
"Sudah. Ayo kita berangkat." Vian menenteng map berwarna merah di tangannya.
Vian berjalan terlebih dahulu dan Putri mengikuti dari belakang. Gadis itu tidak terlalu memperhatikan jalan, ia sedang membalas obrolan di grup kampusnya.
Bruk!
Putri menabrak punggung Vian yang berhenti mendadak. Tanpa sengaja, jas Vian yang berwarna biru muda tertempel cap bibir Putri.
"Bisa nggak sih, kalau jalan lihat-lihat." Protes Vian kesal. Ia tidak suka Putri menabrak tubuhnya.
"Kamu lagian, ngapain sih, berhenti mendadak segala? Ada apa?" Putri juga ikut kesal karena tingkah Vian yang berhenti mendadak, padahal tadinya ia ingin memberitahu Vian kalau jasnya terkena noda lipstik.
"Kamu lupa, kita harus tampak romantis di depan nenek? Setidaknya, biarkan aku menggandeng tanganmu." Vian sedikit berbisik, ia tidak ingin nenek mendengar percakapan mereka.
"Ya sudah, nih." Putri menyodorkan tangan kanannya untuk di gandeng oleh Vian.
"Tumben, kamu tidak banyak protes." Sungut Vian.
"Maumu apa, sih?! Jadi mau nggak?" Putri mendengus kesal. Vian segera menggandeng tangan Vian dan melanjutkan langkah mereka.
"Sudahlah, jangan berdebat. Kita tidak punya banyak waktu untuk berdebat. Jangan sampai kita kesiangan hanya karena perdebatan konyol ini." hari itu Vian tidak ingin berdebat karena ada rapat penting dan ia tidak ingin perasaannya menjadi buruk karena perdebatan itu.
"Yang memulai perdebatan duluan siapa? bukannya itu kamu? Baru saja satu hari kita terikat pernikahan, sudah berdebat tiada henti. Untung saja bukan beneran." gerutu Putri tidak senang dengan sikap Vian yang selalu mengajaknya bertengkar.
"Hei, Nona, wanita yang nantinya menikah denganku adalah wanita yang sangat beruntung. Karena ia pasti akan bahagia karena aku akan sangat menyayanginya. Aku akan memberikan apapun yang ia inginkan, menuruti perkataannya dan mencurahkan seluruh perasaanku padanya." Vian mengatakan itu setengah berbisik, agar neneknya tidak dapat mendengar apa yang sedang ia bicarakan dengan Putri.
__ADS_1
"Benarkah? Palingan juga setiap hari kamu ajak dia berdebat, sama denganku. Kamu memang seperti perusuh, lelah setiap hari melayanimu berdebat." Putri tidak yakin dengan apa yang di ucapkan Vian. Pada kenyataannya, sejak awal mereka selalu mengalami perdebatan panjang yang melelahkan.
"Itu hanya berlaku untuk cewek udik sepertimu. Aku tidak mungkin seperti itu dengan orang yang aku sayangi." Vian mencoba berkilah. Dia memang tidak pernah berdebat dengan pacar-pacarnya. Ia memiliki hobi berdebat semenjak bersama dengan Vian.
"Vian, Putri... Kalian romantis sekali, pagi-pagi begini sudah bergandengan tangan dan mengobrol romantis, nenek jadi teringat dengan masa muda nenek dulu." Nenek memandang mereka dengan tatapan gembira. Ia senang melihat Vian dan Putri terlihat romantis, meskipun faktanya adalah sebaliknya.
Putri memasang senyum manis di depan nenek Vian, menampakkan rumah tangga mereka yang manis. Begitu pula dengan Vian. Pria itu tidak melepas gandengan tangannya sedetikpun.
"Maafkan kami, Nek. Kalau kami tampak tidak sopan." Putri berbasa-basi dengan nenek Vian yang telah menjadi neneknya itu.
"Tidak apa, Putri. Nenek juga pernah muda, justru nenek merasa senang karena bisa melihat kalian sebahagia ini." Wajah nenek Vian tetap menampilkan rona bahagia.
Bahagia apanya, nenek nggak tahu aja, orang lagi debat di bilang romantis. Ini baru sehari, Put. Masih ada tiga ratus hari lebih buat di lewati bersama si buaya laut ini, batin Putri berkecamuk.
Mereka berjalan ke luar dari rumah nenek dengan bergandengan tangan di iringi tatapan dan senyuman nenek yang tidak lepas mengawasi mereka. Vian masih bersandiwara membukakan pintu mobil untuk Putri. Lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil dan berlalu dari halaman rumah nenek setelah menyempatkan membunyikan klakson untuknya.
