Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chhapter 41


__ADS_3

Beberapa hari setelah Raihan memutuskan hubungan dengannya,


Putri berusaha menjalani kesehariannya dengan biasa. Ia mulai menata hatinya


untuk kedepan, Putri juga berpikir untuk mulai membuka hati untuk pria lain.


Tidak ada lagi yang ia harapkan dari seorang Raihan.


Setiap tidak sengaja Putri harus berpapasan dengan Raihan,


gadis itu memilih untuk menghindarinya atau mencari jalan lain. Baginya,


melihat Raihan sama saja memberikan perasan jeruk nipis pada luka yang masih


menganga. Terlalu perih dan menyakitkan.


Saat libur kuliah, seperti biasa, Putri mendampingi Vian ke


kantor. Biasanya saat di mobil, mereka selalu berdebat, sekarang mereka lebih


sering bernyanyi bersama atau saling menceritakan hal-hal konyol di masa lalu.


Hal buruk yang biasa Putri lihat dari sosok Vian mulai memudar, bahkan


menurutnya, Vian adalah sosok pria yang menyenangkan.


Memang terkadang, ada hal yang tidak kita ketahui saat


pertama kali mengenal seseorang, setelah kita sering berada di dekatnya,


berbincang dengannya, barulah kita mengerti, tipe sosok seperti apa orang yang


kita temui itu.


“Putri...”


“Ya.. Bos..”


“Siang ini makan siang bareng, ya. Kamu sedang tidak ada


janji dengan siapapun kan?” tanya Vian seraya mengerjakan sesuatu di laptopnya,


“Boleh Pak Bos, mau makan di kantin kan?”  Putri hanya sedang berusaha memastikan,


kemana mereka berdua akan makan.


“ Bukan, tapi ke resto depan, aku dengar dari beberapa


karyawan, makanan di sana enak. Aku ingin mencobanya denganmu.”  Selalu begini, Vian mengatakan semua tempat


makan yang mereka datangi belum pernah ia datangi dan dia ingin mengunjunginya


bersama Putri.


“Ini hanya perasaanku atau gimana, ya. Sepertinya beberapa


hari ini kamu mengajak aku ke tempat makan yang berbeda dan mengatakan hanya


ingin mencoba. Kamu serius sedang penasaran dengan makanannya atau memang


sengaja pengen pergi sama aku?  Putri


sengaja memberikan penekanan pada beberapa kata di akhir kalimatnya.


“Dua-duanya. Aku memang penasaran, terus pengen pergi


makannya sama kamu.” Ungkap Vian jujur. Dirinya memang selalu ingin berada di


dekat Putri akhir-akhir ini.


“Dasar cowok, nggak bisa di percaya.” cibir Putri sambil


mengerucutkan bibirnya karena sebal.


“Aku kan cuma pengen makan sama kamu, memangnya nggak boleh

__ADS_1


makan sama istri sendiri?”  Vian


menggunakan kedua tangannya untuk menumpu kepalanya dan menatap Putri tanpa


berkedip, ia sengaja menggoda gadis itu.


“Vian, jangan godain aku terus, aku aduin nih sama nenek.”


Putri pura-pura menyibukkan dirinya agar Vian tidak melihat pipinya yang


bersemu merah karena malu.


“Ehm... sepertinya ada yang pipinya merah.” Sindir Vian, ia


tersenyum geli sambil mengakhiri tingkah jailnya. Ia kembali menandatangani


beberapa berkas yang masih menumpik di hadapannya.


Putri menahan senyumannya sambil berusaha tetap fokus pada


pekerjaannya dan berusaha mengabaikan Vian. perlahan rasa sakitnya karena


berpisah dengan Raihan memudar, bahkan lebih cepat dari perkiraannya. Saat


bersama Vian, Putri selalu bahagia. Vian selalu berinisiatif menghibur Putri


tanpa gadis itu sadari, termasuk hari ini.


***


“Ayo cepetan, kerjanya di sambung nanti.” Vian menarik


tangan Putri, entah sejak kapan Vian berada di sampingnya, Putri tidak


menyadari itu.


“Vian kebiasan, nih... sekarang suka narik-narik.” Putri


terpaksa segera  mematikan komputernya


berada dalam genggaman Vian dan sepertinya pria itu tidak ada niatan untuk


melepaskannya.


