
Beberapa hari berlalu, Putri kembali ke kampus seperti biasa. Sebelum ke kantornya, Vian menyempatkan diri untuk mengantarkan Putri terlebih dahulu. Nenek sangat senang dengan perubahan yang terjadi pada hubungan Vian dan Putri. Mereka berdua terlihat jauh lebih mesra di bandingkan sebelumnya.
“Aku ngampus dulu, Bos. Jangan kangen ya..” Putri melontarkan candaannya saat turun dari
mobil Vian. Tidak seperti biasanya, kduanya saling melontarkan senyum.
“Kalau aku kangen, aku tinggal kesini buat nyulik kamu.” Balas Vian sambil melongok keluar melalui kaca mobilnya yang sengaja di buka.
“Emang berani nyulik aku?” tantang Putri yang di balas kerlingan nakal dari Vian.
“Nggak perlu di culik, kamu udah pulang ke rumahku” Vian menjulurka lidahnya, mengejek Putri.
“Kalau nggak pulang ke rumah kamu, aku nggak akan dapat gaji, dong. Aku hampir telat nih, bye.” Putri
segera melangkah cepat meninggalkan Vian yang masih memandangi Putri tapa berkedip. Bibir lelaki itu menampilkan senyum manisnya. Semakin hari, perasaannya pada Putri semakin terlihat samar-samar.
Vian memutar balik arah laju mobilnya dan meluncur menuju ke kantornya, ia mempercepat laju
mobilnya karena hari ini ada hal penting yang harus ia kerjakan di kantornya.
Putri berjalan santai menuju ke kampusnya yang masih lumayan jauh. Sesuai kesepakatan awal, Vian tetap tidak di izinkan oleh Putri untuk mengantarnya sampai ke depan kampus. Meskipun hubungannya dengan Vian sudah jauh lebih baik, tetapi ia juga tidak bisa mengingkari perasaannya yang masih terpaut pada Raihan. Putri
berpikir, akan lebih baik jika ia kembali pada Raihan, karena apabila ia
membiarkan dirinya terlena pada Vian, yang ia dapatkan hanya hati yang terluka.
Ketika langkah Putri memasuki gerbang kampus, yang pertama
ia lihat adalah wajah Raihan. Lelaki itu tampak sedang berbicara pada
seseorang. Putri segera berjalan mendekat ke arah Raihan, beberapa hari tidak
bertemu dengan Raihan, membuat Putri sedikit merindukannya.
__ADS_1
Melihat kehadiran Putri, Raihan segera mengakhiri pembicaraan dengan temannya dan
menyongsong kedatangan Putri. Hari ini, Raihan akan membicarakan semuanya pada
Putri, tentang perjodohannya dengan Anisa. Putri berhak tahu ini semua. Ia
tidak akan bisa hidup dengan tenang, sebelum mengatakan yang sebenarnya pada
Putri. Ia tidak bisa memberikan harapan palsu pada gadis kesayangannya itu.
Raihan menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan untuk mengurangi
kegugupannya.
“Raihan, apa kabar? Aku rindu, lama tidak melihatmu.” Celotehan putri hanya di balas senyuman oleh Raihan. Putri terlihat begitu bahagia saat melihat Raihan.
“Put, mumpung jam masuk kita masih agak panjang, aku ingin bicara berdua denganmu. Ayo kita bicara di bangku sana.” Raihan menunjuk sebuah bangku yang terletak di bawah pohon beringin yang terletak tidak jauh dari
gerbang.
“Kapan kamu akan menikah?” tanya Putri pelan dengan bercucuran air mata. Ingin rasanya Raihan menghapus air mata gadis itu, tetapi ia tidak bisa. Ia sadar, dirinyalah yang menyebabkan Putri mengalami hal
menyedihkan seperti ini.
