Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 20


__ADS_3

“Setelah makan malam, nenek ingin bicara berdua denganmu. Putri tidak keberatan, kan?”  kata nenek perlahan saat mereka masih menikmati makan malam. Beberapa jam sebelumnya, nenek sempat heboh dengan luka lebam di pipi Putri, lebih tepatnya pura-pura heboh.


“Tidak apa, Nek. Setelah makan dan membereskan peralatan makan, aku juga ingin tidur cepat. Aku sangat lelah hari ini.” Putri merasa sedikit tidak enak badan, istirahat adalah hal yang harus ia lakukan saat ini. Meskipun ia sedikit penasaran apa yang akan di bahas nenek dan Vian, tetapi ia sadar, ia tidak berhak ikut campur apapun dalam


kehidupan pria itu.


Saat ini yang perlu ia lakukan adalah tetap fokus pada tujuan,  membuat orangtua dan adik-adiknya bahagia dan menikmati jerih payahnya. Ia sudah


sedikit mempersiapkan diri jika ke depannya ia akan mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari pacar-pacar suaminya itu. Saat ini, pipinya bahkan masih terasa nyeri.


‘Baik, Nek. Mari kita bicara berdua.” Vian tampak tenang. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Putri yang hanya fokus pada makanannya, ekspresinya yang datar membuat orang tidak bisa


menilai, apa maksud dari pandangan diam-diamnya itu.


Saat acara makan malam selesai, Putri seperti biasa, membereskan peralatan mereka makan, lalu ia pergi ke kamarnya untuk istirahat, sama seperti apa yang ia sampaikan kepada nenek.


Di ruangan lain, Vian dan neneknya duduk berdampingan. Di lihat dari wajahnya, seperti nenek sedang ingin bicara dengan serius pada Vian. Nenek mengeluarkan sesuatu dari dompet hitamnya


lalu menyodorkannya pada Vian.


“Tiket ke paris? Untuk apa, Nek?”  Vian menatap dua tiket yang neneknya sodorkan itu bergantian antara memandang tiket dan memandang wajah wanita tua itu.


“Kamu ini bodoh atau pura-pura bodoh?  Kamu sudah menikah, dan ini saatnya kalian pergi bulan madu.” Ucapan neneknya terdengar datar, tetapi Vian merasa wanita itu sangat memikirkan dirinya dan juga Putri. Ada rasa bersalah yang bersarang di hati Vian, ia sudah membohongi nenek kesayangannya itu.

__ADS_1


“Nek, aku pikir, aku dan Putri tidak harus pergi bulan madu, lagipula akhir-akhir ini pekerjaan di kantor sedang banyak, aku takut akan terbengkalai, Nek.” Vian pikir, untuk pernikahan pura-puranya, ia juga tidak perlu pergi bulan madu, jika itu di lakukan, tidak akan berguna untuk mereka.  Hanya sekedar jalan-jalan belaka.


“Kamu lupa, nenek punya banyak tangan kanan yang bisa di andalkan mengurus perusahaan, tugasmu hanya pergi berdua dengan Putri dan hadiahkan aku seorang cucu, apa kau mengerti?” lagi-lagi nenek mengungkit masalah cucu, Vian merasa sedikit tertekan. Dia harus tampak normal di hadapan nenek, jangan sampai membuat wanita itu curiga.


“Nenekku adalah yang paling bisadi andalkan, baiklah, aku akan membawa Putri ke paris. Aku akan mengajaknya ke tempat-tmpat paling romantis di sana.  Apa nenek senang?”  Vian berusaha seceria mungkin, berbicara sambil memeluk wanita tua itu dari belakang, ia berharap dapat membuat hati neneknya berbunga.


Nenek tidak yakin apakah ini bisa membuatmu tumbuh rasa terhadap Putri, tetapi nenek akan terus berusaha, sampai kamu jatuh ke pelukannya, Vian. Selama nenekmu ini masih ada, aku tidak akan membiarkanmu jatuh ke tangan yang salah. Ungkap


nenek dalam hari.


“Bagus, nenek suka, kamu sangat penurut. Sekarang tidurlah, istrimu pasti sudah menunggu. Aku  juga ingin beristirahat, besok sebaiknya kalian bersiap.” Nenek melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Vian. Pria itu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Sejenak ia berpikir, lalu mendapat sebuah ide yang ia yakini dapat membuat acara bulan madunya ke Paris


lebih menyenangkan.


