
Beberapa hari setelah Raihan memutuskan hubungan dengannya,
Putri berusaha menjalani kesehariannya dengan biasa. Ia mulai menata hatinya
untuk kedepan, Putri juga berpikir untuk mulai membuka hati untuk pria lain.
Tidak ada lagi yang ia harapkan dari seorang Raihan.
Setiap tidak sengaja Putri harus berpapasan dengan Raihan,
gadis itu memilih untuk menghindarinya atau mencari jalan lain. Baginya,
melihat Raihan sama saja memberikan perasan jeruk nipis pada luka yang masih
menganga. Terlalu perih dan menyakitkan.
Saat libur kuliah, seperti biasa, Putri mendampingi Vian ke
kantor. Biasanya saat di mobil, mereka selalu berdebat, sekarang mereka lebih
sering bernyanyi bersama atau saling menceritakan hal-hal konyol di masa lalu.
Hal buruk yang biasa Putri lihat dari sosok Vian mulai memudar, bahkan
menurutnya, Vian adalah sosok pria yang menyenangkan.
Memang terkadang, ada hal yang tidak kita ketahui saat
pertama kali mengenal seseorang, setelah kita sering berada di dekatnya,
berbincang dengannya, barulah kita mengerti, tipe sosok seperti apa orang yang
kita temui itu.
“Putri...”
“Ya.. Bos..”
“Siang ini makan siang bareng, ya. Kamu sedang tidak ada
janji dengan siapapun kan?” tanya Vian seraya mengerjakan sesuatu di laptopnya,
“Boleh Pak Bos, mau makan di kantin kan?” Putri hanya sedang berusaha memastikan,
kemana mereka berdua akan makan.
“ Bukan, tapi ke resto depan, aku dengar dari beberapa
karyawan, makanan di sana enak. Aku ingin mencobanya denganmu.” Selalu begini, Vian mengatakan semua tempat
makan yang mereka datangi belum pernah ia datangi dan dia ingin mengunjunginya
bersama Putri.
“Ini hanya perasaanku atau gimana, ya. Sepertinya beberapa
hari ini kamu mengajak aku ke tempat makan yang berbeda dan mengatakan hanya
ingin mencoba. Kamu serius sedang penasaran dengan makanannya atau memang
sengaja pengen pergi sama aku? Putri
sengaja memberikan penekanan pada beberapa kata di akhir kalimatnya.
“Dua-duanya. Aku memang penasaran, terus pengen pergi
makannya sama kamu.” Ungkap Vian jujur. Dirinya memang selalu ingin berada di
dekat Putri akhir-akhir ini.
“Dasar cowok, nggak bisa di percaya.” cibir Putri sambil
mengerucutkan bibirnya karena sebal.
“Aku kan cuma pengen makan sama kamu, memangnya nggak boleh
__ADS_1
makan sama istri sendiri?” Vian
menggunakan kedua tangannya untuk menumpu kepalanya dan menatap Putri tanpa
berkedip, ia sengaja menggoda gadis itu.
“Vian, jangan godain aku terus, aku aduin nih sama nenek.”
Putri pura-pura menyibukkan dirinya agar Vian tidak melihat pipinya yang
bersemu merah karena malu.
“Ehm... sepertinya ada yang pipinya merah.” Sindir Vian, ia
tersenyum geli sambil mengakhiri tingkah jailnya. Ia kembali menandatangani
beberapa berkas yang masih menumpik di hadapannya.
Putri menahan senyumannya sambil berusaha tetap fokus pada
pekerjaannya dan berusaha mengabaikan Vian. perlahan rasa sakitnya karena
berpisah dengan Raihan memudar, bahkan lebih cepat dari perkiraannya. Saat
bersama Vian, Putri selalu bahagia. Vian selalu berinisiatif menghibur Putri
tanpa gadis itu sadari, termasuk hari ini.
***
“Ayo cepetan, kerjanya di sambung nanti.” Vian menarik
tangan Putri, entah sejak kapan Vian berada di sampingnya, Putri tidak
menyadari itu.
“Vian kebiasan, nih... sekarang suka narik-narik.” Putri
terpaksa segera mematikan komputernya
berada dalam genggaman Vian dan sepertinya pria itu tidak ada niatan untuk
melepaskannya.
