Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 46


__ADS_3

Sesuai permintaan Vanessa, Vian menjemput wanita itu di bandara. Jika biasanya Vian bahagia saat akan bertemu dengannya, kali ini ia merasa biasa saja, bahkan Vian merasa tidak bersemangat untuk  berjumpa dengan cinta pertamanya itu. Semua perasan yang ia miliki untuk Vanessa seakan menguap tanpa bekas.


Sejak kejadian saat di hotel, kepercayaan Vian pada Vanessa hilang begitu saja. Padahal, selama ini Vian selalu mempercayai apapun yang di katakan oleh kekasihnya itu.  Vian sendiri tidak terlalu paham, apa sebab perasaannya berubah selain karena Putri. Dia hanya merasa, Vanessa mulai tidak jujur padanya dan hubungan mereka.


Meskipun hari ini dirinya sukses membuat Putri tersenyum bahagia,  tetapi ia dapat melihat dengan


jelas bagaimana wanita itu tampak sedih saat Vian meninggalkannya. Pria itu teringat bagaimana Putri tampak begitu cantik dengan balutan baju tidur panjang berwarna maroon, dengan sedikit polesan lipgloss di bibirnya serta rambutnya yang masih sedikit basah karena berkeramas. Membayangannya kembali saja sudah membuat Vian gelisah.


Sebagai lelaki normal, Vian sekarang mulai memimpikan sebuah hal yang tidak pernah ia pikirkan selama ini, melakukan petualangan bersama Putri sebagai suami-istri yang sebenarnya. Meskipun Vian belum mendapatkan


gambaran, kapan hal menyenangkan itu akan terjadi. Meskipun Putri mulai membuka hati untuknya, tetapi dia belum mau menerimanya jika dirinya masih memiliki hubungan dengan Vanessa.


Apa yang di lakukan Putri memang benar. Dia sudah mengetahui seperti apa Vian sebenarnya. Pada dasarnya tidak ada wanita yang mau di duakan, termasuk Putri. Vian bertekad untuk  menyudahi hubungannya dengan Vanessa, tetapi semata-mata bukan hanya karena Putri, Vian merasa Vanessa sudah berbeda dari yang dulu dia kenal. Meskipun sebenarnya, dia terlambat untuk menyadarinya.


Sampai di bandara, Vanessa sudah menunggu kedatangannya. Melihat mobil Vian berhenti di hadapannya, gadis itu segera menarik kopernya mendekat ke sana. Vian keluar dari mobil dan bisa di bayangkan, Vanessa segera


memeluk Vian dan menghadiahi pria itu sebuah kecupan singkat. Vian hanya diam dan memberikan sebuah senyuman yang di paksakan terlihat natural.


Pria itu segera memasukkan koper Vanessa ke bagasi, sementara wanita itu sudah duduk manis di samping tempat duduk  Vian .  Lelaki itu menghela nafas kasar lalu masuk ke dalam mobil dan menempatkan dirinya di belakang kemudi. Vanessa memutar lagu, seperti biasa saat mereka jalan berdua.


Vian menjalankan mobilnya meninggalkan bandara. Dia belum ada keinginan untuk bicara dengan Vanessa. Bahkan, Vian tidak tahu harus memulainya dari mana. Ia merasa seperti orang asing di samping wanita itu. Melihat


penampilan Vanessa yang sekarang semakin membuatnya jengah.  Bukan terkesan seksi, tetapi lebih ke seperti


wanita penggoda.Vian yakin Vanessa belum lupa, dia pernah menegur gadis itu karena masalah ini.

__ADS_1


“Sudah lama tidak bertemu, kamu apa kabar Vian?” karena menunggu Vian memulai obrolan tetapi tidak terjadi juga, akhirnya Vanessa yang memulai pembicaraan dengan pria itu.


“Aku baik.” Sahut Vian singkat.


“Sejak kapan seorang Vian menyambut kedatanganku dengan dingin seperti ini? Memangnya kamu tidak merindukan aku?” selidik Vian, lelak itu tampak sangat fokus menyetir.


“Sejak aku merasa  tidak di hargai lagi olehmu.” Jawab Vian asal. Dia memang sangat kesal pada Vanessa. Semenjak kejadian di hotel itu, lalu di tambah lagi dengan ia lebih memilih job model daripada ikut Vian pulang ke Indonesia, itu sudah cukup membuat Vian yakin kalau kekasihnya itu sudah berbeda dari yang dia kenal.


