
***Ruang VIP Restoran Italia***
Wajah William dan Jimmy menjadi tegang setelah mendengar perkataan Tom. Mereka berdua tidak percaya dengan indra pendengaran mereka saat ini.
Bagaimana mungkin Tom masih berada di pihak Chris setelah melihat bukti foto yang ditunjukkan Jimmy? Bukankah selama ini Chris menyembunyikan asal usulnya, yang pastinya bisa membuat orang curiga apa alasan Chris menyembunyikannya.
Sementara Dylan semakin yakin apa yang harus dilakukannya saat mendengar perkataan Tom. Sama seperti Tom, Dylan pun berfirasat Jimmy bukanlah orang baik.
"Kenapa Om Tom masih percaya sama Chris? Bukankah prioritas utama Om adalah Emma. Om ingin melihat Emma hidup menderita?" tanya William dengan wajah kesal.
"Sejak Emma menikah dengan Chris, wajah bahagia Emma yang selalu aku lihat," jawab Tom dengan santai.
Jawaban Tom membuat William mengepalkan erat kedua tangannya untuk menahan emosinya meluap. William sadar sikap keras kepala Tom mirip dengan papanya, Hans sehingga keputusan yang sudah diambil Tom tidak bisa diganggu gugat lagi. Jimmy pun menyadari hal itu.
William dan Jimmy melihat ke arah Dylan. Mereka berdua berharap Dylan bisa memberikan reaksi yang mereka inginkan karena sejak tadi Dylan diam seribu bahasa.
"Kak Dylan tidak percaya bukti foto ini?" tanya William.
"Foto ini asli! Aku saksi yang melihat Chris mendorong Om Jay dari atas tangga!" ucap Jimmy dengan yakin.
"Aku tahu foto itu asli!" jawab Dylan.
Wajah tegang Jimmy dan William mereda sedikit. Jawaban Dylan merupakan seberkas harapan yang muncul saat ini.
"Kenapa Mr. Jimmy tidak menyebarkan kejahatan Chris sejak awal? Chris tidak mungkin bisa lolos jika ada saksi dan foto ini," ucap Dylan sambil menatap tajam Jimmy.
"Kakek melarang ku menyebarkan aib keluarga. Kakek menghukum Chris dengan mengusirnya saat itu juga. Nama Chris pun dihapus dari silsilah Keluarga Alexander, " jawab Jimmy.
"Ternyata begitu. Jadi kenapa kamu menceritakannya setelah 8 tahun berlalu?" tanya Dylan lagi.
"Aku tidak ingin Keluarga Watson dibohongi Chris. Kasihan masa depan Nona Emma yang masih muda dan cantik," jawab Jimmy setelah berpikir sesaat.
Dylan tertawa kecil dan memberikan tatapan sinis ke Jimmy, seolah-olah ucapan sepupu Chris itu bagaikan lelucon sehingga membuat Jimmy merasa tersinggung.
"Aku sependapat dengan papa. Aku percaya Chris!" ucap Dylan dengan tegas.
"Kenapa?" tanya William dan Jimmy bersamaan dengan suara yang keras.
Terlihat jelas mereka berdua tidak senang dengan perkataan Dylan.
__ADS_1
"Jika aku tidak menjawab sekarang, aku yakin kalian berdua tidak akan menyerah. Baiklah! Aku berbaik hati menjelaskan semuanya saat ini juga!" ucap Dylan.
William dan Jimmy mempertajam indra pendengaran mereka agar bisa mendengar jelas apa yang ingin dikatakan oleh Dylan. Tom pun menatap Dylan dengan wajah serius.
"Aku sudah tahu Chris anggota keluarga Alexander. Bahkan Emma tahu lebih dulu daripada aku. Emma menerima Chris apa adanya. Status sosial tidak masalah bagi Emma melainkan ketulusan hati Chris lah yang diinginkan Emma!" ucap Dylan sambil menatap William karena pernyataan itu memang ditujukan kepada William.
Hati William terasa sakit. Harga dirinya yang tinggi hancur seketika. "Kenapa Emma lebih memilih Chris daripada aku yang berstatus sepadan dengan Emma?" batin William.
"Dan kamu, Mr. Jimmy! Sebagai CEO Perusahaan Alexander, proyek besar apa saja yang sudah kamu dapatkan selama 8 tahun ini? Aku yakin jawabannya adalah tidak ada!" ujar Dylan.
"Sialan!" maki Jimmy secara spontan.
