Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 30


__ADS_3

Acara makan malam Vian dan Putri berjalan sukses. Ini adalah


acara makan malam pertama yang mereka lakukan setelah menikah. Vian merasa


makan malam dengan Putri sedikit berbeda di bandingkan makan malam dengan


kekasihnya, Vanessa. Gadis itu membuat acara makan malamnya menjadi lebih


berselera.


Selepas makan malam keduanya berjalan santai berkeliling di


area sekitar hotel. Suasana malam hari yang dingin tidak menyebabkan tempat itu


sepi. Dari ujung ke ujung, banyak sekali warga lokal ataupun pendatang yang mungkin


hanya sekedar jalan santai menikmati udara malam.


Mereka berpapasan dengan banyak pasangan, semuanya merangkul


kekasihnya, setidaknya saling bergandengan tangan.  Vian memandangi Putri diam-diam saat gadis


itu tengah menikmati pemandangan sekitar dengan kedua tangannya saling


bertautan, seperti kedinginan.


“Putri...” panggil Vian perlahan, Putri spontan menoleh ke


arah empunya suara.


“Ada apa, Vian?” tatapan mata Vian membuat Putri sedikit


gugup. Sebelumnya ia biasa saja, tetapi kali ini, Putri seperti menemukan diri


Vian yang lain, terutama setelah mereka makan malam bersama.


“Boleh lihat tanganmu?” tanya Vian kemudian.


”Ada apa dengan tanganku?” Putri memperlihatkan tangan


kanannya pada Vian, saat itu posisi Putri ada di samping kiri Vian. Pria itu segera


menangkup tangan Putri, menggenggamnya, lalu memasukkan ke dalam saku baju


hangatnya.


“Aku tahu, kamu kedinginan. Sekarang, apakah lebih


baik?”  Vian tidak tahu apa yang terjadi


pada dirinya hingga ia selembut ini pada Putri, bahkan ia peduli dengan keadaan


gadis itu yang tengah kedinginan. Ia bisa merasakan telapak tangan Putri yang


dingin perlahan menghangat.


“Iya, udah sedikit hangat, terima kasih Vian, kamu peka di


saat seperti ini. Bagaimana kalau Vanessa melihat kita sedekat ini?” Putri yang


kalah tinggi dengan Vian terpaksa mendongak saat berbicara dengan pria itu,


apalagi mereka berjalan sedekat sekarang, hampir tanpa jarak.


“Sama-sama, Put. Aku pikir kamu akan marah, aku perlakukan


seperti ini. Soal Vanessa, biar saja kalau dia tahu, aku tidak perduli. Biar


aku panas-panasin sekalian.” Vian tampak acuh tak acuh, hingga Putri dapat


menangkap ketidak beresan hubungan Vian dan juga Vanessa.


“Kamu sedang berantem dengan Vanessa? Kenapa kamu seolah

__ADS_1


tidak perduli dengan dia?”  Putri


penasaran, apa yang tersembunyi di balik sikap Vian yang sedikit misterius.


Sudah jelas sejak awal bahkan ia memberikan warning untuk jaga sikap di depan


Vanessa, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.


“Begitulah, aku tidak bisa mengerti dia, tanpa sadar dia


sudah jauh berbeda di bandingkan beberapa tahun lalu. Meskipun bersamaku, aku


merasa sedikit asing dan tidak ada di hatinya.”  Vian mencurahkan perasaan yang sebenarnya ia rasakan saat bersama


Vanessa, ia juga merasakan wanita  itu


berubah, seakan-akan sikap Vanessa di hadapannya sekarang  adalah sebuah kepalsuan.


“Aku belum pernah pacaran, jadi aku kurang paham. Tetapi,


menurutku, mungkin itu hanya perasaanmu saja, Vian. Kata temanku, ada kalanya


rasa bosan hadir di dalam sebuah hubungan, seiring waktu, semuanya akan baik-baik


saja. Maaf, kalau saranku terkesan sok tahu, atau kurang bermanfaat untukmu dan


dia.”  Putri yang tidak berpengalaman,


takut di bilang lancang oleh Vian, bagaimanapun,  dalam hal hubungan dengan lawan jenis, ia


masih bisa di bilang pemula.


“Kamu benar, Put. Tapi, entah mengapa kali ini terasa ada


yang janggal di hatiku, semoga hanya perasaanku saja.” Kenyataannya apa yang


Vian rasakan merupakan gambaran perasaan Vanessa yang sebenarnya kepadanya,


hanya saja, waktu belum mengizinkan Vian untuk mengetahui yang sebenarnya


“Kamu mungkin terlalu lelah Vian, butuh istirahat yang


cukup. Sepulang jalan-jalan, segeralah tidur. Jangan melakukan apapun lagi.”


