SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA

SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA
BAB 51. Alibi Will


__ADS_3

William mengemudikan mobil mewahnya meninggalkan Mansion Watson dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan Bambang yang kebingungan berdiri di depan pintu.


Bambang sadar kekalahannya tadi sudah menyebabkan dirinya di blacklist oleh William, bahkan mungkin William juga melarang teman maupun rekan bisnisnya untuk menggunakan jasa Bambang sebagai koki lagi.


Bambang merasa frustasi dengan masa depannya. Bambang menyesali keputusannya menerima tawaran pekerjaan dari William semalam.


Jika saja Bambang bisa memprediksi kejadian hari ini, maka bisa dipastikan Bambang akan menolak penawaran William.


Bambang mengambil handphone dari saku celananya untuk menelepon taxi online.


"Bambang!"


Suara panggilan yang merdu dan lembut membuat Bambang membalikkan tubuhnya ke belakang dengan cepat.


Emma bergandengan tangan dengan Chris menghampiri Bambang.


"Nona Emma. Tuan Chris!" sapa Bambang dengan sopan.


"Bambang! Masakanmu sangat enak. Hanya saja lidahku sudah terbiasa dengan masakan Chris," kata Emma.


"Terima kasih pujiannya, Nona Emma. Aku tulus mengaku kalah dalam lomba memasak tadi," ucap Bambang.


"Bersediakah kamu menjadi koki pribadi Mansion Watson?" tanya Emma.


Emma yakin kekalahan tadi membuat Bambang berada di ujung tanduk karena William pasti melimpahkan semua kesalahan ke Bambang dan mempersulit koki muda itu.


Emma tidak mau perselisihannya dengan William melibatkan orang yang tidak bersalah.


"Koki Mansion Watson? Benarkah, Nona Emma?" tanya Bambang dengan ragu.


Terlihat jelas wajah murung tadi sudah berseri sedikit.


"Iya, benar! Jika kamu bersedia, bisa melapor ke Pak Gusti sekarang," jawab Emma.


"Terima kasih Nona Emma! Terima kasih Tuan Chris! Aku bersedia!" ucap Bambang dengan semangat.


Dalam waktu singkat, Bambang pun mengikuti Pak Gusti untuk melakukan proses wawancara kerja singkat.


***


"Honey wanita paling baik sedunia!" puji Chris sambil mencubit gemas hidung mancung Emma.


Emma tertawa kecil mendengar pujian Chris, tetapi saat sepasang matanya melihat kepalan tangan Chris, tawanya langsung berhenti.


"Apakah masih sakit?" tanya Emma sambil mengusap lembut kepalan tangan Chris yang terlihat memar.


"Tidak sakit, honey. Wajah Will lebih sakit," jawab Chris.

__ADS_1


Jawaban Chris membuat Emma tertawa lagi karena terbayang wajah bengkak dan memar William.


"Chris! Kamu pernah belajar seni bela diri?" tanya Emma.


"Iya. Karena sering ditindas sejak kecil, aku belajar beberapa macam olahraga bela diri untuk melindungi diri sendiri," jawab Chris jujur.


Emma memeluk erat pinggang Chris dengan spontan. Setiap kali Chris bercerita tentang masa lalunya, Emma ikut merasa sedih.


Chris mengerti isi pikiran dan hati Emma sehingga menepuk lembut punggung wanita yang sangat dicintainya itu.


"Masa depanku sangat bahagia dengan adanya kamu dan Owen disisiku," ucap Chris.


"Iya," jawab Emma.


Suara klakson mobil membuat sepasang sejoli yang masih berpelukan itu menoleh ke sumber suara.


Entah sejak kapan, satu mobil Range Rover hitam berhenti di depan mansion. Chris dan Emma melepaskan pelukan saat melihat Ron turun dari dalam mobil bersama satu pria, sedangkan ada satu pria lain masih di dalam mobil dan duduk dibagian kemudi.


"Selamat siang Tuan Chris, Nona Emma!" sapa Ron dengan sopan.


"Siang Ron! Ini kunci mobilnya," kata Chris sambil mengambil dua kunci mobil Ferrari merah dari saku celananya dan memberikannya ke Ron.


Sebenarnya niat utama Chris dan Emma ke pintu masuk mansion adalah untuk menunggu Ron datang. Emma merasa tidak nyaman saat kedua mobil hadiah William masih berada di mansion.


