SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA

SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA
BAB 38. Masa lalu Chris


__ADS_3

**"Kamar tidur Emma di Mansion Watson***


Ketika Chris keluar dari kamar mandi, pria muda itu dalam keadaan rapi dengan baju tidur couple. Rambut Chris pun sudah kering. Chris mengeringkannya di dalam kamar mandi.


Chris tersenyum kecil melihat Emma masih menunggunya dan belum tidur duluan. Emma duduk bersandar di tempat tidur sambil bermain games di handphone.


Chris melangkahkan kakinya menuju meja rias Emma terlebih dahulu dan mengambil satu botol minyak essential, sebelum bergabung dengan Emma di atas tempat tidur.


Emma meletakkan handphone miliknya di atas meja nakas samping tempat tidur saat Chris sudah duduk bersandar di sampingnya.


"Honey! Duduk di sini!" panggil Chris sambil menepuk tempat tidur di bagian depannya.


Emma mengerti maksud Chris sehingga menggeser tubuhnya dan duduk tepat di depan Chris. Punggung Emma bersandar di dada atletis Chris.


Chris memeluk pinggang Emma dari belakang. "Capek gak hari ini? Owen nakal gak?" tanya Chris.


"Gak capek dan Owen juga gak nakal," jawab Emma.


"Baguslah. Masih sakit perutnya?" tanya Chris sambil tangannya sudah berpindah menuju perut Emma.


"Sedikit," jawab Emma.


Emma pun meletakkan telapak tangannya di atas tangan Chris yang masih memegang perutnya. Kedua mata bening Emma tertutup rapat. Gadis muda itu menyukai suasana nyaman di dalam pelukan Chris.


"Tanganmu sangat hangat, membuat perutku nyaman," ucap Emma, tanpa membuka mata.


"Aku akan membuatnya lebih nyaman lagi," kata Chris.


Emma membuka kedua matanya karena terkejut saat merasakan kedua tangan Chris menyusup ke dalam baju tidurnya.


Ternyata Chris sedang memijat perut Emma dengan minyak essential yang diambil dari atas meja rias.


"Thank you Chris," kata Emma.


"Owen bilang dirinya sudah besar dan menolak memakai pengasuh baru. Bagaimana menurutmu?"


Chris mengobrol dengan Emma sambil tangannya masih memberikan pijatan yang lembut dan hangat di perut Emma.


"Tadi Owen menyiapkan sendiri pakaian tidur saat aku meminta pelayan mansion membantunya. Aku yakin Owen sudah bisa mandiri dan tidak memerlukan pengasuh lagi," jawab Emma.


"Iya, benar. Pengasuh tidak diperlukan lagi, tetapi bodyguard harus ada. Bodyguard baru dari Jack akan ready dua minggu," kata Chris.


Kriteria bodyguard yang diinginkan Chris untuk melindungi Owen sangat banyak dan harus sempurna sehingga Jack memerlukan waktu untuk memilih yang terbaik Dan paling cocok dari para bawahannya.


"Tidak perlu buru-buru, Chris. Selama Owen di Mansion dan bersama kita, aku yakin tidak ada yang berani berniat jahat terhadapnya. Rocky bisa membantu menjaganya juga," ucap Emma.


"Baiklah," jawab Chris.


"Semoga mereka mengganggu ketenanganku di Bali," batin Chris.

__ADS_1


Suasana kamar tidur menjadi tenang karena Chris berkonsentrasi memberi pijatan di perut Emma. Pijatan lembut dan hangat dari tangan Chris sangat mujarab. Sakit perut Emma tidak terasa lagi.


"Besok aku pijjat lagi," ucap Chris, setelah memijat beberapa menit.


Emma membalikkan tubuhnya sehingga mereka berdua saling berhadapan. Chris mengangkat tubuh Emma agar duduk di pangkuannya. Emma pun merangkul erat leher Chris.


"Chris! Kamu baik sekali!" kata Emma dan mengecup bibir Chris sekali.


"Aku hanya baik padamu," jawab Chris.


Chris memberikan kecupan yang dalam dan lembut di bibir Emma. Gadis muda itu pun membalasnya.


Ciuman manis yang memabukkan itu membuat keduanya terbuai dan tidak ada yang berniat menghentikannya.


Pada akhirnya Chris yang menghentikan ciuman itu karena bisa merasakan gejolak darah mudanya menginginkan hal yang lebih dari sekadar ciuman.


"Kucing nakal! Aku sudah tidak sabar menunggu kejutan darimu nanti," ucap Chris sambil menyentil hidung mancung Emma.


Emma tertawa kecil dan berbisik di telinga Chris. "Kejutannya di rumah baru kita," kata Emma.


Emma sudah memperhitungkan jadwal menstruasinya akan selesai pada saat mereka sudah pindah ke rumah baru.


"Baiklah," jawab Chris.


Chris memeluk erat punggung Emma, lalu menegakkan tubuhnya. Kemudian membaringkan tubuh Emma di atas tempat tidur dengan perlahan.


"Sudah malam. Tidurlah!" kata Chris.


Emma mengangkat wajahnya dan menatap intens Chris.


"Ada apa honey?" tanya Chris.


Pikiran Emma bisa terbaca dengan mudah oleh Chris. Chris yakin Emma ingin menanyakan sesuatu padanya.


"Tadi sewaktu pendaftaran sekolah baru Owen memerlukan data Stella," jawab Emma.


