Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 50


__ADS_3

Vian dan Putri melewati malam mereka dengan penuh keromantisan. Kepergian mereka ke perkebunan kopi itu justru menjadi bulan madu yang sebenarnya untuk mereka berdua. Putri merasa jauh lebih bahagia, meskipun


bukan di luar negeri, bukan juga di tempat yang mewah, tetapi Vian tidak membagi perhatiannya kepada siapapun.


Sebagai seorang wanita, di manjakan oleh seseorang yang di cintainya sudah lebih dari cukup, begitu pula dengan Putri. Hal sesederhana itu yang membuatnya merasa bahagia. Baginya, berdua bersama Vian tanpa ada yang


mengganggu mereka adalah hal spesial yang tidak pernah ia bayangkan bisa melakukannya sebelumnya.


Vian berharap, salah satu dari benihnya dapat bersemayam di rahim Putri dan berkembang menjadi buah hati mereka berdua. Selain menjadi impian nenek, memiliki anak dari Putri juga impian terbesar Vian saat ini,


meskipun begitu, dia tidak terobsesi untuk memilikinya dalam waktu dekat, bagaimanapun, hubungan mereka baru saja mengalami peningkatan, Vian masih ingin menikmati masa-masa ini.


Melihat Putri yang masih terlelap, Vian tidak tega untuk membangunkannya. Wanita itu pasi kelelahan karena mereka hampir melakukannya sepanjang malam. Vian menarik tubuh Putri mendekat padanya dan memilih kembali


terlelap. Tanpa busana membuat kulit mereka saling bersentuhan dan menyalurkan kehangatan satu sama lain.


Vian bangga pada dirinya sendiri, meskipun dia banyak mempermainkan hati para wanita, tetapi tidak sekalipun dirinya pernah menyentuh tubuh para wanita-wanita itu kecuali hanya untuk berciuman. Dia sangat bahagia


mempersembahkan yang pertama untuk wanita yang juga mempersembahkan pengalaman pertamanya pada dirinya.


Jika di zaman ini hubungan bebas menjadi tren di kalangan anak muda, Vian bukan bagian dari mereka. Dia tidak menganut paham itu, prinsipnya, dia hanya akan melakukannya dengan seorang wanita yang telah sah menjadi


miliknya. Baginya, melakukan itu juga harus di ikuti oleh sebuah tanggung jawab yang besar dan itu hanya bisa di lakukannya ketika dia telah benar-benar siap.


“Mmmmh..., “  Putri menggeliat dan mendapati dirinya di dalam dekapan suaminya yang tercinta,


“Sayang, bangun yuk..., katanya kamu mau ngajakin aku main ke sungai.”  Putri menyentuh hidung Vian menggunakan hidungnya. Pria itu tidak bergeming, sepertinya tidurnya sangat pulas.


“Sayang, bangun yuk...,”  Putri membelai bibir Vian, melihatnya membuat Putri teringat bagaimana


bibir itu menjelajah di setiap inci dirinya.


Bukannya bangun, Vian semaki mengeratkan  dekapannya, pria itu mendusel manja di dada istrinya seolah sedang kedinginan. Putri hanya bisa tersenyum melihat sikap manja yang di tunjukkan suaminya. Vian sangat menggemaskan, seperti bayi panda. Putri tidak tahan untuk tidak mencium puncak kepala Vian dengan rambut


lembutnya yang wangi itu.


“Sayang... boleh minta sekali saja nggak?” bisiknya seraya mengeratkan pelukannya lagi.


“Nggak boleh.” Putri pura-pura menjawabnya dengan jutek.


“Sayang, please... i need you, Baby. Kamu tega, biarin aku menahannya. ” Vian memelas, dia menatap Putri dengan tatapan minta di kasihani, sungguh pintar cara lelaki itu meluluhkan hati Putri.


“Kamu curang, dengan wajah imut seperti anak pandamu, bagaimana aku bisa menolak. Tapi beneran, janji cuma sekali.”  Putri tidak ada keinginan untuk menolak Vian, pria itu berhak untuk memintanya kapanpun.


“Aku nggak bisa janji, Sayang. Kamu selalu membuatku menginginkannya lagi dan lagi.” Bisik Vian lembut.


