
Liburan singkat Vian dan Putri telah usai. Mereka harus kembali ke rumah nenek. Rona bahagia tidak dapat di sembunyikan dari wajah mereka berdua, karena kali ini mereka benar-benar menikmati waktu bersama.
Keduanya menjadi lebih dekat satu sama lain karena ini.
Putri menatap Vila cukup lama, sepertinya dia belum rela untuk meninggalkan tempat itu. melihat Putri yang tampak berat untuk kembali ke rumah membuat Vian keluar lagi dari dalam mobil dan mendatangi wanita yang di
cintainya itu lalu memeluknya lembut dari belakang, tangannya melingkar di perut Putri, Vian juga menempelkan dagunya di salah satu bahu istrinya dengan manja.
“Sayang, jangan sedih. Kita akan ke sini lagi, kapan-kapan. Kita harus kembali bekerja, kasihan Bimo, pasti dia kelelahan mengurus segalanya. Terpenting, di sini kita sudah saling menunjukkan kasih sayang satu sama lain,
kita sudah menikmati waktu berdua, kalau perlu, nanti kita atur jadwal buat bulan madu, gimana?” hibur Vian, Putri menoleh ke arah wajah suaminya itu berada, matanya tampak berkaca-kaca.
“Aku bukan sedih karena kita harus pulang hari ini, tapi aku bahagia, di villa ini kita sudah menghabiskan waktu berdua dengan sangat manis. Aku hampir tidak percaya kita berdua bisa berada di titik ini sekarang.” Putri
menyeka air matanya yang mulai jatuh, Vian menuntun Putri untuk menghadapnya, dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Vian mengelus trambut Putri perlahan, sama seperti istrinya, dia juga tidak percaya hubungan mereka akan seperti sekarang.
“Aku juga sangat bahagia dapat berada di saat seperti sekarang bersamamu. Sekarang sebaiknya kita pulang, karena nenek juga pasti sudah sangat merindukan kita.” Putri mengangguk setuju dengan apa yang di
katakan oleh Vian. Putri juga ingin segera bisa memasak bubur kesukaan nenek lagi.
***
Pintu rumah nenek terbuka seperti biasa, Vian menggandeng Putri masuk. Putri merasa senang karena dirinya telah kembali ke rumah nenek Vian. meskipun di villa menyenangkan, tinggal bersama nenek jauh lebih
menyenangkan menurut Putri. Wanita tua itu selalu memberikan kehangatan dan menerima kehadiran putri dengan tangan terbuka, bahkan sebelum Vian berdamai dan menganggapnya sebagai orang asing.
“Ehm!” suara nenek mengejutkan mereka berdua sehingga mereka menoleh langsung ke sumber suara.
“Nenek!” seru mereka hampir bersamaan.
“Bagus, kalian pergi ke Vila tanpa mengajak nenek. Jadi, apa kalian sudah tidak menganggap nenek kalian ini masih ada?” nenek tampak merajuk karena dirinya tidak di bawa serta mengunjungi Villa.
“Maaf, Nek. Kami juga tidak ada rencana, aku tiba-tiba saja kepikiran untuk pergi ke Villa, kami bahkan tidak membawa baju sedikitpun sampai harus membelinya saat sudah dekat ke lokasi. Nenek jangan marah, lagipula bukannya nenek bilang tidak ingin pergi ke Villa lagi, lalu kenapa tiba-tiba nenek ingin pergi ke sana?” Vian tampak
bingung dan bertanya-tanya mengapa neneknya berubah pikiran.
“Tentu saja karena ada Putri, tapi aku sedih, ternyata kalian tidak mengajakku pergi kesana.” Nenek tampak sangat kecewa, membuat Putri merasa bersalah.
“Baiklah, lain kali Vian akan bawa nenek juga. Nenek jangan marah, coba lihat cucu menantu kesayangan nenek sampai sedih dan merasa bersalah seperti itu.” Vian yang diam-diam memperhatikan Putri memahami apa
yang sedang di rasakan oleh wanita itu.
“Pfft, maaf Putri, nenek hanya bercanda. Justru nenek sangat bahagia karena kalian akhirnya melakukan liburan kecil berdua. Ehm, sepertinya impian nenek untuk mendapat cucu akan segera tercapai.” Sindir Nek Dewi, membuat pipi keduanya merona.
