
Di sebuah apartemen yang tidak terlalu besar, di sanalah Dion tinggal. Dia telah kembali ke Indonesia beberapa hari yang lalu. Di atas nakasnya ada sebuah paperbag kecil berwarna coklat yang berisi oleh-oleh untuk
Putri. Sebuah parfum mahal dengan harga lumayan mahal dan Dion yakin Putri akan menyukainya.
Sejauh ini Dion belum tahu apa hubungan Vian dan Putri yang sebenarnya. Dion hanya paham bahwa hubungan Vian dan Putri sebatas bos dan karyawan. Untuk perasaan, jelas saja masih sama seperti saat pertama Dion bertemu dengan Putri, dia masih menyukai wanita itu dan berniat untuk mengejarnya. Meskipun cepat atau lambat Dion akan patah hati.
Siang itu, Dion tengah menikmati hari santainya dengan segelas jus jeruk dengan beberapa butir es batu di dalamnya. Di tangannya ada sebuah majalah olahraga yang sudah lama ia berlangganan, bacaan wajib pria itu saat dia merasa senggang. Meskipun dalam kesehariannya lelaki itu bekerja di perkantoran, itu tidak
mengurangi minatnya untuk melihat perkembangan olahraga dunia. Saat dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dion pernah bermimpi menjadi seorang pemain sepakbola, meskipun akhirnya cita-citanya harus kandas karena papanya tidak mendukung keinginannya.
Dering telepon Dion mengganggu konsentrasinya, diliriknya nama yang tertera di sana, Clara. Cukup mengejutkan, sahabat lamanya saat mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas itu tiba-tiba menghubunginya
lagi. Dion meletakkan majalahnya dan menarik ke atas tombol hijau di ponselnya.
“Dion, apa kabar? Kangen kamu, siah lama juga kita tidak bertemu.” Kata Clara dengan ceria di ujung sana.
“Aku baik. Tumben, tiba-tibamenghubungiku, ada angin apa ledek Dion.
“Memangnya nggak boleh, nelpon kamu? Jahat kamu ya. Aku mau ajak kamu reunian kecil cuma berenam, mau nggak?” tanya Clara lagi.
“Dimana? Kapan? Kalau waktunya cocok, aku pasti ikut. Sudah lama juga kita tidak bertemu, sekedar makan bareng.” Dion tidak keberatan, dia memutuskan untuk lebih bersosialisasi, agar tidak terlalu tegang dan hanya
memikirkan pekerjaan yang tiada habisnya.
“Asik, jangan lupa traktir, ya. Kamu sudah menikah? “ pertanyaan Clara kali ini cukup menusuk perasaan Dion. Jangankan meikah, calon istri saja dirinya belum punya.
“Belum, aku masih sendiri. Kamu?” Dion balik bertanya.
“Wah sepertinya kita jodoh, nih. Aku juga belum menikah, belum lama putus dengan Mario.” Curhat Clara.
“Aku sudah lama menyendiri. Mau menikah juga yang di nikahi belum ada.” Dion tertawa kecil, bisa
jadi sekarang, dia sedang menertawakan dirinya sendiri.
“Semoga saja nanti reuni kita, bisa juga jadi ajang pencarian jodoh, becanda Dion, jangan di ambil hati.” Bagi Dion, Clara masih sama seperti dulu, sedikit ceriwis dan sangat ceria.
“Aku sudah paham dengan kamu, Clara. Jadi kapan acaranya? Biar aku bisa persiapkan waktunya. Aku agak sedikit sibuk, soalnya.” Dion sedikit menyombongkan dirinya.
“Malam minggu. Sibuk apaan, sih? Jangan bilang kamu sibuk cari jodoh di biro jodoh online.” Clara tertawa kecil, begitupula dengan Dion.
“Aku tidak se-menyedihkan itu Clara.”
Dion dan Clara masih terus mengobrol, membicarakan banyak hal, masa-masa mereka di saat masih
memakai seragam putih abu.
***
“Kita sebenarnya mau kemana?” tanya Putri penasaran saat mereka berdua sudah melakukan perjalanan lumayan jauh.
