
“Kamu yakin Put, mau kasih makan malam Vian dengan lauk seperti ini? Nanti kalau dia nggak suka gimana? “ Marni yang sedang membantu Putri merebus sayur-sayuran, khawatir Vian tidak bisa memakan hidangan yang
akan mereka buat.
“Mak, di kota itu jarang ada pecel, kalau pun ada, Vian tidak pernah makan, jadi bukannya bagus kalau kita ngenalin makanan ini ke dia? Dia pernah bilang sama aku, apa yang aku makan, dia akan makan. Jadi Emak tidak perlu panik.” Sahut Putri yang tengah sibuk mengulek sambal kacang untuk bumbu pecel yang di buatnya.
Saat di rumah Nenek Dewi, Putri memang tidak pernah masak aneh-aneh. Dia lebih suka metode memasak praktis, seperti memasak bubur untuk nenek atau memasak nasi goreng untuk sarapan, selebihnya menjadi tugas Inah. Putri merasa sedikit sungkan, tetapi nanti, saat mereka berdua sudah pindah ke rumah Vian, wanita itu berencana
untuk lebih sering membuat hidangan spesial untuk suaminya.
Putri sebenarnya sedih, melihat kondisi rumah yang di huni oleh keluarganya sudah tidak layak. Dia di rumah nenek, setiap hari memasak dengan kompor yang bagus, tempat masak yang nyaman, atap yang tidak
bocor dan juga rumah yang hangat. Sedangkan Marni, masih harus meniup api setiap masak menggunakan tungku, belum lagi kalau turun hujan dan kayunya basah, Putri tidak bisa membayangkan itu. Dia ingin membicarakan masalah ini pada Vian, suatu hari nanti apabila ada kesempatan. Setidaknya dia bisa bergantung pada suaminya untuk meminta bantuan biaya perbaikan rumah orangtuanya.
“Sepertinya suamimu itu selalu bersikap manis padamu, ya. Emak tidak menyangka, orang yang berasal dari keluarga kaya seperti Vian itu mau menerima keluarga kita dengan baik. Dia tidak terlihat sungkan, meskipun
bapakmu sedikit kasar padanya.” Marni meniriskan beberapa sayuran yang telah ia masak pada sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu.
“Dia memang selalu baik padaku, Mak. Aku juga sangat bersyukur dengan apa yang terjadi dalam hidupku sekarang. Bertemu dengan Vian adalah keajaiban yang Allah kirim buat Putri. Emak juga pasti sudah bisa menebak, semua uang yang Putri kirim ke Emak, semuanya pemberian Vian, Mak.” Putri lebih suka memangkas ceritanya mengenai Vian. Dia ingin, keluarganya hanya tahu sisi baik Vian. Apapun kekurangan yang lelaki itu
miliki, cukup Putri sendiri yang tahu.
Sementara itu, di ruang tamu, Vian dan Parman tengah duduk berdua sambil menjaga Joko, adik Putri yang bungsu dan masih berusia dua tahun.Setelah hari di mana Parman dan Marni menyadari kalau Vian-lah yang selama ini memenuhi kebutuhan mereka, sikap Parman pada menantunya itu sedikit melunak.
Mereka tampak sangat menikmati kebersamaan sambil saling berbagi pengalaman satu sama lain. Vian sangat bahagia, meskipun orangtuanya telah tiada, setidaknya sekarang dia mempunyai ayah dan ibu.Vian tidak pernah
memandang perbedaan strata sosial antara keluarganya dan keluarga Putri, baginya, setelah serius menjalani pernikahan dengan serius dengan wanita itu, keluarga Putri adalah keluarganya juga.
“Jadi perusahaan kamu bergerak di bidang apa?” tanya Parman, sedikit banyak dia ingin tahu, usaha apa yang di geluti oleh menantunya.
“Perusahaan saya bergerak di bidang kosmetik, Pak. Awalnya saya tidak tertarik, tetapi nenek saya memaksa saya untuk meneruskan perusahaan keluarga yang bergerak di bagian itu, akhirnya saya mulai menyukainya dengan
berjalannya waktu.” Cerita singkat Vian mengenai perjalanan karirnya.
“Ternyata mengurus perusahaan juga sama dengan menjalin hubungan, ya. Berawal dari ketidak cocokan, galau harus lanjut atau tidak, mengalami berbagai masalah, hingga akhirnya benar-benar jatuh cinta.” Respon lelaki
itu seraya tertawa kecil, membuat Vian pun ikut tersenyum.
“Kalau boleh tahu, di sini kalau sekarang mata pencaharian penduduknya apa, Pak?”
__ADS_1
“Sekarang ini musim paceklik, jadi kami yang tidak memiliki lahan persawahan memiliki kesempatan untuk menumpang lahan untuk menanam sayur-mayur. Bapak sudah memulainya, kamu mau lihat? Kalau kamu mau, besok pagi, kita sama-sama ke sawah, ajak Putri juga.” Parman menunjukkan keakrabannya pada Vian. Setidaknya itu terjadi karena Vian telah memperlakukan Putrinya dengan baik. Parman tidak ingin membuat Putri kecewa karena sikapnya.
“Tentu saja mau, Pak. Kalau perlu, saya juga ingin membantu. Selagi saya ada di sini, saya harus bisa membantu Bapak.” Vian sangat antusias mendengar ajakan Parman, terlebih, dia belum pernah ke sawah. Dia hanya pernah
melihat sawah di televisi, itupun sesekali.
