
Keesokan harinya, Vian dan Putri sarapan berdua saja. Sang Nenek sedang berjalan-jalan di taman belakang rumah sambil melihat-lihat tanaman bunga mawar favoritnya, beberapa minggu yang lalu, Vian menghadiahkan banyak bunga mawar dalam pot.
"Vian, aku harus ke kampus," Putri membuka pembicaraan dengan Vian, meskipun sebenarnya tidak penting baginya harus izin pergi dengan pria itu.
"Aku akan mengantarmu dan aku juga yang harus menjemputmu," ujar Vian tegas, bukannya bahagia, pernyataan Vian justru membuat Putri tidak senang.
"Aku bisa pergi sendiri, Vian. Jadi, Kamu tidak perlu repot-repot menghantarkanku ke kampus." Putri menolak halus niatan Vian dengan sedikit ketus.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri. Nenek akan menghukumku. Nanti setelah kita menikah dan pindah dari sini, barulah Kamu bisa pergi dengan bebas sesukamu," Alasan Vian mau mengantar Putri ke kampus tentu saja karena takut ancaman dari neneknya.
"Baiklah. Aku terima alasanmu.Tapi ingat, jangan terlalu dekat dengan kampus. Aku tidak mau, temanku mengira ada hubungan di antara kita." Tentu saja putri tidak ingin teman kampusnya mengetahui hubungannya dengan Vian terutama Raihan. Lelaki yang sedang dekat dengannya.
"Bukannya bagus, kalau banyak orang yang tahu kamu turun dari mobil mewah setiap berangkat ke kampus? Orang-orang pasti akan mendekatimu dan kamu tiba-tiba akan menjadi terkenal karena mengenalku," Bukan Vian namanya kalau tidak selalu menyombongkan dirinya. Putri merespon perkataan Vian dengan menghembuskan nafas keras.
"Aku bukan kamu, Vian. Aku lebih suka orang menyukaiku apa adanya, daripada harus memamerkan kekayaan untuk sebuah ketenaran." Kalimat yang di ucapkan Putri menohok perasaan Vian. Selama ini dia populer memang karena kekayaan dan ketampanannya yang mumpuni.
"Kamu berkata seperti itu karena kamu tidak memiliki harta, kamu juga tidak memiliki apapun untuk di unggulkan, kecuali wajahmu yang cantik," Vian keceplosan mengatakan Putri cantik di kalimat akhirnya tanpa sadar.
"Setiap wanita pasti terlihat cantik di mata playboy sepertimu, Vian. Sudahlah, hentikan omong kosongmu. Segera antar aku pergi ke kampus, aku akan terlambat jika terus meladenimu."
Untungnya, tadi pagi Bimo sudah mengantarkan semua barang-barang milik Putri ke kamarnya.Dengan begitu, Putri tidak perlu kembali ke kosannya untuk mengambil keperluan kuliahnya.
"Baiklah, kali ini aku mau kau suruh-suruh. Tapi nanti di rumahku, jangan mimpi untuk menjadi seorang putri. Perlu kamu ingat, aku bukan playboy, aku hanyalah seorang pecinta wanita," ujar Vian sambil tersenyum licik. Ia menatap Putri dengan tatapan tajam. Sebaliknya, putri membalasnya dengan melengos ke arah lain. Dia benar-benar tidak nyaman dengan perlakuan Vian.
"Sudahlah. Aku siap-siap dulu. Aku tidak perduli kau buaya atau bukan. Itu hakmu." Putri bangkit dari tempat duduknya dan berniat menuju ke kamar untuk menyiapkan apa yang perlu di siapkannya.
__ADS_1
"Tunggu," Vian menahan Putri pergi.
"Apa lagi?" Putri bertanya dengan penuh kebingungan. Apa yang di inginkan oleh Vian, hingga harus menahannya untuk tidak pergi.
"Ini bonusmu, karena telah bekerjasama dengan baik kemarin." Vian menyodorkan sebuah amplop coklat berisi uang lima juta rupiah. Sesuai dengan janjinya jika Putri berhasil bekerjasama dengan baik bersamanya. Putri menerima amplop yang merupakan haknya itu.
Putri langsung memikirkan keluarganya. Rencananya, uang itu akan ia kirimkan sebagian ke kampung untuk keperluan orang tua dan juga adik-adiknya.
