
Di rumah keluarga Raihan, mereka sedang di sibukkan dengan
persiapan kunjungan ke rumah Anisa, anak sahabat Ayah Raihan yang telah di
jodohkan dengan Raihan. Malam itu keluarga mereka akan membahas perjodohan Raihan dan Anisa, keputusan itu akhirnya di ambil oleh Ayah Raihan karena beliau mendengar dari istrinya kalau Raihan menyetujui perjodohan ini.
Raihan telah rapi, ia tengah membenarkan tatanan rambutnya
di depan cermin. Saat itulah, Aisyah yang menengoknya dari luar kamar karena
pintunya yang terbuka, masuk dan menghampiri putranya.
“Rai, kamu benar-benar yakin, mau melanjutkan perjodohan ini, Nak?” wanita itu memegang pundak
Raihan dan melihat pantulan wajah anaknya di cermin. Raihan menghembuskan napas
dalam lalu berbalik memandang ibunya.
“Umi, Raihan sudah ikhlas menerima perjodohan ini, Raihan berharap Umi tidak lagi khawatir dan meragukan keputusan yang aku ambil.” Raihan memandang Aisyah lembut. Ia berusaha meyakinkan ibunya kalau dirinya
saat ini sangat menerima keadaan dan baik-baik saja. Meskipun, ia merasakan
sedikit kesakitan di dalam hatinya. Sampai hari ini, bayangan Putri masih enggan meninggalkan pelupuk matanya. Senyumnya, caranya berbicara, Raihan masih teringat semua itu.
“Nak, Umi adalah ibu kamu, wanita yang melahirkan kamu, meskipun kamu berusaha terlihat baik-baik saja, tetapi Umi tahu, hati kamu tidak sebaik yang terlihat.” Saat mengatakan itu, mata Aisyah tampak berkaca-kaca. Ia merasa kasihan pada Raihan karena telah menempatkannya dalam situasi seperti saat ini.
“Umi, bukankah Raihan sudah bilang, kalau luka hati yang Raihan rasakan hanya sementara. Seiring
waktu, semuanya akan berjalan dengan normal kembali. Umi jangan sedih lagi, mari kita berangkat menuju rumah Anisa.” Raihan tersenyum lalu merangkul Aisyah keluar dari kamarnya. Tak lupa ia menutup pintu kamarnya. Mereka berdua menyusul Ayah Raihan yang sudah menunggu di dalam mobil.
Selama perjalanan menuju rumah Anisa, Raihan menatap ponselnya. Di sana, ia masih menyimpan foto Putri yang ia ambil diam-diam di berbagai kesempatan. Malam ini adalah pertemuan pertamanya dengan Anisa setelah
mereka akan di jodohkan. Raihan telah memantapkan dirinya untuk belajar menerima Anisa sebagai calon istrinya. Dengan berat hati, Raihan mulai menghapus satu persatu foto Putri. Tanpa terasa air matanya menggantung dan jatuh. Mungkin inilah yang di sebut luka tak berdarah, hatinya utuh tapi terasa hancur. Raihan tidak akan mundur, apapun pilihan orangtuanya, itulah yang terbaik.
Maafkan aku, Put. Aku sudah menghancurkan harapan yang kamu punya. Aku minta maaf karena telah memberimu harapan dan akhirnya aku hanya memberimu harapan palsu. Aku harap setelah kamu mengetahui semuanya, kamu tidak membenciku. Tetapi, jika itu sampai terjadi, aku rela, karena aku memang pantas untuk kamu beci. Rintihnya dalam hati.
Di lihatnya kembali folder fotonya yang telah kosong. Raihan meraup wajahnya, berusaha menghapus
air mata yang masih membuat matanya basah. Segala keputusan memang ada
konsekuensinya, tetapi Raihan tidak menyangka rasanya akan seperih ini. Ia
tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Putri saat ia mengatakan semua yang
terjadi padanya. Ia tidak sanggup membayangkan gadis itu menangis untuknya.
Raihan terus tenggelam dlam lamunannya, hingga ia tidak
menyadari kalau mobil yang ia tumpangi bersama kedua orangtuanya telah memasuki
__ADS_1
halaman keluarga Ustadz Zainal. Ibunya sampai harus memanggilnya berulang kali
untuk segera turun dari mobil.
Di depan rumah, Ustadz Zainal, istrinya da juga Anisa telah
menunggu kedatangan keluarga Raihan. Kedua orangtua Raihan berjalan terlebih
dahulu, ibunya membawa bingkisan yang akan di berikan kepada keluarga Anisa,
sementara Raihan berjalan mengekori mereka berdua. Ia berusaha sesopan mungkin
agar tidak mengecewakan ayah dan ibunya.
