SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA

SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA
BAB 76. Makan malam


__ADS_3

***Restoran Italia***


Tom dan Dylan tiba di Restoran Italia tepat waktu. Pelayan restoran mengantar mereka ke ruangan VIP yang sudah di pesan oleh William.


William tersenyum lebar menyambut kedatangan Tom dan Dylan. William memang sengaja datang lebih awal 30 menit untuk mengatur semuanya agar berjalan lancar.


"Om Tom! Kak Dylan!" sapa William.


Tom dan Dylan menjawab sapaan William dengan anggukkan kepala, lalu duduk di depan meja makan berbentuk persegi.


Tom dan Dylan duduk dengan tenang dan wajah tanpa ekspresi. Sewaktu di dalam mobil menuju Restoran, Tom dan Dylan sepakat menunggu William yang memulai pembicaraan karena mereka yakin ajakan makan malam ini ada niat terselubung dari William.


William memberi isyarat tangan ke pelayan restoran. Beberapa saat kemudian, pelayan restoran menyajikan 3 porsi steak sapi di atas meja makan. Bahkan satu botol anggur merah juga diletakkan di hadapan William.


William berdiri dari kursi dan menuangkan anggur merah ke dalam tiga gelas wine yang kosong.


"Om Tom! Kak Dylan! Aku memesan menu terkenal restoran ini. Silakan dicicipi!" kata William dengan ramah.


Baik Tom maupun Dylan tidak menyentuh pisau dan garpu di atas meja makan. William pun menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong steak sapi.


"Apakah Om Tom dan Kak Dylan mau pesan makanan lain?" tanya William.


William mengira Tom dan Dylan tidak menyukai steak sapi yang disajikan di hadapan mereka saat ini.


Tom memberi isyarat mata ke Dylan setelah mendengar pertanyaan William. Dylan menganggukkan kepala pertanda mengerti maksud Tom.


"Will! Katakan saja apa tujuan kamu mengundang kita makan malam!" ujar Dylan tanpa basa-basi.


William terkejut dengan perkataan Dylan. Saat ini William menyadari Tom dan Dylan bersedia menerima ajakan makan malam bersama karena mencurigai dirinya memiliki tujuan tertentu.

__ADS_1


Dugaan Tom dan Dylan yang sangat tepat ini menyebabkan pukulan besar terhadap batin William. William sadar reputasinya yang selalu dijaga dengan baik, sudah rusak di mata Keluarga Watson.


"Aku tahu Om Tom dan Kak Dylan sudah mengetahui kejadian beberapa hari yang lalu. Aku hanya ingin mengklarifikasikan bahwa semua yang aku lakukan itu demi kebaikan Emma," jelas William.


"Perbuatanmu merusak kebahagiaan Emma! Emma beruntung karena Chris bukan pria sepertimu!" ujar Dylan.


"Waktu itu aku khilaf. Percayalah! Di hatiku hanya ada Emma! Aku sangat mencintai Emma!" William berusaha membela diri.


"Semua sudah berlalu, Will! Emma sangat bahagia dengan Chris sekarang!" ucap Dylan.


"Wil! Jika kamu berani mengganggu Emma dan Chris lagi, bersiap-siaplah menerima konsekuensi dari Keluarga Watson!" ancam Tom.


"Om Tom! Chris bukan pria baik! Dia menipu Emma dan kalian selama ini!" teriak William.


Kemarahan William meluap seketika disebabkan Tom dan Dylan sangat membela Chris. Hal itu membuatnya iri dan tidak puas.


"Apa maksudmu?" tanya Dylan dan Tom bersamaan.


"Masuklah!" kata William di telepon, lalu mematikan sambungan telepon dengan cepat.


Tom dan Dylan spontan menoleh ke arah pintu masuk. Mereka berdua yakin orang yang ditelepon William merupakan tujuan William mengundang mereka makan malam bersama.


Pintu ruangan VIP terbuka dan Jimmy berjalan masuk ke dalam dengan perasaan penuh percaya diri.


Pada awalnya kesepakatan antara William dan Jimmy adalah William akan memanggil Jimmy setelah makan malam selesai, tetapi ternyata William meneleponnya lebih cepat sehingga Jimmy mengira semuanya berjalan lancar di sana.


"Jimmy Alexander!" batin Dylan saat melihat jelas wajah Jimmy.


"Senang berkenalan dengan kalian Mr. Tom Watson dan Mr. Dylan Watson. Perkenalkan, saya Jimmy Alexander!" sapa Jimmy sambil menjabat tangan Tom dan Dylan bergantian.

__ADS_1


Jimmy duduk di kursi yang masih kosong. Sepasang matanya melirik sekilas ke piring steak sapi yang masih utuh.


"Om Tom! Kak Dylan! Chris adalah anak haram Keluarga Watson. Jimmy adik sepupu Chris!" kata William.


"Ternyata dugaanku benar," batin Dylan.


"Anak haram?" batin Tom.


Tom menoleh ke arah Dylan. Ekspresi wajah Dylan sangat tenang sehingga Tom yakin Dylan sudah mengetahui berita ini.


"Keluarga Watson tidak pernah mempermasalahkan asal usul Chris. Kebahagiaan Emma prioritas utama!" ujar Dylan.


"Benar!" kata Tom.


"Tetapi Chris tidak sebaik yang dia tunjukkan. Jimmy! Ceritakan semua yang kamu tahu!" kata William.


Jimmy pun menceritakan versi cerita yang sama dengan yang diceritakannya ke William tadi siang. Tentu saja disertai foto.


Tom dan Dylan terkejut melihat bukti foto itu. Foto Jay yang terbaring di tempat tidur rumah sakit. Kedua kaki Jay diperban.


Dylan teringat akan informasi hasil penyelidikan Keluarga Alexander yang dibacanya. Jay Alexander memang dikabarkan stroke 8 tahun yang lalu sehingga Jimmy Alexander mengambil ahli posisi CEO Perusahaan Alexander.


Dylan tidak menyangka Jay stroke karena terjatuh dari tangga dan Jimmy menyatakan bahwa Chris lah yang mendorong Jay sehingga ayah kandung Chris itu jatuh dari atas tangga.


Dylan dan Tom termenung sambil berpikir keras. Berbagai pertanyaan muncul di pikiran mereka berdua.


"Apakah Chris sekejam itu terhadap ayah kandungnya?"


"Benarkah semua yang diucapkan oleh Jimmy?"

__ADS_1


"Bagaimana nasib Emma jika memang Chris pelakunya di masa lalu?"


William dan Jimmy tersenyum samar bersamaan. Mereka berdua bisa melihat jelas Tom dan Dylan mulai meragukan Chris.


__ADS_2