
Seluruh aksesoris dan juga baju yang tadi di kenakan oleh Putri telah di bawa oleh perias keluarga yang telah membantunya melepasnya tadi. Putri telah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang sudah di siapkan. Ia terlalu lelah, begitu berbaring di ranjang, ia langsung tertidur.
Vian telah selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan memakai piyamanya. Di liriknya Putri yang telah lelap. Ia hanya tersenyum sinis.
"Cara tidur si cerewet ini cukup manis juga. Baru kali ini aku melihat cara tidur seorang wanita. Kalau dia tahu aku memperhatikannya, pasti dia akan menerkamku. Mumpung dia tidur, aku mau telpon Vanessa dulu." Vian bicara seorang diri. Ia segera mematikan lampu kamar dan melenggang keluar dari kamar menuju balkon. Malam itu, ia sangat rindu pada Vanessa. Jam segini, ia yakin neneknya sudah tidur.
Nada sambung terdengar dari ujung sana. Vian menunggu suara Vanessa yang merdu itu terdengar. Wanita itu pacar kesayangan Vian. Karena di antara ketiganya, Vanessa merupakan wanita yang paling unggul.
"Vian, kemana saja, Sayangku? Aku kangen banget sama kamu..." Suara Vanessa manja di seberang sana, membuat Vian menyunggingkan senyum.
"Aku juga kangen, Sayang. Maaf, ya... aku sibuk banget akhir-akhir ini. Pekerjaanku numpuk, maaf ya Sayang, kita belum bisa jalan." Vian mencoba mengelabuhi Vanessa. Ia tidak mungkin mengatakan kenyataan yang ada saat ini. Kekasihnya itu bisa mengamuk kalau sampai tahu dia telah menikah.
"Kapan kita ketemu, aku kangen makan bareng sama shoping-shoping bareng kamu, Beb." suara Vanessa mendayu-dayu, Vian semakin rindu pada kekasihnya itu.
"Akhir minggu ini kita jalan. Nanti aku kabarin, Sayang. Aku masih repot banget, jadwalku padat. Kamu ngerti, kan?" Vian memberi pengertian pada Vanessa. Memang jadwalnya tidak sepadat itu, tetapi Vian masih harus bersandiwara di depan neneknya sebelum ia pindah ke rumahnya esok hari.
Vian dan Vanessa saling melepas rindu sampai beberapa jam, hingga akhirnya Vian menyerah karena rasa kantuk yang teramat sangat menyerangnya. Ia segera masuk ke kamarnya dan tidur.
Keesokan paginya, Vian terbangun dari tidurnya dan mendapati Putri memeluk dirinya. Piyamanya yang sedikit berantakan membuat tangan wanita itu menyentuh kulit tubuhnya secara langsung. Ini membuat Vian sedikit tidak nyaman.
__ADS_1
Kenapa harus Putri yang menyentuh badanku pertama kali? Ternyata begini rasa nyaman ketika tidur dan di peluk oleh seseorang? Akh, apa yang aku pikirkan? Semalam harusnya aku tidur di sofa, terlalu lama mengobrol dengan Vanessa membuatku lupa kalau di ranjang ini ada Putri. Aku harus bangun sekarang, tapi... kurang dramatis kalau aku tidak mengerjai dia terlebih dahulu.
Ide untuk menjahili putri tiba-tiba melintas di pikiran Vian. Ia sudah dapat memperkirakan ekspresi Putri saat ia membuka mata. Pria itu tersenyum jahat.
"Tuan Putri, bangun! Mau sampai kapan memelukku begini?" Vian mengatakan itu tepat di telinga Putri sehingga gadis itu terkejut dan membuka mata. Ia segera menarik tangannya yang berada tepat di atas perut Vian.
"Dasar mesum! Kenapa kamu bisa tidur di kamarku! (memukul Vian dengan bantal). Kamu pasti mengambil kesempatan dalam kesempitan, dasar buaya! (Masih belum sadar)" omel Putri kesal, Vian hanya tersenyum geli melihat tingkah Putri yang menurutnya lucu.
