
Vanessa merasa tidak enak badan. Beberapa hari perutnya terasa kencang dan penciumannya lebih sensitif dari biasanya, kepalanya juga berat. Wanita itu keluar dari kamarnya, berjalan menuju balkon, dengan langkahnya yang sedikit terseok-seok. Apartemen yang di huni oleh Vanessa saat ini adalah milik Vian, Vian membelikannya
sebagai hadiah ulang tahunnya dua tahun yang lalu.
Vian bisa mengambilnya jika dia mau, tetapi sepertinya dia tipe lelaki yang tidak berminat untuk mengambil kembali apa yang sudah di berikan ke orang yang pernah mengisi hatinya. Vanessa tidak hanya di berikan sebuah apartemen, tetapi juga sebuah mobil dan beberapa barang yang bernilai jutaan rupiah lainnya. Termasuk ponsel yang di gunakannya juga pemberian dari lelaki itu. Vian selalu loyal pada pasangannya, itulah mengapa, Vanessa merasa sangat kehilangan setelah lelaki itu memutuskan untuk berpisah dengannya. Bukan momen yang dia sayangkan, tetapi kebiasaan Vian yang selalu memanjakannya dengan barang-barang yang di inginkannya.
Vanessa menatap layar ponselnya, tanpa sengaja matanya terfokus pada tanggal yang tertulis di sana, ternyata sudah sampai di minggu terakhir di bulan ini. Semuanya biasa saja sebelum dia menyadari satu hal,
bulan ini dirinya belum mendapatkan tamu bulanannya. Seketika Vanessa panik, dia juga baru teringat, saat di bar, Darren tidak menggunakan pengaman ketika tidur dengannya. Mungkinkah Vanessa hamil? Wanita itu syok dan terduduk di tempatnya berdiri.
Yang terpikir di kepala Vanessa adalah, karirnya. Dia telah merintis semuanya dari nol dan sekarang, dirinya sendirilah yang menghancurkannya dengan tangannya sendiri. Vanessa tidak tahu
harus menjawab apa kalau sampai orangtuanya mengetahui apa yang telah di lakukannya. Vanessa tentu saja tidak bisa mengkambing hitamkan Vian, karena lelaki itu hanya pernah menciumnya, tidak lebih dari itu.
Tangannya bergetar, mencari nomor ponsel Darren dan menekan tombol panggilan kepadanya. Berulang kali nada sambung terdengar, tetapi Darren tidak mengangkat panggilan darinya. Hanya operator yang mengatakan bahwa nomor yang di tuju tidak dapat menerima panggilan. Dada Vanessa bergemuruh, dia takut lelaki itu akan melarikan diri dari tanggung jawabnya. Vanessa tidak mungkin mampu membesarkan bayinya seorang diri. Sekarang, penyesalan itu datang, perempuan itu menunduk dan memandangi air matanya yang menetes di lantai.
Seakan seluruh rasa percaya dirinya hilang, Vanessa tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Seperti yang banyak di katakan beberapa orang, penyesalan selalu datang di saat terakhir. Wanita yang selalu merasa dirinya di
atas awan itu merasa seakan dunianya runtuh. Tidak ada tempat untuknya berlindung. Satu-satunya harapan hanyalah Darren, karena Vian tidak mungkin mau menerima keadaannya yang seperti sekarang.
Untuk memastikan keadaannya, Vanessa memutuskan untuk mengunjungi dokter kandungan. Dia telah yakin ada kehidupan di dalam rahimnya, tetapi dia perlu bukti fisik untuk membuatnya semakin meyakininya. Dengan
tangan yang masih bergetar, Vanessa mengelus perutnya yang masih datar, memandanginya hingga beberapa saat sebelum akhirnya ia melangkah masuk ke dalam rumah dan bersiap pergi.
__ADS_1
Pandangan matanya tertuju pada tumpukan berkas yang berada di atas nakas sebelum ia berangkat ke rumah sakit. Ya, itu beberapa berkas kerjasamanya dengan beberapa perusahaan, mulai dari kosmetik, tas, baju, dan beberapa produk suplemen kesehatan. Setidaknya, dia harus bisa menyelesaikan semuanya sebelum
perubahan dalam dirinya semakin terlihat. Setelah itu, mungkin Vanessa akan mengambil langkah cuti dan menghilang sementara waktu dari dunia modeling.
Vanessa menghela napas panjang, dia tidak pernah membayangkn berada di posisi sekarang. Tidak ada yang bisa ia salahkan selain dirinya yang ceroboh. Untuk sekarang, kepingan-kepingan masalah yang bertebaran di dalam
pikirannya semakin menyebar. Perempuan itu butuh waktu untuk mengumpulkan kepingan itu, sebelum berusaha untuk menyatukannya kembali. Rencana hidupnya ke depan, Vanessa belum bisa memutuskan itu sekarang.