"Di luar rumah, hubungan kamu dan aku hanya bos dan sekertaris. Jadi ingat kesepakatan kita, jangan sebut statusmu sebagai istriku, mengerti?!" hardik Vian. Ia tidak ingin Putri mengakui dirinya sebagai suami, meskipun ia akui, wanita itu sangat menarik dan cocok sebagai pendamping hidupnya.
"Nggak usah kepedean, Vian. Aku juga malas mengakui pria buaya laut sepertimu sebagai suamiku." sungut Putri kesal.
"Sudah berapa kali aku bilang, aku bukan playboy, aku hanya pecinta wanita. Kamu harus bangga bisa berada di sampingku." Vian menyunggingkan senyumnya. Dia masih sombong seperti biasanya.
"Apa yang membanggakan? Aku merasa biasa saja. Tidak ada yang istimewa." Putri berbalik acuh pada Vian. Lelaki itu hanya tersenyum menanggapinya.
"Semalam, kamu nyaman tuh, tidur sambil memelukku. Apa kamu lupa itu?" Vian melempar kerlingan nakal ke arah Putri dan menbuat wanita itu merasa jengah.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja melakukannya. Lagian, kamu kenapa? Sengaja tidur di sampingku? Ketahuan, kan, siapa yang mesum di sini." oceh Putri. Dia kesal, kenapa harus memeluk Vian. Rasanya sangat aneh ketika pertama kali menyentuh kulit pria itu.
"Mesum? Aku hanya tidak sengaja tidur di sampingmu, Putri. Aku tidak mungkin menyentuhmu. Asal kamu tahu, kamu bukan tipeku." Vian tampak sangat serius. Jelas saja, ia tidak akan melakukan apapun pada Putri, ia hanya ingin melewatkan malam pengantinnya dengan Vanessa, satu-satunya wanita yang paling ia cintai dari ketiga pacarnya.
"Kamu pikir, dirimu juga tipeku? Jangan mimpi Vian, sedikitpun aku tidak pernah ada rasa padamu. Kamu hanya pria sombong, semuanya ini aku lakukan murni untuk pekerjaan dan uang." dengus Putri kesal. Di dalam hati dan pikirannya hanya ada Raihan. Ia ingin suatu hari dapat memiliki Raihan dan pria itu yang akan menemani hidupnya.
"Tentu saja, di otakmu hanya terpikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan uang. Tak masalah, selama kamu mau bekerjasama dengan baik, aku akan memberikan uang yang banyak untukmu." ujar Vian sedikit jutek. Di memilih untuk fokus menyetir.
Sesampainya di kantor, Vian telah di tunggu oleh Dion sahabatnya yang baru saja datang dari luar kota. Mereka sudah mengadakan janji sejak setengah bulan yang lalu untuk urusan pekerjaan.
Di bandingkan dengan Vian, Dion juga tidak kalah tampan. Ia juga memiliki beberapa perusahaan, sama seperti Vian. Hanya saja, Dion tampak lebih kalem.
"Dion! Pagi sekali kamu datang. Aku sampai kalah pagi. Sekitar tiga puluh menit lagi kita akan memulai rapatnya. Kita bisa ngopi-ngopi dulu." Vian menyambut gembira kedatangan Dion.
"Pagi juga, Vian. Aku justru berpikir akan telat. Baiklah, Kita bisa ngopi dulu, sudah lama juga. Dia istrimu?" tanya Dion saat melihat Putri yang baru saja keluar dari mobil Vian.
"Dia? Bukan. Dia sekertarisku. Namanya Putri." Vian memperkenalkan Putri pada sahabatnya itu.
"Cantik banget, Bro! Aku pikir dia istrimu. Bolehlah aku dekati, kebetulan aku lagi cari calon istri." Dion tampak seruus dengan perkataannya, sepanjang bicara, matanya tidak lepas dari Putri.
"Ngapain kamu mau memperistri seorang sekertaris? Harusnya seorang pengusaha muda seperti kita ini beristri seorang public figure." Vian mencemooh Dion.
"Apa masalahnya? Sekertaris juga manusia, kan? Beri aku nomor teleponnya." Dion tidak terpengaruh dengan ucapan Vian dan kekeh ingin mendekati Putri. Vian tidak ada pilihan, kalau ia tidak memberikan nomor Putri, bisa-bisa sahabatnya itu curiga.
"Kita bicarakan sambil ngopi, yuk. Putri! Bawa barang-barangku kr ruanganku sekarang. Aku mau ngopi dulu!" Perintah Vian, Putri hanya membungkuk tanda mengerti dan patuh.
__ADS_1