SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA

SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA
BAB 35. Hadiah dari Will


__ADS_3

***Restoran Italia***


William diam seribu bahasa setelah mendengar jawaban pasti dari mulut Emma, tetapi hati kecilnya masih menganggap Emma memihak ke Owen sehingga gadis muda itu berbohong.


Jika saja William tahu penyebab Emma memilih welldone steak untuk makan siang hari ini, kemungkinan besar William akan mengamuk lagi.


Emma memilih welldone steak karena menuruti perkataan Chris. Saat Chris mengetahui Emma ingin memesan steak sapi, Chris menyarankan Emma untuk memilih welldone steak disebabkan Chris khawatir dengan sakit perut Emma akibat menstruasi.


"Ayo kita lanjut makan lagi," ucap Emma.


"Oke Emma!"


"Oke Nona Emma!"


Owen dan Rocky menjawab secara bersamaan. Mereka berdua sengaja makan dengan lahap dan tidak memedulikan William. Emma juga melanjutkan menyantap steak sapi yang sudah selesai dipotong olehnya.


Tiga menit kemudian, William melirik sekilas ke arah Emma. Gadis muda itu masih menikmati steak sapi dengan santai sehingga membuat William pun ikut menyantap medium steaknya, walaupun terasa hambar.


William ingin segera menyelesaikan makan siangnya sehingga bisa memberi Emma kejutan yang sudah dipersiapkan olehnya.


Dua puluh menit kemudian, Owen menikmati gelato cokelat yang merupakan hidangan penutupnya, sedangkan William memesan satu botol anggur merah dan meminta dua gelas wine kosong.


Pelayan restoran menuangkan anggur merah ke dalam dua gelas kosong itu. William memberi isyarat tangan ke pelayan restoran untuk mengantarkan salah satu gelas wine ke hadapan Emma.


"Emma! Cheers!" William mengajak Emma bersulang sambil mengangkat gelasnya sendiri.


"Maaf Will! Perutku masih sakit!" tolak Emma.


Emma sengaja menggunakan alasan sakit perut karena tidak mau bersulang dengan William. Emma tidak mau membuat William salah paham bahwa mereka berteman.


Emma sudah menganggap William sebagai musuhnya karena cara kotor pria itu menghancurkan perusahaan Chris.


Emma menduga William tidak balas dendam terhadapnya karena tidak berani menyinggung Keluarga Watson sehingga Chris menjadi sasaran empuk William.


Tindakan pengecut William membuat Emma memandang rendah pria tidak tahu malu di depannya saat ini.


"Emma masih marah padaku," batin William.


William masih saja terhanyut dengan pemikirannya sendiri sehingga yakin Emma masih marah karena perselingkuhannya dengan Lily.


William menikmati wine merah di tangannya, tetapi sepasang matanya menatap intens ke Emma.

__ADS_1


William merasa heran saat melihat Emma mencicipi minuman dari termos air hangat. Ekspresi wajah tenang dan bahagia Emma membuat William penasaran minuman apa yang bisa membuat suasana hati gadis muda itu menjadi begitu baik.


"Emma! Kamu minum apa?" tanya William tanpa basa basi.


"Air jahe," jawab Emma singkat.


"Air jahe," gumam William.


"Itu bukan air jahe biasa, Om! Air jahe itu buatan daddy. Sakit perut Emma berkurang karena air jahe itu," jelas Owen. Tentu saja dengan maksud memancing amarah William lagi.


"Sialan! Duda itu sangat pintar berakting! Sengaja cari perhatian dari Emma," batin William.


"Emma! Aku bisa membayar koki Michelin Star untuk memasak makanan apapun yang kamu suka," ucap William.


"Bilang saja Om gak bisa masak! Kalah jauh dari daddy!" tukas Owen.


Emma tertawa kecil mendengar ucapan polos dari Owen. "Benar, Owen! Daddy Chris yang terbaik," puji Emma.


Emma tidak memedulikan ekspresi wajah suram William. Gadis muda itu memanggil pelayan restoran untuk meminta bill makan siang agar bisa meninggalkan restoran dan William secepatnya.


"Aku yang traktir makan siang ini," kata William sambil mengeluarkan kartu kredit hitam miliknya.


"Terima kasih Om. Om tahu saja aku yang kepingin makan di restoran ini!" ucap Owen, mewakili Emma secara langsung.


"Mau ke mana sekretaris itu?"batin Rocky, yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik Gibson.


"Will! Kita pamit dulu. Aku masih ada janji penting dengan orang lain," kata Emma.


Emma mengambil termos air panas dari atas meja dan menggenggamnya erat. William menatap termos itu dengan penuh kebencian.


"Tunggu sebentar, Emma!"


William berteriak mencegah kepergian Emma. Bersamaan dengan itu, Gibson berjalan ke arah mereka sambil mendorong satu troli penuh berisi hadiah untuk Emma.


"Semua hadiah ini untukmu, Emma!" kata William.


Para tamu restoran lain pun memandang ke arah rombongan Emma, tepatnya di troli itu.


Troli itu berisi satu keranjang penuh bunga mawar merah import, kotak-kotak perhiasan bermerek, tas-tas branded, dan juga parfum mahal.


William mengambil salah satu kotak perhiasan dari troli itu dan berjalan mendekati Emma.

__ADS_1


Kotak kecil perhiasan itu dibuka oleh William, tepat di hadapan Emma. Sebuah cincin berlian yang besar dan indah. William mengeluarkannya dari kotak.


"Cincin ini paling cocok untukmu, Emma!" kata William.


Tangan Emma menghindar dengan cepat dari incaran tangan William. Emma tahu William ingin memaksa memakaikan cincin itu ke jari tangannya.


"Hanya cincin kawin ku yang akan melingkar di jariku!" ucap Emma dengan tegas.


"Ayo kita pergi Owen, Rocky!" ajak Emma.


Owen menggandeng tangan Emma dengan cepat, sedangkan Rocky berdiri di depan Emma untuk membuka jalan bagi nona muda nya.


"Emma! Bagaimana dengan semua hadiah ini?" tanya William.


"Aku amalkan untuk semua tamu restoran ini," jawab Emma tanpa ragu dan dengan suara yang lantang.


"Wah! Terima kasih Nona! Aku paling suka tas branded ini!"


"Aku suka kalung berlian ini!"


"Aku lebih memilih bunga mawar import!"


"Aku mau tas branded, gelang emas dan parfum ini!"


Beberapa tamu wanita menyerbu troli dan memilih barang kesukaan mereka setelah mendengar perkataan Emma.


Hal ini membuat rombongan Emma bergerak lebih leluasa meninggalkan restoran.


William mengejar rombongan Emma dengan cepat, sedangkan Gibson masih memegang troli dengan raut wajah bingung.


Sekretaris pribadi itu serba salah, apakah dirinya harus meninggalkan troli itu dan menyusul William atau membawa serta troli itu pergi. Meskipun barang-barang di dalam troli hanya tinggal sedikit saja.


"Lebih baik aku menyusul Tuan William!" tekad hati Gibson, setelah yakin baramg-barang di dalam troli tidak bisa diselamatkan olehnya lagi.


***


Selamat malam readers tercinta..Terima kasih Vote dan hadiah lainnya ya 🥰🥰🥰🙏🙏


Sampai ketemu di bab besok 🤗


SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2