Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 65


__ADS_3

"Jangan lama-lama di sana, hiks..., Hiks...," Putri tak kuasa menahan tangisannya saat hendak melepas kepergian Vian. Untuk pertama kalinya, dirinya dan Vian akan tinggal berjauhan.


"Setelah urusannya selesai, aku segera kembali. Jaga diri kamu baik-baik, Sayang." Vian mengecup kening Putri cukup lama.


"Kamu jangan nakal di sana. Meskipun banyak wanita cantik, kamu tidak boleh sembarangan meliriknya. Hiks..., Hiks...," Putri masih saja menangis, Vian tersenyum, semua ini membuatnya semakin yakin kalau Putri sangat mencintainya.


"Tidak ada wanita lain yang lebih menarik dari kamu di mataku, Sayang. Di hatiku cuma ada kamu. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan setia, hanya padamu, Putri seorang." Vian mengeratkan dekapannya. Jika boleh jujur, perpisahan ini juga begitu berat untuk Vian. Tapi dia tidak punya pilihan lain, baik Putri atau perusahaan, keduanya adalah tanggung jawabnya. Dia tidak bisa memilih salah satu dari mereka, yang di lakukannya sekarang adalah menyelamatkan keduanya. Karena, kesuksesan perusahaan adalah bagian dari kesuksesannya dalam berumah tangga bersama Putri.


"Beneran? Awas kalau nggak. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai sana." dengan berat hati, Putri melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah dari suaminya.


Putri memandang Vian dengan tatapan berkaca-kaca. Vian melambaikan tangannya, sebelum akhirnya berbalik dan menyeret kopernya. Air mata Putri mengalir deras saat memandangi punggung Vian yang semakin menjauh. Putri tidak pernah membayangkan harus berjauhan dengan Vian. Tapi, mau tidak mau dia harus menerima kenyataan.


Setelah membelakangi Putri, Vian juga menitikkan air mata. Ini hanya sementara, tetapi baginya perpisahan ini membuatnya sulit. Kebersamaannya yang begitu manis akhir-akhir ini bersama Putri membuat langkah Vian terasa sangat berat.


Beberapa saat kemudian, Vian memantapkan langkahnya, dia harus segera sampai di Malaysia. Di ujung sana, Bimo telah menunggunya dengan setia. Setelah Vian berada di dekat Bimo, lelaki itu segera mengambil alih koper majikannya dan membawanya.


"Non, mari kita pulang." Pak Joko menyadarkan Putri yang masih memandang Vian yang bahkan sudah tidak terlihat lagi.


"Mari, Pak." ujarnya sambil berbalik dan meninggalkan tempat di mana ia berdiri.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Putri memilih diam. Ia memutar beberapa lagu yang sering di dengarkannya bersama Vian. Lagu-lagu itu, terkadang membuat wanita itu tersemyum, terkadang juga menangis. Perpisahannya dengan Vian tidak semudah yang ia bayangkan.


Di rumah Anisa, gadis itu tengah duduk berdua dengan ibunya di ruang tamu. Mereka tengah ngobrol sambil ibunya menyulam sebuah telapak meja. Anisa memanfaatkan momen ini untuk mengutarakan isi hatinya.


"Umi, Anisa mau bicara sesuatu, tapi sebelumnya maaf, kalau nanti kata-kata Anisa tidak berkenan di hati Umi." katanya perlahan, saat melihat situasinya sudah benar-benar cocok.


"Kamu mau bicara apa, Nisa? Sepertinya serius sekali. Bicara saja, jangan sungkan. Umi akan mendengarkan keluh kesahmu." jawab ibunya masih sambil meneruskan sulamannya.


"Begini, Umi. Apa tidak sebaiknya perjodohanku dengan Kak Raihan di batalkan saja?" pertanyaan Anisa membuat ibunya menghentikan pekerjaannya lalu menatap ke arah Anisa lembut.


"Memangnya ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba ingin membatalkan rencana perjodohan kamu dengan Raihan? Bukankah akhir-akhir ini, Raihan sedah menunjukkan perhatiannya padamu?" tanya ibunya kemudian.


"Kamu sudah pernah membicarakan hal ini dengan Raihan?" tanya ibunya lagi.


