Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 31


__ADS_3

“Bu...” seorang lelaki setengah baya dengan wajah pucat


keluar dari kamarnya mencari-cari istrinya, dia adalah Parman, Ayah Putri.


“Ada apa, Pak?” Marni tergopoh-gopoh menemui  suaminya. Ia baru saja dari dapur, menyiapkan


hidangan makan malam untuk keluarga mereka.


“Ibu dapat uang darimana untuk menebus obat bapak?


Uhuk...uhuk...”  pria itu duduk di dipan


bambu yang ada di dekat dapur di bantu oleh istrinya.


“Putri, Pak. Dia meminjam uang pada bosnya dan di kirimkan


pada ibu lewat Bagus.” Marni berkata jujur, darimana ia mendapatkan uang untuk


menebus obat suaminya sekaligus membayar uang sekolah Adit yang telah menunggak


beberapa bulan.


“Bu, kasihan Putri. Kita sebaiknya jangan terlalu


mengandalkan dia, jangan sampai kuliahnya terganggu karena harus bekerja keras


untuk membayar hutangnya untuk membantu kita.” Parman mengingatkan istrinya, ia


tidak ingin anak sulungnya mengalami kesulitan.


Parman sangat sedih, sebagai seorang suami dan ayah, ia


tidak bisa di andalkan. Karena penyakitnya, ia tidak mampu memberikan nafkah


untuk keluarga kecilnya. Dia merasa hanya menyusahkan saja selama ini. Sejak


awal masuk kuliah, Parman belum pernah mengirim uang untuk Putri, yang terjadi


justru sebaliknya. Ia sangat bersyukur memiliki Putri yang tidak banyak


menuntutnya, meski hidup mereka sangat kekurangan.


“Benar, Pak. Ibu juga berencana untuk memakai uang sisa


kiriman Putri untuk memulai usaha kecil-kecilan. Mungkin dengan berjualan


sesuatu. Bagaimana menurut bapak?”  Marni


meminta pendapat suaminya mengenai idenya untuk berjualan.


“Sepertinya itu ide yang cukup bagus,  dengan begitu, uang kiriman dari Putri  bisa berkembang dan kalau bisa ke depannya


jangan menyusahkan Putri lagi, bu.”  Paiman setuju dengan ide istrinya. Mereka memang harus meiliki sebuah


usaha, meskipun kecil-kecilan.


Jauh di lubuk hatinya, Parman sebenarnya sangat merindukan


anaknya. Telah lama Putri pergi dan belum pernah kembali. Ia bahkan merasa,


semua ini di sebabkan karena Putri yang harus selalu bekerja keras banting


tulang untuk keperluannya sekaligus keluarganya.


“Terima kasih, Pak, sudah mendukung Ibu. Nanti, Ibu akan


mencari ide, kira-kira usaha apa yang cocok untuk kita jalankan.”  Marni beranjak dari duduknya, ia meniup api


tungkunya yang mulai mengecil nyalanya.


“Mak.. masakannya udah mateng belum? Adit laper,

__ADS_1


Mak...”  Adit meyenderkan tubuhnya ke


tiang pintu menuju dapur.  Anak lelaki


itu tampak kelaparan.


“Sebentar lagi, Nak. Mak tinggal matengin nasi. Tunggu ya


Nak, jaga adikmu sebentar lagi, ya...” perintah Marni, yang berhasil membuat


Adit berjalan kembali ke ruang depan, tempat mereka akan makan bersama nanti.


Malam itu, Marni memasak tumis kangkung tanpa cabe, sambal,


dan tempe goreng. Makanan seperti itu sudah merupkan hal mewah yang mereka


temui, karena saat tidak memiliki uang, tak jarang mereka hanya makan dengan


lauk garam saja bahkan terkadang makan bubur yang nyaris cair karena tidak


memiliki beras yang cukup.


“Bu, coba katakan pada Putri, kalau bisa bulan ini dia


pulang dulu ke kampung, Bapak benar-benar kangen padanya, uhuk...uhuk...”


Parman telah terlalu lama menahan kerinsuan pada anak sulungnya itu. ia sangat


berharap Putri dapat segera kembali.


“Iya, Pak. Besok Ibu akan menelepon Putri lagi. Bapak jangan


banyak memikirkan Putri dulu, nanti sakit bapak makin parah, kasihan Putri,


Pak..” Marni menyarankan Parman untuk tetap Rileks, karena kesehatannya yang


memang belum stabil.


bertemu dengan Putri.” Parman merasa bersalah karena ia terlalu banyak berharap


hingga tanpa sadar memperburuk kesehatannya sendiri.


