
Pagi harinya, di meja makan, Vian dan Putri saling diam dan sibuk dengan piringnya masing-masing. Nenek yang memperhatikan mereka berdua bertanya-tanya di dalam hatinya, ada apa dengan kedua cucunya itu? setelah
beberapa hari akrab semenjak pulang dari Paris mendadak mereka seperti saling menghindar satu sama lain.
“Apa kalian sedang bertengkar? Kamu memarahi Putri Vian?” tegur Nenek Dewi pada cucunya, seraya memandang cucu kesayangannya itu dengan tatapan menuntut penjelasan.
“Tidak, Nek. Aku tidak sedang bertengkar dengan Putri.” Memang bukan sebuah pertengkaran yang sedang terjadi di antara mereka berdua yang mengakibatkan mereka canggung seperti sekarang, tetapi peristiwa semalam,
sebuah ciuman dan pernyataan perasaan itu mengganggu perasaan keduanya.
“Tapi nenek melihat ada yang aneh dengan kalian berdua. Biasanya kalian berdua selalu berebut makanan akhir-akhir ini, melihat kalian kalem seperti ini menjadi pemandangan yang tidak biasa.” Nenek memprotes
sanggahan Vian, ia berkomentar sesuai dengan keadaan yang ada.
“Tapi kami berdua memang tidak sedang bertengkar, Nek.” Putri membantu Vian untuk mengklarifikasi dugaan nenek terhadap hubungan mereka berdua.
“Bagaimana nenekmu ini bisa percaya?” Nenek Dewi masih tidak mempercayai Putri dan Vian, mendadak Vian mengambil sayur yang ada di piring Putri dan memakannya dan begitupula dengan Putri, ia mengambil nasi yang ada di piring Vian dan melahapnya. Itu mereka lakukan untuk membuat nenek mereka percaya kalau hubungan mereka memang sedang baik-baik saja.
“Apakah sekarang nenek sudah percaya kalau aku dan Putri baik-baik saja?” tanya Vian kemudian, neneknya menanggapinya dengan senyuman tipis.
Meskipun mereka berdua tidak sedang bermusuhan, Nenek Dewi tetap merasa ada yang tidak beres di antara mereka berdua. Sejauh ini, nenek tidak bisa mendeteksinya.
“Jangan sampai kamu berani menyakiti Putri, atau nenek akan mengusirmu dari rumahku dengan tanganku sendiri.” Ancaman nenek membuat Vian merinding. Nenek Dewi memang kerap bercanda dengannya, tetapi kali ini, Vian yakin neneknya tidak sedang bercanda.
“Aku akan menjaganya dengan baik, Nek. Aku tidak akan menyakiti Putri apapun yang terjadi. Aku sudah sangat mencintainya.” entah mengapa kalimat yang di ucapkan Vian kali ini membuatnya tersenyum sumringah.
__ADS_1
Nenek bisa merasakan keseriusan dari perkataan Vian. Hati nenek melonjak gembira mengetahui cucu kesayangannya mulai jatuh cinta pada istri pilihannya.
“Bagus, nenek senang mendengarnya. Rasanya nenek seperti terbang ke atas awan.” Jawab neneknya asal. Sementara Putri sudah bisa di tebak, mendengar pernyataan Vian yang begitu tulus di hadapan neneknya membuat pipi gadis itu semerah tomat.
“Nenek sungguh berlebihan. Oh ya, aku mau ikut Putri pulang ke rumah orangtuanya minggu depan, bagaimana menurut Nenek?” Vian meminta pendapat neneknya sementara Putri justru merasa sedikit bingung, mereka memang pernah membicarakan ini sebelumnya, tetapi mereka belum membuat rencana dalam waktu dekat, bagaimana Vian bisa memutuskan itu seorang diri tanpa meminta persetujuan Putri?
“Itu bagus, aku baru saja ingin mengatakan itu padamu,bagus kamu sudah memikirkannya. Jangan lupa bawa hadiah untuk orangtua Putri. Berikan kesan yang baik dan jangan ragu untuk membantu pekerjaan mereka. Di sini kamu boleh saja seorang CEO muda yang punya banyak kaki tangan, tetapi di sana kamu
adalah seorang menantu, apa kamu mengerti?” nenek memberinya wejangan, tentu saja beliau akan melakukan itu, sebagai seorang renta yang sudah banyak makan asam garam, tentu saja nenek lebih
berpengalaman di bandingkan dengan Vian.
