Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 53


__ADS_3

Sejak pulang dari kampus, Raihan tidak keluar dari kamarnya. Pernyataan Putri mengakui lelaki yang ada di mobil itu adalah suaminya  terus terngiang di telinganya. Dia pikir, keyakinannya akan ia baik-baik saja meninggalkan Putri itu benar-benar terjadi, tetapi  ternyata salah. Dia tidak sekuat itu, hatinya yang patah justru semakin hancur melihat kenyataan yang ada.


Dalam hal ini, Raihan tidak menyalahkan siapapun. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat mengambil keputusan dengan tegas. Bukan penurut, Raihan hanya terlalu takut pada ayahnya. Dia hanya tidak


ingin mengecewakannya dan mengorbankan perasaannya pada Putri. Sekarang, hanya  ruangan kamar itu yang menjadi saksi, bagaimana Raihan terpuruk.


Aisyah yang tidak melihat Raihan makan siang penasaran, apa yang sedang di kerjakan anaknya di kamarnya.  Biasanya, sepulang dari kampus, Raihan selalu membuka tutup saji atau setidaknya bertanya, masak apa umi hari ini?.  Pelan-pelan, Aisyah membuka pintu kamar anaknya karena ketukannya berulang tidak di hiraukan.


Dilihatnya, anaknya yang duduk dengan posisi membelakanginya menunduk, badannya bergoyang-goyang, sepertinya Raihan tengah menangis. Dia mendatangi anaknya, memegang bahunya dengan lembut. Raihan segera menghapus air matanya, berusaha terlihat baik-baik saja dengan mengembangkan senyum palsu di bibirnya.


“U-umi, ada apa?” tanyanya dengan pura-pura ceria.


“Tidak perlu berbohong. Umi tahu, sekarang Raihan tidak sedang baik-baik saja, kan?”  tanya Aisyah dengan lembut.


“Umi bicara apa? Raihan baik kok, Umi.” Raihan masih berbohong. Aisyah tersenyum lembut, lalu duduk di samping Raihan.


“Raihan, lihat umi, Nak. Jujur sama umi, kamu kenapa? Umi ini ibu kamu, umi selalu ada di pihak kamu.” Kata perempuan itu, seakan memaksa dengan halus kepada Raihan untuk mengatakan yang sebenarnya.


“Raihan boleh peluk Umi?” tanyanya Ragu, Aisyah tersenyum, matanya berkaca-kaca lalu membuka tangannya untuk menyambut Raihan datang ke dalam pelukannya. Melihat itu, Raihan dengan segera memeluk ibunya tanpa ragu.


“Seseorang yang aku suka dan waktu itu aku tinggalkan telah menikah dengan orang lain, Umi. Aku pikir, setelah memutuskan untuk membuka hati pada Anisa, aku akan baik-baik saja, tapi ternyata hatiku patah dan


sekarang hancur Umi. Rasanya sangat sakit.” Raihan tidak peduli jika di anggap cengeng oleh semua orang. Baginya, siapapun berhak menangis, meskipun dia laki-laki.


“Umi kan sudah bilang, pikirkan dulu matang-matang sebelum mengambil keputusan. Sekarang  menyesalpun sudah terlambat, Raihan. Kalau kamu meninggalkan Anisa, kamu melukai dia, karena kamu sudah memberinya harapan, lagipula, anak umi bukan perebut istri orang, kan? Sekarang, Raihan ambil air wudlu, sholatlah, Nak.


Minta sama Allah buat meringankan rasa sakit hati kamu. Percaya sama Allah, jodoh tidak akan kemana.”  Kalimat yang di sampaikan oleh Aisyah membuat Raihan merasa sedikit tenang. Dia memang harus mengakui kalau dirinya telah terlambat meyesali segalanya.


***


Sesuai kesepakatan yang telah di setujui oleh mereka berdua semalam, sepulang dari kampus, Putri segera menyiapkan koper yang telah di isi dengan pakaian mereka berdua dan beberapa barang-barang yang di perlukan.


Pikirannya yang sedikit terganggu dengan obrolan singkatny dengan Raihan membuat Putri sedikit kacau, tetapi ia berusaha agar Vian tidak mencurigainya. Dia tidak ingin membahas Raihan lagi, menurutnya semua telah


setimpal. Mereka telah saling mnyakiti dan itu sudah lebih dari cukup.


