
Malam terus merayap. Setelah jam makan malam, Vian dan Bimo pergi ke sebuah tempat makan untuk menghadiri perjamuan ulang tahun kantornya. Vian melarangnya ikut serta karena akan memakan waktu lama dan bisa saja baru selesai tengah malam. Vian tidak ingin istri kesayangannya itu kelelahan.
Biasa bersama, Putri susah untuk memejamkan matanya. Ada rasa khawatir yang timbul di benak wanita itu, bagaimana kalau Vian tergoda pada wanita lain? Mengingat masalalu Vian sebagai seorang playboy. Beberapa saat kemudian, Putri berusaha menepis pemikiran negatifnya pada suaminya, bukankah lelaki itu sudah berjanji
untuk setia?
Putri mencoba menenangkan pikirannya dengan membaca novel online favoritnya, dia ingin lebih rileks. Ternyata, jauh dari bayi pandanya sebentar saja sudah membuatnya rindu berat. Putri memeluk guling erat-erat dan membayangkan seolah-olah itu adalah Vian, karena kebetulan, bau Vian menempel di guling yang di peluknya dengan sangat jelas.
Waktu terus berlalu, bahkan Putri telah menghabiskan puluhan bab dan berganti beberapa judul novel, tetapi Vian tidak juga kembali. Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam, membuat Putri bertanya-tanya, jam berapakah suaminya akan kembali? Ingin rasanya Putri menelepon Vian agar segera kembali, tetapi dia tidak ingin di anggap sebagai seorang istri yang suka ikut campur dan mengekang suaminya, Putri takut membuat Vian tidak nyaman.
Wanita itu menyudahi kegiatan membacanya, meletakkan ponselnya di atas nakas dan turun dari tempat tidurnya. Putri berjalan keluar kamarnya, berniat turun dan ke dapur untuk mengambil sesuatu untuk di minum
dari dalam kulkas. Saat Putri menuruni tangga perlahan, dia mendengar samar-samar Mobil Vian memasuki halaman rumah nenek. Sepertinya lelaki itu juga tidak akan bertahan untuk berpisah dengannya sampai lebih dari jam dua belas malam.
Putri mengurungkan niatnya untuk minum dan memilih untuk menyambut kepulangan suaminya, wanita itu membukakan pintu untuk Vian, lelaki itu sedikit terkejut karena Putri membuka pintu bersamaan dengan Vian
mengulurkan tangannya ke gagang pintu yang berwarna keemasan itu.
“Kamu belum tidur?” tanya lelaki itu ketika dirinya telah masuk ke dalam rumah dan Putri menutup pintunya.
“Aku nggak bisa tidur.” Kata Putri jujur sambil bergelayut manja dan memeluk tangan Vian erat.
“Karena nggak ada aku, kan? Hayo ngaku.” Vian meledek Putri, membuat wanita itu tersipu malu.
“Sudah tahu, kenapa masih bertanya? Ngeselin. Kamu beneran pergi ke acara makan perusahaan? Kok nggak bau minuman?” tanya Putri seolah sedang mencurigai Vian.
“Setiap acara makan-makan kantor tidak pernah ada minum-minum kok, kami hanya minum minuman soda atau jus. Bukankah besok semua karyawan juga harus bekerja? Bagaimana kalau mereka mabuk? Besoknya kan jadi
kurang maksimal bekerja karena badan tidak fit masih dalam pengaruh alkohol.” Jawab Vian santai. Dia memang tidak pernah merekomendasikan minum-minuman saat ada acara kantor. Jika mereka ingin
minum secara pribadi, itu tidak masalah karena di luar wewenangnya sebagai pemilik perusahaan.
“Ternyata kamu selain jahil dan sedikit songong, perhatian juga sama karyawan, jadi makin sayang. Tapi, meskipun kamu nggak minum, kamu harus mandi dulu, kalau nggak, aku nggak mau meluk kamu,” Putri pura-pura
membuang muka, tetapi tangannya masih memeluk erat lengan Vian.
“Iya, iya, aku mandi. Padahal, aku masih wangi.” Vian mengendus bajunya sendiri.
“Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu mandi.” rengek Putri sambil terus berjalan beriringan dengan Vian hingga mereka sampai ke kamarnya.
