
***Mansion Pattinson***
William duduk di balkon kamar tidurnya sambil meneguk wine merah secara langsung dari botolnya. Pandangan matanya kosong ke arah bintang yang berkelap kelip di langit.
Pikirannya melayang ke ballroom acara perayaan ulang tahun Perusahaan Watson. Bayangan Emma dan Chris melakukan dansa pertama serta saat Emma mencicipi spaghetti yang diberikan oleh Chris terekam jelas di hati dan pikiran William.
Terdengar suara handphone William berbunyi memecahkan kesunyian malam ini. Akan tetapi, William tidak mau menerima panggilan telepon itu.
William ingin melalui malam panjangnya dalam kesendirian dan tidak diganggu oleh siapapun.
Dering handphone berhenti beberapa saat kemudian. William melanjutkan meneguk wine merah di tangannya. Suasana damai yang ingin dinikmati William terganggu lagi. Handphone berdering terus menerus tanpa henti.
"Ada apa Jo?" tanya William dengan ketus.
"Ada hot gosip, Wil! Owen, anak tiri Emma hilang!" jawab Jonathan dengan antusias.
"Anak tiri Emma? Owen?" batin William.
Seketika wajah Owen muncul di pikiran William.
"Hilang dimana?" tanya William.
"Di ballroom hotel. Anggota keluarga Watson menghubungi setiap tamu undangan untuk menanyakan apakah melihat anak laki-laki bernama Owen itu," jelas Jonathan panjang lebar.
"Apa hubungannya denganku?" tanya William kesal.
"Kamu kan masuk namelist orang pertama yang benci Chris!" jawab Jonathan.
William mematikan sambungan telepon dengan kesal. Walaupun perkataan Jonathan tidak salah, tetapi William tidak pernah mempunyai rencana jahat untuk menculik putra Chris.
"Apakah Emma juga sepemikiran dengan Jo?" batin William.
William membuka pintu balkon dan masuk kembali ke dalam kamar tidur.
Botol wine merah yang masih berisi setengah tidak menarik minat William untuk meneguknya lagi.
William berpikir keras siapa yang membenci Chris selain dirinya. William tidak mau menjadi kambing hitam dari perbuatan orang lain.
William tahu reputasinya sudah buruk di mata Emma dan Keluarga Watson sehingga kemungkinan besar Emma dan Keluarga Watson akan mencurigainya sebagai pelaku penculikan, seperti dugaan Jonathan.
"Jimmy! Dia masih di Bali!" teriak William spontan.
Satu hal terbesit di pikiran William sehingga dirinya mengambil handphone untuk menelepon Emma segera.
***Mansion Watson***
Emma dan Tom duduk di ruang keluarga. Layar LCD TV menyala, tetapi Emma dan Tom tidak fokus menonton acara di televisi.
Mereka berdua sedang menunggu kepulangan Dylan, Liam, dan Chris.
Terdengar suara langkah kaki menuju ruang keluarga sehingga Emma dan Tom menoleh ke sumber suara.
"Kak Dylan! Kak Liam!" panggil Emma.
"Emma! Papa!" sapa Dylan dan Liam bersamaan.
Kedua kakak kesayangan Emma itu bergabung di ruang keluarga.
"Sabar Emma! Owen belum ditemukan!" kata Liam.
"Chris meminta kita pulang ke mansion untuk mengabarkan bahwa Owen pasti bisa ditemukan olehnya. Ada Jack membantu Chris!" ucap Dylan.
"Jimmy yang menculik Owen kan?" tanya Emma sambil menatap Dylan.
"Dugaanmu sama dengan dugaan Chris!" jawab Dylan jujur.
__ADS_1
"Kalau begitu, Owen masih hidup! Jimmy ingin menggunakan Owen untuk mengancam Chris dan mungkin dengan syarat tertentu," kata Emma.
Saat ini Emma sudah bisa menguasai kegelisahannya dan berpikir jernih sehingga nama Jimmy muncul dalam pikirannya sekejap mata.
"Aku sependapat denganmu!" ucap Dylan.
Suara dering handphone Emma membuat wanita muda itu segera mengambil handphone miliknya karena mengira Chris yang menelepon.
Sementara Tom, Dylan, dan Liam menatap Emma dengan tegang. Mereka penasaran untuk mengetahui hasil pencarian Owen.
Emma mematung membaca nama yang muncul di layar handphone.
"Kenapa Wil meneleponku? Apakah dia komplotan Jimmy?" batin Emma.
Ekspresi wajah Emma membuat Dylan, Liam, dan Tom yakin bahwa orang yang menelepon Emma bukanlah Chris.
"Siapa?" tanya Dylan sambil mendekati Emma agar bisa membaca nama si penelepon.
"William!" ucap Dylan.
"Wil? Apakah dia terlibat juga?" ujar Tom dengan marah.
"Emma! Aku yang menjawab saja," kata Dylan.
"Aku saja, Kak Dylan!" tolak Emma dengan tegas.