Vian yang tadi meminta izin untuk bicara pada neneknya telah kembali ke kamar. Pria itu duduk di samping Putri, ikut-ikut melipat pakaian yang telah istrinya siapkan. Semakin dekat waktunya bertemu dengan mertuanya


membuat perasaan Vian menjadi campur aduk.  Sejujurnya, dia tidak percaya diri. Bagaimana kalau ternyata orangtua Putri menolaknya? Apa yang harus dia lakukan?


“ Kamu duduk saja, Vian. Istirahat, nanti kita akan melakukan enam jam perjalanan, aku takut kamu akan kelelahan meskipun membawa Bimo ikut serta.” Putri mengingatkan Vian, mereka memang akan melakukan


perjalanan jauh, Putri khawatir dengan keadaan Vian, apalagi ini pertama kalinya untuknya.


“Tidak. Selagi aku bersamamu, aku akan baik-baik saja.”  Vian merasa perjalanannya ini akan menjadi


perjalanan yang menarik. Vian ingin tahu, bagaimana rasanya tinggal di daerah tempat istrinya di lahirkan.


“Bayi pandaku memang bandel. Awas nanti ya, kalau sampai kamu kelelahan, jangan salahkan aku.” Ancam Putri, tetapi Vian mengabaikannya  dan masih terus membantu istrinya membereskan barang-barang mereka.


“Kalau aku lelah, aku bisa memintamu untuk memijat badanku. Sayang, ini apa?” ledek Vian sambil menenteng pakaian dalam bagian atas milik Putri.


“Ih, Vian, balikin nggak?!” Putri berusaha merebutnya dari tangan Vian, tetapi pria itu pandai mengelak sehingga Putri tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau.

__ADS_1


“Ayo coba sini kalau bisa.” Vian menantang Putri, membuat wanita itu gemas dan tidak bisa  menahan


dirinya untuk tida menyerang lelaki itu. Karena Vian sedang duduk di pinggir ranjang, mudah untuk Putri mendorong jatuh prianya itu.


“Balikin Vian...,”  Putri berusaha menggapai tangan Vian yang di rentangkan jauh ke atas, dengan posisi Putri yang berada di atasnya seperti sekarang, Putri dapat melihat wajah Vian dengan sangat dekat. Pandangan mata


merek bertemu, Putri berharap, Vian tidak mendengar detak jantungnya yang begitu tak beraturan.


“Kalau aku tidak mau balikin, kenapa? Lagipula aku sudah sering melihatnya, jadi kenapa kamu malu seperti itu?” Vian memandangi bola mata Putri bergantian, pipi wanita itu memanas, mengingat semua rutinitas malam


mereka. Putri yakin, Vian dapat melihat semu merah di kedua pipinya. Wanita itu berusaha bangkit dari posisinya sekarang, tetapi Vian menariknya lagi hingga Putri terjatuh dan membuat bibir mereka bertemu. Waktu seakan berhenti, keduanya bertahan dalam beberapa detik di posisi itu.


Suara pintu di ketuk akhirnya menyadarkan mereka berdua. Seperti pasangan yang sedang tertangkap basah, keduanya saling menjauh dan memeriksa kondisi pakaian masing-masing, Putri segera melangkah ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang, sementara Vian kembali menyibukkan diri beres-beres.


“Nenek, masuk Nek.” Putri mempersilahkan neneknya masuk. Wanita tua itu dapat melihat kegugupan di wajah Putri, saat melangkah masuk ke kamar cucunya, nenek juga melihat ranjang yangsedikit berantakan, pasti terjadi


sesuatu, pikir neneknya.


“H-hai Nek.”sapa Vian dengan canggung.


“Ada apa dengan kalian? Kenapa tiba-tiba  menjadi aneh? Nenek tidak peduli apa yang baru saja kalian lakukan, tidak perlu malu. Lagipula kalian kan sudah menikah.” Neneknya terkekeh, membuat Putri dan Vian semakin salah tingkah.


“Ah, itu tidak seperti yang nenek pikirkan.” Sahut Putri pelan sambil memegangi leher bagian belakangnya.


“Sudah-sudah, santai saja dengan nenek, begini-begini, nenek juga pernah muda. Jadi, kalian akan pulang ke rumah Putri hari ini juga?” tanya nenek kemudian, Vian merasa lega, akhirnya topik pembicaraan mereka berubah.