“Vian...,”  Putri memukul dada pria itu, sebagai balasan, Vian menariknya dan mulai menyerangnya


dengan ganas.


***


Sesuai dengan ajakannya semalam, Vian mengajak Putri untuk mengunjungi sungai yang letaknya lumayan jauh dari Vila. Putri memakai mini dress berwarna putih dengan corak bunga tanpa lengan menampilkan beberapa


bagian tubuhnya yng putih. Awalnya dia merasa malu berpakaian seperti itu, tetapi perlahan Putri merasa terbiasa.


Vian juga mengenakan kemeja putih dengan celana pendek selutut dengan warna senada. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak  yang di kelilingi oleh pohon kopi yang telah berbuah. Beberapa buah akar pohon-pohon kopi itu tampak menonjol di pinggir jalan setapak tempat mereka berjalan.


Keduanya tampak saling bercanda satu sama lain, Vian selalu menunjukkan kemesraannya dengan menggandeng erat tangan Putri. Pria itu  sesekali juga merangkul istrinya, mereka berdua pasangan yang sangat manis, membuat siapapun yang melihatnya ikut merasakan kebahagiaan yang saat ini mereka rasakan.


Sesekali Putri berlarian kecil di susul oleh Vian, saat tertangkap Vian akan mengangkat tubuh Putri  dan membawanya berputar-putar sampai Putri memukul-nukul punggungnya berkali-kali sambil tertawa. Vian juga tidak segan mencuri sebuah ciuman singkat di pipi wanita itu.

__ADS_1


“Vian, sejak kita sepakat untuk menjalani pernikahan ini, kamu adalah bagian dari hidupku. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Tetaplah seperti ini, jangan pernah berubah.” Pinta Putri beberapa saat kemudian, Vian tersenyum mendengarnya. Dia senang, Putri juga mencintainya sedalam sekarang. Dia bisa merasakan bagaimana wanita itu takut kehilangan dirinya.


“Aku memposisikanmu di tempat terluas di dalam hatiku, Put. Meskipun kamu bukan wanita pertama yang hadir dalam hidupku, tetpi kamu adalah wanita pertama yang memiliki diriku. Tidak sedikitpun terlintas di dalam


pikiranku untuk menggantikan posisimu dengan siapapun. Aku juga ingin menghabiskan sisa hidupku hanya bersamamu.” Jawaban yang Putri dengar membua wanita itu menitikkan air mata. Saat ini, bukankah Putri menjadi wanita yang sangat beruntung dapat memiliki Vian, pria yang memiliki banyak kelebihan.


“Aku bahagia dapat memilikimu, Vian.” Putri memeluk suaminya erat, lelaki itu menyadari air mata yang meleleh di mata istrinya, dengan sigap dia segera menghapusnya dengan kedua ibu jarinya.


“Aku juga, Sayang. Jangan menangis lagi, kita akan segera sampai di sungai yang kamu ingin lihat. Pegang tanganku erat-erat, jalannya menurun dan agak licin.” Pesan Vian saat mereka melanjutkan perjalanan menuju


sungai yang biasanya di kunjungi oleh para pendaki.


Suara gemericik air perlahan terdengar di telinga mereka, sebagai tanda mereka tidak akan lama lagi mereka akan sampai di tempat tujuan mereka. Sungai bening khas daerah pegunungan, di mana mata airnya abadi dan


sangat jernih, sehingga ikan dan hewan air lainnya dapat terlihat dengan jelas.


Akhirnya, setelah melewati jalan yang sedikit ekstrim, Vian dan Putri sampai di pinggiran sebuah sungai yang lumayan luas tapi tidak dalam dengan hiasan banyak batu berbagai ukuran. Pemandangan yang di tampilkan


sungguh menyegarkan mata. Putri tidak menyangka, Vian bisa mengetahui tempat seindah itu. Dia pikir, prianya itu hanya tahu bisnis dan memamerkan hartanya saja.


“Aku boleh nyebur nggak?” tanya Putri yang tampak tidak sabar ingin menyentuh air sebening kaca di hadapannya.


“Nyebur aja, Put. Kalau kamu mau mandi juga boleh.” Ledek Vian.