Emma menekan tombol untuk menerima panggilan, lalu menekan tombol speaker sehingga Tom, Dylan, dan Liam bisa mendengar jelas perkataan William.
"Halo!"
"Emma! Ini aku, Wil!"
"Ada apa?" tanya Emma dengan nada datar.
"Kamu komplotannya? Kamu ingin aku bercerai dari Chris?" tanya Emma.
"Bukan, Emma! Aku tidak terlibat! Percayalah padaku!" kata William.
Emma tidak mau mendengar omong kosong William lagi sehingga memutuskan untuk mematikan sambungan telepon.
"Wait Emma! Aku tahu Owen ada di mana!" William berteriak keras dari seberang sana, seolah-olah tahu Emma akan menutup sambungan telepon.
"Di mana?" tanya Dylan, Liam, dan Tom bersamaan.
William terdiam sejenak saat mendengar suara ketiga anggota Keluarga Watson.
"Mereka memang mencurigaiku!" batin William.
"Salah satu apartemen ku di Regal Residence. Aku memberikan kunci apartemen itu sebelum bertemu Om Tom dan Kak Dylan di restoran. Tetapi sejak pertemuan itu, aku tidak berhubungan dengannya lagi. Aku hampir melupakan tentang apartemen itu jika saja security apartemen tidak menelepon tadi pagi untuk melaporkan Jimmy mempunyai kunci sehingga security membiarkannya masuk ke sana," jelas William panjang lebar.
William merasa kesal Jimmy menggunakan property miliknya untuk mengurung Owen, yang sama saja melibatkan William dalam kasus penculikan anak.
"Baiklah. Kita akan memeriksanya. Terima kasih!" ucap Dylan dan mematikan sambungan telepon dengan cepat.
Dylan sengaja memutuskan sambungan telepon karena tidak mau menghabiskan waktu lebih lama. Penyelamatan Owen menjadi prioritas utama saat ini.
"Emma! Telepon Chris sekarang!" kata Dylan.
"Baik Kak Dylan," jawab Emma.
***Kamar hotel tempat Jimmy menginap***
Suara pukulan dan tendangan terdengar berulang kali. Jimmy dalam keadaan terbalut perban di beberapa bagian tubuhnya menjadi samsak tinju serta tendangan Chris.
Sementara Jack sedang melakukan panggilan video call dengan Alana, sambil sesekali melirik ke arah Jimmy yang malang.
__ADS_1
"Tuan Jack!" panggil Stan dengan suara kecil.
"Lana! Aku akan pulang sebentar lagi! Tunggu aku!" pesan Jack sebelum mematikan panggilan video call.
"Sudah ketemu?" tanya Jack ke Stan.
"Sudah!" jawab Stan.
Stan memberikan handphone miliknya ke Jack. Jack tersenyum kecil dan berjalan menghampiri Chris.
"Chris! Anak buahku sudah menemukan Owen!" ucap Jack.
"Tidak mungkin! Kalian acting di hadapanku!" ujar Jimmy, yang mendengar jelas perkataan Jack.
Jack tidak memedulikan Jimmy dan memberikan handphone di tangannya ke Chris.
"Daddy!" panggil Owen dengan semangat. Wajah Owen muncul di layar handphone melalui panggilan video call.
Chris merasa lega melihat Owen dalam keadaan baik-baik, sehat, dan tidak terluka.
"Owen! Ikuti Om Ron pulang ke mansion!" ucap Chris.
"Oke daddy!" jawab Owen patuh.
Wajah babak belur Jimmy terlihat semakin menyedihkan. Pria itu berlutut di hadapan Chris.
"Ampun Chris! Tolong lepaskan aku! Aku janji akan pulang ke Amerika!" pinta Jimmy.
"Kamu tetap di sini! Aku yang akan ke Amerika!" ujar Chris.
Chris dan Jack meninggalkan kamar hotel, sedangkan Jimmy akan diurus oleh anak buah Jack.
Chris ingin segera tiba di Mansion Watson untuk berkumpul dengan Emma dan Owen, sedangkan Jack ingin menemui Alana.
"Anak buahmu menemukan Owen di mana?" tanya Chris.
"Apartemen Regal Residence milik William Pattinson," jawab Jack.
"William?" batin Jack.
Bersamaan dengan itu handphone Chris berbunyi sehingga Chris segera mengangkatnya.
"Honey!"
"Chris! Owen ada di apartemen Regal Residence milik William," ucap Emma dengan semangat.
"Aku tahu. Ron sudah menemukan Owen dan mengantarnya pulang ke mansion. Aku akan tiba di mansion segera!" kata Chris.
"Baiklah. Aku tunggu kalian!" jawab Emma.
"See you soon, honey!" ucap Chris.
***
Selamat malam readers. Hore. Owen sudah ditemukan.
Hari ini up 2 bab dan panjang2.
Jangan lupa baca kelanjutan cerita besok ya.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1