Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 42


__ADS_3

Sudah lewat jam makan malam, Vian di sibukkan dengan beberapa pekerjaan yang ia bawa ke rumah di ruang kerjanya yang letaknya bersebelahan dengan kamar mereka. Saat mengintip dari pintu yang sedikit


terbuka, Putri tergerak untuk membuatkan suaminya segelas minuman hangat.


“Apa aku boleh masuk?” tanyanya kemudian sambil membawa sebuah piring kecil dengan secangkir kopi di atasnya.


“Masuklah, Put. Tidak ada rahasia di dalam sini. “ Vian masih konsentrasi dengan pekerjaannya.


“Ini kopi untukmu, Vian. kalau begitu aku keluar sekarang.” Putri hendak melangkah pergi, namun di saat yang sama, Vian menahan tangannya.


“Bisa temani aku disini sebentar? Aku merasa bosan mengerjakan semuanya tanpa teman ngobrol.” Kalimat yang meluncur dari bibir Vian membuat Putri mengurungkan niatnya meninggalkan pria itu.


“Bukannya saat mengerjakan tugas butuh konsentrasi?”  tanya Putri setelah duduk tidak jauh dari Vian.


“Semenjak aku sering ngobrol berdua dengan kamu di kantor, aku lebih suka mengerjakan sesuatu berdua sama kamu.” ledek Vian sambil tersenyum manis ke arah Putri, membuat gadis itu tersipu malu.


“Ada saja ya, idenya Bos Vian godain sekertarisnya..”  Putri menimpali godaan Vian sambil meraih


satu buku yang menarik perhatiannya dari rak buku milik pria itu.


“Kalau di kantor, aku ini bosmu, tetapi kalau di rumah aku suamimu, jadi bedakan dong cara memperlakukan aku.” Vian mengedipkan sebelah matanya seolah memberikan kode sesuatu pada Putri.


“Sejak kapan seorang Vian jadi sosok yang genit seperti itu?” Putri  melirik Vian sekilas lalu


meneruskan kegiatannya membaca buku.  Ia tidak menyangka, orang serius seperti Vian ternyata menyukai novel romantis.


“Sejak mengenal kamu deh, kayaknya Put.” serunya di ikuti tawanya yang renyah.


“Mana ada... eh, iya, aku lupa, kamu kan buaya laut. Hmm... ternyata kamu suka baca novel romantis? Aku baru tahu, kamu pasti mencari inspirasi untuk menggoda mangsamu, iya kan? hayo ngaku..” Putri balik menggoda

__ADS_1


Vian dengan jahil.


“Kamu pikir, aku butuh trik dari buku seperti itu? Haha, kamu lucu sekali Putri. Kamu tidak tahu kekuatan uang? Hanya dengan sekali kedip, aku bisa menarik banyak wamita ke dalam pelukanku, kecuali kamu.” Vian


sengaa mengecilkan volume bicaranya di dua kata terakhir, hingga Putri hanya bisa mendengarnya samar.


“Apa? coba ulangi dua kata terakhirnya.” Tuntut Putri.


“Tidak ada siaran ulang.” Vian menulurkan lidahnya membuat Putri sedikit kesal dan memukul pelan bahu lelaki yang ada di dekatnya itu.


“Dasar kamu, pelit!” sungutnya sambil mengerucutkan bibirnya.


“Ada yang sedang kepo, nih.” Vian melirik Putri dengan jahil.


“Kalau nggak mau kasih tahu aku pergi aja, deh.”  Putri beranjak dari duduknya,  secara spontan Vian menarik Putri, hingga gadis itu duduk di pangkuannya. Pandangan mereka beradu, keduanya mematung sejenak.


Saat dekat dengan Putri seperti sekarang, selalu saja jantung Vian berdetak lebih cepat dari biasanya.  Dia tidak dpat memungkirinya, bahwa dirinya selalu menginginkan sebuah sentuhan bersana gadis itu.


Cup...


Vian mendaratkan kecupan manis di bibir Putri untuk kesekian kalinya.  Meskipun di bilang bodoh, Putri


tidak perduli, ia menikmati perlakuan Vian. daripada melawan, Putri lebih memilih untuk memejamkan kedua matanya dan membiarkan Vian melakukan apa yang dia mau, Putri percaya Vian tidak akan bertindak lebih dari itu.


