
Karena syarat pertama dari Parman membuat Putri dan Vian tidak bisa tidur dengan baik, mereka bangun kesiangan. Sebenarnya Parman ingin menggedor pintu Putri tetapi Marni melarangnya. Sebagai seorang ibu, Marni
takut perlakuan Parman yang keterlaluan terhadap menantunya membuat Putri tidak betah tinggal lebih lama di rumah mereka, lalu memutuskan untuk kembali ke kota cepat-cepat.
Dengan alasan yang di kemukakan istrinya, Parman akhirnya luluh dan mau mengikuti saran istrinya. Dia jadi memiliki alasan untuk memberikan Vian pekerjaan baru. Sebenarnya dia sangat senang karena Putri mendapatkan suami orang kaya, tetapi bagaimana jika sewaktu-waktu menantunya mengalami kebangkrutan dan tidak
memiliki apa-apa lagi, apakah dia masih bisa di andalkan? Setidaknya Parman ingin mendidiknya menjadi sepertinya, seorang petani.
“Pak, ibu jadi sedikit curiga.” Kata Marni tiba-tiba saat mereka sedang sarapan.
“Ibu curiga apa? Vian orang jahat?” mata Parman terbelalak, perasaannya mendadak cemas.
“Bukan, Pak. Tetapi sepertinya semua uang yang Putri dapatkan untuk biaya pengobatan bapak, itu dari menantu kita, bukan hasil dari berhutang pada bosnya.” Marni mengutarakan pendapatnya, Parman berpikir sejenak
dan merasa apa yang di katakan oleh istrinya ada benarnya.
“Sepertinya begitu, Bu. Bapak jadi merasa berhutang budi pada menantu.” Parman tampak sedikit menyesal karena telah memberikan hukuman pada Vian terlalu berlebihan.
“Makanya, bapak jangan terlalu keras pada menantu, Pak. Kasihan dia, nanti kalau Putri jadi
sedih bagaimana? Kelihatannya anak kita juga sangat mencintainya.” Ucap Marni lembut, berharap hati Parman melunak.
“Tidak bisa begitu, Bu. Bukankah Ibu juga dengar semalam, kalau dia bersedia memenuhi permintaan bapak? Tenang saja, Bu, bapak tidak akan keterlaluan lagi.” Parman meneruskan makannya. Di pikirannya penuh dengan rasa bersalah, kalau bukan karena bantuan dari Vian, dia tidak akan sebaik sekarang.
“Selamat pagi, Pak, Mak, maaf Putri telat bangun, semalam Putri nggak bisa tidur.” Putri bergabung
ke ruang tamu, dimana orangtua dan adik-adiknya tengah sarapan.
“Pasti karena tidur terpisah dengan suamimu, kan? Maafkan bapakmu ya, Put. Memang sedikit keterlaluan.” Marni mewakili Parman untuk meminta maaf dari Putri.
“Tidak apa-apa, Mak. Vian juga baik-baik aja, kok. Semalam aku yang jemput dia, aku harap Bapak jangan marah sama dia.” Putri mengambil piring untuknya dan juga Vian.
“Nggak apa-apa, awalnya bapak mau marah, tapi ya sudahlah, semalam juga udaranya sangat dingin. Sekarang mana suamimu?” Parman menunjukkan sisi lembutnya dan membuat Putri merasa senang dengan ini.
“Vian cuci muka di belakang dan sepertinya sekarang sedang bicara sama Pak Bimo, karena beliau akan membawa mobil kami kembali ke kota.” Jelas Putri, seraya meletakkan piring yang sudah di isi makanan untuk Vian ke atas tikar yang menjadi alas duduk mereka.
__ADS_1
“Mobil Kak Vian bagus, Adit boleh naik sebentar nggak?” celetuk Adit tiba-tiba.
“Husst, Adit, jangan begitu.” Hardik Marni, dia merasa sungkan pada Vian.
“Tidak apa-apa, Bu. Vian orangnya baik, kok. Biar aku nanti bicara sama dia.”
Sambil sarapan, Putri mulai menceritakan tentang keluarga Vian, kepribadian Vian dan mengapa dia bisa jatuh cinta pada orang yang sebenarnya adalah bosnya itu. Putri juga memohon sekali lagi kepada kedua orangtuanya
untuk merestui pernikahannya dengan suaminya dan kedua orangtuanya menerima permintaan Putri.
Sebelum Bimo membawa mobil Vian kembali ke kota, Vian dan Putri mengajak seluruh anggota keluarganya jalan-jalan ke pasar dan memutari beberapa tempat. Mereka semua tampak bahagia, Vian merasa senang, setidaknya
dirinya berhasil membuat keluarga Putri menerima kehadirannya.
***
Karena bertepatan dengan hari libur, Adit pergi ke sebuah padang rumput yang agak jauh dari rumah mereka dengan membawa domba-dombanya. Penasaran bagaimana rasanya menggembala kambing, Vian pun memutuskan untuk mengikuti Adit sambil membawa satu ekor kambing dengan menarik tali yang
mengikat lehernya.
Sikap Vian yang terbuka dan mudah akrab dengan anak-anak, membuatnya cepat berbaur dengan Adit. Mereka membicarakan banyak hal, Vian juga menanyakan beberapa hal tentang Putri pada Adit. Sesuai dengan dugaannya, di mata Adit, Putri adalah kakak yang terbaik.
tersenyum, lalu mengusap rambut kusamnya berulang kali.