“Aku mau mengajak kamu ke sebuah daerah pegunungan sejuk, di sana ada Vila nenek. Aku juga mau kasih tahu kamu , perkebunan kopi milik keluarga kita. Satu lagi, kita akan menginap.” Vian sedikit menjelaskan. Putri tidak menyangka suaminya akan mengajaknya jalan-jalan lumayan jauh.
“Tunggu, menginap? Aku tidak membawa pakaian Vian, bagaimana tiba-tiba kita akan menginap tanpa di rencanakan terlebih dahulu?” protes Putri, dia merasa sedikit keberatan dengan keputusan Vian yang di
anggapnya di ambil secara sepihak tanpa meminta persetujuannya.
“Pfft, kamu tidak perlu memusingkan masalah pakaian ganti, Sayangku. Kita akan membelinya nanti di perjalanan. Aku juga terpikirkan ini secara mendadak, sama sekali tidak ada rencana untuk pergi ke sana.” Vian berusaha membela diri, tetapi dia bicara apa adanya. Dia memang tidak merencanakan kepergiannya ke perkebunan kopi milik keluargannya.
__ADS_1
“Apa yang membuatmu tiba-tiba tertarik untuk pergi kesana? Bukankah kita harus pergi ke kantor? Lalu bagaimana bisa kita menginap di sana?’’ sekali lagi Putri protes dengan apa yang akan mereka lakukan sekarang.
“Kamu tidak perlu panik, Sayang. Ada Bimo, dia bisa di andalkan. Aku terpikir untuk pergi ke sana karena suasananya yang sangat sejuk, tempatnya yang indah, aku pikir kamu akan menyukainya nanti. Selama ini, aku belum pernah mengajakmu ke tempat yang spesial, kan? Bahkan bulan madu kita belum di adakan.” Vian memang bermaksud untuk mengganti momen-momen berharganya bersama Putri. Dia merasa harus melakukan itu sekarang. Putri berhak merasakan kebahagiaan.
“Bukannya kita sudah bulan madu ke Paris?” Putri mengingatkan Vian pada bulan madu palsu yang di lakukan oleh mereka.
“Itu bukan bulan madu, hanya jalan-jalan biasa, toh, kita saat itu belum berkomitmen. Selama itu kita di sana, tidur sekamar hanya pernah kita lakukan satu kali, itupun tidak terjadi apa-apa. Apakah situasi seperti itu
bisa di sebut dengan bulan madu?” kali ini giliran Vian yang tidak setuju dengan apa yang di katakan oleh Putri.
Mengingat saat itu mereka tidak hanya pergi berdua, blan madu bukan kata yang tepat untuk menggambarkan kepergian mereka. Saat itu, Vian juga lebih banyak menghabiskan waktunya bersama dengan Vanessa.
“Kamu benar, kepergian kita saat itu memang sangat tidak layak di bilang sebagai bulan madu. Kamu bahkan membuatku kelaparan karena terlalu memperhatikan pacarmu. Untung saja ada Dion, kalau tidak mungkin aku
bisa pingsan.” Sungut Putri, mengingat hal tidak mengenakkan saat itu.
“Itu kan sudah lewat, Sayang. Aku juga merasa bersalah saat itu, aku uga sempat tidak suka saat kamu bilang kamu akan pergi bersama Dion. Memangnya kalian pergi kemana?” Vian merasa ini saat yang tepat untuknya untuk mengetahui kemana saja Dion dan Putri pergi saat itu.
“Ke Menara Eiffel. Tempat itu memang tempat yang menjadi impian aku, saat di pesawat, kami sudah janjian untuk pergi bersama. Lagipula, jika bukan bersama dia, mungkin aku hanya akan terkurung di dalam kamar seorang
diri. Kamu kan terlalu sibuk dengan dia.” Sindir Putri dan itu sedikit membuat dada Vian sesak karena rasa bersalah.
“Maafin aku, Put. Aku tahu, saat itu aku pasti sudah membuatmu kesal. Makanya, untuk sekarang, biarkanlah aku menebus semua kesalahanku dengan membawamu ke tempat indah yang aku tahu. Kamu maafin aku,
kan?” Vian memasang tatapan memelas, berharap Putri mau memaafkan kesalahannya saat itu, saat mereka berada di Paris.