“Jangan, Nak. Pekerjaan berkebun itu kasar, kamu akan terkena terik matahari, lalu semua kegiatannya melelahkan.” Parman mengingatkan Vian, tetapi respon pria itu justru tersenyum.
“Pak, saya harus mencoba. Kalau belum pernah mencoba, bagaimana saya akan tahu bagaimana lelahnya bapak mengerjakan itu. Percayakan pada menantu bapak ini, saya pasti bisa mengurusnya.” Ungkap Vian dengan percaya diri. Dia menunjukkan keseriusannya untuk membantu Parman berkebun.
“Baiklah, bapak tidak bisa menahan kalau kamu sudah bertekad bulat untuk membantu, sebelumnya terima kasih, Nak Vian.” Parman menepuk pundak Vian pelan berulang kali,
“Bapak jangan sungkan, Vian ini sudah jadi suami Putri, dengan begitu, saya juga anak bapak dan ibu. Bapak jangan pernah merasa sungkan, jika memiliki masalah, segera bilang pada Vian dan Putri, kami pasti
akan membantu kalian.”janji Vian, bukan sekedar janji, tapi juga tekad. Dia ingin menjadi seseorang yang menjadi tempat bergantung keluarga istrinya itu.
“Terima kasih banyak, Nak. Kamu terlalu baik, kami hanya bisa membalas semua perbuatan baikmu dengan do’a. Semoga usaha kalian semakin
lancar.”
“Amin, terima kasih, pak.”
Jam makan malam.
“Sepertinya enak, ini namanya apa?” tanya Vian saat mengambil bagiannya.
“Itu namanya pecel, coba deh, kamu pasti suka. Belum pernah makan, kan?” kalimat yang di ucapkan Putri begitu menggugah seleranya, Vian langsung menyendok makanan itu dan memasukkan ke mulutnya. Sensasi gurih, pedas dan manis begitu nikmat terasa di lidahnya, seperti yang di katakan Putri, Vian menyukai hidangan hasil olahan istri dan mertuanya itu.
“Ternyata ini benar-benar enak. Kalau kita sudah pulang ke rumah nenek, jangan lupa masakin aku menu ini lagi, ya.” Vian memandang Putri seakan memohon dengan wajah imutnya, Putri tidak ada pilihan untuk menolak, dia pun
mengangguk setuju.
“Kak Vian harus coba masakan Kak Putri yang lain, dia jago masak, Kak. Semua masakan Kak Putri enak.” Celetuk adit.
“Benar, bapak setuju sama Adit, kamu harus meminta Putri untuk memasak menu lain, di jamin ketagihan, iya kan Bu?” Parman melempar pertanyaan kepada istrinya.
“Iya, masakan Putri bikin kangen. Kalau di makan, selalu pengen nambah lagi dan lagi.” Sahut Marni, mendukung perkataan suaminya.
“Apaan sih, kalian, kompak banget mojokin aku.” Putri tersipu malu.
__ADS_1
“Tunggu, Sayang, kamu kok nggak bilang sama aku kalau sebenarnya kamu itu pinter masak?” tanya
Vian, seketika wajah Putri semakin memerah karena Vian memanggilnya dengan sebutan sayang di depan seluruh anggota keluarganya. Putri menghadiahi Vian cubitan kecil di pinggangnya.
“Ehm, bu ada yang malu di panggil sayang.” Ledek Parman.
“Iya, Pak. Lucu ya, jadi inget zaman kita masih muda dulu.”
***
Vian dan Putri telah berbaring di kasur yang terletak di ranjang kayu milik Putri. Sebenarnya Vian merasa sedikit tidak nyaman, tetapi selama ada Putri di sampingnya, semuanya terasa nyaman. Apalagi Putri berada
dalam dekapannya seperti sekarang, tidur tanpa alas pun, Vian tidak keberatan sama sekali.
“Sayang, besok kita ikut bapak ke sawah, yuk.” ajak Vian, tangannya sambil mengelus berulang rambut Putri yang tergerai.
“Bapak ngajak kamu?”
“Aku yang penasaran, aku belum pernah ke sawah. Aku juga mau bantuin bapak.”
“Di sawah itu panas, kamu nanti jadi coklat kulitnya kalau lama-lama di sana.”
“Kamu tidak suka kalau kulitku jadi coklat?” Dengus Vian pura-pura kesal.
“Kalau aku sih nggak masalah, mau kamu coklat, hitam atau pink sekalian, aku tetap suka.” Jawab Putri dengan manja.
“Dasar kamu ngegemesin. Gimana ngga bikin aku tergil-gila kalau setiap hari kamu selalu bersikap manis seperti ini? Sini, biar aku cubit pipi kamu.” Vian bersiap mencubit pipi Putri, tetapi wanita itu menahan tangan
suaminya.
“Jangan cubit, gimana kalau sun aja?” Putri mencoba tawar menawar dengan mengedipkan matanya genit ke arah Vian.
“Lebih dari sun juga aku mau, dengan senang hati.” Bisik Vian mulai dengan kemesumannya.
“Mau lebih dari sun? Boleh, yuk, yuk. Tapi jangan berisik, nanti kedengaran bapak sama emak.” Putri
balas berbisik.
“Bukannya yang berisik itu kamu?” sindir Vian.
__ADS_1
“Vian, kamu ngeselin. Batal nih,” Putri pura-pura merajuk.
“Jangan dong sayang, aku Cuma bercanda.” rayu Vian.