"Terima kasih," ucapnya singkat sebelum pergi. Ia sangat bersyukur karena Vian menepati semua perkataannya. Ke depannya, ia bisa lebih mengandalkan pekerjaannya untuk menjadi istri pura-pura Vian sebagai sumber penghasilan keluarganya.
Vian hanya tersenyum, memandang punggung Putri yang mulai menjauh. Entah apa tujuannya tersenyum, tapi kelembutan dan kebaikan Putri, membuat Vian sedikit terkesan.
"Nek, aku pergi ke kampus dulu," Putri mencium tangan nenek sebelum keluar dari rumah menemui Vian yang sudah menunggunya di mobil. Mereka sudah sempat bertukar nomor telepon, mengakibatkan ponsel Putri berdering tanpa henti sebelum dia menghampiri Vian.
"Terima kasih, Nek. Tentu saja calon suamiku itu mengantarku ke kampus. Dengar saja, Nek. Ponselku tidak berhenti berdering karena panggilan darinya," ungkap Putri dengan sangat sopan.
"Ya sudah, pergilah. Kasihan Vian sudah menunggumu lama." Nenek mengingatkan Putri untuk segera berangkat.
"Baik, Nek. Putri pergi dulu." Gadis itu melangkah perlahan, di iringi senyuman nenek Vian yang memperhatikan kepergiannya.
"Cepatlah, kenapa lama sekali." Omel Vian dari kaca jendela yang di bukanya sedikit, menampilkan wajah tampannya yang bisa menarik hati siapa saja kecuali Putri yang mengetahui tabiat buruknya.
"Sabar Vian, aku tadi harus bertemu dengan nenek dulu. Bukannya kamu yang bilang harus baik pada nenekmu," Putri menjelaskan apa yang membuatnya sedikit lama.
"Bagus kalau begitu. Sekarang cepat naik. Jangan di belakang, di sampingku." Pinta Vian tegas. Ia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi.
__ADS_1
Putri segera berjalan ke arah samping dan masuk ke dalam mobil melaui pintu yang telah di bukakan oleh Bimo.
"Terima kasih, Pak Bimo," ucap Putri pelan dan sopan pada Bimo.Tentu saja hal itu menjadi nilai tambah di mata asisten Vian itu. Menurutnya dari sekian wanita yang pernah dekat dengan Vian, baru Putri yang menghargainya.
"Sudah bisa cara pakai sabuk kan? Cepat pakai," Vian mengingatkan Putri. Gadis itu cepat-cepat memakai sabuknya. Ia tidak ingin momen pemakaian sabuk akan berlangsung sedrama kemarin..
Tidak ada yang bicara lagi. Vian segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah nenek. Keduanya saling diam dan sama-sama menghadap ke depan. Tidak berapa lama ponsel Vian berbunyi. Ia lalu menghidupkan fitur pengeras suara, sehingga Putri bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Sayang, kamu ada dimana?"
"Aku di jalan Tia, ada apa?"
" Mau antarin aku ke Mall nggak? Aku mau beli tas keluaran terbaru itu, loh Sayang..."
"Bisa. Aku sedang ada di jalan sekarang. Nanti aku belikan tas itu untukmu."
"Terima kasih sayang. Aku tunggu di tempat biasa."
Tanpa menjawab, Vian lalu menutup panggilannya segera. Ia lalu kembali fokus melihat ke depan dan menyetir dengan tenang.
"Enak sekali ya, jadi pacar-pacarmu. Tanpa lelah bekerja sudah bisa dapat ini dan itu darimu. Bodoh sekali kamu, maunya dimanfaatkan oleh mereka," Sindir Putri. Ia sama sekali tidak cemburu. Dia hanya merasa bodoh, Vian mau di manfaatkan oleh wanita-wanitanya.
"Kamu cemburu? Kamu merasa iri dengan mereka? Wajar kan, sebagai pacar aku membelikan ini dan itu. Toh, mereka pacar-pacarku yang setia," Jawab Vian enteng. Ia tertawa kecil dan merasa Putri iri dengan pacar-pacarnya.
"Terserahmu saja, aku juga tidak perduli. Uang juga uangmu, tidak ada urusannya denganku," Putri kembali diam. Ia tidak mau Vian mengiranya terlalu kepo dengan urusannya.
__ADS_1