“Bagaimana aku bisa menolak permohonan maaf dari lelaki yang aku sayangi? Tapi, ingat... jangan sampai kamu mempermainkan atau menduakan aku, aku tidak akan segan-segan untuk menghilang dari kehidupan kamu.” Ancam Putri. Sedikitpun Putri tidak pernah ingin di permainkan seperti wanita-wanita yang pernah menadi kekasih Vian lainnya.
“Iya, Sayangku, itu tidak akan terjadi. Aku akan menjaga hatimu dengan baik, kau bisa pegang kata-kataku ini. Kamu satu-satunya wanita yang paling aku sayangi.” Ucap Vian serius semua yang dia katakan keluar dari lubuk hatinya yang terdalam. Dia ingin mencintai Putri dengan sungguh-sungguh.
“Baiklah, aku mempercayaimu. Omong-omong, apakah tempat yang menjadi tujuan kita sudah dekat?” tanya Putri tidak sabar.
permintaan Putri, jika istrinya itu mau melakukannya. Tapi seperti yang kita tahu, Putri tidak seboros itu.
***
Tok... tok...
“Permisi,” Atika mengetuk pintu ruangan Vian.
“Masuk,” sahut Bimo, membuat Atika mengkerutkan keningnya, lalu gadis itu masuk ke dalam ruangan
Vian dan ya, yang di temuinya adalah Bimo, bukan Vian.
“Om Bimo, kemana Ban Vian dan Kak Putri?” tanya gadis itu penasaran seraya menyodorkan beberapa
berkas pada Bimo.
“Kurang tahu, Non Atika. Tiba-tiba saja Tuan Muda menghubungi saya via telepon dan meminta saya menggantikan beliau.” Bimo memang tidak tahu apapun karena Vian tidak memberitahunya kemana dirinya dan Putri akan pergi.
“Baiklah, terima kasih infonya, Om. Aku balik dulu ke ruanganku.” Atika meninggalkan Bimo setelah tangan kanan neneknya itu mempersilahkannya pergi.
Selama ini, Vian tidak pernah membolos ke kantornya dengan alasan yang tidak jelas. Atika hanya menebak kalau sekarang ini ada urusan yang sangat penting yang harus Vian selesaikan. Gadis itu berjalan santai menju ruangan tempatnya bekerja.
“Atika!” Atika hapal sekali dengan suara itu, suara yang menurutnya menyebalkan. Dengan terpaksa
Atika menoleh ke sumber suara, dan benar, Vanessa ada di sana.
__ADS_1
“Ada apa?” tanyanya cuek dan memasang wajah tidak senang.
“Mana Vian?” Vanessa justru balik bertanya dengan nada yang tidak kalah menyebalkan.
“Ada di mana Abangku, memangnya apa urusannya denganmu? Dia sudah memiliki istri, hak dia mau pergi kemana.” Atika sedikitpun tidak berniat untuk memberitahukan kepada Vanessa kemana perginya Vian meskipun ia tahu kakaknya itu pergi kemana.
“Kamu pikir aku tidak tahu, kalau Vian dan Putri hanya menikah kontrak?! Sudahlah, berhenti basa-basi, cepat katakan dimana Vian.” Vanessa mulai memaksa. Hal ini membuat Atika ingin menjalankan idenya.
“Kasihan sekali kamu, aku juga tahu kamu sudah di putuskan oleh Abangku. Jadi buat apa kamumengemis cintanya sampai ke sini? Kamu ingin mempermalukan dirimu sendiri? Lagipula, kamu belum tahu kah, kalau Abangku dan Kak Putri telah sepakat untuk menjalani pernikahan mereka dengan serius?” Atika sengaja mengatakan itu untuk membuat Vanessa kecewa. Dia tidak akan membiarkan wanita ular itu kembali menggerogoti kekayaan Vian.
“Pfft, sejak kapan selera Vian jadi seburuk itu? Dia rela melepaskan wanita sesempurna aku hanya untuk gadis miskin itu? Sungguh sangat menggelikan.” Ujarnya merendahkan, hal itu membuat Atika menjadi geram.
