SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA

SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA
BAB 34. Owen VS Will


__ADS_3

***Restoran Italia***


Emma, Owen, dan Rocky duduk di dalam restoran Italia untuk makan siang bersama setelah melakukan inspeksi satu sekolah untuk Owen.


Owen sedang mencicipi sup Ribollita, yang merupakan makanan khas Italia serta terbuat dari roti dan sayuran.


Sup Ribollita mempunyai rasa pedas yang nikmat. Owen memang sangat menyukai makanan rasa pedas sehingga sup Ribollita menjadi pilihan makanan pembuka yang tepat untuknya.



Sementara Emma dan Rocky memilih Bruschetta sebagai makanan pembuka.


Bruschetta adalah roti yang dioles dengan bawang putih, minyak zaitun, garam, lada, dan dipanggang agak kering. Untuk memberikan cita rasa, bruschetta pun ditambah dengan potongan tomat cherry, keju, dan sayuran. 


"Owen! Kamu suka sekolah tadi?" tanya Emma.


Sekolah swasta yang dipilih Emma ada tiga dan merupakan sekolah bilingual. Ketika mereka berangkat dari Mansion Watson, sekolah pertama yang dituju merupakan pilihan pertama yang terbaik dan paling bagus menurut Emma.


Mereka akan melanjutkan inspeksi dua sekolah lagi setelah makan siang.


"Aku suka sekolahnya. Semua pilihan Emma, aku suka!" jawab Owen.


"Kita punya banyak waktu hari ini. Selesai makan siang, lanjut inspeksi dua sekolah lagi. Owen bisa memilih salah satunya nanti," jawab Emma.


"Oke, Emma!" jawab Owen.


Owen menatap intens gerakan tangan Emma membuka termos hangat dan menuangkan air jahe ke tutup termos yang berupa cangkir.


Emma meneguk air jahe yang masih hangat itu dengan perlahan. Senyuman tipis menghias di bibir gadis muda itu saat mengingat kejadian tadi pagi di Mansion Watson.


Emma memang sengaja membawa serta termos penghangat dari Chris, yang membuatnya merasakan seolah-olah Chris juga berada di sisinya sepanjang waktu.


Sebenarnya Emma ingin melanjutkan inspeksi sekolah kedua karena jaraknya dekat, sekitar 20 menit. Akan tetapi, sms dari Chris yang meminta Emma lunch duluan membuat gadis muda itu menuruti perkataan Chris.


Emma mengubah jadwal pertemuan dengan pengurus sekolah kedua menjadi jam dua siang sehingga rombongannya memiliki waktu yang cukup santai untuk menikmati lunch bersama.


"Emma! Perutmu masih sakit?" tanya Owen dengan wajah khawatir.


Owen mengingat jelas peringatan Chris tadi pagi agar dirinya tidak nakal dan bandel saat inspeksi sekolah karena Emma sedang sakit perut.


Owen yakin minuman yang sedang dinikmati Emma pastilah minuman buatan Chris karena ketika dirinya sakit, Chris juga akan memasak makanan dan minuman untuknya sehingga rasa sakitnya berkurang.


"Masih sedikit. Air jahe ini sangat membantu," jawab Emma jujur.


"Emma! Nanti kita inspeksi satu sekolah saja. Aku pilih salah satu dari dua sekolah itu dan kita bisa pulang ke Mansion Watson dengan cepat," usul Owen.


"Baiklah, Owen!" jawab Emma.


Emma tidak menolak niat baik Owen agar dirinya bisa beristirahat di Mansion Watson lebih awal.


Beberapa saat kemudian, pelayan restoran menghidangkan makanan utama ke meja rombongan Emma.


Spaghetti Bolognese untuk Owen, Steak sapi untuk Emma, dan Risotto untuk Rocky. Rocky memilih Risotto, makanan khas yang terbuat dari nasi karena nasi merupakan asupan karbohidrat yang bisa membuat Rocky kenyang dan bertenaga.


***

__ADS_1


"Emma! Kebetulan sekali bertemu di sini!"


Suara seorang pria membuat Emma yang sedang menunduk dan memotong daging steak sapi di piringnya, mendongakkan kepala.


Suasana hati Emma menjadi buruk saat melihat jelas wajah pria itu. Apa lagi saat pria itu tanpa merasa malu duduk di seberang Emma. Bahkan pelayan restoran menghidangkan steak sapi, makanan yang sama dengan Emma di hadapan pria itu.


Tentu saja pria tidak tahu malu itu adalah William. Hampir saja Emma melupakan sosok William yang masih eksis di Bali. 


Hari-hari bahagia yang dilalui.bersama Chris sejak menikah membuat Emma tidak ingat sama sekali dengan William, baik wajah maupun suara pria itu.


Emma, Owen, dan Rocky menatap William bersamaan. Hidangan lezat di atas piring mereka bertiga menjadi hambar karena kemunculan William. Rocky bersikap waspada mengawasi sekeliling restoran untuk memastikan siapa saja yang datang bersama William.


Rocky yakin kemunculan William bukan karena kebetulan semata. William pasti sengaja dan kemungkinan besar ada rencana lain lagi.


Rocky melihat Gibson, sekretaris pribadi William duduk di depan meja lain. Sepasang mata Gibson juga menatap intens meja makan rombongan Emma. Rocky yakin Gibson sedang menunggu perintah dari William.


"Siapa dia? Emma tidak suka padanya. Aku juga!" batin Owen.


Owen yang pintar dan peka bisa merasakan suasana hati Emma menjadi buruk karena kemunculan Owen. Bahkan tatapan William yang tidak terlepas dari wajah Emma membuat Owen kesal.


"Emma! Kamu tidak akan menolak teman lama bergabung makan siang bukan?" tanya William sambil memberikan senyuman terbaiknya.


"Silakan!" jawab Emma singkat.


Emma tidak mempermasalahkan William ingin bergabung untuk makan siang bersama, tetapi Emma masih mengingat jelas cara kotor  William menghancurkan perusahaan Chris sehingga Emma ingin mencari tahu apa tujuan utama William hari ini.


"Ayo makan spaghetti nya, Owen!" kata Emma sambil menepuk punggung tangan Owen dengan lembut


"Oke Emma!" jawab Owen patuh.


"Tenang Will! Kamu harus memberi penampilan terbaikmu di hadapan Emma. Keakraban Emma dan anak duda itu bukan masalah besar. Emma memang suka anak kecil. Lagi pula anak itu memanggilnya Emma dan bukan mama..Berarti hubungan pernikahan Emma bermasalah." batin William.


William memotong steak sapi di atas piringnya dengan cepat. "Emma! Steak sapi ini sudah aku potong semuanya!" kata William.


William mengangkat piringnya, dengan maksud untuk menukar piring Emma. Kebiasaan ini selalu William lakukan saat dirinya dinner bersama Emma setiap bulan. William ingin mengingatkan Emma akan kenangan mereka berdua.


"Tidak perlu, Will!" tolak Emma.


William tidak memedulikan penolakan Emma. Bahkan William sudah berdiri dari kursi agar mudah menjangkau piring Emma.


"STOP!" teriakan Owen membuat Emma, Chris, dan Rocky menatap ke arah putra Chris itu. Bahkan sebagian tamu yang sedang makan di Restoran, juga menatap Owen.


Owen berdiri dari kursinya dan menggunakan kedua tangan kecilnya mendorong piring Will.


"Ada apa adik kecil?" tanya William sambil menggertakkan giginya.


"Duduklah Will!" tegur Emma. 


William duduk di kursinya dengan perasaan enggan. William tahu Emma menegurnya karena mereka semua sedang berada di tempat umum dan menjadi pusat perhatian.


Jika anak kecil seperti Owen membuat masalah ataupun berteriak, tamu lain akan memakluminya dan memberi toleransi yang cukup. Akan tetapi, jika William yang membuat masalah maka bisa dipastikan akan menjadi berita viral di internet.


"Ada apa adik kecil?" tanya William sekali lagi, setelah duduk di kursinya.


"Om jahat! Mau menyakiti Emma!" jawab Owen dengan memperlihatkan wajah lugu khas anak-anak.

__ADS_1


"Bulls**t! Aku tidak mungkin menyakiti Emma!" ujar William.


Owen tertawa dalam hati kecilnya karena berhasil memancing kemarahan William. Bahkan William mengumpat dengan kata kasar.


"Emma percaya perkataanku, kan?" tanya Owen.


"Tentu saja aku percaya," jawab Emma sambil membelai kepala Owen.


"Emma! Kamu tidak percaya padaku?" tanya William. Wajah dan mata William merah karena terlihat jelas Emma lebih mempercayai Owen daripada dirinya.


"Tenang, Will! Dengar dulu penjelasan Owen!" ujar Emma.


"Kenapa Owen bilang dia akan menyakitiku?" tanya Emma ke Owen, sambil menunjuk Will.


"Emma! Dia ingin memberikan steak sapi yang bisa membuat sakit perut Emma semakin parah," jawab Owen dengan yakin.


"Lelucon apa ini? Steak sapi dengan tingkat kematangan medium ini adalah kesukaan Emma. Tidak mungkin membuat Emma sakit perut!" geram William.


William yakin tuduhan Owen sangat tidak masuk akal. Anak kecil itu pasti sengaja ingin merusak hubungannya dengan Emma.


"Om salah! Emma suka steak sapi dengan tingkat kematangan welldone! Lihat saja sendiri!" ucap Owen.


Owen mengangkat piring Emma dan memperlihatkan daging steak sapi itu ke William.


Wajah William menjadi pucat seketika saat melihat jelas welldone steak di piring Emma.


"Emma! Bukankah kesukaanmu medium steak?" tanya William. Pria muda itu masih saja tidak putus asa untuk membuktikan kebenaran pernyataannya.


"Aku suka welldone steak!' jawab Emma.


Note :


-Medium (Tiga Perempat Matang)


Butuh waktu 6 hingga 10 menit untuk memanggang masing-masing sisi daging sapi agar menghasilkan steak dengan tingkat kematangan medium. Meskipun tampak sudah matang, steak medium akan tetap bertekstur empuk dan lembut saat bagian tengahnya ditekan.


-Welldone (Matang Sempurna)


Bagian luar maupun dalam dari daging sapi dimasak hingga matang sempurna dengan durasi memasak kurang lebih 11 hingga 15 menit untuk setiap sisi daging. Namun, bagian tenderloin biasanya tidak dimasak hingga welldone karena justru akan membuat daging jadi kering dan teksturnya jadi keras.


Source : google.


***


Selamat malam readers. Crazy Will kena skakmat dari Owen nih 😂😂.


Nantikan kejutan lain di bab besok ya. Mudah-mudahan crazy Will gak kejang-kejang sampai mulut berbusa 🤭🤭.


Jangan lupa Vote nya readers tercinta 🥰🥰🥰


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE

__ADS_1


__ADS_2