Kalimat yang di ucapkan Vian mengingatkannya pada neneknya. Nada bicara Putri


yang lembut, begitu menyejukkan hati pria itu, meskipun hanya hal sederhana,


Vian merasakan perhatian Putri begitu bermakna untuknya.


“Put, bolehkah malam ini aku tidur di kamarmu? Jangan salah


sangka, aku tidak akan melakukan apapun, serius, janji. Aku hanya ingin ada teman


ngobrol sebelum tidur.  Di saat seperti


ini, aku pasti akan sangat sulit memejamkan mata.” Vian coba menghiba, ia


berharap Putri mengizinkannya untuk tidur di ranjang yang sama dengan gadis


itu.


“Tapi, bagaimana kalau misalnya ada pemeriksaan kamar mendadak?”


Vian tersenyum geli mendengar kekhawatiran yang sedang menerpa Putri.


“Kita kan sudah menikah, di dompetku ada surat nikah kita,


kamu tidak perlu takut.” Putri sedikit malu, ia hampir melupakan status


pernikahan mereka. Meskipun ini sebenarnya bukan tindakan yang benar, tetapi,


Putri tidak bisa menolak permintaan Vian, ia takut bosnya itu akan memotong

__ADS_1


gajinya bulan ini, jika ia menolak kemauannya.


“Oh, iya. Aku lupa kalau aku dan kamu sudah menikah,


meskipun hanya pura-pura.” Putri memelankan beberapa kata di ujung kalimatnya,


tetapi Vian dapat mendengarnya dengan baik.


“Jadi, maunya nikah beneran, nih?” ledek Vian,  Putri membenturkan kepalanya dengan sengaja


ke bahu Vian sebagai bentuk protes atas perkataan pria itu barusan.


“Jangan sembarangan bicara, Vian. Lagipula, aku tahu diri,


kok. Aku tidak ada bandingannya dengan wanita berkelas yang selalu


mengelilingimu, aku hanya gadis desa biasa yang sedang mengabdi padamu untuk


sesuap nasi.” Selepas Putri bicara seperti itu, mereka berdua terdiam.


Vian memikirkan perkataannya di masa lalu yang selalu


merendahkan Putri. Seketika ia merasa jahat pada wanita yang sekarang berada di


sisinya itu. terbayang ketika tiap kali bertemu, mereka berdua hanya saling


ejek dan memperdebatkan hal yang tidak terlalu penting.


“Maafkan kesalahan aku,  mungkin kemarin-kemarin aku sering mengatakan sesuatu yang tidak enak di


dengar. Aku juga tidak mengerti, mengapa tiap bersamamu aku selalu seperti itu.


jujur saja, itu bukan aku yang biasanya. Setiap bersamamu, aku selalu ingin


menindasmu, mengunggulkan kelebihanku, tanpa ku sadari, aku justru seperti pria


bodoh.” Vian tertawa kecil, ia menyadari kesalahannya. Sekarang ia ingin


berdamai dengan keadaan, setidaknya ia dan Putri bisa menjadi teman baik


sekarang.


“Tenang, Vian. Aku tidak pernah menganggap perkataanmu


serius,  kok.  Setiap bertemu denganmu, rasanya tidak cukup


seru kalau tanpa debat.” Meskipun ada rasa kesal, tetapi semua perdebatan


mereka menjadi hal yang  menarik untuk


Putri, walaupun, perkataan Vian tidak semuanya enak di dengar.


“Terima kasih, jadi, mengulang yang tadi, bolehkah aku tidur


di kamarmu?” Vian benar-benar menginginkan momen kebersamaan mereka saat di


Indonesia terulang, ia merindukan momen itu.


“Silahkan saja, aku percaya padamu, kamu tidak akan mungkin


berbuat yang tidak-tidak. “ Putri berusaha memberikan kepercayaan pada Vian,


lagipula, selama ini suami kontraknya itu tidak pernah berbuat mesum kepadanya.


“Aku tidak akan merugikanmu, Putri. Seandainya itu terjadi,


aku pasti akan bertanggung jawab. Meskipun, bisa di bilang aku ini pria


brengsek, tetapi aku bukan tipe orang yang suka lepas tanggung jawab. Ayo, kita


percepat jalannya, udaranya semakin malam semakin menusuk.” Putri hanya mengiyakan


perkataan Vian, ia juga sependapat dengan lelaki itu, suhu udara kian merendah

__ADS_1


seiring waktu.


__ADS_2