“Satu-satunya wanita yang tidak pantas mendampingi abangku adalah kamu! Jangan kamu pikir, kami semua tidak tahu semua kebusukanmu, aku senang, akhirnya abangku sadar, kalau wanita yang selama ini ada di sampingnya adalah seorang manusia bertopeng. Sudahlah, sebaiknya kamu pulang, Bang Vian tidak ada di kantor, sedang pergi berdua dengan istrinya, aku sibuk banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan.” Atika segera meninggalkan Vanessa sebelum wanita itu sempat menjawab perkataannya.
“Hei tunggu!” meskipun mendengar, Atika lebih memilih pura-pura tidak mendengar panggilan Vanessa. Dia sudah lelah berhadapan dengan wanita aneh itu.
***
Vian dan Putri sampai di sebuah Villa yang terletak di tengah perkebunan kopi. Saat turun dari mobil, mereka berdua merasakan aroma daun kopi yang khas di sana, udaranya juga sangat sejuk. Putri menyukai itu, begitu pula dengan Vian.
“Vian, aku suka tempat ini. Rasanya perasaan kita jadi lebih rileks, ya?” Putri tampak sangat senang, wanita itu membentangkan tangannya dan berputar-putar sambil memejamkan mata, membuat Vian gemas dan menghadiahkan sebuah kecupan singkat di bibirnya setelah berhasil menangkapnya.
“Vian, kamu mesum banget, tahu nggak sih. Kalau sampai adayang lihat gimana? Kan malu.” Protes Putri, Vian hanya terkekeh saat menanggapinya. Lelaki itu lebih memilih untuk membopong Putri dan membawa
istrinya itu masuk ke dalam Villa.
Villa milik keluarga Vian itu di tempati oleh sepasang suami istri yang di utus neneknya untuk menjaga dan merawat Villa dan perkebunan kopi milik mereka. Tidak mengherankan kalau Villa itu tampak bersih dan terawat.
Membuat siapapun yang datang ke sana menyangka bahwa Villa itu adalah penginapan.
Beberapa tahun yang lalu, saat kakek Vian masih ada, mereka bertiga pernah menempati Villa ini. Namun, setelah kakeknya meninggal, nenek Dewi selalu menolak ajakan Vian untuk mengunjungi villanya. Nenek selalu bilang
kalau, saat dirinya ke villa, rasa sedih karena kehilangan suaminya kembali terbayang. Di villa itu, banyak sekali kenangan yang di ukir oleh nenek dan juga kakek Vian.
Vian menjatuhkan dirinya dan Putri ke sebuah ranang utama di villa itu. Pria itu menyerang istrinya dengan ciuman yang penuh dengan hasrat membuat Putri kesusahan untuk mengimbanginya. Semuanya terjadi seakan Vian
selalu haus kebersamaan bersama Putri, dia merasa bebas karena tidak harus menahan diri lagi.
“Vian, stop.” Putri mencoba menghentikan tindakan Vian.
“Kenapa? Apakah aku tidak boleh melakukannya lagi?” Vian tampak kecewa dengan penolakan Putri.
“Bukan, tapi sepertinya lebih seru kalau kita lakukan nanti malam. Aku lelah setelah perjalanan jauh, kamu nggak marah kan, Sayang?” Putri membelai wajah Vian, merayu lelaki itu agar tidak merajuk padanya.
“Hmm, baiklah. Bagaimana kalau kita mandi bersama saja sekarang?” Vian mengajukan permintaan,
Putri menghembuskan napas panjang, Vian selalu saja ada ide untuk berbuat mesum.
“Baiklah, sayang. Ayo kita mandi.” Putri segera bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju ke kamar mandi di ikuti oleh Vian dengan penuh semangat.
Beberapa saat kemudian terdengar suara Putri yang tertawa karena godaan Vian. Pria itu tidak ingin melewatkan sedikitpun waktu kebersamaannya dengan sia-sia.
Putri sangat bahagia berada di dalam situasi sekarang, dia sangat senang di perlakukan Vian dengan romantis. Dia bersyukur karena pada akhirnya lelaki itu menjadi miliknya seutuhnya. Dia tidak lagi ketakutan saat
berdua dengan Vian. putri berharap, kisah manis di antara mereka terus berlanjut sampai mereka menua bersama.
__ADS_1