SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA

SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA
BAB 36. Nyamuk


__ADS_3

William berdiri di depan Restoran Italia sambil menatap mobil Ferrari merah yang lama kelamaan menghilang dari pandangannya.


William menunggu Gibson dengan kesal karena sekretaris pribadinya masih belum keluar dari restoran. Padahal Gibson yang menyetir mobil.


Walaupun begitu, William tidak khawatir dirinya tidak bisa mengejar Emma. Tentu saja dikarenakan Tono, detektif swasta yang disewanya masih menguntit mobil Emma dalam jarak aman.


Gibson berlari kecil keluar dari dalam Restoran Italia. Wajah Gibson menjadi pucat seketika saat melihat William berdiri di samping mobil sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Maaf Tuan William! Maaf!" ucap Gibson sambil membungkukkan badan 90 derajat ke William.


"Nyalakan mobil!" perintah William.


"Baik Tuan William!" jawab Gibson.


Gibson mengambil remote mobil dari saku celana, lalu menekan tombol untuk menyalakan mobil.


"Silakan Tuan Wiliam!" kata Gibson, saat membuka pintu mobil bagian penumpang.


Gibson menutup pintu mobil setelah William masuk ke dalam. Kemudian Gibson berlari kecil membuka pintu bagian kemudi dan duduk di depan stir mobil.


"Tuan William mau ke mana sekarang?" tanya Gibson.


William mengirim gps mobil dari Tono ke handphone Gibson.


"Ikuti sinyal gps itu!" perintah William.


"Baik Tuan William!" jawab Gibson.


Kali ini Gibson mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh agar bisa secepatnya menyusul lokasi gps itu.


Sementara William mengambil kotak humidor yang berada di mobil dan membukanya. Satu batang cerutu sudah berada di tangan kanan William.



William membuka laci penyimpanan dan mengambil pisau pemotong untuk memotong tutup di kepala cerutu. Setelah itu mengambil pemantik zippo dari laci yang sama dan menyalakan batang cerutu di tangannya.


William menikmati cerutunya dan menahan beberapa saat asap di dalam mulut untuk merasakannya, lalu buang keluar.


Matanya terpejam rapat memikirkan Emma. William menyadari gadis muda itu menjaga jarak dengannya, tetapi William tidak mau menyerah dan melepaskan Emma begitu saja.


***Di dalam mobil Ferrari merah***


Rocky fokus menyetir mobil menuju sekolah kedua yang akan di inspeksi oleh Emma dan Owen.


"Rocky! Will mengikuti kita kah?" tanya Emma.


Rocky memeriksa ke belakang sekali lagi melalui kaca spion mobil. "Tidak ada mobilnya di belakang mobil kita, Nona Emma!" jawab Rocky.


"Aku yakin Will pasti akan muncul lagi," batin Emma.


"Emma! Om tadi orang jahat?" tanya Owen secara tiba-tiba.


"Iya, Owen. Kamu harus berhati-hati terhadapnya," jawab Emma.

__ADS_1


"Aku akan melindungi Emma," ucap Owen dengan yakin.


"Thank you Owen. Rocky akan melindungi kita berdua," kata Emma.


Emma mengambil handphone dan menelepon Dylan untuk memberitahukan masalah Will. Emma yakin Dylan punya cara untuk menghalangi Will mengganggunya hari ini.


***Sekolah Swasta Bilingual***


Ketika Rocky membuka pintu mobil untuk Emma dan Owen, mobil William juga berhenti tepat di belakang mobil Ferrari merah.


William turun dari mobil dan segera menghampiri Emma.


"Emma! Kita sangat berjodoh hari ini!" ucap William.


Kebetulan pengurus sekolah sudah datang menghampiri Emma sehingga gadis muda itu menggandeng tangan Owen, mengikuti pengurus sekolah.


William dengan tidak tahu malu nya mengikuti rombongan Emma. Gibson pun mengikuti William dari belakang.


Selama 30 menit, William patuh dan tenang mengikuti inspeksi rombongan Emma. Sementara perhatian Emma, hanya fokus kepada Owen dan tidak memedulikan William.


Sekolah itu memiliki taman bermain yang luas sehingga Emma dan Owen duduk beristirahat di sekitar taman.


Emma merasa tidak nyaman karena William ikut duduk di dekatnya.


