
"Put, aku duluan. Nanti yang lain menunggu." Raihan segera menggendong tasnya dan berpamitan pada Putri karena acara makan bersama teman-temannya.
"Oke, Rai. Semoga acaranya sukses, ya. Sekali lagi selamat atas keberhasilanmu, Raihan." Putri turut senang atas keberhasilan Raihan memiliki pekerjaan baru.
"Terima kasih, Putri. Sukses juga untukmu." Raihan keluar dari kelas, meninggalkan Putri yang tengah membereskan buku-bukunya. Ponselnya telah berdering berulang, yang memanggilnya tentu saja Vian, siapa lagi orang yang menelepon tanpa henti selain dia.
"Dasar bawel!" omel Putri segera bergegas keluar kelas.
"Aku segera datang. Stop menelponku tanpa henti!" Putri menyempatkan diri menerima panggilan Vian agar lelaki dengan predikat calon suaminya itu berhenti melakukan bombardir panggilan padanya.
Putri segera mematikan telponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia segera berjalan keluar kampus dan mendapati mobil Vian di sana. Ia segera masuk dan duduk di samping lelaki itu.
"Kamu tidak bisa keluar kelas lebih cepat? Aku lelah harus menunggumu. Kalau bukan karena nenek, aku tidak akan mau menikahi cewek udik dan lambat sepertimu." seakan sudah menjadi makanan sehari-hari. Vian selalu mengumpat setiap kali mereka bertemu.
"Menikah pura-pura tidak masalah, Kan? Pada akhirnga kamu akan kembali bersama gadis-gadismu itu kan? Pria yang tidak bisa di andalkan. Kasihan sekali nenekmu yg baik itu, harus mempunyai cucu yang bermuka dua." sindir Putri dan di tanggapi dengan senyum sinis dari Vian.
"Hati-hati dan jaga bicaramu, Nona. Aku takut suatu saat kamu akan jatuh cinta padaku." Vian tersenyum aneh. Ia terlalu percaya diri dan merasa dirinya sanggup untuk membuat putri jatuh cinta. Selama ini, tidak ada wanita yang menolak pesonanya.
"Bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya?" Putri mencondongkan tubuhnya mendekat pada Vian seperti tengah menantang lelaki itu.
"Hahaha, cih! mana mungkin aku jatuh cinta padamu, kamu tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan pacar-pacarku." meskipun sebenarnya kecantikan Putri lebih dari mereka, Vian tidak akan mau mengakuinya. Ketiga pacarnya adalah model dari berbagai produk bermerek, jika di bandingkan dengan Putri yang hanya Petugas Loundry, jelas mereka beda kelas.
"Baiklah. Sekarang kamu mungkin bisa bilang tidak, tetapi lihat saja nanti." ucap Putri sedikit sombong. Ia memang tidak bisa berbuat apa-apa di bawah tindasan Vian untuk saat ini, tapi mungkin itu akan berbeda nanti. Sekali lagi, ia harus memikirkan keluarganya.
"Oke. Mari kita lihat, siapa yang jatuh cinta di antara kita. Seluruh pacar-pacarku adalah wanita berkelas. Memiliki profesi yang bisa di banggakan, bukan sepertimu." sindir Vian dengan sombongnya, tetapi mendengar itu, Putri hanya tersenyum.
"Wanita berkelas yang di tolak nenekmu maksudnya? Kamu tahu, orang tua itu lebih peka, siapa yang tulus dan modus. Suatu hari, saat kamu tidak memiliki apapun, mereka yang kamu banggakan itu juga akan meninggalkanmu." cibir Putri, ia menyilangkan tangannya di dada dan memandang acuh ke luar mobil.
Vian kali ini diam. Ia lebih memilih melajukan mobilnya dan berlalu dari kampus Putri. Ia mengemudikan mobilnya dengan santai dengan di iringi alunan musik klasik favoritnya.
__ADS_1
Pernikahan yang tinggal menghitung hari di laksanakan membuat Putri sedikit gelisah. Bagaimana nanti kehidupannya setelah menikah dengan Vian? Ketika kontrak selesai, dirinya secara tidak langsung akan menyandang status janda. Bagaimana nanti kalau Raihan sampai tahu semuanya?
"Apa yang kamu pikirkan? Bagaimana cara membalasku? Atau bagaimana cara untuk tidak jatuh cinta padaku?" Vian melirik tajam ke arah Putri sekilas. Gadis itu masih tampak belum sadar dengan pertanyaannya.
"Putri!" Sentak Vian hingga membuat Putri terkejut. Lamunannya seketika buyar.
"Iya, ada apa?"
"Kamu tidak mendengarkanku? Huh!" Vian kesal karena merasa terabaikan.
