
"Kurang lama makan siangnya. Kenapa nggak sekalian sampai sore?!" ujar Vian ketus saat Putri kembali masuk ke ruangannya. Pria itu berbicara tanpa melirik ke arah Putri sedikitpun.
"Bos Vian kenapa? Cemburu? Jam makan siang masih tersisa sepuluh menit. Lalu apa masalahnya?" Putri kembali ke kursinya dengan santai. Ia tidak perduli pada Vian yang tampak kesal tanpa alasan.
"Kamu baru sehari menjadi sekertarisku sudah kecentilan, godain temanku, bahkan mau-mauan kamu di ajaknya makan." nada bicara Vian tidak enak. Pria itu tidak tahu alasan sebenarnya dia marah, hanya saja, ia merasa tidak suka Putri dekat dengan Dion.
"Bukannya Pak Bos, yang bagi nomor ponsel saya ke Pak Dion? Terus salahku dimana? Lagipula dia lumayan juga, ganteng, manis, nggak pelit, ramah lagi." Putri sengaja memuji Dion di depan Vian,,agar lelaki itu semakin kesal dan ternyata, usahanya membuahkan hasil.
"Berani memuji Dion lagi, gajimu bulan ini aku potong dua puluh persen!" Vian melempar berkas ke
meja lumayan keras, membuat Putri sedikit terkejut. Semenit kemudian, Vian keluar ruangan tanpa memperdulikan Putri, mendadak mood-nya memburuk. Ia menuju ke Pantry untuk membuat kopi.
"Kenapa sih, Vian aneh banget. Padahal kan aku cuma makan siang sama Dion, terus tiba-tiba dia ngamuk nggak jelas. Hadeh, daripada mikirin Vian, mendingan aku ngerjain apa yang bisa aku kerjain." Putri memutuskan untuk mempelajari apa-apa yang dia belum paham sambil menunggu Vian kembali.
Di pantry...
Vian sedang menyeduh kopinya sendiri di gelas keramik yang ukuranya tidak terlalu besar. Ia merasa aneh pada dirinya sendiri yang mendadak uring-uringan karena Putri jalan dengan Dion. Padahal selain istri kontrak, ia tidak ada hubungan apapun dengan Putri.
"Bang Vian! Tumben ngopi di sini. Mana Kak Putri?" Atika berbicara pelan pada kalimat terakhirnya sambil menengok ke kanan dan ke kiri takut ada yang mendengarnya.
"Lagi pengen aja, Tika. Putri ada di dalam ruangan. Kamu sudah tahu dia ke kantor hari ini?" Vian balik bertanya. Dia baru tahu kalau Atika sudah bertemu Putri hari ini.
__ADS_1
"Sudah, Bang. Tadi pagi dia kerepotan, aku membantunya. Bang, kenapa kakak tidak membolehkan Kak Putri menyebut dirinya sebagai istri Abang?" Atika tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya tentang alasan Vian tidak memperbolehkan putri mengaku sebagai istrinya.
"Aku hanya melindungi dia. Kalau sampai semuanya tahu dia istriku, kemungkinan akan ada hal-hal yang tidak menyenangkan." Vian mencoba beralasan.
"Hal-hal apa? Alasan Abang tidak masuk akal. Jangan bilang Abang masih ada niat goda-goda wanita lain. Ingat Bang, Abang itu udah nikah, jadi jangan macam-macam. Aku akan adukan sama nenek kalau Abang sampai mempermainkan Kak Putri." ancam Atika. Situasi ini membuat Vian sedikit terpojok, ternyata membohongi nenek tidak semudah itu. Banyak orang-orang yang ada di pihak nenek, kalau sampai nenek tahu, maka masa depannya akan terancam. Vian gusar, ia menarik rambutnya sendiri karena kesal.
"Iya. Aku nggak ada niat buat mempermainkan Putri. Kamu dikit-dikit ngancem mau ngaduin ke nenek. Aku beneran sayang sama Putri, mana mungkin aku menikahi dia kalau aku nggak ada perasaan apapun." Vian terpaksa berbohong di depan Atika. Ia tidak ingin semuanya terbongkar secepat ini.
