
"Stop! Aku berhenti di sini saja. Aku bisa jalan kaki. Jarak dari sini ke kampusku hanya beberapa meter lagi." Putri bersikeras untuk turun dari mobil Vian saat itu juga.
Ckiiiiit!
Vian mengerem dadakan mobilnya, hingga membuat Putri sedikit terkejut. Sementara Vian, ia tersenyum jahat. Ia senang merasa berhasil mengerjai gadis di sebelahnya itu.
"Sesuai dengan permintaanmu. Ayo turun!" perintah Vian ketus. Ia menunjukkan sikap yang seperti tidak senang. Putri segera turun dan membanting pintu mobil Vian sedikit keras.
"Aih! Kau selalu sok manis di depan nenek. Tapi, saat di belakangnya kau kasar, sombong!" ucap Putri setengah berteriak. Ia sangat kesal karena Vian sedikit kasar memperlakukannya saat tidak berada di sekitar neneknya.
"Kau bukan putri raja, jadi jangan harap aku akan selalu memanjakanmu atau jangan-jangan kamu mulai ada rasa denganku?" Ledek Vian yang berbicara sambil mengintip dari kaca mobil yang ia turunkan sedikit.
"Tuan Vian yang terhormat, aku akui kamu memang tampan, dan kaya, tapi hatimu tidak layak untuk di cintai. Kasihan sekali, kerjamu hanya di manfaatkan wanita saja," Putri membalas ejekan Vian, lalu bergegas berjalan menjauh dari mobil yang di tumpanginya dengan di iringi tatapan Vian dari dalam mobil. Lelaki itu tersenyum puas karena sudah mengumpat Putri.
"Gadis aneh. Setiap bertemu kamu selalu saja membuatku naik darah." Vian menyunggingkan senyum lalu putar balik dan berlalu.
Putri berjalan perlahan. Jarak dirinya dan kampus tidaklah jauh. Ia lebih baik begini daripada harus di antar oleh Vian sampai ke depan gerbang. Semua orang akan membicarakannya saat ia bersama Vian dan itu tidak akan bagus untuk hubungannya dan Raihan.
"Pagi put," suara Raihan menyapa putri di iringi suara motornya.
"Pagi, Rai. Apa kabar?" Putri sangat sumringah atas kedatangan Raihan. Beberapa hari tidak ke kampus karena acara pertunangannya dengan Vian membuatnya merindukan sosok sederhana pria itu.
"Kabarku baik, Put. Kamu beberapa hari tidak ke kampus, pergi kemana? Apakah kamu sakit?" pertanyaan yang di ajukan oleh Raihan sudah di perkirakan sebelumnya oleh Putri.
__ADS_1
"A-aku ada acara keluarga, Rai." jawab Putri singkat dan sedikit gugup. Raihan tidak boleh tahu, apa yang akan terjadi dalam hidup Putri. Meskipun ia menjadi istri kontrak Vian semata-mata karena uang, bisa jadi itu akan membuat Raihan menjauhi dirinya.
"Ayo naik," Raihan menghentikan motornya, berharap Putri mau naik motor bersamanya. Benar saja, tanpa menunggu tawaran Raihan kedua kali, Putri segera naik ke jok belakang motor pria yang dia sukai.
Raihan segera menjalankan sepeda motornya. Meskipun jaraknya tidak jauh, Putri bisa saja pegal-pegal kakinya jika tetap berjalan kaki.
"Put," suara Raihan memanggil Putri masih terdengar di sela-sela deru motornya yang sedikit bising.
"Iya, ada apa, Rai?" sahut Putri cepat. Ia sedikit gugup karena sedang menyembunyikan sesuatu dari Raihan.
"Nanti sepulang kampus, beberapa anak di kelas kita mengadakan acara makan bersama, apa kamu bersedia ikut?" Putri senang saat mendengar itu, tetapi dirinya teringat pesan Vian, harus segera pulang ke rumah dan tidak boleh pergi dengan pria lain selain dirinya. Satu-satunya kesempatan yang ia punya untuk bertemu Raihan hanya di kampus.