“Iya, Nek. Kami aka berangkat sebentar lagi, sampai ke sana malam. Do’akan kami ya, Nek.” Putri meminta restu pada neneknya.


“Tentu saja, nenek akan selalu mendo’akan yang terbaik untuk kalian berdua.  Vian, ingat, jangan


“Siap, Nek. Cucu nenek ini akan menunjukkan pada orangtua Putri kalau aku sangat layak menjadi menantunya. “ sahut Vian dengan mantap.  Meskipun belum pernah bertemu dengan orangtua Putri sebelumnya, tetapi Vian yakin mereka akan menerimanya dengan tangan terbuka.


***


Perjalanan panjang mereka pun di mulai. Putri bahagia, akhirnya setelah sekian lama tidak kembali ke rumah, dia bisa membayangkan nikmatnya masakan ibunya yang akan segera ia nikmati nanti setelah tiba di


sana. Putri sudah menelepon Bagus untuk mengabarkan kepulangannya, tentu saja Putri belum memberi tahu tentang Vian. Dia sangat gugup dan tidak tahu harus menceritakan Vian mulai dari mana.


Putri tidak mungkin mengatakan kepada ibunya tentang awal mula dirinya bertemu dengan Vian. menjadi istri kontrak itu bukan pekerjaan yang umum, apalagi ibunya orang awam, dia tidak ingin terjadi kesalah pahaman


dan memutuskan untuk membiarkan Vian yang mengatakannya nanti di hadapan mereka berdua.


Putri mellihat Vian tampak gelisah, ada rasa cemas yang tergambar di wajahnya. Dia pasti sangat gugup karena ini adalah pertama kalinya  dirinya akan bertemu dengan orangtua Putri. Wanita itu mengenggam erat jemari lelaki yang di cintainya. Di tatapnya Vian dengan lembut serta memberikan senyuman termanisnya untuk lelaki itu.


“Semuanya akan baik-baik saja. Orangtuaku pasti akan mengerti, meskipun mungkin akan ada keterkejutan, itu hal yang biasa. Aku tidak akan membiarkanmu berada dalam kesulitan seorang diri, aku akan membelamu di


depan mereka.” Katanya dengan lembut sambil merebahkan kepalanya di bahu suaminya itu. pernyataan Putri menyejukkan hati Vian, sekarang lelaki itu bisa mengembangkan senyumannya.


“Terima kasih, Sayang. Sejujurnya aku memang sangat gugup mengingat ini semua. Bagaimanapun, ini pertama kalinya untukku, rasanya campur aduk. Kira-kira, bagaimana tanggapan orangtuamu, ya? Apakah aku akan di pukuli menggunakan gagang sapu ijuk karena tiba-tiba menikahimu tanpa izin dari mereka?” tanya Vian serius, tetapi Putri justru tertawa mendengar kalimat yang di ucapkan oleh suaminya.


“Orangtuaku tidak sebar-bar itu, Vian. mungkin kamu hanya akan di bentak atau di jewer, aku juga sedang membayangkan, hukuman apa yang akan mereka berikan padamu.” Ujar Putri terkekeh. Sebenarnya, dia hanya ingin menambah kegugupan Vian saja. Orangtuanya pasti akan senang karena dirinya telah menikah dengan orang yang terpandang seperti Vian.


Mereka membicarakan banyak hal selama perjalanan. Bimo yang memantau mereka dari tempatnya mengemudi merasa ikut berbahagia dengan kebahagiaan cucu majikannya itu. meskipun terkadang Vian kasar dan suka

__ADS_1


menyuruhnya seenaknya sendiri, bagi Bimo, Vian bukanlah orang lain. Dia sudah seperti keponakannya sendiri. Karena ketulusannya itulah, Nenek Dewi selalu mempercayakan segalanya yang berhubungan dengan Vian padanya.


***


Di rumah Putri...


Marni sedang memasak beberapa makanan kesukaan Putri. Putri telah mengirim sejumlah uang agar ibunya dapat menyiapkan makanan yang spesial untuk menyambut kedatangan mereka. Adit dan juga Parman suaminya, ikut membantu kesibukannya. Mereka berdua merapikan rumah. Putri juga berpesan agar mengganti kasur di kamarnya dengan yang lebih luas.