"Chris meninggalkan Keluarga Alexander 8 tahun yang lalu dan merintis karier dengan perjuangannya sendiri hingga Perusahaan Christian berkembang pesat. Aku yakin Chris tidak memakai nama Alexander karena dia lah yang membuang kalian sejak awal," lanjut Dylan.
"Omong kosong! Keluarga Alexander sangat kuat dan berkuasa di Amerika! Tanpa bekingan Keluarga Alexander, Chris bukan siapa-siapa!" tukas Jimmy.
"Perkataanmu salah besar, Mr. Jimmy! Perusahaan Alexander mengalami kemunduran selama 8 tahun belakangan ini. Aku yakin pasti disebabkan ketidakmampuan CEO nya!" ucap Dylan.
"Berani sekali kamu menghinaku!" teriak Jimmy.
"Aku berbicara sesuai fakta dan kenyataan. Bahkan aku mempunyai tebakan yang pastinya tepat!" kata Dylan dengan tenang.
William akui kehebatan berbisnis dan jiwa kepemimpinan Dylan jauh di atasnya sehingga dirinya ingin tahu apa penilaian Dylan terhadap tujuan Jimmy datang ke Bali.
"Keluarga Alexander ingin menjadikan Chris sebagai CEO baru!" jawab Dylan dengan yakin.
Wajah Jimmy menjadi pucat seketika. Tebakan Dylan yang tepat membuat Jimmy tidak bisa membantah lagi dan William menyadari perubahan sikap Jimmy dengan jelas.
"Walaupun Chris anak haram, tetapi Keluarga Alexander masih menaruh harapan besar terhadapnya," batin William.
"Papa! Ayo kita pergi sekarang!" ajak Dylan sambil berdiri dari kursi.
Tom menganggukkan kepala dan berdiri dari kursinya. Dylan sudah menyampaikan semuanya secara jelas sehingga baik Tom maupun Dylan tidak mau menyia-nyiakan waktu berharga mereka untuk berada di ruangan yang sama dengan William dan Jimmy.
"Om Tom! Kak Dylan! Tunggu sebentar! Aku sama sekali tidak tahu niat terselubungnya!" ujar William.
"Wil! Jangan merusak kebahagiaan Emma lagi! Jika tidak, Keluarga Watson tidak akan tinggal diam. Ini peringatan terakhir!" ujar Tom.
"Wil! Kamu bukan pria bodoh! Aku sarankan kamu terima hasil meeting internal tadi pagi!" ucap Dylan.
__ADS_1
Tom dan Dylan meninggalkan ruang VIP dalam waktu singkat, sedangkan William masih berdiri mematung memikirkan perkataan Tom dan Dylan.
William yakin Dylan sudah mengetahui hasil meeting internal Perusahaan Pattinson dan juga perkataan Emma di ruang kerjanya. Tentu saja Rocky yang melaporkannya ke Dylan.
Sementara Jimmy duduk lesu di kursi. Jimmy tidak menyangka anggota Keluarga Watson sangat tangguh dan tidak mudah dipengaruhi.
"Mungkin aku harus menjalankan rencana kedua," batin Jimmy.
***
"Kakek! Om Dylan!" Terdengar suara nyaring Owen memanggil Tom dan Dylan disertai bayangan tubuh kecil yang berlari cepat ke arah mereka berdua.
"Owen!" panggil Tom dan Dylan bersamaan.
Mereka berdua tidak menyangka akan bertemu keluarga kecil Chris di restoran yang sama.
"Papa! Kak Dylan!" Emma dan Chris menyapa Tom dan Dylan.
"Kalian mau makan di sini?" tanya Tom.
"Iya. Papa dan Kak Dylan sudah selesai makan?" tanya Emma sambil melirik sekilas ke salah satu pintu ruang VIP karena Tom dan Dylan keluar dari sana.
"Hanya bertemu dua pengganggu sebentar. Masih belum makan," jawab Tom sambil memegang perutnya yang mulai terasa lapar.
"Kakek dan Om Dylan gabung makan sama kita saja!" ucap Owen dengan antusias.
Owen menggandeng Tom dan Dylan serta berjalan menuju ruangan VIP, tempat makan malam keluarga kecil Chris yang sudah dipesan oleh Rio, atas perintah Chris sewaktu di Perusahaan Christian.
Emma dan Chris tertawa kecil bersamaan. Mereka berdua bergandengan tangan erat mengikuti rombongan Owen dari belakang.
***
Selamat malam readers. Jangan lupa baca kelanjutan cerita besok ya 🤗
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1