Hal itu yang membuat Vian juga tidak bisa berlama-lama jauh dari istrinya. Sikapnya yang manja dan menggemaskan membuatnya selalu ingin berada di sisinya. Rasa bahagianya bersama Putri sekarang ternyata lebih besar di bandingkan saat ia sedang menjalin hubungan dengan Vanessa.
Vian merasa terganggu saat mendengar dari Atika kalau mantan kekasihnya itu masih mencarinya ke kantor. Pria itu meminta Atika untuk merahasiakan kedatangan Vanessa pada Putri karena tidak ingin istrinya sedih. Vian menjaga perasaan Putri yang tidak akan suka dia masih berhubungan dengan Vanessa dalam bentuk apapun.
Jika menengok kebelakang, banyak sekali kenangan yang telah Vian buat bersama Vanessa. Dulu, Vanessa adalah gadis biasa, meskipun dia tidak sepolos Putri. Dia cukup populer di sekolahnya. Vian mulai menyukai Vanessa saat tanpa sengaja mereka di pasangkan saat Masa Orientasi Sekolah atau yang biasa
di singkat dengan MOS dan berhasil mendapatkan hati gadis itu setelah masuk ke semester kedua.
Kebersamaan keduanya berlanjut saat keduanya memilih kuliah di kampus yang sama. Saat itu hubungan mereka begitu manis seperti pasanga pada umumnya. Vanessa selalu mendukung dan memberinya semangat pada setiap
kegiatan yang di ikuti oleh Vian. setelah masa kuliah mereka selesai , keduanya sibuk di dunianya masing-masing, hingga Vanessa mendapatkan tawaran menjadi model sebuah produk kecantikan, mulai dari sana, Vanessa perlahan berubah.
__ADS_1
Karena perasaan Vian yang terlalu dalam dengan Vanessa membuat Vian tidak memperdulikan perubahan itu, dia berpikir, mungkin ini karena pengaruh dunia Vanessa yang baru dan selalu memaklumi apapun perubahan
wanita itu. Vian sungguh tidak bisa melihat Vanessa dengan benar kalau bukan karena kehadiran gadis sederhana seperti Putri.
Putri adalah seorang wanita yang membuatnya sadar, bagaimana cinta yang sesungguhnya. Sebuah ketulusan tanpa saling memanfaatkan. Apalagi, setelah Vian tahu, bagaimana kisah hidup Putri, hal itu membuat hatinya melemah dan menginginkan perempuan mandiri sepertinya. Meskipun dia bukanlah wanita yang sebanding jika di sandingkan dengan Vanessa, tetapi Putri lebih spesial dari itu.
Setelah mendapatkan Putri, tidak lagi terlintas di pikiran Vian untuk mencari wanita lain lagi. Tidak ingin ada penghuni lain di hatinya selain Putri seorang. Baginya, istrinya itu layaknya peri yang membuatnya
bahagia dan menyadarkannya dari cinta yang salah.
Vian telah selesai membersihkan dirinya, dia mengenakan kimono mandi berwarna putih. Kedua tangannya sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan handuk sedang berwarna senada. Lelaki itu terpana, saat melihat
istrinya menggunakan piyama tidur terusan pendek sepaha menyerupai baju suster berbahan satin, berwarna merah menyala dengan kancing penuh dari atas sampai bawah. Wanita itu tengah menyisir rambutnya di depan cermin, rupanya dia sengaja menyuruh Vian mandi karena ingin memberinya kejutan itu.
Pria itu segera melangkah mendekat ke arah istrinya yang di sambut senyuman melalui pantulan cermin oleh Putri. Ia segera memeluk Putri dari belakang dan menghadiahi wanita itu kecupan di lehernya, Vian dapat
mengendus wewangian yang teramat menggoda di sana. Kali ini dia harus berterima kasih pada Dion, parfum pilihannya membuat Vian benar-benar tergoda untuk menempeli istrinya terus menerus.
“Kamu sengaja, berpenampilan semenggoda ini? Kamu mau kita tidak tidur semalaman lagi?” bisik Vian menggoda, Putri segera bangkit dari tempat duduknya saat ini dan balas memeluk Vian. Tidak hanya berhenti sampai di situ,
Putri berinisiatif mengecup bibir suaminya terlebih dahulu hingga terjadi pertukaran saliva cukup lama yang membuat keduanya hampir kehabisan nafas karenanya, barulah Putri melepaskan bibir Vian perlahan.
