Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 61


__ADS_3

Seminggu kemudian, Bimo datang kembali ke rumah Parman dan Marni untuk menjemput Vian dan Putri kembali ke kota. Vian tidak bisa lebih lama lagi meninggalkan pekerjaannya, begitu pula dengan Putri, beberapa bulan terakhir kuliahnya akan di banjiri banyak tugas. Parman, Marni dan juga


anak-anak tampak tidak rela melepas kepulangan Vian dan Putri.


Parman memeluk erat Vian sebelum  mereka berdua naik ke dalam mobil. Lelaki itu juga membisikkan ke telinga Vian sebuah kalimat yang intinya dirinya harus


menjaga Putri baik. Tentu saja Vian mengiyakan dengan cepat permintaan lelaki itu. Dia senang, karena dipercaya oleh bapak mertuanya sekarang.


Entah  mengapa, pulang dari pedesaan itu justru membuat Vian tidak senang. Dia suka tinggal di sana, bebas dari kebisingan dan banyak hal baru yang bisa dia lakukan. Setelah tangan Vian luka karena mencangkul hari itu, besoknya dia justru semakin semangat. Di lain kesempatan, dia belajar bagaimana menanam kangkung, menanam kacang panjang dan juga bayam. Hal asing dan sederhana seperti itu justru membuat hatinya berbunga, meskipun sebagai konsekuensinya, kulitnya harus menjadi sedikit lebih coklat sekarang.


 Putri bilang, dia tidak masalah dengan kulit Vian sekarang, katanya Vian justru terlihat semakin


seksi dengan kulit yang eksotis dan pujian itu membuat Vian semakin semangat untuk membantu bapak mertuanya di sawah.  Dia sekarang  justru membayangkan bagaimana reaksi neneknya saat melihat dirinya yang sekarang.


“ Put,”


“Hmm...,”


“Terima kasih untuk semuanya. Aku mendapa banyak pelajaran selama berada di sini. Aku juga sangat senang karena dapat membantu bapak,


meskipun masih banyak kesalahan, tetapi bapak tidak marah. Hadiah spesialnya, bapak yang awalnya seperti tidk menyukaiku, akhirnya mempercayakan kamu padaku. Kamu tahu popcorn yang meletup-letup? Seperti itulah perasaanku saat mendapat


restu dari bapak.”  Vian menarik Putri ke pelukannya, Putri tidak menolak, justru semakin merangsek ke dalam pelukan suaminya itu.


“Aku lebih berterima kasih padamu, Vian. Kamu memperlakukan keluargaku dengan baik dan sangat tulus. Aku bisa merasakan itu, bapakku juga


pasti bisa merasakannya hingga akhirnya mempercayaimu. Makanya, kamu jangan


sampai sembarangan merusak kepercayaan dari bapak.”  Putri serius. Perempuan itu akan melakukan perhitungan kalau Vian berbuat sesuatu yang membuatnya terluka.


“Tidak akan.  Meskipun aku buaya laut katamu, tetapi aku bukan seorang brengsek.  Aku akan terus menjagamu, hatimu dan semua tentangmu. Kamu harus percaya pada suamimu ini.” Vian mengecup kening Putri lama. Bimo tersenyum saat tanpa sengaja mengamati kelakuan kedua majikannya itu


dari cermin yang ada di atasnya.


Berbeda dengan saat berangkat, sekarang keduanya menikmati pemandangan yang mereka lalui. Seolah sedang menjadi pemandu wisata, Putri menjelaskan


nama-nama daerah yang mereka lewati beserta beberapa monumen dan tempat-tempat pentingnya.Putri juga tidak segan menceritakan kisahnya saat dirinya masih kecil daerah tempat tinggalnya itu.

__ADS_1


“Dulu, saat aku masih seusia Adit, pekerjaan aku menggembala kambing. Bukan milik kami, jadi bapak menyewa dari juragan kambing dengan


sistem bagi hasil. Sayangnya, tidak lama sejak itu, salah satu kambing sakit karena memakan plastik atau apa sehingga ususnya mengalami penyumbatan, hingga akhirnya terpaksa harus di sembelih. Karena kejadian itu, bapak tidak di percaya lagi oleh juragan kambing itu. Padahal itu kesalahanku, kan?”  Putri menyalahkan dirinya karena itu.


“Apa kamu sedih karenan hal itu?” tanya Vian kemudian.


“Ya. Tentu saja, aku membuat bapak rugi dengan membiarkan kambing itu memakan sesuatu yang tidak seharusnya di makan.” Saat mengatakan


itu, terlihat sekali Putri masih merasa bersalah.


“Begini saja, kamu bisa belikan bapak kambing lagi sebagai gantinya. Waktu itu, kambing yang mati satu ekor, bagaimana kalau kamu belikan bapak dua ekor? Beliau pastiakan sangat senang.”  Mendengar perkataan Vian, Putri tampak kembali semangat. Mungkin, jika dia melakukan itu, bapaknya akan senang dan secara tidak langsung, Putri tidak merasa bersalah lagi karenanya.


“Sepertinya aku setuju dengan ide kamu. Nanti kita pikirkan kapan waktunya. Sekarang, aku sedang merindukan nenek, kira-kira,nenek sedang


apa, ya?”


“Mungkin, nenek juga sedang merindukan kita sekarang. Biasanya nenek yang paling semangat ngejekin kita,ya?”  Vian mengecup punggung tangan Putri beberapa kali setelah mengatakan itu.