“Assallamualaikum... Ustadz Zainal... Ustadzah... Nak
Anisa...” sapa Ayah Raihan dengan sopan.
“Waalaikumsallam Ustadz Abu, Ustadzah.. Nak Raihan, mari
silahkan masuk.” Sambut Ustadz Zainal sambil mempersilahkan masuk keluarga
Raihan. Ustadz Zainal dan Ustadz Abu berjalan masuk terlebih dahulu, di
belakang mereka ibunya Raihan dan ibunya Anisa saling bercengkrama dan tidak
Anisa dan Raihan mengikuti mereka dengan berjalan beriringan tapi berjarak.
Tempat duduk para orangtua dan anak-anak mereka sengaja di
pisahkan, sebagai pasangan yang akan di jodohkan, mereka butuh waktu untuk
saling mengenal. Raihan dan Anisa duduk dalam satu ruangan, tetapi mereka
berdua sangat canggung, tidak saling bicara satu sama lain.
“Apa kesibukan Anisa akhir-akhir ini?” Raihan mencoba
memulai percakapan dengan Anisa, gadis
berpakaian tertutup dan berhijab yang tadinya menunduk kini berusaha untuk
menatap sekilas wajah Raihan lalu ia kembali menunduk.
“Masih meneruskan pendidikan kuliah semester akhir, Kak”
jawab gadis itu dengan sangat sopan.
“ Panggil saja aku Raihan, bukankah kita seumuran?” Raihan juga berusaha berkata dengan lembut
__ADS_1
terhadap Anisa.
“Tidak bisa begitu, Kak. Bagaimanapun juga, Kakak adalah
calon suami Anisa, Nisa harus menghormati Kakak.” Anisa lagi-lagi hanya
memandang Raihan sekali-sekali. Ia tampak sekali malu-malu.
“Kamu juga menerima perjodohan kita?” tanya Raihan
penasaran, gelagat Anisa seolah mengatakan kalau gadis itu sama sekali tidak
keberatan dengan perjodohan yang akan di lakukan oleh kedua orangtua mereka.
“Apapun yang sudah di tentukan oleh umi dan abi, aku hanya
bisa menerimanya, Kak. Apakah kakak merasa keberatan dengan perjodohan ini?
Kalau memang iya, aku bisa bantu kakak untuk bicara dengan orangtua kita kalau
kita sepakat untuk membatalkan perjodohan ini.” Anisa berkata dengan begitu
tenang, seolah ia benar-benar sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang
ada.
“Tidak perlu, meskipun aku belum sepenuhnya setuju dengan
perjodohan ini, tetapi aku tidak menolak untuk menikah denganmu. Karena,
seiring waktu, perasaan itu akan tumbuh di antara kita berdua, selagi kamu
bersedia, aku juga bersedia.” Raihan tersenyum, gadis itu tampak semakin
tersipu. Anisa tentu saja tidak akan menolak Raihan, lelaki yang baik dan juga
tampan, ia juga penurut, selain itu, Raihan sudah pasti bisa menjadi imam dalam
hidupnya.
“Baiklah, Kak, mari kita jalani semuanya. Terima kasih sudah mau menerima Anisa. Aku dengar dari abi, katanya Kakak selalu mendapat nilai yang bagus saat di kampus, aku merasa minder, tidak sepintar Kak Raihan.” Anisa berusaha mencari topik lain agar obrolan mereka sedikit menarik dan keluar dari topik perjodohan.
“Itu terlalu berlebihan, aku tidak sepintar yang kamu bayangkan.” apa yang di katakan oleh Raihan adalah benar adanya. Ia belum pernah bisa mengalahkan kepintaran Putri. Setiap kali ujian, nilainya pasti berada di bawah Putri.
“Tak apa, Kak. Karena, yang terbaik tidak harus nomor satu, kan?” Anisa tersenyum ke arah
Raihan, manis, gadis di hadapannya memang manis. Saat ia tersenyum, aura kecantikannya keluar. Raihan yakin, seiring waktu perasaannya akan tumbuh untuk Anisa.
“Kamu benar. Tidak harus menjadi nomor satu untuk jadi yang terbaik. Semangat ya, semester akhir semoga nilai kamu bagus dan lulus dengan nilai terbaik.” Raihan memberikan semangat untuk Anisa. Ia tahu itu adalah hal tepat yang harus ia lakukan saat ini.
__ADS_1