"Maaf, Raihan. Aku sepertinya tidak bisa ikut. Maaf mengecewakanmu." sebenarnya, Putri ingin ikut, tapi ia tidak bisa melanggar peraturan yang di buat oleh Vian. Semuanya juga untuk keluarganya. Ia harus melakukan misi ini dengan baik.
"Sudah. Setelah membaca pesanmu kemarin, aku segera mengerjakannya. Terima kasih sudah mengingatkanku, Rai." Putri berterima kasih atas ketersediaan Raihan mengingatkannya tentang tugas. Ini bukan pertama kalinya. Cowok itu selalu mengingatkannya setiap kali ada tugas kampus karena Putri sedikit pelupa.
"Dengan senang hati, Put. Aku sudah tidak sabar untuk lulus. Oh, ya. Aku sudah mendapatkan pekerjaan, jadi setelah lulus aku langsung bekerja."Raihan tampak sangat gembira saat mengabarkan berita itu pada Putri. Meskipun keluarga Raihan termasuk berada, tetapi pria itu ingin menjadi seorang yang mandiri.
"Wah, selamat ya, Rai. Jadi acara makan hari ini untuk merayakan keberhasilanmu mendapatkan pekerjaan?" Putri menebak dan kali ini tebakannya jelas benar. Raihan sangat senang mendapatkan pekerjaan impiannya ini.
"Itu benar. Nah, kita sudah sampai. Mari ke kelas bersama." ajakan Raihan temtu saja membuat hati Putri berbunga. Meskipun itu hanya sederhana.
"Pagi, Put, Rei. Boleh gabung?" Suara tidak asing itu tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka.
__ADS_1
Cewek cantik itu bernama Diana. Dia juga menyimpan perasaan pada Raihan. Meskipun cowok itu selalu berusaha mengabaikannya, tetap saja, ada alasan untuk Diana mendekati Raihan.
"Pagi juga. Ayo, Diana. Kita jalan bertiga ke kelas," Sahut Putri cepat, sementara Raihan hanya menjawab sapaannya saja dan sedikit acuh.Satu-satunya perempuan yang ia dekati hanya Putri.
Mereka akhirnya jalan bertiga. Diana yang banyak bicara di tanggapi oleh Putri, sementara Raihan hanya diam dan sesekali tersenyum.
"Aku duluan, ya. Baru ingat ada perlu ke kelas sebelah," Diana kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kamu kenapa, Rai? Sepertinya tidak nyaman setiap dekat dengan Diana?" Putri penasaran. Selama ini putri belum tahu kalau Diana sebenarnya ada rasa pada Raihan.
"Aku tidak mau memberinya harapan, Put. Dia ada rasa padaku, aku tidak mau kejadian tidak mengenakkan itu terulang lagi." curhat Raihan. Ia pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan bersama Diana dan itu membuatnya trauma.
"Kejadian tidak mengenakkan? Apakah itu?" Putri penasaran. Raihan tidak pernah bercerita kalau dirinya pernah ada insiden dengan Diana.
"Dia mengumumkan pada teman-temannya kalau aku ini pacarnya, hanya karena aku pernah mengantarkannya pulang." mungkin bagi orang lain itu hal biasa, tetapi bagi Raihan, ia terganggu dengan cara Diana yang sembarangan seperti itu.
"Kalau aku yang seperti itu, apa kamu akan membenciku seperti Diana?" ledek Putri di iringi dengan senyum manisnya.
"Kalau kamu kan berbeda. Meskipun kita tidak terikat, tetapi kamu ada di sini, di hatiku." ungkap Raihan sambil memegang dadanya sebagai penekanan kalimat.
"Bisa saja kamu, Rai." Putri menepuk pelan punggung Raihan yang tertutupi kaos dan jaket tebalnya sambil tertawa kecil.
Di dalam hatinya, Raihan sangat terpesona dengan senyum dan tawa Putri. Suatu hari, Raihan ingin perempuan itu menjadi miliknya. Meskipun entah kapan.
__ADS_1
Putri merasa sangat nyaman saat berada di samping Raihan, jauh berbeda dengan saat ia tengah bersama Vian.