“Setelah wisuda, sebulan setelah wisuda kami akan melangsungkan pernikahan. Aku minta maaf, Put. Aku tidak bisa menepati kata-kataku. Jika kamu bertanya, apakah aku tidak terluka, aku juga terluka,
aku juga sakit hati, aku juga ingin kamu yang menjadi istriku kelak, tetapi semua ini adalah takdir, aku tidak bisa menentang kehendak orang tuaku.” Mata Raihan ikut berkaca-kaca, kenyataan ini cukup menyakitkan untuknya. Dia pikir, semuanya akan baik-baik saja, tetapi setelah mengatakan semuanya pada Putri, perasaan sakit di hatinya justru semakin nyata. Ia telah lama jatuh cinta pada Putri, hingga gadis itu membalas perasaannya. Ini bukan akhir cinta yang dia inginkan.
“Aku mengerti, Raihan. Kamu anak yang baik, sholeh, kamu tidak akan menjadi pembangkang. Aku memang sedih, aku terluka karena ini. Seiring waktu, rasa sakit yang aku rasakan ini akan memudar, aku pasti akan
bisa merelakanmu. Aku hanya tidak menyangka, setelah lama tidak bertemu, akhirnya kita akan berpisah seperti ini. Ah, maaf, aku lupa kalau kita tidak pernah jadian.” Putri berusaha menyeka air mata yang semakin deras mengalir di kedua pipinya. Dia tidak tahu harus apa, apakah harus kecewa atau marah, Putri tahu, ia tidak punya hak untuk itu.
“Terima kasih, Put. Aku sangat berharap, kamu tidak memusuhiku karena hal ini. Kita masih bisa berteman, kan?” kali ini, untuk pertama kalinya, Rihan menatap mata sembab Putri dengan tatapan dalam dan sulit untuk di artikan, ada cinta di dalam sana.
__ADS_1
“Aku tidak mampu untuk membencimu, Raihan. Tapi, untuk beberapa hari ini, usahakan menghindar dulu dariku. Jujur, aku belum terbiasa dengan semua ini. Secepatnya, saat aku sudah siap dan menerima semuanya, aku
akan bicara padamu. Maaf, aku duluan ke kelas, ada banyak tugas yang belum aku kerjakan. “ Putri segera bangkit dari duduknya dengan tergesa-gesa.
Air mata yang susah payah ia bendung kembali mengucur deras.
Kesakitan kian terasa nyata di hati Putri. Saat ia berusaha menata hatinya
kembali untuk bertahan dengan perasaannya pada Raihan, semuanya berakhir dengan
kehancuran. Derap langkah Putri yang setengah berlari secepat tetesan air mata
Putri yang semakin banyak. Jatuh cinta, haruskah sesakit ini?
Awalnya, Putri pikir, jatuh cinta pada seorang yang baik
seperti Raihan akan berujung bahagia. Raihan pernah bilang, ia akan menikahinya
suatu hari nanti, Raihan juga bilang, kalau Putri harus menjaga hati untuknya, tetapi
yang ia dapatkan saat ini hanyalah ruang hampa. Impian Putri telah hancur, ia
kembali merasa sendiri.
Sementara itu...
Raihan masih berada di tempat yang sama, di mana ia telah di
tinggalan oleh Putri. Akan sangat bohong kalau ia berkata sekarang ia dalam keadaan baik-baik saja. Melihat wajah Putri yang sedih dan penuh kekecewaan seperti tadi membuatnya merasa semakin bersalah.
Pria itu menumpukan kedua tangannya pada pahanya, ia tertunduk memandang air matanya yang menetes ke tanah. Ia telah mengingkari janji, dia telah membuat gadis yang ia cintai patah hati. Melihat Putri yang
kecewa, hatinya sangat hancur. Seandainya ia mampu, ia sudah menarik tubuh Putri ke dalam pelukannya, menghapus air matanya dan mengusap rambutnya untuk meringankan beban yang ada di dalam hati gadis itu, sayangnya, hal tersebut tidak dapat ia lakukan.
__ADS_1
“Maafkan aku, Put. Aku tidak dapat menepati janjiku. Aku bahkan telah menghancurkan harapanmu. Aku tahu aku salah, maaf. Seharusnya, kamu yang ada di sampingku saat aku mengucapkan akad, bukan Anisa. Aku hanya bisa
mendo’akanmu, semoga kamu menemukan jodoh yang terbaik.” Gumamnya pelan.