“Aku sudah memutuskan akan tinggal beberapa hari lagi di sini. Kenapa? Kamu masih merindukan Kak Putri, ya?” tanyanya kemudian, Adit mengangguk.
“Kak Putri sudah lama nggak pulang, jadi aku pengen Kak Vian jangan bawa Kak Putri pergi dulu. Meskipun Kakak sudah menikah dengan Kak Putri, Kakak tidak boleh melarang Kak Putri menemui kami.” Anak laki-laki itu
menunduk, ada titik-titik air yang membasahi rumput. Vian mendekati Adit, di rangkulnya bocah itu dengan hangat.
“Adit, kak Vian tidak pernah melarang kak Putri buat menemui kalian. Kak Putri juga sudah cerita ke kak Vian kalau dia hampir dua tahun tidak pulang, tapi saat itu, kak Vian belum kenal Kak Putri. Mulai sekarang,
kakak akan sering-sering pulang nengokin kalian. Nanti, kalau kakak sudah bisa belikan rumah baru buat bapak dan ibu, kalian semua akan kakak bawa ke kota.” Setidaknya itulah niat Vian, suatu hari dia ingin membawa keluarga Putri tinggal di kota tempatnya tinggal. Rumah yang mereka tempati sangat tidak layak, Vian merasa sangat sedih.
“Terima kasih, Kak. Aku senang Kak Putri punya suami sebaik Kakak. Kakak jaga kambing-kambingnya di sini ya, aku mau nyari rumput dulu, buat makan mereka di rumah.” Adit membawa karung dan peralatan untuknya merumput.
__ADS_1
“Jangan jauh-jauh, kalau butuh bantuan jangan sungkan untuk memanggil kakak.” Pesan Vian sebelum adit pergi, anak lelaki itu mengangguk dan tersenyum lalu meninggalkan Vian seorang diri. Pria itu menyandarkan tubuhnya
ke pohon beringin yang menaunginya. Menghirup udara dan menikmati angin sepoi-sepoi. Hal ini tidak dapat ia temukan saat berada di kota, sehari-hari hanya ada kesibukan yang merongrongnya.
Tanpa sadar ada dua orang gadis yang memperhatikan Vian dari kejauhan. Mereka berdua sangat mengagumi ketampanan Vian, kulit putihnya, semuanya menurut mereka begitu mempesona.
“Lihat deh, Nin. Ganteng banget cowok yng ada di sana. Kira-kira dia sudah punya pacar belum, ya? Gimana kalau kita ajak kenalan dia?” usul salah satu gadis itu.
“Nggak ah, Mut. Kamu aja sana, lagipula kita nggak tahu kan, darimana cowok itu, kalau ternyata dia orang jahat, gimana?”gadis yang di panggil dengan sebutan Nin itu pun menolak. Meskipun ia juga merasa penasaran,
tetapi ia tidak ingin gegabah.
“Mana ada orang jahat penampilannya sekeren itu, pakai kemeja, celana pendek, biasanya kalau orang ahat itu, serem, pakai topeng, setidaknya bertato. Kamu terlalu parnoan, udahlah, yuk, ini kesempatan langka.”
Mutia menarik tangan Nina untuk mendekati Vian. Dengan terpaksa, Nina mengikuti ajakan sahabatnya itu.
Vian melihat sekilas dua gadis yang melangkah ke arahnya kemudian mengabaikan mereka. Mungkin, mereka adalah warga desa yang juga menggembala kambing, sama dengan Adit, begitu pikir Vian. Dia mulai merasa aneh
saat kedua gadis itu mendekat ke arahnya.
“Hai, Kakak orang baru, ya?” sapa salah satu dari mereka.
“Ya, aku orang baru. Ada apa?” Vian berusaha ramah.
“Kenalin, Kak. Aku Mutia.” Gadis itu menjulurkan tangannya, mengajak Vian berjabat tangan, takut di kira sombong, Vian pun membalas jabat tangan dari Mutia.
“Vian.” katanya singkat.
“Kak Vian ganteng banget, seperti artis Korea. Kakak ke desa ini mau apa? Syuting ya? Apakah kakak artis? Kalau kakak butuh teman untuk menemani Kakak jalan-jalan, aku bisa kok, nemenin Kakak. Kalau Kakak butuh pacar, aku juga bisa kenalin Kakak ke temen-temen aku.” Cerocos Mutia tanpa memberi kesempatan Vian untuk bicara.
“Saya ke sini untuk mengunjungi mertua saya.” Kalimat Vian yang baru saja terucap dari bibirnya membuat Mutia terdiam membatu.
“Ma-maksudnya kakak sudah...,”
“Ya, aku sudah menikah. Maaf kalau membuatmu kecewa, tapi terima kasih kamu sudah sangat ramah.” Vian tertsenyum, dia tahu, ini membuat Mutia merasa malu, tetapi dia lebih baik mengatakan yang sebenarnya sebelum menjadi sebuah salah paham.
__ADS_1
“Aku yang seharusnya minta maaf, kalau begitu, aku pergi dulu ya, Kak.” Mutia meninggalkan Vian
seraya menarik tangan Nina, dia sangat malu dan menyesal tidak mendengarkan ucapan sahabatnya sendiri. Sementara Vian menggelengkan kepalanya heran, ada-ada saja tingkah para gadis saat melihatnya.