"Oke! Kita bawa pergi kedua mobilnya sekarang!" kata Ron.


Ron melemparkan salah satu kunci mobil ke temannya dan ditangkap dengan tepat. Dalam waktu singkat dua mobil Ferrari merah dan mobil Range Rover Ron beriringan meninggalkan Mansion Watson.


"Tenang saja honey. Jack bisa menjualnya dengan cepat," ucap Chris.


"Iya. Aku percaya dengan kemampuan Jack," kata Emma.


"Benar! Jack bisa diandalkan dan sangat setia kawan. Jack tidak akan menolak permintaan bantuan dari temannya. Kamu istriku, jadi kamu bisa meminta bantuannya juga jika diperlukan nanti," ucap Chris dengan wajah serius.


"Oke," jawab Emma.


"Ayo kita masuk ke dalam. Honey pasti lapar. Aku sudah memasak rendang paha ayam kesukaanmu," kata Chris.


"Terima kasih Chris!" ucap Emma sambil memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah Chris.


Chris memasak rendang ayam untuk lauk makan siang Emma, setelah selesai memasak bubur seafood untuk lomba.


Chris dan Emma bergandengan tangan mesra menuju ruang makan. Tom dan Owen sudah duduk di sana dan menikmati makan siang mereka.


Dalam waktu singkat, mereka berempat pun makan siang dengan suasana hati yang senang dan bahagia. Seolah-olah William tidak pernah berkunjung ke mansion tadi.


***

__ADS_1


"Sialan!" teriak William di dalam mobil mewahnya.


Saat ini mobil William berhenti di tengah jalan raya karena lampu merah. William mengumpat saat melihat pantulan wajah bengkak dan memarnya dari kaca spion mobil.


"Aku gak bisa pulang ke Perusahaan Pattinson dengan wajah memar," batin William.


William tahu ada beberapa karyawan perusahaan yang merupakan mata-mata dari Hans untuk mengawasi dan melaporkan segala sikap ataupun tindakan William yang melenceng dan bisa merugikan Perusahaan Pattinson.


William tidak mau Hans mengetahui wajahnya yang lebam karena tinju dari Chris. Kemungkinan besar Hans akan mengirim bodyguard untuk mengawasinya lagi dan William tidak mau hal itu terjadi.


Lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. William mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil memikirkan alasan yang tepat.


Lima menit kemudian, William sudah mendapatkan ide dan mengemudikan mobilnya menuju Apartemen Regal Residence. William mempunyai satu apartemen kosong di sana.


William menelepon Gibson dan menyalakan tombol speaker handphone.


"Halo Tuan William!" sapa Gibson saat menerima panggilan telepon.


"Gibson! Kosongkan semua jadwalku dalam tiga hari ini. Aku pergi dinas ke Singapura!" perintah William.


"Baik Tuan William. Apakah perlu saya menemani Tuan William ke sana?" tanya Gibson.


Setiap kali William melakukan perjalanan dinas keluar negeri, Gibson sebagai sekretaris pribadinya pasti akan ikut serta.


"Tidak perlu! Kamu booking tiket pesawat untuk malam ini dan hotel di Singapura. Aku langsung berangkat ke airport nanti dan tidak ke kantor lagi!" jawab William.


"Baik Tuan Wiliam!" jawab Gibson patuh.


William tersenyum puas saat menutup sambungan telepon dengan Gibson. Alasan perjalanan dinas membuat Hans tidak curiga jika dirinya tidak pulang ke Mansion Pattinson.


Tiket pesawat pulang pergi dan hotel di Singapura cukup murah untuk dijadikan alibi kebohongannya.


William menekan nomor panggilan keluar dari handphone nya lagi. Kali ini William menelepon Jonathan.


"Halo Will! Ada apa?" tanya Jonathan.


"Jo! Bawa dokter pribadimu ke Apartemen Regal Residence milikku. Aku tunggu di sana setengah jam lagi!" ucap William.


"Oke Will!" jawab Jonathan.


***


Selamat malam readers. Bersiaplah untuk rencana akhir Will terhadap pasangan Chris-Emma, sebelum kemunculan salah satu anggota keluarga Alexander.


Sampai jumpa besok.


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2