“Nenek mau Putri buatkan sesuatu?” Putri berusaha mengalihkan perhatian neneknya. Lagi-lagi nenek itu membahas cucu, membuatnya jadi salah tingkah. Meskipun kemungkinannya untuk bisa memenuhi keinginan neneknya sudah sangat besar.
“Tidak perlu, aku tidak ingin apapun. Kalian sebaiknya segera istirahat, nenek tahu kalian
pasti sangat lelah.” Nenek melangkah meninggalkan mereka berdua, Vian segera menarik Putri untuk segera kembali ke kamar mereka.
***
Raihan memanfaatkan hari libur untuk mengunjungi kediaman Ustadz Zaenal, calon mertuanya. Bagaimanapun, dia harus melakukan pendekatan dengan Anisa mengingat waktu mereka menikah hanya tinggal beberapa bulan lagi,
setidaknya Raihan ingin berusaha mengenal Anisa lebih jauh, agar saat mereka menikah nanti tidak terlalu canggung.
“Anisa sudah menunggu di taman belakang.” Kalimat yang di ucapkan oleh Ustadz Zaenal menuntun langkah Raihan menuju ke taman kecil milik keluarga Anisa. Gadis itu benar-benar sudah menunggunya. Anisa menggunakan pakaian serba panjang dengan warna merah dengan hijab berwarna senada.
Mendengar langkah Raihan mendekat, Anisa menyambut calon imamnya itu dengan senyuman yang tulus dan memikat. Perlahan, senyuman manis gadis itu mulai menghapus senyuman Putri yang masih membayangi ingatannya. Meskipun tidak mudah, Raihan tetap berusaha melupakan Putri, sering melihat
wanita itu menghindarinya membuat hatinya terasa sakit. Raihan baru saja merasakan, betapa sulitnya merelakan.
__ADS_1
“Kak Rai, apa kabar?” sapanya ramah. Raihan berusaha untuk menampilkan senyumannya, dia tidak ingin Anisa tahu, bagaimana perasaannya saat ini.
“Baik, Anisa. Kamu apa kabar? Maaf, aku baru bisa mengunjungimu lagi.” Raihan menyampaikan
maafnya, dia memang telah lama tidak mengunjungi Anisa sejak hari itu, karena Raihan berada dalam masa tersulit dalam hidupnya, berjuang melawan egonya yang masih belum bisa menerima kenyataan.
“Tidak apa, Kak. Anisa tahu, pasti Kak Raihan sibuk dengan kuliahnya. Abinya Kak Rai sering berkunjung kemari dan bilang pada Anisa untuk bersabar karena tugas Kak Rai sedang banyak.” Anisa tampak sangat polos jika di
bandingkan dengan usianya. Dia begitu tulus danseperti tidak mencurigai apapun.
Anisa tidak memiliki kekurangan, semua kriteria wanita idaman pria ada pada dirinya, seharusnya Raihan bisa mencintainya dengan lebih cepat, tetapi hati lelaki itu masih saja belum menerima Anisa masuk. Raihan
juga tidak tahu sampai kapan, dia akan bertahan dalam benteng kaca cintanya bersama Putri meskipun itu telah retak. Memaksakan untuk mencintai gadis yang ada di sampingnya justru membuat perasaannya semakin sakit.
“Terima kasih Anisa, atas pengertian kamu. Memang akhir-akhir ini tugas kuliahku tengah menumpuk. Bagaimana kuliahmu? Lancar?” Raihan mencoba menunjukkan perhatiannya pada Anisa.
“Alhamdulillah semuanya berjalan baik, Kak. Anisa senang dapat melihat Kak Rai datang kesini.” Sekali lagi, Anisa menampilkan senyum tulusnya.
Raihan dan Anisa menghabiskan waktu beberapa saat untuk membicarakan beberpa hal. Pria itu bersyukur, meskipun ia di jodohkan dengan orang yang tidak di cintainya, setidaknya Anisa adalah sosok wanita yang baik, yang akan mendampinginya dengan setia.
***
Hari berikutnya...