“Iya, dari awal, nenek selalu mengawasi kita. Sepertinya nenek tahu kalau kita pura-pura di awal, kamu sadar nggak?” Putri sedikit mendongak


untuk dapat melihat wajah Vian.


“Tebakanku sih gitu,tapi entahlah.” Putri belum terlalu yakin dengan hasil pemikirannya.


“Jadi masih ragu, nih? Tapi, wajar sih kalau nenek tahu, kita kan di awal-awal kaku banget.  Belum


lagi kamu yang suka salah tingkah.” Ungkit Vian.


“Siapa yang suka salah tingkah? Aku biasa saja.” Putri coba untuk mengelak.


“Menurutmu biasa saja, tetapi aku bisa melihat kegugupanmu, Sayang. Ehm,  aku boleh tidur seperti pas berangkat ke sini nggak?” Vian menggesekkan hidungnya ke rambut Putri berulang sebagai reaksi manjanya.


“Kamu ngantuk lagi?” tanya Putri seraya memegang pipi Vian dengan satu tangannya.


“Semalam kan kita tidur menjelang pagi, kamu lupa?” bisik Vian, takut di dengar oleh Bimo. Bella meringis saat mengingat kembali apa yang


sudah terjadi tadi malam.

__ADS_1


“Sudahlah, semalam jangan di bahas lagi. Tidurlah, nanti aku bangunkan saat kita sudah sampai.” Putri memandang ke arah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.


Perjalanan menadi hening, Bimo fokus menyetir, Vian mulai terlelap , sementara Putri menikmati perjalanannya. Pulang kampung yang di


lakukannya kali ini, sangat spesial dan mungkin begitu juga menurut keluarganya. Putri dapat melihat, bagaimana Vian membuat keluarganya menerima kehadirannya dengan hangat. Wanita itu sangat kagum, di balik sikap Vian yang mengesalkan saat pertama kali mereka bertemu, ternyata dia bisa menyesuaikan diri dengan cepat di keluarganya.


Jika waktu bisa di putar kembali, mungkin Putri lebih memilih langsung bertemu dengan Vian, sehingga dirinya tidak perlu merasakan sakit hati karena Raihan. Tapi, semuanya butuh proses, dan Putri menyadari, kesakitannya itu adalah proses menemukan kebahagiaannya yang sekarang.


Satu hal yang harus di lakukan Putri sekarang hanyalah mempertahankan kebahagiaan yang di milikinya sekarang. Dia harus menjaga Vian


dengan baik dan membuatnya nyaman, agar tidak ada tempat di hatinya untuk wanita yang lain, baik itu dari masalalunya ataupun di masa depan.


Sekarang, dirinya bisa menjadi sedikit egois, mengikat lelaki yang berada di dalam dekapannya itu seerat mungkin.  Rasa takut itu, terkadang


menghampiri Putri. Mungkin orang lain tidak mengetahui latar belakang Vian, tetapi dirinya tahu, bagaimana pria kesayangannya itu dulunya seorang pemain cinta,  perempuan itu terkadang di hantui rasa


khawatir, Vian akan kembali ke sosoknya yang dulu.


***


“Inah, hari ini Vian dan Putri akan kembali ke rumah. Kamu harus masak spesial untuk menyambut mereka. Jangan lupa bereskan juga kamar mereka, nanti mereka pasti akan kelelahan dan langsung


ingin beristirahat.” Pesan nenek saat Inah sedang membersihkan lantai kamar mandi.


“Baik, Nyonya.”  Jawabnya patuh.


Sejak pagi, setelah mendapat kabar dari Putri mereka akan kembali, nenek tidak berheti terseyum, wajahya begitu cerah,bahkan beliau mengurus bunga di taman kecilnya sambil menyanyikan lagu kesukaanya.


Kedua cucunya itu menjadi sumber kebahagiaan nenek sekarang. Nenek Dewi tidak mengkhawatirkan masa depan cucunya setelah dia melihat keberhasilannya membuat Vian jatuh cinta pada Putri. Nenek dapat


bernapas lega karena Vian telah lepas dari pengaruh buruk Vanessa.


Sekarang, nenek hanya tinggal menunggu kabar bahagia dari Putri, dirinya tidak sabar untuk mengetahui ada malaikat kecil yang tumbuh di rahim cucu menantunya itu. nenek berharap, saat hal itu


tiba, dirinya masih berumur panjang dan bisa membantu Putri menjaganya sampai cucunya lahir ke dunia dengan selamat.


Bertahun-tahun setelah dirinya berhasil merawat Vian hingga menjadi pria dewasa yang tangguh, nenek sangat merindukan masa itu, masa di mana dirinya merawat bocah kecil yang lucu. Sekarang yang dia paling khawatirkan adalah, masih kuatkah dia menggendong anak Vian nanti?

__ADS_1


Masih segar dalam ingatannya, bagaimana Vian kecil sangat suka berlari-lari. Bermain kuda-kudaan sepanjang hari, susah saat di suruh makan hingga ia harus memakai berbagai trik agar Vian kecil mau memasukkan suapannya ke dalam mulutnya, hingga kebiasaan Vian kecil yang memeluknya erat saat tidur, semuanya terasa terlalu cepat berlalu.


Sekarang Vian sudah tidak seimut dulu lagi, dia juga sudah jarang memeluknya. Terkadang, nenek berharap Vian datang dan memeluknya seperti dulu, tetapi dia sadar, cucunya sudah dewasa .


__ADS_2