Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 57


__ADS_3

Bimo telah sampai ke rumah Nenek Dewi. Dia di wajibkan untuk menceritakan bagaimana respon orangtua  Putri terhadap Vian. Nenek juga ingin tahu, bagaimana keadaan tempat tinggal Putri di desa. Sama dengan pemikiran Vian, nenek juga ingin keluarga Putri tinggal di kota agar dekat dengan mereka. Tetapi nenek khawatir, jika


dirinya yang bertindak, akan membuat keluarga Putri tersinggung dan merasa di remehkan.


“Jadi, Vian di hukum oleh bapak mertuanya?”  nenek mengulangi kalimat terakhir Bimo sambil tertawa, dia membayangkan bagaimana cucu kesayangannya itu tidur seorang diri di ruang tamu yang dingin. Mungkin, Vian akan merasakan bagaimana rasanya menjadi beku karena angin malam yang menyeruak masuk.


“Benar, Nyonya.  Tuan Vian tidak menolak, bahkan dia pasrah.” Imbuh Bimo lagi. Dia teringat bagaimana


bosnya tidak berdaya seperti seekor anak kucing  yang baru lahir di hadapan mertuanya yang seolah-olah harimau besar yang sedang mengincarnya.


“Bagus, itu berarti Vian benar-benar menyukai Putri.  Dia sampai rela melakukan apapun sampai mertuanya mau menerimanya sebagai menantu. Apa ada hal yang menarik lagi?” tanya nenek penasaran. Seperti seorang bayi yang tengah mendapat mainan baru, nenek sangat ingin mengetahui setiap detail  yang di alami oleh Vian.


“Tuan Vian cepat berbaur dengan adik-adik Nyonya Putri,  mereka akrab dalam hitungan jam. Sepertinya


Tuan Vian sangat menyukai anak-anak, Nyonya.” Cerita Bimo dengan penuh semangat, mata nenek berbinar  saat


mendengar berita itu. Beliau bahkan bisa membayangkan bagaimana Vian mengajak anak-anak itu bermain.


“Tapi seingatku, Vian tidak terlalu menyukai anak-anak, kenapa bisa secepat itu dia akrab dengan adiknya Putri? Atau mungkin aku tidak menyadarinya?” gumam nenek pelan. Dalam ingatannya, Vian yang selalu sibut


tidak terlalu perduli dengan anak-anak, meskipun itu keponakannya sendiri.


“Mungkin itu karena Tuan Vian juga sudah siap untuk menjadi seorang ayah, jadi dia mulai menyukai anak-anak, Nyonya.”  Bimo mengutarakan pendapatnya, Nenek Dewi manggut-manggut, seolah membenarkan dugaan Bimo. Hal itu juga sudah sangat di nantikan oleh nenek.


“Bisa jadi, Bimo. Aku sangat tidak sabar untuk mendapatkan seorang cucu dari Vian. Kalau mereka memiliki seorang bayi, pastilah bayi mereka sangat imut. Aku sudah membayangkan akan menggendongnya. Bahagia sekali


rasanya,” nenek tersenyum, di dalam bayangannya Vian dan Putri telah memiliki seorang bayi. Bayi mungil dengan pipi merah seperti Putri Salju.


“Tidak akan lama lagi, Nyonya pasti akan memiliki seorang cucu. Kalau begitu, apakah saya boleh beristirahat sebentar, Nyonya?” Bimo merasa butuh istirahat setelah mengalami tidur malam yang tidak nyaman di dalam

__ADS_1


mobil kemarin malam.


“Tentu, aku tidak akan menyuruhmu bekerja di saat baru pulang dari perjalanan jauh seperti sekarang. Istirahatlah, terima kasih telah mengantarkan cucu-cucuku.”


“Sama-sama, Nyonya, kalau begitu saya permisi.”


***


“Ini kopinya, Bos. Lagi ngerjain apa, sih? Serius banget?” Putri menghampiri Vian yang sedang berkutat dengan laptopnya di meja belajar Putri. Meja yang terbuat dari kayu dan mulai usang di makan usia, tempat Putri


biasa mengerjakan pekerjaan rumah  atau  sekedar mengulang kembali pelajaran yang ia dapatkan dari sekolah


“Lagi baca-baca laporan, mumpung sinyal bagus. Kemarin, pas aku gembala kambing sama Adit, dia nangis.” Vian mulai menceritakan kejadian di padang kemarin. Dimana dia bersantai menikmati hembusan angin di bawah pohon


dan di datangi oleh dua gadis yang berniat menggodanya.