“Mana mungkin aku mau mandi di tempat terbuka seperti ini, kamu aja sana.” Putri balas meledek Vian.


“Memangnya rela kalau badan indahku di lihat orang lain?”


“Mulai deh, kepedean akut. Sudahlah, aku mau nyebur dulu.” Putri segera melepas sepatunya, meninggalkannya di pinggir sungai lalu mulai menenggelamkan kakinya ke dalam sungai.  Airnya yang bersuhu rendah membuat Putri sedikit terkejut.


Putri berjalan sedikit ke tengah, di mana ada sebuah batu besar berbentuk bundar, lalu dia duduk di sana dengan kaki masih tetap terendam di dalam air. Putri dapat mendengar berbagai bunyi-bunyian hewan liar,


mengingat sungai itu di kelilingi oleh semak belukar dan juga beberapa pohon yang nampaknya sudah berumur puluhan tahun.


Alam seolah menjadi saksi betapa romantisnya mereka berdua, Putri berharap hubungannya dengan Vian sejernih air di sungai itu, tanpa adanya gangguan dari orang luar, selalu mengalir sampai akhir, sebuah rumah tangga


yang menyejukkan, sehingga mereka selalu harmonis.


Setelah puas saling siram, Vian mengajak Putri duduk di sebuah batu yang berada di dasar sungai dengan posisi Putri di depan Vian. Pakaian keduanya basah, mereka meraup air sungai yang jernih itu bersama-sama


lalu menjatuhkannya kembali ke sungai. Canda dan tawa mengiringi mereka berdua.


Vian mengajak Putri pindah, sedikit lebih jauh, kali ini mereka memasuki area terdalam di sungai itu, airnya mencapai bahu Putri. Vian memposisikan dirinya di hadapan Putri, di tangkupnya pipi wanita yang dia


cintai itu dengan kedua tangannya, rambut dan wajah Putri yang sudah setengah basah membuat Vian merasa istrinya terlihat lebih cantik.


Pria itu memandang kedua bola mata Putri dalam, memperhatikan setiap inci wajah ayu Putri tanpa terlewat sedikitpun. Wajah itu yang selalu di pandangnya setiap saat, bahkan di dalam mimpi pun, wajah Putri


selalu hadir. Perlahan tapi pasti, Vian mendekatkan wajahnya dengan wajah Putri dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir istrinya itu namun berulang.


Detak jantung Putri seakan berkejaran, dia merasa tertantang karena bermesraan di alam terbuka. Vian kini mendekap Putri, hawa hangat tubuh mereka beradu dengan sejuknya air sungai, Putri membelai lembut wajah Vian, dia ingin melihat dan mengingat wajah pria yang dia cintai itu, agar jika esok dia tidak bisa melihat sekalipun, dia masih ingat wajah tampan yang di belainya sekarang.


“Vian, aku sangat mencintaimu. Entah sudah berapa kali, tetapi aku tidak pernah bosan untuk mengatakan padamu. Aku harap kamu juga tidak pernah bosan untuk mendengarnya.” Ucap Putri perlahan, membuat telinga


Vian hangat saat mendengarnya. Cara Putri mengungkapkannya , menggambarkan betapa dalam perasaan wanita itu padanya.


Vian menempelkan dahinya ke dahi Putri, hingga hidung mereka saling bersentuhan. Lelaki itu memejamkan matanya, “Putri, terima kasih karena telah hadir di dalam hidupku. Aku tidak tahu, bagaimana nasibku jika hari itu


kita tidak bertemu, kamu tidak melakukan kesalahan terhadap kemejaku, pasti kita tidak akan berada dalam suasana seromantis sekarang. Aku juga sangat mencintai kamu, perasaanku padamu sangat dalam untukmu. Terus katakan pernyataan cintamu setiap hari, setiap detik, setiap kamu ingin mengatakannya,


aku selalu menantinya, aku sangat menyukainya, Sayang.”

__ADS_1


Putri tidak mampu menjawab, hanya air mata kebahagiaan yang dapat mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini. Saat ini, Putri merasakan kebahagiaan yang sempurna bersama Vian, wanita itu memeluk erat tubuh suaminya dengan suara isakan yang terdengar. Vian mengecup puncak kepala istrinya agar


wanita itu kembali tenang.


