
Vian mengurus semuanya saat mereka sampai di Paris. Masing-masing dari mereka tinggal di kamar yang berbeda. Vian tentu saja tidak akan tinggal
dalam satu kamar dengan Putri, selain
ada Vanessa, Dion juga ikut menginap di hotel yang sama dengan mereka.
Putri menyeret masuk kopernya sendiri. Vian tentu saja mengurus Vanessa. Beberapa saat kemudian, nenek menelepon Putri, dan menanyakan apakah mereka sudah sampai, Putri mengabarkan pada neneknya kalau mereka sampai dengan selamat. Saat neneknya menanyakan keberadaan Vian,
Putri terpaksa berbohong dan mengatakan Vian sedang mandi.
Putri duduk di sebuah kursi kecil yang terletak di depan cermin. Seharusnya, ia merasa bahagia karena ini adalah bulan madunya, tetapi sayangnya ia tidak dapat menikmatinya. Bayangan-bayangan saat menikah dengan Vian tiba-tiba melintas, mendadak sedikit rasa tidak rela saat membayangkan Vian
bermesraan dengan Vanessa.
Plakk!
Putri menampar pipinya sendiri, ia mengutuk dirinya karena telah memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Vian. Ia sadar, ia harus lebih tahu diri.
“Memangnya kamu siapa? Kamu tidak lebih hanya bawahannya. Tidak ada hak bagimu untuk memimpikan Vian. Kamu harus sadar diri Putri, di mana kakimu berpijak.” Gumam Putri pelan, seolah ia sedang berbicara pada bayangannya sendiri.
Beberapa jam berlalu, tibalah waktu makan malam. Putri merasa dirinya harus makan sesuatu, perutnya mulai bersuara, berharap ada sesuatu yang
mengisinya. Ia bingung, sebagai orang baru di tempat yang asing, tentu saja ia canggung untuk makan seorang diri. Ia juga tidak mungkin meminta Vian untuk menemaninya makan, karena pria itu pasti sibuk dengan pacarnya sekarang.
Tok...tok...
Pintu kamar Putri di ketuk oleh seseorang, dengan gontai Putri berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ada Dion di luar sana, ia menyodorkan makanan pada Putri. Gadis itu merasa sangat beruntung.
“Makanlah dulu, Put. Aku yakin, kamu belum makan. Nanti aku akan menjemputmu untuk jalan-jalan keluar. “ kata Dion lembut dan penuh
perhatian, entah mengapa Putri sedikit kecewa karena bukan Vian yang datang mengantarkan makanan padanya. Sepertinya lelaki itu benar-benar mengabaikannya.
“Terima kasih, Dion. Nanti saat aku sudah siap aku akan mengirim pesan padamu.” Putri
menampilkan senyumannya, ia tidak ingin Dion beranggapan, dirinya tidak menghargai pemberiannya.
“Ok, selamat makan, aku akan kembali ke kamarku dulu.” Dion melangkah pergi, Putri segera masuk kembali ke dalam kamarnya dan menyantap
makanan dari pria itu.
Sementara itu...
__ADS_1
Vian tengah makan malam dengan Vanessa di satu resto ternama di Paris. Mereka berdua tampak sangat serasi, bahkan beberapa pengunjung
memandang kagum ke arah mereka.
“Vian, aku bahagia, dapat melewati makan malam romantis ini bersamamu, aku telah lama memimpikannya. Terima kasih, Sayang...” Vanessa menggenggam erat tangan Vian. Tentu saja ia bahagia, berada di samping Vian
membuat dirinya tampak seperti seorang putri bersama pangerannya.
“Aku senang bisa membuatmu bahagia, aku juga menantikan saat seperti ini, kita bisa menikmati waktu liburan bersama. Oh, ya. Setelah ini,
kita kembali ke kamar kita masing-masing dulu, aku ingat ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, satu jam kemudian, aku akan menjemputmu pergi
jalan-jalan.” Vian sebenarnya akan
mengajak Putri makan malam, ia tahu, saat ini Purtri pasti tengah kelaparan. Ia merasa
telah mengabaikan Putri, padahal gadis itu berada di bawah tanggung jawabnya.
“Baiklah, Sayang. Aku juga harus siap-siap, selesaikan dulu makannya, aku suapin ya.. ayo buka mulutnya...” Vanessa menyodorkan satu sendok makanan kepada Vian dan Pria itu menerimanya. Setelah makan malam mereka selesai, Vian
segera kembali ke kamarnya, lalu bergegas ke kamar Putri setelah beberapa saat.