"Will! Kamu membuntutiku?" tanya Emma tanpa basa-basi.


"Iya. Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu," jawab William.


"Aku baik-baik saja. Kamu boleh pulang ke perusahaanmu sekarang," ucap Emma.


Gibson menghampiri William dan memberikan satu gelas teh manis hangat, yang dibelinya dari kantin sekolah, atas perintah William tadi.


"Emma! Kamu pasti haus. Minumlah!" ucap William sambil menyodorkan gelas teh manis hangat itu.


"Kamu minum sendiri saja. Aku minum air jahe," kata Emma.


Rocky memberikan termos air hangat yang berisi air jahe buatan Chris ke Emma. Sejak turun dari mobil, Rocky berinisiatif membawakan termos karena Rocky percaya air jahe di dalamnya bisa meredakan sakit perut Emma.


"Kamu suka air jahe? Aku akan meminta chef Mansion Pattinson membuatnya untukmu," kata William, untuk menutupi rasa kecewa di hatinya.


"Tidak perlu repot, Will. Suamiku akan membuatnya untukku!" ucap Emma.


"Dia tidak pantas menjadi suamimu!" ujar William dengan ketus.


William tidak bisa menyembunyikan rasa kekesalan dan kemarahan di hatinya lagi karena Emma mengakui Chris sebagai suami di hadapannya.


"Baguslah dia mulai marah! Aku harus membuatnya pergi!" batin Emma.


Seketika Emma teringat akan sesuatu sehingga gadis muda itu berpura-pura mengibaskan brosur sekolah yang berada di tangannya, ke bagian leher.


"Panas sekali!" ucap Emma.


Owen mengambil sapu tangan kecil dari saku bajunya dan memberikannya ke Emma.

__ADS_1


"Emma bisa lap keringat dengan sapu tangan ku," kata Owen.


"Thank you Owen," jawab Emma.


Beberapa saat kemudian, Owen melompat turun dari tempat duduk dan menunjuk leher Emma.


"Emma! Nyamuk di Bali lebih besar daripada di Sydney. Leher mu bengkak dan merah-merah. Lebih bengkak dibandingkan sewaktu di Sydney," ucap Owen dengan polos.


Tentu saja yang dimaksud oleh Owen adalah gigitan cinta yang ditinggalkan oleh Chris di leher Emma.


"Sakit gak?" tanya Owen dengan wajah khawatir.


"Tidak sakit, Owen!" jawab Emma sambil merapikan kerah bajunya dengan cepat.


Pipi Emma merona merah seperti tomat karena perkataan Owen membuatnya teringat malam pertama yang gagal semalam. Chris memang meninggalkan gigitan cinta yang lebih banyak dibandingkan saat mereka terganggu oleh kedatangan Owen ke kamar mereka di Sydney.


Emma memang sengaja ingin memperlihatkan kemesraannya bersama Chris ke William agar pria tidak tahu malu itu tidak mengganggunya lagi.


Sementara Rocky semakin bersiap siaga karena melihat jelas William mengepalkan erat kedua tangannya.


Gibson yang berdiri di samping William pun merasa takut bahwa William akan mengamuk dalam waktu dekat.


Suara dering handphone Gibson membuat sekretaris pribadi itu segera mengambil handphone dari kantong celana.


"Perusahaan Pattinson?" batin Gibson saat membaca nama yang muncul di layar handphone.


"Halo."


"........"


"Baiklah. Terima kasih pemberitahuannya."


Gibson menutup sambungan telepon dan menatap William dengan canggung.


"Ada apa?" tanya William ketus.


"Tuan besar datang ke perusahaan dan mencari Tuan William," jawab Gibson dengan hati-hati.


Senyum lebar mengembang di sudut bibir Emma secara spontan. Gadis muda itu yakin Dylan membantunya.


William pun melihat jelas senyuman di sudut bibir Emma, tetapi pria itu tidak merasa marah.


"Wanita pilihanku memang paling pintar!" batin William.


"Emma! Aku pulang dulu. Kita pasti akan bertemu lagi!" kata William.


***


Selamat malam readers tercinta. Jangan lewatkan kelanjutan cerita besok malam ya. Masa lalu Chris akan terungkap oleh Emma secara tidak sengaja.


Don't miss it!


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2