Sayang, aku akan segera memesankan tiket via online untukmu, lusa kita berangkat ke Paris. Ini adalah acara bulan maduku yang telah di susun oleh


nenek, tetapi aku ingin menghabiskan waktu liburanku di sana bersamamu. Kamu bersedia?


Vian mengirim sebuah pesan singkat kepada Vanessa. Ia akan pergi ke Paris bertiga dengan pacarnya dan ia yakin Putri tidak akan keberatan untuk ini.  Telah lama ia tidak menikmati liburan berdua dengan Vanessa,  kepergiannya ini adalah saat yang tepat untuknya bersenang-senang dengan orang yang di cintainya.


Balasan dari Vanessa


Tentu saja aku sangat bersedia, Sayang. Kapan lagi kita menikmati liburan di tempat seromantis itu. Aku tidak masalah, meski harus jalan bertiga. Bagiku, istri kontrakmu itu hanyalah obat nyamuk.

__ADS_1


Vian tidak menjawab balasan pesan dari Vanessa, ia lebih memilih untuk kembali ke kamarnya. Ia terkejut saat mendapati sofa yang kemarin di gunakannya untuk tidur telah tiada.


“Sepertinya nenek yang memindahkan sofa itu keluar kamar. Sudahlah, kamu tidur di sini saja. Aku percaya padamu. Kamu tidak akan berbuat aneh-aneh padaku. Maaf, aku tidak bisa tidur di


lantai dan aku juga tidak mengizinkanmu tidur di lantai.” Putri sudah memikirkan kalimat ini lama, sejak ia masuk ke dalam kamar dan mendapati sofa


itu tidak berada di tempatnya.


“Terima kasih Putri. Tentang hal yang aku bahas bersama nenek, beliau meminta kita untuk bulan madu ke Paris. Aku tidak ada pilihan selain mengiyakan, tapi tenang saja, aku membawa Vanessa ikut serta, kamu tidak perlu khawatir, di sana kamu bisa menikmati liburanmu sendiri, aku akan memberimu tip khusus untuk liburanmu di sana, apa yang kamu butuhan, aku yang menanggung seluruh biayanya.”  Vian mengatakan itu semua seraya duduk di pinggir ranjang mereka. Ia tidak ingin Putri menjadi tidak nyaman dengan kata bulan madu.


“Aku menurut apa katamu saja. Bukankah di sini aku hanya bisa patuh padamu? Kamu adalah majikanku, Vian.”  Ungkap Putri pasrah. Sebagai wanita yang lahir dari keluarga sederhana, ia sama sekali tidak menginginkan liburan, apalagi sampai ke luar negeri, ia merasa hanya perlu mengikuti apa yang menjadi kehendak Vian dan keluarganya sebagai tugas.


“Jangan bicara seperti itu, aku tidak menganggapmu serendah itu. Sejak awal, aku sudah mengatakan ini adalah sebuah kerjasama saling menguntungkan, kamu adalah partner-ku.”  awalnya Vian memang selalu merendahkan Putri, tetapi belakangan ia sadar, di posisi Putri bukanlah mudah, ia juga mendapatkan tekanan-tekanan, di tambah lagi perlakuannya terhadap Putri  sepertinya sudah cukup menyiksa batin gadis itu.


“Terima kasih, aku merasa sangat di hargai. Kalau begitu, silahkan tidur, besok kita akan bersiap bukan? Aku juga cukup lelah karena pekerjaan hari ini. Jangan lupa ambil selimutmu di lemari.”


Putri segera merebahkan diri. Sungguh, ia ingin segera terbebas dari rasa lelah yang menyerangnya.


“ Baiklah...," sahut Vian singkat, ia lalu berjalan menuju lemari dan mengambil selimutnya. Pria iru


segera merebahkan dirinya ke ranjang yang sama dengan Putri, sementara Putri telah terlelap karena ia cukup lelah.


Jika kalian ada di posisi Putri, bagaimana rasanya pergi berlibur bertiga dengan kondisi seperti itu? Kasih jawaban kalian di kolom komentar ya...

__ADS_1


__ADS_2