
***Ruang meeting Perusahaan Nicholas***
Sementara dari tempat Chris berdiri, dirinya melihat sekilas bandul yang menggantung di kalung Chris dan merasa terkejut karena bandul itu bukanlah milik Jack, tetapi berubah menjadi perhiasan perak berbentuk hati.
Chris pernah melihat bandul kalung milik Jack, yang merupakan sebutir peluru. Peluru dari pistol yang hampir merenggut nyawa Jack sehingga Jack menjadikannya sebagai jimat keberuntungan dan selalu dipakai oleh Jack dengan menjadikannya bandul kalung.
"Apakah bandul peluru Jack diberikan ke Alana?" duga Chris di dalam hatinya.
"Bye Chris!" ucap Jack, disertai senyum kemenangan di sudut bibirnya.
Alana berpamitan dengan cara menganggukkan kepala ke Chris. Chris membalas angukkan kepala Alana.
Tiga orang yang ditinggalkan di ruang meeting menatap punggung Jack dan Alana yang mulai menghilang di balik pintu. Beberapa pertanyaan muncul di pikiran Chris dan Rio disebabkan interaksi sepasang sejoli yang baru saja pergi.
"Ron. Nona Alana pacarnya Jack?" tanya Chris, sekadar untuk memastikan.
"Iya, Tuan Chris. Tuan Jack dan Nona Alana bertemu di club," jawab Ron jujur.
Chris tahu club yang dimaksud Ron adalah club milik Jack yaitu Vallkyrie Club. Jack memang sering berada di sana setiap malam, bahkan salah satu ruangan menjadi kamar tidur Jack.
"Tetapi kelihatannya Nona Alana menjaga jarak dengan Tuan Jack," ucap Rio dengan hati-hati.
"Cepat atau lambat, Jack pasti bisa mendapatkan hati Alana," jawab Chris yakin.
Ron pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. Baik Chris maupun Ron mengenal jelas karakter Jack yang pantang menyerah.
Jika Jack sudah memastikan Alana adalah wanitanya, maka Alana tidak akan pernah bisa lepas dari cengkeraman Jack.
"Tuan Chris. Mari aku antar inspeksi setiap departemen Perusahaan Nicholas," ucap Ron dengan sopan.
"Terima kasih Ron," jawab Chris.
Mereka bertiga meninggalkan ruang meeting bersamaan.
***Perusahaan Pattinson***
Hari ini suasana hati William sangat baik. Saat ini William berada di ruang kerjanya setelah meeting pagi selama satu jam.
William membaca dokumen dengan wajah semringah. Sesekali matanya menatap handphone yang berada di atas meja kerja. William sedang menunggu panggilan telepon.
Suasana hati William begitu baik dikarenakan pria itu mengetahui kepulangan Emma ke Bali.
William menyewa detektif swasta untuk mengawasi Mansion Watson secara diam-diam dan dari kejauhan agar tidak ketahuan Keluarga Watson. William yakin jika Emma pulang ke Bali, gadis muda itu pasti akan mengunjungi keluarganya di sana.
Semalam William telah mendapatkan laporan kepulangan Emma sehingga meminta detektif swasta itu untuk mengawasi lebih saksama semua gerak-gerik Emma.
__ADS_1
William tidak mau bertindak gegabah menemui Emma di Mansion Watson karena pastinya akan dicegat oleh security dan juga Tom Watson.
William mencari kesempatan menemui Emma saat gadis muda itu keluar dari mansion dan berada di tempat umum.
Beberapa saat kemudian, panggilan telepon yang ditunggu oleh William datang. William segera mengangkat telepon itu.
"Bagaimana? Emma sudah keluar dari Mansion Watson?" tanya William dengan antusias.
"Tuan William. Nona Emma baru saja keluar bersama seorang anak laki-laki dan seorang bodyguard," jawab Tono, detektif swasta yang disewa William.
"Anak kecil? Pasti anak duda itu!" batin William, sedangkan identitas bodyguard Emma, William yakin itu adalah Rocky.
"Bagaimana dengan pria itu?" tanya William.
