
Di dalam mobil, Putri hanya terfokus pada ponselnya. Ia sengaja mengajak beberapa temannnya bicara lewat aplikasi pengirim pesan. Hal itu sengaja ia lakukan untuk menghindari obrolan dengan Vian. Putri lelah berdebat dengan Vian perihal hubungan mereka, dulu ia lelah berdebat karena penolakan pria itu, sekarang, dia juga lelah karena di mintai kepastian tentang hubungan mereka.
Di sini bukan Putri yang tidak menginginkan sebuah hubungan yang serius, hanya saja, Putri ingin Vian bertanggung jawab atas hubungannya terdahulu dengan Vanessa. Sejelek apapun tingkah laku Vanessa atau apapun kekurangan wanita itu hingga membuat dirinya berpaling pada Putri, Vian tidak
layak memperlakukan pacarnya semena-mena seperti itu.
“Kamu sengaja mendiamkanku?” Vian yang menyadari sikap aneh yang di tunjukkan Putri, segera menegurnya. Pria itu tidak suka di acuhkan. Itu sudah pasti karena sikap angkuhnya yang masih melekat.
“Bukannya kamu sudah tahu, aku sedang berbalas pesan dengan teman-temanku?” Putri coba berkilah, tetapi itu sia-sia, Vian dapat membaca dengan jelas apa yang sedang di lakukan Putri.
Putri selalu ceria dan mengajaknya bercanda, menjadi pendiam secara tiba-tiba tentu sangat mencolok bagi Vian. Pria itu menggunakan satu tangannya untuk meraih tangan Putri dan menggenggamnya erat. Putri menatap Vian
yang pandangannya fokus ke depan.
“Put, jujur, aku tidak suka kamu abaikan seperti ini. Aku ingin kita tetap menjadi biasa meskipun hubungan kita menjadi tidak sama. Dulu, semuanya hanya formalitas, tetapi sekarang, aku benar-benar melibatkan hatiku
untuk hubungan kita. Meskipun kamu tidak menganggapku sebagai seorang suami yang sebenarnya, aku akan tetap menganggapmu sebagai istriku, istri yang sesungguhnya.” Vian menjelaskan bagaimana perasaannya terabaikan, bagaimana ia sangat menginginkan hubungan yang serius dengan Putri.
“Tsk! Kamu memang gila, Vian.” Putri mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Vian, tetapi ia kalah kuat dari pria itu.
“Aku memang gila, aku gila karenamu, Putri.” Vian tersenyum kecut. Ia berjanji di dalam hatinya, saat Vanessa pulang, ia akan segera mengakhiri hubungannya dengan wanita itu. Dia ingin menunjukkan pada Putri,
kalau ia benar-benar serius dengan perasaannya.
Mobil terus melaju, Putri masih terus memandangi Vian, pria itu tidak lagi bicara. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Putri tahu apa yang Vian rasakan. Pria itu butuh pengakuan, tetapi Putri juga membutuhkan
__ADS_1
sebuah pembuktian. Pembuktian dimana ia hanya manjadi satu-satunya dalam hidup Vian.
Tangan Vian tetap menggenggam tangan milik Putri erat, sedikitpun ia tidak berniat untuk melepaskannya. Putri juga menyerah, dia tidak akan memintanya untuk melepas lagi, lagipula Vian tidak akan mau melakukan itu.
Hingga tiba saatnya mereka tiba di kantor, Vian masih saja menggenggam tangannya tanpa bicara. Saat Putri berniat keluar dari mobil, Vian menarik Putri ke pelukannya. Sabuk pengaman Putri yang sudah di lepas menyebabkan gadis itu dengan mudah masuk ke dalam dekapan Vian, apalagi Putri tidak sempat untuk menahan dirinya lagi karena Vian melakukannya dengan tiba-tiba.