“Aku baru pulang dan kamu sudah seperti ini? Oh, atau jangan-jangan kamu sudah punya pacar baru selain aku?” tuduh Vanessa, gadis itu tampak sangat kesal dengan sikap Vian yang mengacuhkannya.


“Apa urusanmu? Bahkan, aku juga tidak tahu, apakah di luar sana kamu punya pacar baru atau tidak. Itu juga tidak penting lagi bagiku.” Vian tetap menanggapi Vanessa tanpa ekspresi.


“Kamu menuduhku? Hah! Kenapa? Kenapa kamu berubah secepat ini? Kamu dulu tidak seperti ini Vian, kamu bahkan akan selalu meneleponku saat aku jauh darimu hampir setiap hari, tapi sekarang kamu tidak lagi begitu,


bahkan pesanku hanya kau balas singkat.” Protes Vanessa.


itu dengan santai, Vanessa sedikit gelagapan. Dia merasa Vian mulai mencium kebohongannya.


“Aku tidak menyangka, keputusanu untuk tidak ikut kamu pulang ke Indonesia justru membuatmu seperti ini. Kamu bahkan tidak lagi mempercayaiku.  Jadi apa fungsinya hubungan kita ini?  Maumu apa?!”  Vanessa berteriak, dia menyembunyikan semuanya di balik amarahnya yang hanya di buat-buat.


“Kita putus saja.” Vian mengatakan itu tanpa ekspresi.


“Putus? Kamu serius? Nggak, aku nggak mau putus dari kamu, Vian, nggak!”  Vanessa tidak percaya Vian


akan mengambil keputusan itu. Gadis itu tahu, Vian sangat menyayanginya.

__ADS_1


“Aku serius, Vanessa. Kita sudahi saja semua ini. Aku dan kamu sudah tidak lagi sejalan.” Ungkap Vian tanpa penyesalan sedikitpun yang terlihat di wajahnya.


“Kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan Putri? Kamu jatuh cinta pada perempuan udik itu?” selidik Vanessa dengan mata yang mulai memerah.


“Semua ini tidak ada hubungannya dengan Putri. Kamu tanya saja pada dirimu sendiri, seperti apa dirimu.” Vian tidak terima Vanessa menyalahkan Putri karena hal ini. Keretakan hubungan mereka sudah terjadi semenjak Vian belum menyadari perasaannya terhadap Putri.


“Tidak. Aku yakin ini semua karena dia. Kalau kamu tetap memutuskan aku, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa dengan gadis itu.” ancam Vanessa, tetapi Vian tidak bergeming.


“Tidak perlu mengancam. Aku akan melaporkanmu ke polisi kalau sampai terjadi apa-apa dengan Putri, aku tidak akan susah mencari pelakunya karena kau sudah mengatakannya sejak awal.” Cibir Vian dengan senyum


penuh kemenangan. Ia tidak peduli dengan ancaman yang Vanessa berikan.


“Oke, kalau  begitu turunkan aku di sini. Kamu pasti akan menyesal melepaskan aku, Vian.”


Vian segera menghentikan mobilnya sesuai dengan permintaan Vanessa dan membiarkan gadis itu turun lalu mengambil kopernya di bagasi. Setelah memeriksa melalui kaca spion, Vian melajukan mobilnya dengan kecepatan


penuh.


Vanessa memandang mobil  Vian yang menjauh darinya dengan tatapan kebencian. Ia berencana untuk mendapatkan Vian kembali dan memikirkan caranya. Jelas saja, Vanessa tidak akan rela melepaskan Vian, meskipun masih banyak prianya yang lain.


Gadis itu segera menyetop taksi dan melanjutkan perjalanannya ke rumah dengan perasaan yang tidak menentu. Vian sangat bahagia, karena dia telah memenuhi syarat yang di ajukan oleh Putri, yaitu memutuskan Vanessa.


Setelah membicarakan semuanya dengan Putri, ia akan merencanakan bulan madu ulang bersama gadis itu, bulan madu dalam arti yang sebenarnya. Tentu saja setelah ia dan Putri pulang menemui orangtua Putri di desa tempat keluarga Putri tinggal.


Sepanjang perjalanan, yang ada di dalam pikiran Vian hanyalah Putri dan semua tentang wanita itu. Dia sudah sangat yakin, Putri adalah wanita yang tepat untuk ia jadikan sebagai pasangan hidup, sesuai dengan

__ADS_1


permintaan neneknya.


__ADS_2