“Ini hukuman buat kamu yang membuatku menunggu terlalu lama. Kamu tahu, satu jam jauh dari kamu itu rasanya seperti seminggu.” Kata Putri dengan volume suara pelan dan sedikit parau.
“Sekarang istriku sudah pintar gombalin suaminya, bagaimana hatiku tidak meleleh kalau begini. Jadi, maunya aku terus ada di samping kamu, gitu? Baiklah, mulai sekarang, aku akan mengajak istriku tercinta ini dalam
acara apapun. Di suruh diam di rumah dan tidur juga nyatanya tidak tidur, malah merencanakan hal menggemaskan seperti ini. Kamu istri yang nakal.” Vian menarik kedua pipi Putri sambil memainkan hidungnya di atas hidung istrinya. Vian sedikit menyesal, mengapa tidak serius menjalani pernikahan dengan Putri sejak awal.
menyangkal pendapat Dion kalau Putri itu cantik dan mempesona, tetapi pada akhirnya dia tergila-gila pada wanita itu melebihi sahabatnya. Vian menertawakan dirinya sendiri jika mengingat itu semua.
“Kamu yang ngajarin aku gombal. Nah, aku setuju. Aku mau ikut kemanapun kamu pergi, siapa tahu di luar sana kamu tergoda dengan wanita lain. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” Sindir Putri. Dia hanya berniat
menjaga apa yang telah ia miliki, meskipun bagi orang lain itu pasti terkesan protektif.
“Ehm, sepertinya ada yang takut kehilangan karena terlalu cinta. Tapi, aku pastikan itu tidak akan terjadi, Sayangku. Besok kamu ada kelas?” tanya Vian serius.
“Iya, besok aku ada kelas, kenapa?” Putri balik bertanya, dia merasa penasaran mengaa tiba-tiba Vian menanyakan perihal kuliahnya.
“Besok, setelah kamu pulang kuliah, kita siap-siap untuk pulang ke rumah ayah dan ibu.” Vian menjelaskan maksud dari pertanyaannya dan itu membuat Putri tidak bisa berkata-kata beberapa saat.
“Kam-kamu se-ri-us mau menemui orangtuaku?” tanya Putri dengan tatapan penuh keraguan.
“Ya. Ini sudah saatnya aku bertemu dengan ayah dan juga ibu, bagaimanapun, aku sudah menculik anak mereka tanpa izin. Aku siap meskipun harus di hukum asalkan orangtuamu mau mengakuiku sebagai menantu mereka.” Kata Vian pasrah. Dia menyadari kesalahannya, menikah tanpa meminta restu kepada kedua mertuanya terlebih dahulu.
“Baik, aku mendukung niat baikmu, mari kita hadapi semuanya bersama.” Putri menggenggam tangan Vian
erat, seolah ia memberikan kekuatan pada lelaki itu untuk menghadapi hari esok.
“Terima kasih, Sayang. Aku sangat bingung harus bersikap seperti apa di hadapan mereka. Semoga aku tidak membuatmu malu.” Vian mengecup punggung tangan Putri dengan sangat lama lalu berpindah ke keningnya untuk menunjukkan seberapa dalam perasaan cintanya pada wanita itu.
“Kamu pasti bisa, Sayang. Semangat, buat aku, buat keluarga kecil kita.”Bisik Putri seraya memeluk Vian erat.
__ADS_1
“Sayang, aku lapar.” Vian balas membisiki telinga wanita
itu.
“Kamu mau makan? Biar aku masakkan sesuatu.” Putri segera melepaskan pelukannya dan berniat keluar dari kamarnya untuk memasakkan Vian sesuatu untuk di makan, tetapi lelaki itu menariknya kembali dan segera
menggendongnya.
“Aku tidak perlu di masakkan, karena kamu yang mau aku
makan.” bisiknya, membuat Putri memukul-mukul pelan dada lelaki itu.
***
Mobil Vian berhenti tepat di depan kampus Putri. Mulai hari ini, Putri tidak ingin menutupi statusnya sebagai istri Vian Wirayudha. Bahkan, jika perlu, dia ingin seluruh dunia tahu, dia adalah milik Vian. sebelum turun dari mobil suaminya, Putri melakukan rutinitasnya, menghadiahkan sebuah kecupan singkat di bibir pria itu.