Semenjak Putri terikat kontrak dengan Vian, dia selalu mengirimkan sejumlah uang setiap akhir minggu kepada ibunya, membuat kehidupan keluarga mereka sedikit mengalami perbaikan. Ayahnya membeli beberapa ekor


kambing untuk mereka pelihara dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit uang yang di kirimkan oleh anaknya.


“Pak, kenapa sih, Kak Putri menyuruh kita bersih-bersih rumah segala? Biasanya kalau mau pulang tidak perlu sampai seperti ini.” Adit merasa ada yang aneh dengan kakaknya, karena biasanya kakaknya itu tidak pernah


meminta macam-macam saat pulang.


“Mungkin, kakakmu akan pulang membawa  temannya, jadi dia meminta kita untuk bersih-bersih.” Dugaan Parman memang benar, hanya saja teman yang akan di bawa Putri pulang bukanlah teman biasa.


“Benar juga, Pak.”  jawaban Parman memuaskan rasa penasaran Adit.


“Dit, tolong belikan kecap, tadi Mak lupa!” teriak Marni dari dapur, Adit segera menemui emaknya ke dapur.


“Baik Mak.”


Sepeninggal Adit, Parman mendekati istrinya yang tengah memasak di dapur. Pikirannya tiba-tiba terganggu karena pertanyaan Adit saat mereka bersih-bersih tadi.


“Bu, Ibu merasa ada yang aneh nggak dengan sikap Putri?” tanyanya kemudian, mengarahkan Marni kemana topik pembicaraan mereka.


“Iya, Ibu juga merasa aneh, Pak. Tidak biasanya Putri minta di masakin banyak begini saat akan pulang. Jangan-jangan, dia membawa pacarnya dari kota untuk di kenalkan ke kita.” Tebak Marni dengan tatapan mengharap


Parman setuju dengan pemikirannya.


“Bisa jadi, Bu. Anak kita memang sudah dewasa, sebentar lagi akan di pinang dan kita tidak berhak mengaturnya lagi, Bu. Padahal, sepertinya baru kemarin kita menggendong Putri saat masih bayi.” Parman tampak sedih,


membuat Marni merasa iba pada suaminya itu.


“Pak, kita sebagai orangtuanya harus siap. Tugas kita hanya membesarkan dan mendidik Putri dengan baik.” Marni mencoba menenangkan suaminya.


“Bukan itu, Bu. Sebagai seorang ayah, Bapak belum puas berbagi kasih sayang dengan dia. Jangankan membahagiakan dia, bapak malah terus-terusan menyusahkan dia.” Ungkap Parman sedih.


“Untuk itu, ibu juga setuju dengan Bapak. Tapi, apa yang bisa kita lakukan, Pak. Nyatanya kita memang tidak bisa memenuhi segala keperluan Putri. Kita do’akan saja, semoga Putri mendapatkan suami yang baik, yang


sayang sama dia, syukur-syukur seorang pengusaha, biar anak kita dapat merasakan hidup yang layak.” Kata Marni sambil membalik ayam gorengnya. Tidak ada yang bisa Marni berikan selain do’a untuk Putri dan sepertinya do’a seorang ibu memang luar biasa, Putri telah mendapatkan suami yang sesuai dengan do’a yang ibunya panjatkan.


“Ibu benar. Kita harus selalu memberikan do’a yang terbaik untuk Putri, Bu. Aku malah jadi berharap Putri benar-benar membawa calon suaminya. Bapak pingin segera punya menantu.”


“Dasar si bapak. Sabar pak, siapa tahu dugaan kita salah, Putri hanya membawa temannya dari kota, iya kan? semuanya sudah beres kan, Pak?” Marni memastikan seluruh sudut rumah kecil mereka telah bersih dan rapi.


“Sudah, Bu. Semuanya sudah selesai, tinggal pinggang bapak ini yang sakit. Nanti kalau ibu sudah selesai memasak, pijat pinggang bapak pakai balsem ya, Bu.” Pesan Parman pada istrinya.


“Iya, Pak, nanti ibu pijitin. Sekarang bapak istirahat saja dulu sebentar, setelah itu mandi. Ibu mau menyelesaikan beberapa masakan lagi.”


“Baik, Bu. Kalau begitu bapak tinggal dulu, ya.” Parman meninggalkan Marni setelah wanita itu mengiyakan perkataannya.

__ADS_1


Marni kembali tenggelam dalam acara masak memasaknya.


__ADS_2