"Sudah, Umi. Kak Raihan bilang dia tidak keberatan dengan perjodohan ini. Dia bilang seiring waktu, semuanya akan baik-baik saja. Tapi, Semakin ke sini, Anisa justru merasa, kalau Kak Raihan jauh dari jangkauan Anisa. Bahkan sampai ke mimpi Anisa juga Umi, Kak Raihan menjauh dan meninggalkan Anisa. Sesungguhnya, Anisa ragu untul melanjutkan perjodohan ini, Umi." Anisa menunduk. Ada titik-titik bening yang jatuh di tangannya. Ia benar-benar meragukan perasaan Raihan terhadapnya.


"Anisa, kalau Raihan sudah bilang begitu, itu artinya dia sedang berusaha untuk menerima perjodohan kalian. Kamu hanya perlu banyak-banyak berdo'a yang terbaik untuk hubungan kalian ke depannya. Jodoh atau tidak jodohnya kalian, biarkan itu menjadi rahasia Allah, Nak." ibu Anisa memberikan wejangan pada anaknya dengan sabar. Sebagai seorang wanita, ibu Anisa juga paham apa yang di rasakan Putrinya. Ketakutan itu selalu ada.


"Terima kasih, Umi. Berkat nasihat dari Umi, Anisa merasa sedikit lebih tenang sekarang. Mungkin memang sudah seharusnya, Anisa menyerahkan segalanya pada Allah." Anisa merasa lega. Meskipun bukan solusi, tapi apa yang di katakan oleh ibunya benar, dia hanya harus lebih tegar menghadapi perjodohannya dengan Raihan ke depannya.

__ADS_1


"Umi lihat, Raihan beberapa hari ini tidak berkunjung ke rumah, apa dia sedang sibuk?"


"Iya. Kak Raihan sedang sibuk tugas akhir, Umi. Katanya, dia mungkin akan jarang menghubungi Anisa atau datang ke rumah kita." jawab Anisa jujur.


"Ya sudah kalau begitu, kamu tidak perlu cemas. Umi lihat, Raihan itu anak yang baik. Dia tidak pernah membikin ulah. Kamu beruntung dapat memiliki calon suami seperti dia. Kalau kamu sendiri bagaimana?" pertanyaan ibu Anisa menarik perhatian gadis itu.


"Maksud, Umi?" tanyanya, saat merasa kurang jelas dengan pertanyaan yang di ajukan ibunya.


"Apa kamu sudah jatuh cinta pada Nak Raihan?" ibunya memeperjelas pertanyaannya, Anisa justru tersipu malu.


"Umi bikin Anisa malu." jawabnya pelan seraya menunduk.


"Loh, kenapa malu? Umi kan ingin tahu, bagaimana perasaanmu pada calon suamimu itu. Tapi, sepertinya Umi sudah tahu jawabannya dari pipimu yang merona itu. Kamu pasti sudah jatuh hati pada Nak Raihan. Bagaimana tidak, Nak Raihan kan memang ganteng, baik hati, soleh. Pokoknya idaman setiap wanita." Anisa semakin malu mendengar penuturan ibunya. Apa yang di katakan ibunya lagi-lagi memang benar, Raihan memiliki pesona yang luar biasa.


"Jujur, Anisa memang mulai menyukai Kak Raihan. Hal itu, yang membuat Anisa semakin khawatir, Kak Raihan tidak membalas perasaan Anisa. Apa Anisa salah, Umi, kalau Anisa diam-diam jatuh hati pada Kak Raihan?" curhat Anisa, ibunya tersenyum.


"Perasaan itu tidak pernah salah, Anisa. Terkadang, yang salah adalah diri kita yang menanggapi sebuah perasaan. Kita tidak pernah di larang untuk memiliki perasaan cinta terhadap orang lain, yang tidak boleh itu, kita di kuasai oleh perasaan sehingga tidak bisa mengendalikan perasaan itu sendiri dan juga, mencintai seseorang dengan berlebihan sampai kehilangan akal sehat. Anisa paham, kan, maksud umi?" ibunya memandang Anisa dengan lembut.


"Iya, Umi. Anisa paham apa maksud dari perkataan Umi."

__ADS_1


__ADS_2