“Suka-suka aku, dong. Kamu kan istri aku, mau aku apain itu
terserah aku, dong.” Vian berbisik sangat dekat dengan telinga Putri, bahkan
hidung Vian nyaris menempel di pipi Putri.
“Vian!” Putri mendorong badan Vian menjauh darinya, Vian
justru tertawa terkekeh karena tingkah Putri, lalu berjalan terlebih dahulu
meninggalkan Putri.
“Cepatlah, jangan seperti siput.” Kata pria itu sebelum keluar dari ruangan
mereka. Vian masih tertawa kecil.
Putri menghentak-hentakkan kakinya ke lantai karena gemas dengan perlakuan Vian yang selalu
menggodanya setiap ada kesempatan. Rasanya setiap hari Vian selalu ada ide
untuk membuat pipinya memerah. Sekuat hati, Putri berusaha mempertahankan
hatinya agar tidak jatuh. Ia tidak ingin tergoda semakin jauh, masuk ke dalam
hidup Vian terlalu dalam dan akhirnya ingin memiliki pria itu.
Dengan gontai Putri segera melangkah keluar ruangan untuk
mengejar Vian. Bosnya itu akan mengomel
apabila menantinya terlalu lama. Beberapa saat kemudian, Putri kembali teringat
__ADS_1
perlakuan Vian yang baru saja terjadi. Putri menutup wajahnya dengan kedua
telapak tangannya, sungguh, ia ingin melupakan segalanya. Lelaki itu telah
membayangi hari-harinya sekarang.
***
Karena untuk pertama kalinya, Putri masih terlalu kikuk
untuk makan steak di hadapan Vian, hal itu membuat Putri hanya diam, dan
membiarkan makanannya utuh. Sementara,
Vian telah memotong semua dagingnya, pria itu menatap Putri dan makanannya yang
tidak tersentuh, lalu ia beranak dari duduknya dan menempatkan dirinya di
belakang Putri. Vian mengulurkan tangannya, mengambil garpu dan pisau miliknya
dan mulai memotong daging milik gadis itu.
Detak jantung Putri tidak terkontrol dengan posisi mereka
sedekat ini. Gadis itu hanya mematung dan membiarkan Vian mengerjakan semuanya.
Wangi parfum pria itu begitu jelas tercium dan merasuk ke dalam otak Putri,
mungkin hingga ia tidur, ia masih ingat bau lembut dan manis dari parfum milik
pria yang waahnya bahkan sekarang berada dekat di depan matanya,
“Lain kali, kalau kamu tidak bisa memotong daging, bilang
padaku, biar kita bisa potong bersama. Bukankah seperti ini romantis?” bisik
Vian setelah menyelesaikan potongan terakhirnya. Pria itu lalu kembali ke
tempat duduknya untuk menikmati makanan yang ada di piringnya.
“Vian, sebenarnya, ada apa denganmu? Kenapa kamu selalu
begini? Bersikap manis seperti ini, kamu tidak bermaksud untuk menggodaku,
kan?” kalimat yang meluncur dari bibir Putri saat suapannya yang pertama itu
membuat Vian menghentikan sendokannya dan kembali meletakkan daging yang telah
di tusuknya ke atas piring.
“Putri, aku melakukan semuanya hanya untuk membuat kamu
merasa sendiri menghadapi semua masalahmu. Aku ingin menjadi orang yang paling
dekat denganmu selain keluargamu. Aku tidak bermaksud menggodamu, sedikitpun
tidak. (aku melakukan semuanya tulus, karena aku merasa, aku jatuh cinta
padamu, Put. Imbuh Vian dalam hati)” Vian mengatakan itu sambil menatap Putri,
agar gadis itu percaya padanya.
Di dalam lubuk hatinya, Vian tidak ada niat untuk memberikan
Putri harapan palsu, hanya saja Vian tidak dapat membendung perasaannya yang
bertambah setiap harinya pada gadis yang ada di hadapannya. Dengan cara inilah,
Putri tidak kan menyadarinya dan tetap nyaman berada di sisinya.
“Syukurlah, aku harap kamu tidak bermaksud untuk membuatku
berharap padamu. (Put, Vian tentu saja tidak akan jatuh cinta padamu, kamu
hanya terlalu berharap, Batin putri).” Putri kembali menikmati makanan yang
__ADS_1
terhidang di piringnya, begitu pula dengan Vian.