Vian dan Putri kembali pada rutinitas mereka, bermain peran antara bos dan karyawan. Karena sedikit
kesianan dan tidak sempat sarapan, Putri membawa roti isi untuk sarapan mereka
di mobil. Putri dengan setia menyuapkan makanan ke mulut Vian yang tengah menyetir,
mengelap sudut bibir lelaki itu jika ada saus yang belepotan dan juga
Mereka terbangun dari tidur saat Dion melakukan panggilan ke ponsel Vian dan mengatakan kalau hari
ini dirinya ingin bertemu dan berkunjung ke kantor Vian. Mungkin jika pria yang menggilai Putri itu tidak menghubungi Vian, keduanya tidak akan membuka mata dan terbuai dalam pelukan kasur empuk tempat mereka berbaring.
“Kamu tahu kan, kalau Dion itu seperti ada rasa
padaku?” Putri mengawali obrolannya dengan Vian.
“Ya, aku tahu itu, lalu?” sahu Vian santai sambil terus menyetir.
“Kamu tidak cemburu?” tanyanya lagi.
“Cemburu, tapi aku bisa apa, bukannya dia tahunya hubungan kita hanya bos dan juga karyawan?” ujar Vian dan Putri baru ingat kalau memang status itu yang Dion tahu tentang mereka.
“Apa sebaiknya aku menghindarinya saja?” Putri meminta pendapat Vian, dia tidak ingin
Vian merasakan ceburu dalam diam dengan Pria itu.
“Tidak perlu, selagi kalian hanya berhubungan layaknya teman, aku tidak akan marah.” Vian meyakinkan Putri, semuanya kan baik-baik saja, Vian percaya, Putri bukan tipe wanita seperti itu.
“Terima kasih atas kepercayaan kamu padaku, Vian. Hubunganku dengan Dion memang hanya teman, meskipun aku tahu dia menginginkan lebih. Entah mengapa, saat bersamanya aku justru teringat denganmu.” Ungkap Putri jujur.
“Tunggu, kamu bilang apa? Aaat bersamanya kamu justru memikirkan aku? Kapan itu terjadi? Kenapa kamu tidak bicara padaku tentang perasaanmu yang sebenarnya.” Vian tampak sangat antusias dengan kalimat yang baru saja Putri katakan.
“I-itu sudah lama, saat kita mmasih berada di Paris. Sepertinya perasaanku mulai tumbuh saat itu.” kata Putri sedikit malu-malu, Vian tersenyum mendengarnya.
“Sama, aku juga. Aku bahkan merasa tidak senang, saat kamu bilang, kamu akan pergi bersama dengan Dion malam itu. Aku saat itu tidak berpikir kalau aku cemburu, aku mengira yang ku rasakan saat itu hanya karena
perasaanku yang sedang kacau.” Vian juga mengungapkan prasaannya yangsebenarnya pada Putri. Ya, keduanya memang telah lama merasakan percikan cinta, hanya saja Vian dan Putri belum menyadarinya.
__ADS_1
Mereka berdua telah memasuki area kantor, mobil Dion telah terparkir di sana. Pria itu telah menunggu Vian di lobi, meskipun tujuan utamanya jelas untuk menemui Putri untuk memberikan oleh-olehnya.
“Maaf, sudah menunggu lama.” Vian dn Putri mendatangi Dion, meskipun canggung, Putri berusaha biasa saja, seolah tidak terjadi apapun.
“Tidak masalah, Vian. Aku ingin membicarakan masalah perpanjangan kerjasama perusahaan kita. Sebelumnya, aku ingin memberikan oleh-oleh ini untuk kalian berdua, ini untuk Putri, dan ini untukmu.” Dion
menyodorkan masing-masing pada mereka satu buah paperbag. Putri memandang ke arah Vian meminta seolah persetujuan lelaki itu, apakah ia boleh mengambil hadiah dari Dion atau tidak.
“Ambil saja, tidak apa-apa, Put. Sekalian bawa punyaku masuk ke ruangan kita. Aku harus rapat dadakan dengan sahabatku ini. Terima kasih hadiahnya, Dion. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot. Sekalian saja, bawakan
aku Menara Eiffel.” Canda Vian,
Putri segera mengambil hadiah yang di berikan oleh Dion dan segera berlalu dari hadapan mereka berdua setelah mengucapkan terima kasih pada pria itu.