“Sayang, aku kuliah dulu, kamu baik-baik kerjanya. Jangan terlalu mikirin aku, oke. Nanti jangan
lupa jemput aku, jangan telat atau...” goda putri sambil tersenyum jahil.
“Atau apa? Kamu mau menghukumku lagi seperti semalam? Kamu juga, belajar dengan serius. Sudah, sana
turun, sebelum aku berubah pikiran.” Vian balas menggoda wanitanya itu.
Putri segera turun, tidak lupa ia melambaikan tangannya sebelum suaminya meninggalkannya. Gadis itu tidak menyadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya. Raihan. Lelaki itu memperhatikan Putri sejak wanita itu
turun dari mobil Vian. Saat melihat wanita itu akrab dengan lelaki lain, hatinya terasa tertusuk seribu duri, sakit, sangat sakit. Raihan berpikir, mungkin itulah yang Putri rasakan saat ia mengatakan akan menikahi wanita lain selain dirinya. Mendadak dia merasa sangat bersalah pada wanita itu.
Putri beralan ke arah masuk, di mana Raihan saat ini berada. Wanita itu sibuk mencari ponsel di dalam tasnya sampai tidak menyadari kehadiran Raihan di hadapannya hingga membuat Raihan berusaha menghentikannya
dengan menghadang langkah Putri sehingga mereka bertabrakan. Putri mendongak dan terkejut melihat Raihan yang menatapnya dengan mata memerah dan berkaca-kaca.
“Siapa lelaki itu, Put?” tanyanya. Seketika lidah Putri kelu, dia tidak mampu berkata-kata. Sekilas, ingatannya tentang kenangan bersama Raihan kembali membayang, berikut rasa sakit saat lelaki itu memutuskan untuk meninggalkannya demi wanita lain tanpa perjuangan sedikitpun. Putri memalingkan wajahnya ke tempat lain, karena dia tidak bisa menjamin dirinya untuk tidak menjatuhkan air mata saat ini.
“Siapa dia bagiku, apa urusannya denganmu?” kata Putri dingin seraya menahan rasa sakit yang kembali terkoyak di hatinya. Bagaimanapun, perpisahan dengan Raihan adalah hal yang sangat menyakitkan untuknya.
“Aku tahu, aku tidak berhak tahu siapa dia. Tapi, aku benar-benar berharap kamu mau memberiku tahu, apa hubunganmu dengan lelaki itu.” kali ini, bukan lagi mata yang berkaca-kaca, tetapi air mata lelaki itu
benar-benar jatuh tak terbendung. Dia telah berusaha sekuat tenaga untuk menghapus Putri dalam ingatannya, nyatanya, dia tidak bisa mengingkari kalau dirinya masih sangat mencintai wanita yang ada di hadapannya sekarang.
“Dia suamiku.” Ucap Putri tegas. Tidak tahu kenapa, Putri merasa sedikit sakit saat mengucapkan ini di hadapan Raihan.
“Su-suami? Kamu sudah menikah? Kenapa secepat itu, Put?” tanpa sadar Raihan mengguncangkan
tubuh Putri, air mata keduanya sama-sama membasahi pipi. Sekarang Putri memberanikan dirinya untuk menatap Raihan.
“Ya, aku sudah menikah. Kamu tanya mengapa? Bukankah akhirnya kamu juga akan menikahi perempuan lain? Lalu apa yang bisa aku harapkan dari kamu? Menunggumu mengirimkan undangan padaku dan membiarkan
hatiku semakin hancur?” Putri menatap ke dalam mata Raihan, pertanyaan-pertanyaan itu terasa menghujam jantung pemuda itu. Apa yang di katakan Putri memang benar.
“Aku masih mencintaimu sampai detik ini, Put. Aku...,”
__ADS_1
“Stop, jangan teruskan lagi. Buat apa cinta tanpa perjuangan Raihan? Pernahkah kamu memikirkan hatiku saat kamu mangatakan itu? Kamu tahu bagaimana rasanya mendengar orang yang kamu sayangi akan menikahi orang lain setelah sekian lama berkomitmen? Coba tanyakan pada hatimu, masih pantaskah kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku? Maaf, aku ada kelas pagi, permisi.” Putri berlari meninggalkan Raihan yang mematung dengan penuh penyesalan. Bukan salah Putri jika akhirnya wanita itu lebih memilih menikah dengan orang lain, karena dirinyalah yang memberikan harapan palsu.