“Loh, kok nangis? Kenapa memangnya? Kamu marahin dia?” tebak Putri, Vian menggeleng. Memang bukan itu yang terjadi di antara mereka berdua.


iringi senyuman yang hampir menyerupai setengah lingkaran.


“Oh ya? Tapi kalau di pikir-pikir, aku memang sudah lama nggak pulang ke rumah, wajar kalau dia masih mau aku di sini.” Putri mengingat kembali saat terakhir dia pulang beberapa bulan yang lalu. Dimana saat itu dia


harus rela menahan lapar, menyisihkan sedikit uangnya beberapa bulan untuk  ongkos pulang dan pergi. Memang cukup perih keadaan saat itu.


“Makanya, aku coba ngomong sama nenek nanti, kalau kita masih harus di sini beberapa hari lagi.” Vian sudah memikirkan dengan baik, dia akan mengambil langkah itu. Dia tidak akan tega menghancurkan hati anak lelaki


sepolos Adit.


“Tapi pekerjaan kamu gimana, Vian?” Putri tampak khawatir, mengingat siapa suaminya.

__ADS_1


“Kan ada Bimo, ada nenek juga, jadi nggak apa kalau aku tinggal sebentar lagi di sini.” Jawabnya santai, seolah semua bukan masalah yang berat yang harus di hadapinya.


Mendengar itu, Putri memeluk suaminya erat dari belakang  untuk membagi hawa panas tubuhnya dan mengendus


tengkuk lelaki itu yang masih berbau sabun mandi beraroma lemon. Dia sangat bahagia, Vian berusaha meluangkan waktu untuk keluarganya, menerima keadaan hidup mereka dengan tulus, ia merasa benar-benar beruntung.


“Vian, aku tidak tahu bagaimana nasibku dan keluargaku, kalau aku tidak bertemu dengan lelaki tulus sepertimu. Meskipun awalnya cukup menjengkelkan, tetapi sepertinya aku bersyukur karena kita di takdirkan untuk bersama.”


Posisi Putri yang berada di belakang Vian, memudahkan wanita itu untuk mengecup puncak kepala suaminya. Entah sejak kapan, Putri suka sekali saat menghirup wangi rambut prianya itu.


“Aku yang paling beruntung bertemu dengan kamu. Kamu adalah keajaiban di dalam hidup aku, Put. Orangtua memang tidak pernah salah menilai, aku senang, nenek memilih kamu menjadi bagian dari hidupku.”  Vian meraih tangan Putri dan mengecup punggung tangan istrinya cukup lama. Sumber kebahagiaan, tidak ada yang tahu.


Dulu, Vian pikir, Vanessa yang akan menemani hidupnya sampai akhir, ternyata di luar dugaan, perasaannya yang begitu besar terhadap wanita itu luntur begitu saja.


Putri menundukkan kepalanya dan menghadahkan kecupan singkat di pipi Vian. Baginya, pertemuan dengan Vian adalah sebuah keberuntungan. Seperti Vian yang mengira Vanessa adalah cinta terakhirnya, Putri juga mengira


Raihanlah yang akan mendampinginya. Benar kata orang, kita boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan, apakah rencana kita berjalan lancar atau sebaliknya.


“Sayang, malam ini bisakah kita..,” Putri berbisik padaVian, seolah dia memberi kode untuk kegiatan malam mereka. Hal itu membuat Vian sedikit terkejut sekaligus senang.


“Sepertinya istriku mulai nakal,” balasnya sambil menarik hidung Putri pelan.


“Bukannya kamu suka kalau aku begini?” godanya lagi, Vian merubah posisi duduknya  sedikit menghadap Putri,


di rengkuhnya kepala Putri mendekat dengannya dan menghadiahkan kecupan singkat di bibir wanita yang di cintainya itu.


“Apapun yang berhubungan dengan kamu aku pasti akan suka, apalagi itu.” kerlingnya nakal, membuat putri memberinya cubitan kecil di lengan kokohnya.


“Jadi siapa di antara kita berdua yang paling nakal?” Putri melotot gemas sambil menahan senyumannya.

__ADS_1


“Itu sudah pasti kamu, Sayang...,”


“Vian!”  jerit Putri kesal sambil mencubit lengan Vian lagi untuk kedua kali.


__ADS_2