***


Setelah menghabiskan banyak waktu di sungai, keduanya kembali ke villa. Karena kelelahan, Putri tidak sanggup berjalan lagi dan di gendong Vian. Putri mendekap erat tubuh Vian dari belakang, sikap manja yang


selalu di tunjukkan Putri pada Vian membuat lelaki itu merasa senang. Sebagai seorang Pria, dia sangat menyukai wanita manja yang bergantung padanya, meskipun dalam hal lain, Putri adalah seorang wanita yang mandiri, terbukti, dia bisa kuliah dengan biayanya sendiri tanpa menyusahkan kedua orangtuanya,


bahkan sebaliknya, ia justru membantu mereka.


“Biarkan aku turun, aku tahu, kamu pasti lelah, kan?”  tebak Putri, tetapi Vian tidak memperdulikan


permintaannya.


“Tidak, aku tidak kelelahan, sekalipun aku harus menggendongmu sampai ke rumah nenek.” Kelakar Vian, membuat Putri  gemas.


“Serius?”


“Serius nggak ya...”


“Dasar!” Putri menepuk bahu Vian pelan.


“Gendongan ini tidak gratis, kamu harus membayarnya, Sayang.” Kata-kata Vian membuat Putri sedikit berpikir.


“Kan aku belum di gaji, belum punya uang.” Bisiknya.


“Aku bukan meminta bayaran uang darimu,  tapi bayaran yang lain.” Vian tertawa, membuat Putri sadar kemana arah pembicaraan suaminya.


“Dasar mesum!”  omelnya.


“Aku memang mesum Nyonya Putri Wirayudha, jadi mau kasih bayarannya atau tidak?” goda Vian.


“Memangnya aku bisa menolak? Pasti kamu akan memasang muka imut bayi panda lagi seperti tadi pagi, iya kan? Hayo ngaku...,”  Putri menggelitiki ketiak Vian, membuat tubuh pria itu bergoyang-goyang.


“Ampun, ampun, jangan teruskan sayang, kita  bisa jatuh nanti.”  Vian meminta Putri untuk menghentikan


kelitikannya,  wanita itu menurut.


“Makanya jangan mesum. Benar kan, kataku dulu, kamu itu memang mesum, Sayangku, si Buaya Laut.” Cibir Putri, kali ini giliran Vian tertawa.


“Kan aku sudah berhenti jadi buaya laut, sekarang aku sudah jadi bayi panda yang imut.” Sahut Vian yang membuat pria itu mendapat cubitan kecil di punggungnya.


Cinta mereka begitu indah, layaknya bunga-bunga yang bermekaran. Begitu wangi semerbak, di kelilingi banyak kupu-kupu yang berwarna-warni. Vian dan Putri merasa mereka masih banyak kekurangan, tetapi


mereka berharap pernikahan menjadikan mereka saling berbagi  dan mengisi kekurangan dan kelebihan


masing-masing


“Bayi panda imut yang manja.” Putri menarik kedua pipi Vian dengan gemas.


“Sakit, Sayang. Tega banget sih kamu sama aku, nangis nih.” Kata Vian manja.


“Tuh kan, baru juga di bilangin, udah keluar manjanya.” ledek Putri, Vian menanggapinya dengan membawa wanita itu berlari, hingga Putri berteriak-teriak sambil tertawa bergantian.


“Masih mau ngeledekin aku lagi?”  tanya Vian sambil tersenyum jahil.


“Iya, iya, aku nggak akan ledekin kamu lagi.” Putri pura-pura mengalah, tetapi dia berencana membalas kejahilan Vian lain kali.


Sesampainya di villa, keduanya langsung rebahan di kamar mereka, rasa lelah dan bahagia tercampur menjadi satu. Putri dan Vian menikmati perjalanan mereka hari ini. Sebuah kunjungan yang lebih indah jika di

__ADS_1


bandingkan bulan madu ke luar negeri. Ini adalah kebahagiaan yang sebenarnya versi  Vian dan Putri.


Lalu, apa bahagia versi kalian? Share di kolom komentar ya...


__ADS_2