Wanita itu memantapkan langkahnya, tidak seperti biasanya, Vanessa memilih sendal biasa sebagai alas kakinya. Mungkin itu karena insting seorang ibunya telah aktif. Meskipun tidak sepenuhnya dirinya bisa menerima apa
yang terjadi, tetapi Vanessa berusaha melindungi calon bayinya. Meskipun belum pernah hamil sebelumnya, Vanessa tahu kalau sepatu hak tinggi tidak di anjurkan oleh seorang ibu hamil, meskipun banyak di antara mereka baik-baik saja saat melakukan itu.
Saat memasuki area rumah sakit, Vanessa semakin tidak tenang. Nafasnya sedikit tidak beraturan. Dadanya terasa sedikit sesak. Kehamilan, banyak wanita yang menginginkannya, tetapi saat ini, bukan hal itu yng di inginkannya. Terlebih lagi, ayah biologis dari bayinya berada di negara lain. Pemeriksaan tetap harus
“Menurut hasil pemeriksaan, memang benar, Nyonya Vanessa positif mengandung dan usia kandungan anda masih sangat muda, baru dua minggu.” Terang Dokter wanita tempat Vanessa memeriksakan kandungannya sambil
menyerahkan selembar kertas putih kepadanya. Meskipun dia telah yakin sebelumnya, tetap saja tangannya bergetar saat menerima kertas itu.
“Jaga kesehatan, hindari terlalu lelah dan perbanyak istirahat, jangan lupa, makan makanan sehat, terutama kacang-kacangan. Selamat atas kehamilan anda.” Dokter itu mengulurkan tangannya, Vanessa membalas.
Meskipun sekarang ini dirinya tidak tahu harus senang atau sedih. Perasaannya campur aduk, hingga membuatnya tidak mampu berkata-kata.
“Kalau begitu, saya permisi.” Ucapnya singkat, wajahnya muram, tergambar jelas ketakutan dan kecemasan di sana. Di dalam hatinya, Vanessa masih bertanya-tanya, apakah Darren mau mengakui anaknya dan
__ADS_1
menikahinya? Bagaimana kalau ternyata lelaki itu tidak mau bertanggung jawab? Haruskah ia mempertahankan kehamilannya? Vanessa benar-benar kalut. Langkah kakinya gontai, seolah kedua kakinya tak bertulang, hampir tidak mampu menopang berat tubuhnya lagi.
“Vanessa, sakit? Wajahmu pucat sekali.” Dion yang melihat Vanessa hampir pingsan dengan sigap menangkap tubuh wanita itu.
“Ehm, aku baik-baik saja. Hanya kelelahan karena banyak jadwal pemotretan. Kamu sendiri sedang apa di rumah sakit ini?” Vanessa balik bertanya setelah ia duduk di bangku dengan di bantu oleh Dion.
“Aku menjenguk nenekku, beliau sedang di rawat di rumah sakit ini. Kamu sama siapa? Kalau sendirian, bagaimana kalau aku antar kamu pulang saja? Kebetulan aku sudah mau pulang sekarang.” Dion menawarkan dirinya untuk mengantar Vanessa pulang.
“aku bawa mobil sendiri, Dion. Terima kasih atas niat baikmu.” Vanessa tersenyum, meyakinkan Dion kalau dirinya bisa pulang dengan selamat.
“Kenapa kamu tidak meminta Vian untuk mengantarkanmu?” tanya Dion yang tidak tahu apa yang terjadi dengan hubungannya dan Vian.
“Kami sudah putus.” Vanessa menjawab pelan, tetapi Dion dapat mendengar apa yang di ucapkannya.
“Apa? Putus? Kenapa? Bukankah hubungan kalian baik-baik saja selama ini?” tanyanya lagi.
“Ada banyak hal yang menjadi alasan untuk berpisah, dan kami memiliki beberapa alasan untuk itu.” Vanessa tidak menyangkal. Dia tidak bisa mengejar Vian lagi dengan keadaannya yang sekarang.
“Huh, aku tidak menyangka hubungan kalian akan berakhir.” Dion menghela napas, ikut prihatin atas berakhirnya hubungan Vian dan Vanessa.
“Mungkin sudah takdir. Dion, boleh minta kontakmu?”
“Tentu saja, kemarikan ponselmu, aku akan mencatatnya untukmu.” Dion mengulurkan tangannya agar Vanessa memberikan ponselnya.
__ADS_1
Vanessa menyerahkan ponselnya dan Dion mencatat kontaknya di sana lalu menyerahkan kembali. Setelah itu mereka berpisah, pulang ke rumah masing-masing.