Tono mengerti pria yang di maksud oleh William adalah Chris, suami Emma.
"Pagi-pagi pria itu sudah dijemput pergi, tetapi pulang lagi untuk menemui Nona Emma sebentar dan pergi lagi," lapor Tono.
"Apa yang dia lakukan sama Emma?" tanya William penasaran. Ada firasat buruk menghantui pikiran William saat ini.
"Aku sudah memotretnya," jawab Tono.
"Sebutkan harga foto itu. Aku akan membayarnya!" ujar William.
"Cuma satu foto saja, tetapi hasilnya sangat jelas. Harganya dua juta," ucap Tono.
"Aku transfer sekarang!" kata William.
"Terima kasih Tuan William," jawab Tono.
"Laporkan lengkap apa saja yang dilakukan oleh Emma saat ini!" perintah William.
"Sekarang mobil Nona Emma berhenti di salah satu sekolah swasta. Nona Emma dan anak kecil itu mengikuti pengurus sekolah masuk ke dalam sekolah," lapor Tono.
"Ikuti terus Emma. Share location tempat lunch Emma nanti," pesan William.
"Baik Tuan William," jawab Tono.
***
William meletakkan handphone di atas meja kerja setelah mengakhiri sambungan telepon dengan Tono dan mengirim dua juta ke rekening Tono melalui mobile banking.
"Emma ke sekolah swasta? Pasti mencari sekolah untuk anak duda itu. Apa maksudnya? Pria itu akan menetap di Bali atau meninggalkan anaknya untuk di asuh Emma?" batin William.
Kabar Chris akuisisi Perusahaan Nicholas tertutup rapat sehingga William tidak mengetahuinya sampai saat ini.
__ADS_1
Bunyi sms membuat William tersadar dari lamunannya. William mengambil handphone dari atas meja kerja. William yakin sms itu berasal dari Tono karena sudah menerima bayaran darinya.
Bruk!
William membanting handphone miliknya ke atas meja dengan keras saat melihat jelas foto yang dikirim oleh Tono.
Foto Emma dan Chris berciuman mesra melalui jendela mobil membuat amarah William meledak.
"Sialan!" umpat William.
Saat ini perasaan hati William tidak karuan perpaduan gelisah, khawatir, dan amarah. Ekspresi bahagia Emma saat berciuman dengan Chris membuat rasa percaya diri William untuk membuat Emma kembali ke sisinya menjadi goyah.
Pada awalnya William mengira Emma sengaja menikah dengan Chris untuk balas dendam perselingkuhannya dengan Lily sehingga Emma pastinya tidak ada rasa cinta ataupun menyukai Chris.
Foto mesra itu mengungkapkan kebenaran yang sangat ditakuti oleh William.
"Aku yang pantas menjadi suami Emma. Bagaimanapun caranya, aku akan merebut Emma!" ucap William sambil mengepalkan erat kedua tangannya.
William mengangkat telepon yang berada di atas meja kerja, lalu menekan satu tombol.
"Iya, Tuan William!" ucap Gibson, sekretaris pribadi William saat mengangkat panggilan telepon dari ruang kerja William ke telepon di meja kerjanya.
"Gibson! Ke ruanganku sekarang!" perintah William.
"Baik Tuan William!" jawab Gibson.
Beberapa saat kemudian, Gibson sudah berdiri di depan meja kerja William.
"Gibson! Batalkan semua meeting dan jadwalku hari ini!" perintah William.
"Baik Tuan William!" jawab Gibson.
William berjalan santai meninggalkan ruang kerja, diikuti Gibson. William membatalkan semua jadwal kerjanya untuk mempersiapkan kejutan ke Emma.
William berencana menemui Emma saat gadis muda itu makan siang di tempat umum. Oleh karena itu, William ingin membeli sendiri hadiah mahal dan cantik untuk Emma.
***
Selamat malam readers tercinta. Jangan ketinggalan pertemuan Crazy Will dan Emma di bab besok ya 👌.
HAPPY WEEKEND DAN BERKUMPUL BERSAMA KELUARGA.
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1