“Kamu bisa saja, Vian. kalau di lihat-lihat, Putri semakin hari semakin cantik, aku semakin
menyukainya, tapi... aku bingung bagaimana cara mengungkapkan perasaanku.” Kata Dion dengan santai, sementara Vian merasa tidak senang ada pria lain yang memuji dan menginginkan istrinya seperti itu.
“Ah, ya. Putri memang cantik, aku juga tidak menyangkalnya.” Vian memijat lehernya bagian belakangnya yang terasa sedikit kaku.
“Tuh, kan. Akhirnya kamu mengakuinya juga. Aku kan sudah bilang, meskipun hanya seorang sekertaris, tetapi daya tarik Putri sangat kuat.” lagi-lagi Dion memuji Putri.
“Haha, mungkin saat itu aku belum sadar. Ehm, bagaimana kalau kita mulai membicarakan kerjasama kita? Aku tidak mempunyai banyak waktu karena ada jadwal selanjutnya.” Vian mencari alasan agar Dion segera mengakhiri
acara memuji istrinya, karena Vian tidak yakin bisa menahan diri jika Dion melakukannya lagi.
“Baiklah, baiklah, aku lupa kalau sahabatku ini orang penting yang sibuk. Mari kita mulai pembahasanya.” Dion mulai membuka berkas yang di bawanya.
***
Putri terkejut saat melihat isi kedua paperbag itu. Dion membelikan Vian sebuah jam tangan yang terlihat mewah, sedangkan untuk dirinya, Dion menghadiahkan parfum yang juga tampaknya tidak murah. Putri bingung, hanya
untuk hadiah seorang teman, orang kaya rela mengeluarkan uang sampai berjuta-juta dari sakunya. Putri merasa hadiah yang di terimanya itu terlalu berlebihan. Terlebih, dia tahu, Vian tidak akan menyukai itu.
Gadis itu sedikit khawatir, apakah tidak apa-apa meninggalkan mereka berdua saja. Bagaimana kalau Dion sampai memujinya seperti biasa dan Vian merasa tidak senang? Hal itu membuat Putri merasa gelisah dan tidak tenang.
Wanita itu berusaha menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang telah menumpuk karena tidak di kerjakannya beberapa hari sambil menunggu Vian kembali ke ruangannya.
Setelah menunggunya beberapa saat, Vian akhirnya masuk ke dalam ruangannya dengan wajah yang tampak kesal. Putri segera menghampiri Vian ke mejanya untuk mencari tahu, apa yang di alami oleh suaminya hingga membuat perasaannya memburuk.
“Vian, ada apa?”
“Tidak ada.” Vian mencoba untuk tidak membicarakan apa yang membuat hatinya terasa tidak sebaik tadi.
“Tidak mungkin, ayo katakan. Kamu sudah mulai merahasiakan sesuatu padaku?” Putri pura-pura kesal.
Dia sangat ingin mengetahuinya, apakah semuanya di sebabkan oleh Dion?
“Aku kesal, Dion selalu memuji kamu. Rasanya aku ingin marah, tapi nggak bisa.” Keluh Vian, Putri tersenyum geli saat mendengar alasan pria itu kesal.
Putri berjalan ke arah kursi tempat Vian duduk, menariknya ke belakang agar tercipta ruang yang lebih luas antara meja dan kursi, kemudian wanita itu duduk di pangkuan suaminya. Putri memeluk Vian dengan manja, supaya
perasaan pria itu kembali stabil.
“Kamu tidak perlu cemburu, kalau aku di puji, berarti kamu beruntung bisa memiliki aku. Lagipula, di hati aku cuma ada kamu, nggak ada tempat untuk yang lain lagi. Sini, aku kasih obat biar nggak kesel lagi.” Putri meraih kepala Vian dengan perlahan lalu menghadiahkan sebuah kecupan singkat di bibir pria itu.seketika senyum Vian mengembang, obat dari Putri ternyata cukup mujarab.
“Mau lagi yang lama.” Bisik Vian, Putri tidak menurutinya, malah menghadiahi lelaki itu dengan satu buah jeweran di telinganya.
“Mesum terus ya Si Bapak, ini kantor Pak, tolong kondisikan.” Putri mengingatkan Vian di mana mereka berada saat ini.
“Kalau di dekat kamu, aku selalu lupa diri, maaf Bu Sekertaris.”
__ADS_1