“Hmmh...” Putri mendorong Vian menjauh saat ia merasa kesulitan bernafas.


“Putri...” Panggil Vian, sangat lembut. Kepalanya masih pusing karena hasratnya yang meninggi. Bagian tubuhnya pun ikut bereaksi karena kegiatan yang di lakukannya bersama Putri tadi.


“Apa? jangan bilang mau minta maaf, ujungnya juga pasti di ulangi lagi.”  Kata Putri sambil berusaha

__ADS_1


melepaskan diri dari pangkuan Vian, tetapi pria itu menahannya dalam rengkuhannya. Vian menginginkan Putri dalam pelukannya sebentar saja.


“Bukan, aku hanya ingin jujur padamu tentang perasaanku. Tapi sebelum aku mengakuinya, aku mohon, jangan hina aku, jangan anggap aku buruk, atau apapun yang ada di pikiranmu. Aku tidak bisa menahannya lagi.” Vian


mengumpulkan keberaniannya. Ia tidak perduli apapun respon Putri, bagaimana hubungannya dengan Vanessa berakhir, ia tidak bisa membiarkan dirinya menahan perasaan lebih lama lagi.


“Katakanlah, aku akan mendengarkanmu tanpa memberikanmu anggapan yang macam-macam.” ungkap Putri serius, ia juga sudah bisa menebak apa yang ingin di katakannya, mungkin Vian akan mengatakan padanya kalau apa yang baru saja terjadi di antara mereka berdua hanya karena terbawa suasana.


“Aku mencintaimu, Putri...” serasa hilang beban yang menimpa Vian saat mengucapkan kalimat itu pada Putri. Ia sudah siap jika karena perkataannya itu, Putri akan menampar wajahnya.


“Coba ulangi, aku ingin mendengarnya sekali lagi” Putri mengalungkan kedua tangannya pada leher Vian, menampakkan sisi manjanya.


“Aku mencintaimu, Putri.” Kali ini Vian mengatakannya dengan sangat dekat, ia yakin, sebenarnya Putri juga mendengar dengan jelas apa yang ia ucapkan beberapa saat yang lalu.


“Terima kasih atas kejujuranmu, Vian, sebenarnya aku juga memiliki perasaan yang sama padamu, tetapi aku tetap pada prinsipku, aku tidak akan mengencani seorang pria yang memiliki pasangan.”  Putri jujur dengan apa yang di ungkapkannya, ia memang mencintai Vian, tetapi ia tidak ingin menjadi penghancur hubungan


orang, meskipun sebenarnya saat ini Putri telah berada di posisi itu.


“Put, kamu adalah istriku, tidak bisakah kita mengakhiri hubungan pernikahan kontrak kita dan mulai menjalankan pernikahan yang sesungguhnya?” Vian memandang Putri dengan tatapan memelas, tetapi Putri menggeleng.


“Tidak, Vian. Selama kamu masih memiliki hubungan dengan Vanessa, hubungan kita tetap seperti ini. Kamu tidak bisa menjalin hubungan dengan banyak wanita, Vian. Jika memang kamu mencintaiku, maka kamu harus


melepaskan Vanessa, begitu pula sebaliknya, jika kamu masih mencintai Vanessa, maka lupakanlah aku.” Putri menghadiahkan sebuah kecupan singkat di pipi Vian sebelum akhirnya ia melepaskan diri dari dekapan pria itu.


“Tapi apa maksud semua perlakuanmu padaku, Put? Kenapa kamu tidak mau menjalani sebuah hubungan yang serius denganku?”  protes Vian, Putri yang tadinya ingin kembali ke kamar kembali berbalik ke arah Vian.


“Aku bukan tidak mau, Vian.  Aku mau, tetapi nanti, saat kamu sudah sendiri. Sudahlah, aku mau tidur


duluan, ngantuk.” Putri berbalik lagi, kali ini ia serius, gadis itu meninggalkan Vian di ruangannya dengan hati yang berbunga-bunga.

__ADS_1


Kalimat yang baru saja ia lontarkan adalah bentuk klarifikasi yang di lakukan oleh Vian, Putri menjawabnya dengan penuh kepastian, gadis itu menanti kesendiriannya. Vian akan segera membahas masalah


ini setelah Vanessa kembali dari Paris.


__ADS_2