
Vian kembali ke rumah neneknya dengan perasaan bahagia, ia telah mengakhiri hubungannya dengan Vanessa dan itu berarti kemungkinan ia dan Putri dapat bersatu semakin dekat. Vian menambah kecepatan laju kendaraannya, dia ingin segera menemui Putri.
Pria itu sangat lega, ketika ia telah sampai di halaman rumah neneknya. Setelah mengunci mobilnya, Vian segera masuk ke dalam rumah dengan berlarian kecil. Vian tidak menemukan Putri di ruang tamu ataupun dapur,
pria itu yakin istrinya ada di atas, di kamar mereka.
Vian segera bergegas naik ke kamarnya. Jantungnya berdegup kencang, ia berusaha menyusun kalimat yang akan ia sampaikan pada Putri dengan susah payah. Hanya beberapa anak tangga, tetapi sore itu, tampak terlihat
begitu jauh untuk di tapaki.
Sesampainya di kamar, Vian mendapati Putri sedang merapikan selimut di ranjang mereka. Tanpa aba-aba Vian langsung memeluk Putri dari belakang dengan erat. Ia tidak mengerti kenapa matanya berkaca-kaca, Vian merasa berada di titik paling bahagia dalam hidupnya, meskipun ia belum tahu apa jawaban Putri. Mungkin, jika gadis itu
menolaknya, Vian akan merasa setengah dunianya berakhir.
“Put, aku dan Vanessa sudah berpisah. Sekarang, apakah aku boleh memintamu untuk benar-benar menjadi istriku? Aku menginginkanmu, Put...” Vian membisikkan kalimatnya itu ke telinga Putri, membuat bulu kuduk perempuan itu sedikit meremang.
“Kamu yakin? Kamu siap menerima persyaratan dariku? Kamu tahu, kan, aku tidak bisa membiarkanmu mendua? Aku tidak ingin menjadi yang kedu ataupun di duakan.” Putri ingin Vian meyakinkannya untuk menerimanya
sebagai suami yang sesungguhnya.
“Ya, aku siap dengan semua itu, Putri. Aku hanya ingin kamu yang menjadi satu-satunya dan terakhir di dalam hidupku. Aku mohon, jangan patahkan hatiku, Putri. Aku benar-benar mencintaimu dengan tulus...” Vian
menjatuhkan dirinya, ia seperti sedang memohon. Putri segera menyusul Vian, ia memeluk Vian erat-erat. Putri juga merasakan hal yang sama selama ini, dia ingin bersama dengan Vian dan memiliki lelaki itu tanpa merasa sedang berbagi atau merebutnya dari orang lain.
“Cukup, Vian. Aku menerima pernyataan perasaanmu dan aku menerimamu sebagai suamiku. Aku berharap kamu tidak pernah berniat mempermainkan perasaanku. Aku ingin menghabiskan sisa waktu yang ku miliki
bersamamu.” Ungkap Putri dengan perlahan dan jawaban Putri membuat Vian sangat bahagia.
Pria itu menuntun Putri untuk berdiri, lalu menggendong gadis itu dan membawanya berputar-putar, tawanya pecah, Vian merasa lega, dia telah mendapatkan hati wanita yang ia sayangi. Di dalam hatinya, Vian berjanji,
__ADS_1
tidak akan pernah melukai hati Putri dan menjaga istrinya itu dengan baik.
Vian merebahkan Putri ke ranjang mereka lalu pria itu memposisikan dirinya di atas gadis itu. Keduanya merasakan jantung mereka berdegup kencang. Pandangan mata mereka saling beradu, Vian sadar ini gila, tetapi ia
tidak bisa menahan nalurinya untuk melakukan sesuatu pada Putri.
Pria itu membelai rambut Putri dengan penuh kelembutan tanpa melepaskan kontak mata di antara mereka. Putri merasa tidak karuan, rasanya dia ingin melarikan diri dari dekapan Vian, tetapi Pria itu telah menguasai
dirinya.
“Vian, kamu mau apa?” tanya Putri malu-malu, dia sangat yakin kedua pipinya memerah sekarang.
“Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Kamu tidak keberatan, kan?” bisik Vian, lagi-lagi perlakuan pria itu membuat degup jantungnya semakin kencang. Meskipun tidak yakin dengan apa yang di dengarnya, Putri mengangguk samar.
Mendapatkan lampu hijau dari Putri, Vian memiliki keberanian untuk bertindak lebih jauh. Ia segera mendaratkan sebuah ciuman panjang pada gadis itu. Mereka berdua tampak sangat menikmati momen romantis mereka saat
Perlahan, Vian mulai menghirup aroma leher Putri yang masih tercium wangi sabun mandi. Gadis itu hanya menggigit bibir untuk menahan rasa geli dan menutup kedua matanya. Jari-jari Vian mulai bergerilya, meloloskan
beberapa kancing baju tidur Putri dengan sedikit gemetar. Ya, ini untuk pertama kalinya lelaki itu bertindak lebih jauh pada seorang wanita.
Vian merasa beberapa bagian tubuhnya bereaksi karena kegiatan nakal yang mereka lakukan. Keduanya terus terhanyut dalam suasana itu. Vian merayap ke bawah, masih mengendus setiap inci kulit Putri yang ia sentuh
dengan ujung hidungnya.
“Vian...” nenek yang ingin menyuruh Vian menutup mobilnya tanpa sengaja meyaksikan apa yang sedang mereka lakukan karena pintu kamar mereka yang terbuka lebar. Vian dan Putri sangat malu karena nenek melihat
mereka. Dengan segera Nenek Dewi segera berbalik.
“Nenek hanya ingin kasih tahu kalau mobilmu belum masuk ke garasi. Lain kali, jika ingin melakukan itu, tutup dulu pintunya.” Nenek memperingatkan mereka berdua lalu melangkah pergi. Putri mendorong Vian hingga
__ADS_1
pria itu terlempar sedikit ke sampingnya. Gadis itu reflek memukuli Vian dengan guling, tanpa menyadari beberapa
kancingnya terbuka dan membuat Vian terfokus ke sana.
“Apa yang sedang kamu lihat, Vian?” Putri menelusuri kemana arah pandangan Vian, setelah ia tahu itu ke bagian dadanya yang terbuka, Putri segera meraih bagian bajunya yang terbuka da mendekapnya erat.
“Ma-maaf. Aku sudah kelewatan.” Vian meraup wajahnya, sedikit menyesal telah melakukan semua itu.
“Sudahlah, tak masalah,lagipula itu adalah hakmu. Hanya saja aku...”
“Aku tahu kamu belum siap, sekali lagi maafkan aku, Put. Kalau begitu aku mandi dulu.” Vian segera beranjak pergi dari ranjangnya menuju kamar mandi, meninggalkan Putri yang masih malu setengah mati pada neneknya. Ia
bingung, bagaimana ia bisa bertemu dengan wanita tua itu nanti?
Di dalam kamar mandi, Vian menyandarkan dahinya ke dinding kamar mandi yang di lapisi dengan marmer berwarna putih tulang. Ia sedang berusaha menurunkan gairahnya dengan berlama-lama di bawah guyuran air. Ia
meninju pelan dinding itu, merasa bersalah karena terlalu buru-buru, lebih bodohnya lagi, dia lupa untuk menutup pintunya. Vian berpikir, mungkin sekarang Putri sedang merasa malu karena nenek mengetahui kegiatan yang mereka lakukan berdua.
Sementara itu, Nenek Dewi merasa senang karena impiannya untuk mendapatkan cucu dari Vian akan segera terwujud, meskipun apa yang ia lihat cukup memalukan. Wanita tua itu merasa senang dengan kemajuan yang
terjadi di dalam kehidupan asmara cucunya.
“Bimo, besok kamu ajak beberapa orang untuk membersihkan rumah Vian.” Perintah Nenek
Dewi via telepon pada Bimo.
Sesuai dengan permintaannya, ia akan merelakan Vian kembali ke rumahnya setelah berhasil membuat Putri hamil dan mulai sekarang, Nenek Dewi harus mempersiapkan segala sesuatu. Meskipun sebenarnya ia tidak ingin berpisah dengan Vian dan Putri, tetapi nenek sadar, mereka berdua butuh privasi dan berlatih mandiri.
“Semoga kalian berdua tetap bahagia seperti sekarang. Nenek selalu menunggu kabar baik dari kalian, cucu-cucu kesayanganku.” gumam Nenek Dewi pelan.
__ADS_1