“Nasinya sudah matang, bapak tunggu di depan sama anak-anak.


Biar Ibu angkat dulu nasinya.” Marni mengangkat kukusan nasi dan menciduk


nasinya dan di masukkan ke sebuah bakul, wadah yang terbuat dari anyaman bambu.


Di bantu Adit yang di suruh oleh Parman, ibu dan anak itu


membawa keluar hidangan malam mereka. Setelah semuanya siap, mereka tida menunda


lagi untuk makan tidak terkecuali joko, anak Marni yang masih kelas dua SD dan


juga Tia, anaknya yang masih balita.


Di kota, hal seperti ini kerap di rindukan oleh Putri.


Meskipun keluarga mereka masuk kategori miskin, kebersamaan saat makan adalah hal


yang paling hangat yang ia lakukan bersama keluarga. Semuanya sedikit terobati


setelah menikah kontrak dan tinggal di rumah nenek.


“Masakan Mak memang paling enak,” Puji Adit, membuat Marni


tersenyum.


“Iya, Mas. Masakan Mak enak banget, aku boleh nambah nggak


Mak?” Joko ikut berkomentar.

__ADS_1


“Boleh dong, Nak. Ayo nambah semuanya. Kita harus bersyukur


pada Allah karena rezeki yang telah di berikan. Kita juga harus berterima kasih


pada Kak Putri yang sudah mengirim uang untuk makan kita hari ini. Ayo nambah


lagi, Tia mau lagi mamamnya?”  Marni juga


mencoba berinteraksi  dengan anaknya yang


masih balita, bocah itu hanya menggeleng, yang menandaakan ia tidak ingin makan


lagi.


“Mak, kapan Kak Putri pulang? Adit kangen Kak Putri...”  mata naka lelaki itu tampak berkaca-kaca,


Marni merasa iba melihatnya dan matanya ikut berair.


“Sabar ya, Nak. Nanti Kak Putrimu itu pasti pulang.


Rencananya, Mak akan nyuruh kakakmu pulang dulu. Bapak kalian juga kangen sama


Kak Putri.” Kalimat yang di ucapkan oleh Marni sontak membuat wajah Adit


berubah ceria.


“Hore..! Kak Putri bakalan pulang, aku mau belajar di temani


Kak Putri!” Adit yang sedang makan, mendadak berdiri dan menari tidak


jelas,  membuat semua yang ada di dalam


ruangan tertawa.


“Sudah-sudah, makan dulu.  Kamu ini, kalau jauh dari kakakmu bilangnya kangen. Nanti kalau kakakmu


di rumah, pasti ada saja yang di ributkan.” protes Parman yang  sudah hapal dengan tabiat anaknya.


“Biarkan saja to, Pak. Namanya juga anak-anak.  Ibu juga tidak sabar untuk melihat Putri, dia


makin cantik apa jadi kucel karena kebanyakan kerja, ya Pak?” Marni menerawang


jauh, sebagai seorang ibu, ia juga sangat merindukan anaknya, hanya saja ia


berusaha menjadi tegar di depan anggota keluarganya.


“Bagaimanapun, Putri pasti akan tetap cantik, secantik


ibunya.” Goda Parman, membuat Marni tersipu.


“Bapak bisa saja, ayo di lanjut makannya..”  wanita itu sengaa mengalihkan pembicaraan


mereka. Parman hanya memandangi lalu melanjutkan acara makannya.


“Bu, nanti kalau kesehatan bapak membaik, bapak mau cari kerja,


biar bisa bantu ibu.” Sejatinya, Parman tidak tega melihat istrinya harus


bekerja menjadi tukang cuci dari rumah ke rumah setiap hari. Ia juga ingin


dapat memberikan nafkah untuk keluarganya.


“Bapak tidak usah memikirkan bekerja. Ibu masih sanggup bekerja


untuk kebutuhan kita, meskipun hanya cukup. Terpenting saat ini Bapak sehat


dulu. Nanti setelah benar-benar sehat, baru memikirkan untuk mencari pekerjaan.”


Marni menampilkan senyum manisnya yang membuat Parman merasa tenang. Dia adalah


wanita terbaik yang pernah hadir di dalam kehidupannnya.

__ADS_1


__ADS_2