“Suka-suka aku, dong. Kamu kan istri aku, mau aku apain itu


terserah aku, dong.”  Vian berbisik  sangat dekat dengan telinga Putri, bahkan


hidung Vian nyaris menempel di pipi Putri.


“Vian!” Putri mendorong badan Vian menjauh darinya, Vian


justru tertawa terkekeh karena tingkah Putri, lalu berjalan terlebih dahulu


meninggalkan Putri.


“Cepatlah, jangan seperti siput.”  Kata pria itu sebelum keluar dari ruangan


mereka. Vian masih tertawa kecil.


Putri menghentak-hentakkan kakinya ke lantai karena  gemas dengan perlakuan Vian yang selalu


menggodanya setiap ada kesempatan. Rasanya setiap hari Vian selalu ada ide


untuk membuat pipinya memerah. Sekuat hati, Putri berusaha mempertahankan


hatinya agar tidak jatuh. Ia tidak ingin tergoda semakin jauh, masuk ke dalam


hidup Vian terlalu dalam dan akhirnya ingin memiliki pria itu.


Dengan gontai Putri segera melangkah keluar ruangan untuk


mengejar Vian.  Bosnya itu akan mengomel


apabila menantinya terlalu lama. Beberapa saat kemudian, Putri kembali teringat

__ADS_1


perlakuan Vian yang baru saja terjadi. Putri menutup wajahnya dengan kedua


telapak tangannya, sungguh, ia ingin melupakan segalanya. Lelaki itu telah


membayangi hari-harinya sekarang.


***


Karena untuk pertama kalinya, Putri masih terlalu kikuk


untuk makan steak di hadapan Vian, hal itu membuat Putri hanya diam, dan


membiarkan makanannya utuh.  Sementara,


Vian telah memotong semua dagingnya, pria itu menatap Putri dan makanannya yang


tidak tersentuh, lalu ia beranak dari duduknya dan menempatkan dirinya di


belakang Putri. Vian mengulurkan tangannya, mengambil garpu dan pisau miliknya


dan mulai memotong daging milik gadis itu.


Detak jantung Putri tidak terkontrol dengan posisi mereka


sedekat ini. Gadis itu hanya mematung dan membiarkan Vian mengerjakan semuanya.


Wangi parfum pria itu begitu jelas tercium dan merasuk ke dalam otak Putri,


mungkin hingga ia tidur, ia masih ingat bau lembut dan manis dari parfum milik


pria yang waahnya bahkan sekarang berada dekat di depan matanya,


“Lain kali, kalau kamu tidak bisa memotong daging, bilang


padaku, biar kita bisa potong bersama. Bukankah seperti ini romantis?” bisik


Vian setelah menyelesaikan potongan terakhirnya. Pria itu lalu kembali ke


tempat duduknya untuk menikmati makanan yang ada di piringnya.


“Vian, sebenarnya, ada apa denganmu? Kenapa kamu selalu


begini? Bersikap manis seperti ini, kamu tidak bermaksud untuk menggodaku,


kan?” kalimat yang meluncur dari bibir Putri saat suapannya yang pertama itu


membuat Vian menghentikan sendokannya dan kembali meletakkan daging yang telah


di tusuknya ke atas piring.


“Putri, aku melakukan semuanya hanya untuk membuat kamu


merasa sendiri menghadapi semua masalahmu. Aku ingin menjadi orang yang paling


dekat denganmu selain keluargamu. Aku tidak bermaksud menggodamu, sedikitpun


tidak. (aku melakukan semuanya tulus, karena aku merasa, aku jatuh cinta


padamu, Put. Imbuh Vian dalam hati)” Vian mengatakan itu sambil menatap Putri,


agar gadis itu percaya padanya.


Di dalam lubuk hatinya, Vian tidak ada niat untuk memberikan


Putri harapan palsu, hanya saja Vian tidak dapat membendung perasaannya yang


bertambah setiap harinya pada gadis yang ada di hadapannya. Dengan cara inilah,


Putri tidak kan menyadarinya dan tetap nyaman berada di sisinya.


“Syukurlah, aku harap kamu tidak bermaksud untuk membuatku


berharap padamu. (Put, Vian tentu saja tidak akan jatuh cinta padamu, kamu


hanya terlalu berharap, Batin putri).” Putri kembali menikmati makanan yang

__ADS_1


terhidang di piringnya, begitu pula dengan Vian.


__ADS_2