
***Ruang kerja William di Perusahaan Pattinson***
Suasana ruang kerja William menjadi sepi karena pria arogan itu masih termenung dalam waktu yang lama memikirkan langkah mana yang harus dia ambil agar tidak menyesal di kemudian hari.
Pikiran dan hati William sudah mulai goyah terhadap perkataan Hans. William sangat sadar bahwa tanpa Keluarga Pattinson mendukungnya, dirinya bukanlah siapa-siapa.
"Haruskah aku merelakan Emma?" batin William.
William menghela napas kasar. Saat dirinya memikirkan Emma, Perkataan Emma tadi terngiang terus menerus di sekelilingnya.
"Jangan panggil namaku lagi dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi!"
"Sadarlah, Will! Kamu bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan Chris! Aku tidak pernah menyukaimu! Never!"
"Emma tidak pernah menyukaiku selama ini!" gumam William.
William yakin Emma pasti sangat membencinya sekarang karena tindakan tidak terpujinya menjebak Chris serta berusaha menghancurkan perusahaan Christian dengan cara kotor.
"Benarkah tidak ada peluang lagi untukku mendapatkan Emma? Sebegitu perfect kah duda itu?" batin William.
William mengedarkan pandangan ke sekeliling. Meja dan kursi yang bergeser dari tempat semula akibat pukulan dan tendangannya tadi serta semua pecahan kaca yang berserakan di lantai membuat ruang kerjanya bagaikan kapal pesiar yang terhempas oleh badai.
Pantas saja tadi Hans mempertanyakan apakah dirinya masih waras atau tidak karena tindakannya sudah seperti pria gila dan bukan pria berpendidikan serta berstatus tinggi.
William mengambil telepon kantor dan menelepon Gibson.
"Halo Tuan William!"
"Panggil petugas cleaning service membersihkan ruang kerjaku!" perintah William.
"Baik Tuan William!" jawab Gibson dengan patuh.
Beberapa saat kemudian, Gibson datang bersama dua orang petugas cleaning service senior. Kedua pria itu membersihkan ruang kerja William dengan cepat, di bawah arahan Gibson.
Sementara William duduk di sofa panjang, tempat Owen duduk tadi sambil merokok cerutu. Sofa itu berada di salah satu area ruang kerja yang terhindar dari amukan William tadi.
Dalam waktu singkat, ruang kerja William bersih dan rapi seperti semula. Bahkan kotak P3K yang berada di atas meja kerja pun sudah tersimpan di dalam laci.
William duduk lagi di kursi kerja, sedangkan Gibson berdiri tepat di hadapannya.
"Ada apa lagi?" tanya William.
__ADS_1
"Maaf Tuan William. Ada tamu yang ingin menemui Tuan William. Ini kartu namanya!" jawab Gibson dan menyerahkan kartu nama yang sama persis dengan kartu nama yang diterima Dylan ketika di Sydney.
"Jimmy Alexander!" guman William.
William memainkan kartu nama itu di sela-sela jari tangannya. Nama Jimmy Alexander pernah didengarnya sehingga William berusaha mengingat kapan pastinya dirinya mendengar nama itu.
"Alexander! Iya! Keluarga Alexander!" batin William.
William membaca sekali lagi nama perusahaan di kartu nama itu dan memang tebakannya tepat.
Jonathan lah yang pernah menyinggung nama Keluarga Alexander saat William menyelidiki asal usul Chris.
Pada saat itu, Jonathan bercanda bahwa mungkin saja Chris ada hubungan dengan Keluarga Alexander di Amerika. Jika benar dugaan Jonathan, maka Chris merupakan saingan yang susah untuk dihadapi sehingga William pun menyelidiki Keluarga Alexander dan hasilnya membuat William lega karena tidak ditemukan nama Chris di dalam silsilah Keluarga Alexander.
Kedatangan Jimmy Alexander hari ini membuat William merasa was-was dan tidak tenang.
"Antar dia masuk!" jawab William.
"Baik Tuan William!"
***
"Hi Mr. William! Senang berkenalan denganmu!" sapa Jimmy saat berjabat tangan dengan William.
Walaupun pelafalan dan intonasi ucapan Jimmy tidak tepat, tetapi William yakin Jimmy bisa mengerti Bahasa Indonesia.
"Mr.Jimmy!" balas William.
William memberi isyarat tangan ke Jimmy agar duduk di kursi yang berada tepat di hadapannya.
Kedua pria beda negara itu pun duduk bersamaan. William mengamati Jimmy dari atas kepala hingga ujung kaki.
Penampilan Jimmy mengingatkan William akan sahabat baiknya, Jonathan. William yakin sifat Jimmy tidaklah jauh berbeda dari Jonathan yaitu casanova yang suka menebar pesona di hadapan para wanita.
Sepasang mata biru Jimmy membuat William semakin yakin Chris mempunyai hubungan spesial dengan Keluarga Alexander.
"Ada apa Mr. Jimmy mencariku?" tanya William tanpa basa-basi.
"Usia kita tidak terpaut jauh. Panggil saja aku, Jimmy!"
"Baiklah. Ada keperluan apa mencariku, Jimmy?" William mengulang pertanyaannya dengan nada tidak sabaran.
__ADS_1
Jimmy tersenyum samar mendengar nada bicara William. "Benar-benar pemarah!" batin Jimmy.
Jimmy tiba di Bali tadi pagi karena tidak berhasil bertemu dengan Dylan di Sydney.
Sewaktu di Sydney, Jimmy mendapatkan informasi bahwa William berusaha membuat Perusahaan Christian bangkrut, yang membuktikan William merupakan musuh Chris.
Oleh karena itu, Jimmy berinisiatif menemui William terlebih dahulu. Tentu saja dengan maksud mengajak William bersekutu dengannya melawan Chris.
"Aku sepupu Chris!" jawab Jimmy.
"Lalu?" tanya William.
"Aku tahu kamu membenci Chris. Kita bisa bekerjasama melawannya," jawab Jimmy.
"Dengan cara apa?" tanya William.
"Chris anak haram Keluarga Alexander. Kamu bisa menyebarkan berita ini, maka Keluarga Watson tidak akan mau menerima Chris sebagai menantu mereka lagi," jawab Jimmy dengan antusias.
"Walaupun Chris anak haram, Om Tom dan Dylan tidak akan melakukan apapun karena Emma menyukainya," batin Jimmy.
"Informasimu tidaklah cukup bagus untuk melawan Chris," jawab William.
"Bagaimana kalau aku bilang Chris berusaha membunuh ayah kandungnya?" tanya Jimmy sambil tersenyum licik.
"Membunuh ayahnya?" tanya William dengan wajah penasaran.
Jimmy pun menceritakan semuanya ke William.Wiliam mendengarnya dengan saksama. Semula William merasa ragu dengan perkataan Jimmy, tetapi Jimmy memperlihatkan bukti yang mendukung ceritanya.
"Emma tidak boleh menjadi istri pembunuh!" batin William.
***
Selamat malam readers.
Besok senin nih. Ditunggu vote nya ya menjelang cerita ini tamat.
Semakain penasaran kan? Apakah Jimmy berbohong atau?
See you tomorrow.
TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE