Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 59


__ADS_3

Putri dan Vian pergi ke sawah terlebih dahulu, sementara Parman akan menyusul. Putri Berjalan tanpa hambatan, sesekali dia tertawa saat melihat Vian yang berjalan lambat seperti keong. Maklum,,selama ini pria itu tidak pernah melewati pematang sawah. Ini adalah saat pertama kalinya Vian melakukannya.


Hamparan sawah yang tidak di tanami padi itu menyerupai lapangan bola, hanya saja pematang membentuk mereka jadi berbentuk kotak-kotak kecil.


Dari sekian banyaknya lahan, Hanya beberapa petak yang di pinjam lahannya untuk menanam sayuran. Sawah yang di tumpang Parman adalah milik bapaknya Bagus. Satu keluarga yang selalu baik pada keluarga Putri layaknya saudara.


"Eh, Putri. Baru pulang dari kota?" tanya Pak Radi, tetangga satu kampungnya.


"Iya, Pak. Baru 3 hari di rumah. Wah, tanaman terongnya sudah mulai berbuah ya pak." Putri memandang hamparan tanaman terong yang ada di hadapan Pak Radi.


"Iya ini, Put. Semoga tidak di serang hama sampai panen nanti."


"Amin, Pak."


"Ini siapa, Put? Temen kamu dari kota?" tanya Pak Radi lagi, saat melihat Vian berada di samping Putri dan tersenyum padanya.


"Kenalin Pak, ini Vian, suami saya." ungkap Putri malu-malu.


"Oh, salam kenal Nak Vian, Kalian mau ke tempat bapak kalian menanam sayur?" Pak Radi menjabat tangan Vian sebagai tanda perkenalan.


"Betul, Pak. Di kota saya belum pernah ke sawah, jadi penasaran." jawab Vian mewakili.


"Baiklah, silahkan, saya mau melanjutkan berkeliling."


"Mari-mari, silahkan Pak."


Vian dan Putri kembali menyusuri pematang sawah. Banyaknya embun yang menempel di rumput pematang membuat jalan menjadi licin. Vian dan Putri sesekali menjerit karena kehadiran ular sawah kecil.


Di tukang sayur...


Ada sekelompok ibu-ibu yang sedang berbelanja. Mereka sibuk memilih sayuran yang akan mereka beli sambil saling membicarakan sesuatu yang tidak penting. Membahas sekolah anak, biaya listrik, kebiasaan buruk suami dan masih banyak lagi topik yang lainnya.


"Jeng Resti, tahu Putri kan anaknya Jeng Marni?"

__ADS_1


"Iya tahu, kenapa Jeng? Ada apa sama Putri?"


"Tahu nggak sih, Jeng. Putri bawa laki-laki dari kota, sampai sekarang masih menginap di rumahnya. Aku heran, Jeng Marni kenapa santai saja dengan kelakuan anaknya yang seperti itu."


"Mungkin mereka masih saudara, kita kan nggak tahu."


"Tapi bener loh kata Jeng Santi, aku yakin itu cowok bukan saudaranya. Aku melihat mereka jalan ke arah sawah sambil gandengan mesra gitu."


"Kayaknya kita harus melaporkan ini ke pak RT, kalau perlu usir mereka, bikin malu saja."


"Betul, nama kampung kita bisa tercemar kalau sampai Putri hamil di luar nikah."


"Nah,,bener banget itu Jeng. Anak zaman sekarang, sudah berani bawa pulang laki-laki asing ke rumahnya. Padahal Putri kelihatannya pendiem, sopan, ternyata cuma topeng."


"Ssst ada Jeng Marni, jangan ngomongin Putri lagi."


"Selamat pagi ibu-ibu," sapa Marni ramah kepada para tetangganya yang sedang berbelanja.


"Pagi Jeng Marni, belanja juga? Kayaknya mau belanja banyak, sampai bawa tas segala."


"Syukuran apa, Jeng? Sunatannya Joko? Kan masih terlalu kecil Jeng buat sunat."


"Bukan. Mau syukuran atas pernikahan Putri. Dia menikah dengan orang kota." Marni masih tetap asyik memilih sayuran, tidak menyadari para ibu-ibu di sampingnya saling sikut menyikut dan merasa bersalah. Abang tukang sayur hanya tersenyum melihat tingkah mereka.


"Eh, Jeng..., anu... em, bolehkan kita semua datang ke rumah Jeng Marni buat kenalan sama menantunya?" salah satu dari mereka akhirnya buka mulut dengan sedikit salah tingkah.


Tentu saja, silahkan datang ke rumah kami. Berapa ini Bang?" Marni tidak terlalu memperhatikan mereka, langsung meminta abang tukang sayur menghitung semua total belanjanya, membayar lalu pulang.


"Ibu-ibu, saya duluan ya. Masih banyak pekerjaan di rumah, belum mandiin si Joko."


"Ya ampun, aku lupa belum bikinin kopi Bang Jarwo. Ini berapa Bang, buruan, keburu lakiku marah."


"Aduh, tadi nasi udah di colokin belum ya kabel penanaknya?"

__ADS_1


"Baru inget Tasya mau bikin bekal ke sekolah."


Akhirnya para ibu-ibu rumpi bubar karena teringat tugasnya masing-masing. Beruntung mereka tidak lupa membayar. Abang tukang sayur hanya bisa menggeleng, melihat kelakuan ibu-ibu jaman sekarang.


"Kerjaan belum beres, udah pada rumpi di lapakku. Tapi gapapalah, yang penting sayuran laku. Lanjut jualan, sayur! Sayur! Bu Ibu, sayur!" Abang tukang sayur mendorong gerobaknya kembali.


"Jahat sekali mulut ibu-ibu itu. Mereka semua mengata-ngatai Putriku. Meskipun mereka belum tahu kalau Putri sudah menikah, itu bukan hak mereka untuk menghujat. Aku harus menjaga rahasia ini, jangan sampai Putri mendengarnya." Marni segera melangkahkan kakinya lebih cepat dengan mata yang berkaca-kaca. Setiap orang hanya mengomentari apa yang mereka lihat, sebelum melihat isi yang sebenarnya. Hal itu tentu membuat Marni merasa kecewa.


***


Di sawah, Vian sedang serius belajar bertani pada Parman, mertuanya itu. Dia sedang mencangkul tanah, meskipun gerakannya sangat kaku dan membuat Putri tertawa. Gadis itu tidak di izinkan Vian berada di bawah terik matahari, itu sebabnya Putri melihat melihat mereka dari gubuk yang berada di pinggir lahan.


Melihat lelaki itu sangat gigih, sampai keringatnya bercucuran, membuat Putri merasa bangga. Dia benar-benar membuktikan kata-katanya.


"Nak Vian, mari kita istirahat dulu. Pinggang bapak rasanya mau copot." ajak Parman dengan napas sedikit tersengal-sengal.


"Baiklah, Pak. Mari."


Mereka berdua mendatangi gubuk di mana Putri duduk. Putri dapat melihat Vian meringis saat melihat tangannya, membuat Putri penasaran.


"Tangan kamu kenapa?" Putri meraih tangan lelaki itu, tetapi Vian melarangnya.


"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir." Vian berusaha menenangkan Putri.


"Aku nggak percaya, siniin tangan kamu." Putri memaksa, akhirnya Vian memberikan tangannya dan ternyata, telapak tangan Vian terluka. Mungkin karena dia mencangkul terlalu bersemangat.


"Begini kamu bilang nggak apa-apa? Vian, kamu jangan ceroboh. Ini luka loh." Putri berusaha meniup tangan Vian.


"Ajak saja suamimu pulang, Put. Sebentar lagi bapak juga pulang." Parman mengambil keputusan, dirinya juga tidak tega melihat Vian yang telah berusaha untuknya.


"Kalau gitu aku ajak Vian pulang dulu ya, Pak. Tangannya terluka, takutnya nanti infeksi. Bapak cepet pulang." pesan Putri sebelum mengajak Vian pulang ke rumah mereka.


"Nanti aja pulangnya, Sayang. Nungguin bapak kasian." protes Vian.

__ADS_1


"Nggak. Pokoknya kamu pulang sama aku. Kamu mau ikut aku pulang atau aku akan nangis di sini?" ancam Putri manja.


"Iya, iya, aku ikut kamu pulang, deh."


__ADS_2