“Putri, aku merindukanmu. Kamu tahu, aku sedih kamu abaikan, aku mau kamu tetap seperti biasa. Anggap saja aku tidak menyukaimu, tidak memiliki rasa apapun untukmu. Put, aku tahu, mungkin di matamu aku tidak lebih
dari seorang playboy. Bagimu aku hanyalah pemain cinta, tidak ada yang istimewa. Aku tidak akan menyalahkanmu, itu memang aku. Tapi, di balik itu semua aku juga memiliki hati yang bisa benar-benar mencintai, apakah aku ini tidak pantas untuk mendapatkan hatimu? Apakah aku sehina itu, sehingga kamu
memilih untuk seperti ini padaku?” tanpa terasa air mata Vian membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya ia menumpahkan air mata di depan seorang wanita, hal yang sangat pantang ia lakukan. Di depan Putri ia menjelma menjadi sosok yang lemah, hingga membuat Putri tidak tega.
“Aku minta maaf, Vian. Aku tidak berniat membuatmu sedih seperti ini, aku juga tidak bermaksud
Vian menarik wajah Putri dan menghapus jarak yang terjadi di antara mereka, membiarkan kedua bibir
mereka bersentuhan, Putri tidak melawan. Gadis itu tidak bisa memungkiri perasaannya sendiri, ia telah jatuh hati
pada Vian. Pikiran jernih dan daya ingat tentang siapa dia dan Vian samar-samar menghilang, Putri menginginkan Vian seutuhnya menjadi miliknya.
Bunyi dering pesan di ponsel Vian membuat mereka menghentikan aktivitas menyenangkan yang tengah mereka kerjakan. Vian segera merogoh ponsel yang ada di saku jasnya dan mendapati sebuah pesandari Vanessa,
dia meminta Vian untuk menjemputnya sore ini di bandara.
Vian menatap Putri dengan tatapan yang sulit untuk di artikan dan Putri dapat menafsirkan apa arti dari tatapan pria itu, ada hal yang tidak beres yang terjadi.
__ADS_1
“Siapa?” Putri membuka suara, ia penasaran siapa yang baru saja menghubungi Vian. Biasanya Vian akan marah dan tidak suka ketika ada orang yang ingin mengetahui urusan pribadinya, tetapi itu tidak berlaku untuk Putri,
Vian sama sekali tidak merasa keberatan.
“Vanessa, dia minta di jemput sore ini di bandara.” Jawab Vian dengan ekspresi yang tidak bersemangat.
Putri menghela nafas panjang, di sini dia baru tersadar, kalau Vian bukanlah miliknya. Vanessa telah kembali, itu berarti kedudukannya di samping Vian juga akan tergeser. Ia tidak yakin, Vian mau memutuskan
hubungannya dengan Vanessa hanya untuk serius dengan dirinya.
Melihat Putri yang mulai gusar, Vian tahu apa yang harus di lakukannya. Dengan segera ia meraih kedua tangan Putri dan mengecupnya.
“Kamu tenang saja, aku akan segera menyelesaikan urusank dengan Vanessa secepatnya dan kita akan menjalani sebuah hubungan yang normal, hanya aku dan kamu, tanpa ada dia atau siapapun di antara kita, hanya berdua.”
Ucapnya begitu tulus. Kalimat yang di ucapkan oleh Vian seolah membuat ruang yang luas di dada Putri. Gadis itu merasa nafasnya lega seketika dan ia berharap Vian tidak akan mengecewakan perasaannya untuk kedua kali setelah Raihan.
“Aku akan menunggumu, Vian. Ingatlah untuk jujur pada perasaanmu sendiri. Nanti, ketika kamu sudah bertemu Vanessa, coba cari perasaanmu, apakah kamu masih mencintainya atau tidak. Seandainya dia masih ada di hatimu, jangan menolak, jalani saja. Aku tidak akan kecewa, karena pada dasarnya aku sangat menghargai perasaan yang jujur. Aku bukan menuduh, tetapi aku hanya tidak ingin menjadi pelarianmu. Aku ingin menjalani hubungan dengan seorang lelaki yang tulus dan aku harap kamu bisa lakukan itu untukku.” Tanpa menunggu
jawaban Vian, Putri segera melepaskan diri dan keluar dari mobil Vian, meninggalkan lelaki itu yang masih diam terpaku.
“Kamu mungkin bukan yang pertama ada di hatiku, Put. Kehadiranmu sudah berhasil merasuk
ke dalam jiwaku hingga aku merubah prinsip hidupku, aku tidak akan melepasmu
lagi, sedetikpun. Kamu adalah milikku, milik Vian Wirayudha.” Gumamnya
__ADS_1