“Tentu saja, Nek. Cucumu ini tidak akan membuat keluarga kita. Aku akan menunjukkan sikap baikku kepada mereka berdua.” Vian seperti sedang berjanji kepada neneknya, Putri tersenyum mendengar perkataan Vian.
sederhana, aku bahkan tidak yakin kamu bisa memakannya.”cibir Putri. Sebagai anak manja seperti Vian, Putri tidak yakin suaminya itu akan mampu melewati segala kesusahan di daerah asalnya.
“Aku sudah memikirkannya, Put. Apa yang kamu suka, asalkan kamu menyukainya, aku akan menyukainya juga. Apa yang kamu dan keluargamu makan, aku juga aka memakannya. Kamu tidak perlu sungkan, bukankah kita berdua ini sudah menjadi keluarga?” tanya lelaki itu serius seraya memandang Putri lembut.
“Ehm, anggap saja nenek tidak ada di sini.” wanita tua itu merasa sedikit terabaikan karena adegan yang baru saja ia lihat. Meskipun, sebenarnya Nenek Dewi sangat senang melihat Vian yang mulai melemah di hadapan Putri.
“Ma-maaf.. Nek.” Putri meminta maaf dengan sopan.
“Kamu tidak perlu minta maaf, sungguh, nenek hanya bermaksud bercanda. Silahkan di lanjutkan, nenek masih ada sesuatu yang harus di kerjakan, nenek duluan, ya?” Nenek Dewi segera meninggalkan meja makannya. Semua yang ia lihat sudah sebagus ini, tidak mungkin nenek akan mundur, wanita itu akan terus maju dan mengawasi
perkembangan mereka berdua.
__ADS_1
“Kamu yakin mau membawaku pulang ke rumah orangtuaku seminggu lagi?” tanya Putri sedikit berbisik, takut nenek akan mendengar pembicaraan mereka.
“Memangnya aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?” Vian justru balik bertanya padanya.
“Kenapa kamu tiba-tiba bersemangat untuk bertemu kedua orangtuaku?” Putri merasa ia punya alasan untuk sedikit menaruh curiga pada suaminya.
“Itu karena aku ingin hubungan kita serius.” Jawaban Vian cukup membuat Putri tidak mampu berkata-kata.
“Vian, kamu tidak lupa , kan, kamu masih punya Vanessa?” pertanyaan itu memang pantas
Putri ajukan pada Vian saat ini.
“Vanessa memang pacarku, tetapi kamu adalah istriku. Aku sudah berulang kali bilang kalau kedukukan seorang istri lebih tinggi daripada pacar.” Vian bersikukuh untuk menjalani hubungan serius dengan Putri dan mengabaikan posisi Vanessa.
“Kenapa kamu tiba-tiba berbalik padaku, Vian? Kenapa?” terlepas dari benar atau tidaknya pertanyaannya, Putri perlu menanyakan hal ini pada Vian.
“Itu karena kamu membuat aku nyaman, kamu yang selalu tulus padaku, kamu juga tidak tergoda pada uangku. Itu yang membuat aku jatuh cinta padamu.” Vian mengemukakan alasannya jatuh hati pada Putri secara gamblang.
“Bukankan kita terhubung hanya karena uang? Bagaimana kamu begitu yakin aku tidak akan mengambil uangmu?” lagi-lagi Putri mengajukan pertanyaan yang seolah hanya untuk menyulitkan Vian.
“Jangan banyak beralasan lagi, Putri. Aku mohon, seriuslah denganku. Ayo kita jalani pernikahan ini dengan semestinya. Sebagai suami istiri yang sesungguhnya.” Vian menatap Putri dengan tatapan penuh harap dan itu
sukses membuat Putri pusing.
“Selesaikan dulu urusanmu dengan Vanessa, baru kita bahas tentang kita, Vian. bagaimanapun dia adalah cinta pertamamu, kamu tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Kamu juga harus meyakinkan hatimu kalau ini bukan sejenis pelarian yang kamu lakukan saat jauh darinya. Aku juga tidak ingin di anggap merebutmu dari pelukannya.” Putri tetap pada Prinsip awalnya, Vian sepertinya harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati Putri.
__ADS_1