"Bagus, Bang. Aku ikut bahagia, Abang ternyata beneran cinta sama Kak Putri. Kapan nih, Atika di kasih ponakan..."
"Pffft (Vian tersedak dan tanpa sengaja menyemburkan kopi yang di minumnya) Kamu bilang apa? Po-ponakan? Maksudmu anakku dan Putri?" Vian tampak gugup, ia mengelap jasnya yang tidak sengaja terkena air kopi.
"Aku tidak sedang menunda karena apa-apa. Hanya saja, aku masih ingin menikmati hari-hari romantisku dengan Putri. Kalau dia hamil cepat, akan susah untuk di bawa jalan-jalan ke luar negeri. Aku tidak mau sampai bayiku kenapa-napa." lagi-lagi terpaksa Vian beralasan. Ia tidak perduli alasannya tepat atau tidak, yang jelas, ia tidak ingin hal ini sampai ke telinga neneknya.
"Jadi itu alasan Bang Vian, dasar pengantin baru. Sudahlah, kalau begitu aku lanjut kerja lagi, duluan Bang." Anita meninggalkan Vian yang masih menikmati kopi di cangkirnya.
Vian duduk di kursi, ia menatap layar ponselnya yang ia keluarkan dari saku jas. Ketiga pacarnya tidak ada yang menghubunginya, terutama Vanessa. Ia coba menelepon beberapa kali, tetapi sayangnya nomor Vanessa tidak dapat di hubungi. Vian semakin kesal. Ia meletakkan cangkirnya dan kembali ke ruang kerjanya.
Saat membuka pintu di waktu yang bersamaan Putri juga akan keluar, ia kaget karena bertabrakan dengan Vian dan membuatnya terjatuh, namun dengan sigap, Vian berusaha untuk menangkap Putri, tetapi salah perhitungan dan akhirnya Vian jatuh menimpa Putri.
Wajah mereka begitu dekat. Putri menahan nafas, ia tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa saat ia teringat pada perjanjian itu dan berusaha melepaskan diri dari Vian.
__ADS_1
"Buaya laut mesum! Kenapa kamu selalu memperlakukan aku seperti ini?!" Putri setengah berteriak. Ia kesal karena merasa Vian selalu mempermainkannya.
"Aku tadi mau bantu kamu, menangkapmu supaya kamu nggak jatuh, tapi..."
"Tapi apa?" potong Putri. Ia sudah terlanjur kesal pada Vian.
"Kamu memang mesum Vian. Kamu lupa perjanjian kita? Kamu mau melanggarnya?" tuduh Putri.
"Apa sih, Put? Jangan seperti anak-anak. Aku tidak ada maksud kesana. Aku beneran cuma mau bantu kamu. Nggak ada maksud lain." Vian coba menjelaskan pada Putri, tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Oke, baiklah. Kali ini aku maafkan kamu. Tapi tidak lain kali." Putri berusaha membersihkan bajunya dan kembali ke mejanya.
"Put, apa maksudmu bilang ke Atika kalau aku belum menginginkan anak? Kalau sampai terdengar nenek, ini bisa bahaya. Hmm... atau, jangan-jangan kamu sebenarnya mendambakan seorang anak dariku yang tampan ini?" ucap Vian dengan penuh percaya diri. Ia menatap putri dari kursi yang ada di depan wanita itu.
Seketika Putri tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Vian. Ia tidak habis pikir, darimana Vian bisa berpikiran sampai kesana.
"Mana mungkin aku ingin punya anak dari buaya laut, ada-ada saja. Semuanya hanya alasan, aku bingung harus bilang apa pada Atika. Kalau nenek tahu, kamu pasti akan kena omel dan itu hiburan bagiku." ujar Putri santai.
"Senang kamu, ya. Kalau aku menderita, kamu menari di atas penderitaanku." dengus Vian kesal lalu kembali ke mejanya sendiri.
"Kamu memang cukup peka, Bos.."
__ADS_1