"Kamu lupa, kita sudah menikah? Apa salahnya, aku tidur di ranjang yang sama denganmu? Toh, ini memang kamar kita." ejek Vian, ia memiringkan tubuhnya, memperhatikan Putri dengan tangan tangan kanan sebagai tumpuan kepalanya.
Sial! aku lupa kalau sudah menikah dengan buaya ini! Tapi.... bagaimanapun juga, kami sudah sepakat kalau dia tidak boleh menyentuhku. Ini tidak bisa di biarkan!
"Siapa yang melanggar peraturan, Gadis? Kamu sendiri yang memelukku dan meraba perutku, apa itu salahku? Atau jangan-jangan kamu mulai menyukaiku?" Selidik Vian, caranya berbicara dengan sedikit berbisik membuat Putri risih. Ia mengumpulkan kekuatan dan menghempaskan tubuh Vian saat ia merasa cengkraman lelaki itu melemah.
"Baik, aku akui, aku yang salah. Tapi apa yang barusan kamu lakukan, hah?!" Putri bangkit dari tidurnya dan memeluk selimut dengan erat.
"Apa yang aku lakukan? Jelas saja menenangkn banteng yang tiba-tiba mengamuk tidak jelas di pagi yang cerah ini. Sudahlah, aku mau mandi, harus ke kantor. Meladenimu hanya akan merusak moodku saja." Vian bangkit dari tidurnya lalu masuk ke kamar mandi, meninggalkan Putri yang tampak kesal padanya.
Banteng? Dia menganggapku banteng? Benar-benar mengesalkan! Tuhan, bagaimana bisa aku akan menghabiskan satu tahunku yang berharga dengan playboy itu!
__ADS_1
Putri mengumpat dirinya sendiri. Tetapi ia segera ingat, ini adalah pekerjaan yang harus ia lakukan dengan baik. Untuk sepuluh juta, ia harus bermain peran dengan baik. Ia segera bangkit dari tidurnya, membereskannya lalu keluar dari kamar. Ia ingin memasak sesuatu untuk nenek Vian. Selama di rumah nenek tua itu, Putri merasa kembali bertemu dengan mendiang neneknya yang merawatnya saat ia masih kecil.
Seperti kasih sayang yang di berikan nenek Vian padanya, ia juga sangat sayang pada wanita tua itu. Putri merasa nyaman berada di dekatnya, bahkan ia sempat menceritakan tentang keluarganya yang ada di kampung.
"Cucuku, masih pagi sekali, seharusnya kamu tidak perlu bangun sepagi ini, Nak." Putri di kejutkan oleh kemunculan nenek Vian di belakangnya saat ia memasakkan bubur kesukaan nenek.
"Tak apa, Nek. Lagipula, Vian juga akan berangkat ke kantor lebih pagi hari ini. Aku harus menyiapkan sarapan untuknya." sahut Putri dengan sopan, nenek Vian tersenyum mendengarnya.
"Kamu memang istri yang tepat untuk cucuku, Vian. Aku bahagia sekali dan berharap kalian segera mendapatkan momongan."
"Momongan?!" Tanpa sadar Putri tersentak saat mendengar kalimat terakhir nenek Vian.
"Ada apa, Put?" nenek Vian pura-pura bingung.
"Ma-maaf, Nek. Aku kaget karena kami baru saja menikah kemarin, masih terlalu dini untuk membicarakan momongan, Nek, sekali lagi, maaf." Putri membungkukkan badannya berulang kali sebagai tanda ia tulus meminta maaf. Baru saja, ia hampir membuat nenek Vian curiga.
"Baiklah, aku paham dan mengerti. Maaf, nenek terlalu berharap. Jangan di ambil hati." nenek Vian pura-pura merasa bersalah. Ia sebenarnya mengetahui semuanya.
"Nenek tidak salah apapun. Jangan merasa bersalah, Nek. Aku yang salah, maafkan aku Nek." Putri memeluk neneknya itu erat. Ia benar-benar merasa bersalah. Di balik punggung Putri, nenek itu tersenyum tanpa dosa.
__ADS_1
Ck. Cukup jahil juga ya nenek Vian 😆.