"Maaf.."
groo groo..(suara perut Putri)
"Kamu lapar? Bilang saja kalau lapar. Akan ku bawa kamu ke restoku." kata Vian serius. Meskipun ia selalu memusuhi Putri, tapi ia tidak akan membiarkan rekan main perannya itu sampai kelaparan.
"Kamu tidak akan meracuniku kan?" Putri menatap Vian curiga. Ia takut Vian merencanakan sesuatu.
"Pencitraan. Pacar banyak tapi tunangannya justru orang asing. Sungguh aneh tapi nyata," cibir Putri lagi dengan menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Bisakah sehari saja kita tidak saling menyindir?" tanya Vian datar, seolah ia tak bersalah apapun.
"Kamu yang selalu memulainya." sahut Putri sedikit ketus.
"Bukannya kau?" tuduh Vian.
"Kau!" Putri tidak mau kalah. Ia memang selalu terpancing oleh perkataan Vian. Sebenarnya Vian menyukai momen beradu mulut dengan gadis itu, baginya itu menyenangkan.
"Simpan saja energimu. Tidak usah berteriak seperti itu. Bukankah kamu sedang lapar? Aku tidak mau repot karena kamu pingsan di dalam mobilku." seperti tidak ada bosannya, Vian kembali memancing emosi Putri untuk meladeni ucapan-ucapannya.
__ADS_1
"Pura-pura tidak senang, jangan-jangan kamu malah memanfaatkan keadaan kalau aku sampai pingsan." cibir Putri lagi. Ia tidak percaya kalau Vian anak baik-baik.
"Maksudmu apa? Kamu pikir aku akan menyentuhmu begitu? Hahahaha, kamu lucu! Meskipun aku begini, aku tidak semudah itu menyentuh wanita, ciuman adalah hal terjauh yang pernah aku lakukan. Bagaimanapun aku pria yang berprinsip." Jawab Vian serius. Meskipun dia punya banyak pacar, dia tidak pernah melecehkan pacarnya. Ia membatasi diri, mana yang bisa dilakukan saat pacaran dan mana yang hanya bisa di lakukan saat sudah menikah.
Putri sedikit tidak percaya, ternyata Vian di luar dugaannya. Pernyataan Vian membuat nilai positif Putri terhadap lelaki itu bertambah sepuluh poin. Tapi satu detik kemudian pemikiran gadis itu berubah. Ia mencurigai Vian tidak normal.
"Vian, jangan-jangan kamu bukan berprinsip tetapi kamu memang tidak bisa berfungsi sebagai lelaki, Pfff." Putri menahan tawa dengan menutup mulutnya.
Ckiiiiiiit!
Vian mengerem mobilnya secara tiba-tiba hingga berhenti seketika. Badan Putri terasa terhempas, beruntung ia memakai sabuk pengaman. Tetapi tetap saja, kejadian itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Vian melepas sabuk pengamannya dan bergeser mendekati Putri dengan tatapan murka. Gadis itu sedikit ketakutan karena ia sadar sudah membuat Vian marah.
"Apa maksudmu mengatakan aku tidak berfungsi sebagai laki-laki? Apa kamu mau mencobanya di sini?!" Vian menyeringai, membuat Putri semakin ketakutan. Ia menyesal karena salah bicara.
"Ma-maaf Vian. Aku hanya bercanda, tolong maafkan aku..." Putri memelas agar Vian tidak melanjutkan tindakannya.
"Tadi kau begitu berani berkata seperti itu, tetapi saat aku mau membuktikannya, kenapa kamu seperti kelinci mungil yang ketakutan? Lain kali jaga bicaramu, atau aku akan memakanmu sampai habis." Ancam Vian, setelah itu ia kembali ke posisinya, memakai kembali sabuk pengamannya dan melajukan mobilnya dengan wajah serius dan tanpa berbicara sepatah kata pun lagi.
Putri akhirnya bisa bernafas lega sekarang. Entah apa jadinya jika Vian benar-benar melakukannya. Beberapa saat kemudian, pria itu benar-benar membawanya ke sebuah resto.
"Siapkan makanan spesial seperti biasa." ujar Vian kepada pramusaji restonya yang menyambut kedatangannya.
"Baik, Tuan. Makanan akan segera di hidangkan." Pramusaji itu segera pergi dengan patuh. Tidak perlu menunggu lama, beberapa menu telah terhidang di hadapan mereka.
"Makanlah yang banyak. Jangan sampai sakit. Aku mau mengadakan pesta panjang di pernikahan kita nanti." Vian berbicara dengan lembut. Bahkan, Putri baru kali ini mendengarnya lagi, Vian berkata lembut selain di depan neneknya.
"Baiklah. Terima kasih, Vian. Aku minta maaf tentang yang tadi." Putri masih merasa bersalah pada Vian karena perkataannya tadi.
__ADS_1
"Lupakan dan makanlah." sahut Vian singkat.