"Kenapa tidak meneleponku tadi siang? Tetapi aku yakin kamu sudah mengisi semuanya. Apakah ada yang ingin kamu ketahui?" tanya Chris tanpa basa-basi.


"Golongan darah Stella O, sama sepertimu. Tetapi golongan darah Owen A," jawab Emma.


Chris terkejut mendengar pernyataan Emma. "Akhirnya hari ini datang juga," batin Chris.


"Honey sangat ingin tahu jawabannya?" tanya Chris.


"Iya," jawab Emma dengan pasti.


"Baiklah," kata Chris.


Chris bangkit dari tempat tidur dan duduk bersandar, sedangkan Emma juga ikut bersandar. Chris merangkul tangannya ke pundak Emma.

__ADS_1


Suasana kamar tidur terasa sepi. Wajah Chris berubah menjadi sangat serius. Emma sabar menunggu hingga Chris membuka suara lagi. Muncul penyesalan di dalam hati Emma karena bisa merasakan Chris kesulitan menjawab pertanyaannya.


"Ga apa-apa, Chris! Kamu tidak perlu menceritakannya jika hal itu bisa melukai perasaanmu," kata Emma.


Kedua tangan Emma mengusap pipi Chris dengan lembut. Chris langsung memegang tangan Emma yang masih menempel di pipinya.


"Emma! Kamu wanita yang sangat baik. Aku beruntung bisa bertemu dan menikahimu. Apakah kamu percaya aku berani mengorbankan nyawaku untukmu?" tanya Chris.


"Aku percaya, Chris!" jawab Emma tanpa ragu.


"Hal yang paling aku takutkan adalah kamu mungkin menjauhi dan meremehkan aku jika masa lalu terungkap," kata Chris dengan suara bergetar.


"Tidak mungkin, Chris! Aku akan selalu di sisimu!" ucap Emma. Wajah sendu Chris membuat hati Emma terluka.


"Benar kan perkataanku. Kamu memang wanita yang terbaik," ucap Chris.


Chris menurunkan kedua tangan Emma dari wajahnya dan memberikan ciuman singkat ke punggung tangan Emma.


Saat ini mereka saling bertatapan satu sama lain dengan tangan yang saling bergenggaman erat.


"Emma! Kamu pernah dengan Keluarga Alexander dari Amerika?" tanya Chris.


Emma menganggukkan kepalanya. Gadis muda itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun karena dirinya tahu Chris berusaha menceritakan semuanya saat ini.


"Aku lahir di Australia, kampung halaman mamaku dan ayahku adalah Jay Alexander. Bisa dikatakan aku adalah anak haram dari Jay Alexander," kata Chris sambil tersenyum getir.


Emma semakin mempererat genggaman tangannya. Ternyata inilah maksud dari perkataan Chris tadi. Chris takut dirinya akan meninggalkan Chris setelah mengetahui status Chris sebagai anak haram.


"Mamaku sangat naif dan percaya janji Jay untuk menjemputnya ke Amerika. Saat aku berumur tujuh tahun, Jay datang dan menjemput kita. Kebahagiaan mama kandas karena kita dipisahkan saat di sana. Aku tinggal di Mansion Alexander, sedangkan mama ditempatkan di rumah lain. Semua dikarenakan Jay sudah menikah dan memang membohongi mama sejak awal mereka bertemu," kata Chris.


Chris berhenti berbicara sebentar. Tatapan matanya kosong. Emma tahu Chris sedang terhanyut dengan kenangan masa lalunya sehingga Emma menepuk-nepuk punggung tangan Chris untuk menenangkannya.


"Sejak saat itu aku sering diejek sebagai anak haram oleh Keluarga Besar Alexander. Hanya Jordan, adik tiriku seorang saja yang mau berteman dan bersikap baik terhadapku. Kita tumbuh bersama, sekolah bersama. Tetapi Jordan meninggal karena kecelakaan mobil dan meninggalkan Stella, yang sedang hamil muda. Aku memutuskan menikahi Stella agar bisa menjaga Stella dan bayi dalam kandungannya. Aku membawa Stella ke Australia dan memulai Perusahaan Christian di sana. Keluarga Alexander tidak ada hubungan apa pun denganku lagi sejak aku pergi dari sana. Malangnya Stella meninggal setelah melahirkan Owen sehingga aku hidup bersama dengan Owen hingga saat ini. Mungkin untuk sepanjang hidupku nanti, hanya ada aku dan Owen saja," kata Chris.


Emma mendekap erat tubuh Chris. Air mata sudah mengalir deras di pipi gadis muda itu. Emma bisa merasakan penderitaan Chris selama ini.


"Sepanjang hidupmu ada aku dan Owen yang akan menemanimu, Chris! Kita akan memiliki banyak putra putri yang tampan dan cantik. Keluarga kecil kita pasti akan bahagia selamanya," kata Emma, di sela isak tangisnya.


Chris pun mempererat pelukannya. Perkataan Emma bagaikan cahaya yang menyinari masa lalu kelam Chris.


Chris tidak pernah peduli terhadap pandangan orang lain terhadapnya. Chris hanya peduli apakah Emma bersedia menerimanya saat mengetahui masa lalunya.


***


Selamat malam readers. Hiks...hiks...mana tisu? Author ikut menangis waktu ngetik 😭. Kasihan Chris.


Sampai ketemu di bab besok ya. Ayo tebak, di mana mama Chris?


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2