Tok...tok..
neneknya. Belum lagi riasan Putri yang tipis tetapi membuatnya semakin cantik itu membuat Vian terpana, wangi parfum gadis itu juga merasuk dalam dirinya. Ia sangat menyukainya,karena saat membelinya, nenek memaksa Vian yang memilihnya.
“Ada apa?!” Putri sedikit ketus.
“Ayo makan bersamaku, kamu pasti lapar kan? Maaf, aku harus makan malam bersama Vanessa dulu, jadi baru sekarang aku menjemputmu.” Vian
merasa bersalah karena terlambat menjemput Putri untuk makan.
“Tidak perlu, aku sudah makan. Dion sudah mengantarkan makanan untukku. Sekarang aku juga mau pergi dengannya.” Jawab Putri
santai. Ia masih kesal karena Vian mengabaikannya.
“Jadi, dia... hah, baiklah, selamat bersenang-senang. Kalau begitu aku kembali ke kamarku.” Vian segera berbalik dan melangkah meninggalkan Putri yang masih menatapnya.
“Ok.” Ujar gadis itu singkat lalu masuk kembali ke dalam kamarnya.
Entah mengapa Vian merasa bersalah, ia juga tahu, saat ini Putri kesal padanya, dari caranya berbicara dan bersikap, Vian dapat membaca bagaimana Putri kecewa padanya.
__ADS_1
“Put, ayo kita jalan...” Dion datang menjemput Putri.
“sebentar, aku ambil tas dulu...” Putri segera bergegas ke dalam kamarnya untuk mengambil tas, lalu keluar, mengunci pintu kamarnya dan
pergi bersama Dion. Setidaknya kemalangannya tidak berlangsung lama, masih ada
Dion yang menemaninya jalan-jalan keluar.
“Maaf, Putri. Kita belum bisa pergi ke menara Eiffel sekarang. Karena aku tahu kamu masih lelah, kita jalan ke tempat yang dekat saja dulu. Oh, ya... kamu mau makan camilan?” Dion mencoba mengakrabkan diri dengan Putri, ia paham, Putri masih sedikit canggung padanya.
“Tidak masalah, aku juga tidak harus sekarang. Aku bisa keluar dan ada yang menemani saja sudah cukup. Kenapa kamu liburan seorang
diri? Tidak mengajak kekasihmu, seperti Vian?” selidik Putri, Dion tersenyum, ia menatap langit sesaat, seperti mencari jawaban di atas sana.
“Sudah lama sekali aku tidak pacaran. Semenjak aku putus dengan pacar pertamaku, sampai hari ini aku masih betah sendiri.” Ungkap Dion
mencoba jujur dan menceritakan kisah percintaannya.
“Mengapa seperti itu? Apakah kamu trauma?” cecar Putri.
“Tidak, bukan itu alasannya. Aku belum menemukan seseorang yang cocok di hati. Lagipula, untuk pria sibuk sepertiku ini, susah ada waktu
untuk sekedar mencari pacar.” Keluh Dion, kini gantian Putri yang tersenyum.
“Bukan tidak ada, hanya saja kamu tidak meluangkan waktu untuk mencarinya. Masa mau menunggu, kayak anak cewek aja.” ledek Putri,
membuat Dion mengembangkan senyumnya.
“Kamu benar, Put. Lagipula siapa cewek yang bertahan pacaran dengan orang sibuk, kata pacarku dulu, pacaran denganku itu seperti sebuah
kesia-siaan, karena aku jarang bisa menemaninnya. Saat ada pesta ulang tahun temennya, saat ada hari-hari penting atau acara bersama keluarganya, aku sering menolaknya karena alasan pekerjaan.” Dion
mengungkapkan perasaannya, hal itu yang menjadi alasan besar,mengapa pacarnya pergi meninggalkannya.
“Tidak semua wanita itu sama di dunia ini, ada yang menolak, sudah pasti ada juga yang mau menerima. Hanya saja, butuh perjuangan untuk
menemukannya. Kamu jangan patah
semangat, sementara belum punya pacar, aku akan menemanimu.” Putri menyemangati Dion, pria yang tadinya sedikit lesu itu, kembali sumringah.
“ Apa yang kamu katakan itu benar, Put. Aku akan terus mencari dan mencari. Siapa tahu, jodohku ada di samping...” sindir Dion sambil melirik sekilas ke arah Putri.
__ADS_1
“Dion, apaan sih...! “ Putri memukul ringan lengan Vian, lalu mereka berdua tertawa.