lebih saksama.
"Semua foto di handphone ku sudah terhapus," lanjut Mimi.
William menganggukkan kepala dan mengalihkan perhatiannya ke Sisi.
"Tuan William. Semua pembicaraan Nona Emma dan temannya sudah terekam di kedua alat ini. Semuanya asli dan kita tidak ada menyimpan copy an nya," kata Sisi.
William mengambil kedua alat perekam dan juga usb dari atas meja kerja, lalu menatap intens Sisi dan Mimi.
"Mereka berdua gadis yang pintar," batin William.
Sikap profesional serta kejujuran Sisi dan Mimi membuat William puas. William tidak mau rekamanan maupun foto yang disetor masih ada copy an nya di tangan kedua gadis muda itu, yang mana bisa menjadi boomerang bagi William suatu saat nanti.
Mungkin saja Sisi dan Mimi akan menggunakannya untuk memeras William ataupun ketahuan oleh Keluarga Watson suatu saat nanti sehingga akan merugikan William.
"Kalian boleh pergi sekarang! Jika hasilnya bagus, kalian akan mendapat bayaran tinggi!" ujar William.
"Terima kasih Tuan William!" ucap Sisi dan Mimi. Senyuman lebar menghias di sudut bibir kedua gadis muda itu.
__ADS_1
William melihat jelas senyuman itu sehingga yakin rekaman audio ataupun foto-foto yang didapatkan oleh Sisi dan Mimi pasti berguna untuknya.
Sisi dan Mimi meninggalkan ruang kerja William dengan cepat. William pun tidak menyia-nyiakan waktu untuk memeriksa rekaman audio dan foto-foto di usb.
William memasangkan usb ke laptopnya. Beberapa saat kemudian, muncul beberapa file foto. William memperbesar size foto itu agar bisa melihat lebih jelas.
"Pakaian anak dan aksesoris. Pasti untuk anak tiri yang menyebalkan itu!" batin William.
Saat William melihat foto kemeja pria, celana, dan dasi kerja, William tidak bisa menahan rasa kecemburuannya.
"Seharusnya Emma membelikan pakaian untukku, bukan pria sialan itu!" ujar William.
William mengangkat telepon kantor yang berada di atas meja kerjanya dan menelepon Gibson.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan William?" tanya Gibson saat mengangkat telepon.
"Satu jam ke depan aku tidak mau diganggu oleh siapa pun!" perintah William.
"Baik, Tuan William!" jawab Gibson.
William mengambil salah satu alat perekam setelah meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya. Pria angkuh itu menekan tombol play dan mendengarkan dengan saksama percakapan Emma dengan Alana.
William tidak peduli mengenai apa hubungan Jack dan Alana, yang didengarnya dari rekaman. Fokus dan pendengaran William sepenuhnya dipusatkan ke suara Emma yang jernih dan merdu.
Ketika rekaman audio diputar hingga percakapan Emma dan Alana di ruangan pakaian pribadi wanita, senyum lebar mengembang di sudut bibir William.
Kedua isi rekaman sama dan sangat jelas. Suasana hati William menjadi sangat baik saat menekan tombol stop di kedua rekaman audio itu.
"Ha ha ha! Keberuntungan berada di pihakku! Emma belum berhubungan mesra dengan pria itu!" ucap William dengan semangat.
"Tetapi mereka akan melakukannya saat pindah ke rumah baru. Aku harus mencegahnya!"
William berbicara dengan dirinya sendiri seperti orang gila. Rahasia Emma membuat William yakin dirinya masih mempunyai kesempatan untuk merebut Emma dari sisi Chris.
William mengambil handphone miliknya dari atas meja nakas dan menelepon Jonathan.
"Halo, Will! Ada apa mencariku?" tanya Jonathan.
"Jo! Tolong carikan beberapa wanita mu yang pintar seperti Sisi dan Mimi. Aku bersedia membayar mahal!" jawab William.
"Tidak masalah, Will! Aku pasti membantumu. Wanita-wanita pilihanku cantik dan pintar. Mereka tidak kalah dengan pelayanan Sisi dan Mimi di atas tempat tidur," ucap Jonathan ceplas-ceplos.
"Jo! Kamu salah mengerti maksudku!" kata William dengan ketus.
"Salah? Bukankah kamu sudah move on dari Emma dan ingin memulai lagi petualangan casanova seperti dulu?" tanya Jonathan.
"Bukan! Aku ingin mereka menguntit Emma!" jawab William.
__ADS_1
"Oke, oke! Tunggu kabar baik dariku!" jawab Jonathan.
William mengangkat telepon di atas meja kerja dan memanggil Gibson ke ruangannya setelah menutup sambungan telepon.
"Gibson! Batalkan jadwalku dua jam ke depan! Aku mau keluar sebentar!" perintah William.
"Baik, Tuan William!" ucap Gibson.
Gibson merasa heran melihat suasana hati William yang berubah menjadi sangat baik. Padahal sejak tadi pagi, mood William sangat buruk dan banyak karyawan yang menjadi samsak kemarahan William.
William menyetir sendiri mobil mewahnya menuju Mansion Watson untuk menemui Emma. William yakin Emma pasti berada di mansion sekarang, setelah pulang dari Butik Athena.
***Mansion Watson***
Emma, Tom, dan Owen sedang menikmati cake es krim yang dibeli oleh Emma di ruang makan.
Pak Gusti, kepala pelayan Mansion Watson berjalan menghampiri Tom.
"Tuan besar! Tuan William datang dan ingin bertemu Nona Emma!" lapor Pak Gusti.
"Bukannya masih jam kerja? Kenapa Will datang? Aku akan menelepon Hans
!" ujar Tom dengan ketus.
"Tidak perlu, Pa! Aku temui Will saja. Will tidak bisa macam-macam di daerah kekuasan Watson!" kata Emma.
"Kakek tenang saja! Owen akan temani Emma," ucap Owen.
"Baiklah," jawab Tom.
Walaupun Tom setuju dengan perkataan Emma, tetapi Tom tetap waspada. Tom memberi isyarat mata ke Pak Gusti sehingga kepala pelayan itu pun segera mengatur para bodyguard yang berjaga di mansion untuk melindungi Emma. Tentu saja Rocky sudah mengikuti Emma terlebih dahulu.
***
Selamat malam readers tercinta.
Gregetan nih sama si crazy Will 😅.
Spoiler: Tenang ya readers. William gak culik Emma koq, tetapi memang ada scene penculikan di cerita nantinya🤭.
Jangan lupa baca kelanjutan cerita besok ya.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1