
“Bu...” seorang lelaki setengah baya dengan wajah pucat
keluar dari kamarnya mencari-cari istrinya, dia adalah Parman, Ayah Putri.
“Ada apa, Pak?” Marni tergopoh-gopoh menemui suaminya. Ia baru saja dari dapur, menyiapkan
hidangan makan malam untuk keluarga mereka.
“Ibu dapat uang darimana untuk menebus obat bapak?
Uhuk...uhuk...” pria itu duduk di dipan
bambu yang ada di dekat dapur di bantu oleh istrinya.
“Putri, Pak. Dia meminjam uang pada bosnya dan di kirimkan
pada ibu lewat Bagus.” Marni berkata jujur, darimana ia mendapatkan uang untuk
menebus obat suaminya sekaligus membayar uang sekolah Adit yang telah menunggak
beberapa bulan.
“Bu, kasihan Putri. Kita sebaiknya jangan terlalu
mengandalkan dia, jangan sampai kuliahnya terganggu karena harus bekerja keras
untuk membayar hutangnya untuk membantu kita.” Parman mengingatkan istrinya, ia
tidak ingin anak sulungnya mengalami kesulitan.
Parman sangat sedih, sebagai seorang suami dan ayah, ia
tidak bisa di andalkan. Karena penyakitnya, ia tidak mampu memberikan nafkah
untuk keluarga kecilnya. Dia merasa hanya menyusahkan saja selama ini. Sejak
awal masuk kuliah, Parman belum pernah mengirim uang untuk Putri, yang terjadi
justru sebaliknya. Ia sangat bersyukur memiliki Putri yang tidak banyak
menuntutnya, meski hidup mereka sangat kekurangan.
“Benar, Pak. Ibu juga berencana untuk memakai uang sisa
kiriman Putri untuk memulai usaha kecil-kecilan. Mungkin dengan berjualan
sesuatu. Bagaimana menurut bapak?” Marni
meminta pendapat suaminya mengenai idenya untuk berjualan.
“Sepertinya itu ide yang cukup bagus, dengan begitu, uang kiriman dari Putri bisa berkembang dan kalau bisa ke depannya
jangan menyusahkan Putri lagi, bu.” Paiman setuju dengan ide istrinya. Mereka memang harus meiliki sebuah
usaha, meskipun kecil-kecilan.
Jauh di lubuk hatinya, Parman sebenarnya sangat merindukan
anaknya. Telah lama Putri pergi dan belum pernah kembali. Ia bahkan merasa,
semua ini di sebabkan karena Putri yang harus selalu bekerja keras banting
tulang untuk keperluannya sekaligus keluarganya.
“Terima kasih, Pak, sudah mendukung Ibu. Nanti, Ibu akan
mencari ide, kira-kira usaha apa yang cocok untuk kita jalankan.” Marni beranjak dari duduknya, ia meniup api
tungkunya yang mulai mengecil nyalanya.
“Mak.. masakannya udah mateng belum? Adit laper,
__ADS_1
Mak...” Adit meyenderkan tubuhnya ke
tiang pintu menuju dapur. Anak lelaki
itu tampak kelaparan.
“Sebentar lagi, Nak. Mak tinggal matengin nasi. Tunggu ya
Nak, jaga adikmu sebentar lagi, ya...” perintah Marni, yang berhasil membuat
Adit berjalan kembali ke ruang depan, tempat mereka akan makan bersama nanti.
Malam itu, Marni memasak tumis kangkung tanpa cabe, sambal,
dan tempe goreng. Makanan seperti itu sudah merupkan hal mewah yang mereka
temui, karena saat tidak memiliki uang, tak jarang mereka hanya makan dengan
lauk garam saja bahkan terkadang makan bubur yang nyaris cair karena tidak
memiliki beras yang cukup.
“Bu, coba katakan pada Putri, kalau bisa bulan ini dia
pulang dulu ke kampung, Bapak benar-benar kangen padanya, uhuk...uhuk...”
Parman telah terlalu lama menahan kerinsuan pada anak sulungnya itu. ia sangat
berharap Putri dapat segera kembali.
“Iya, Pak. Besok Ibu akan menelepon Putri lagi. Bapak jangan
banyak memikirkan Putri dulu, nanti sakit bapak makin parah, kasihan Putri,
Pak..” Marni menyarankan Parman untuk tetap Rileks, karena kesehatannya yang
memang belum stabil.
bertemu dengan Putri.” Parman merasa bersalah karena ia terlalu banyak berharap
hingga tanpa sadar memperburuk kesehatannya sendiri.
“Nasinya sudah matang, bapak tunggu di depan sama anak-anak.
Biar Ibu angkat dulu nasinya.” Marni mengangkat kukusan nasi dan menciduk
nasinya dan di masukkan ke sebuah bakul, wadah yang terbuat dari anyaman bambu.
Di bantu Adit yang di suruh oleh Parman, ibu dan anak itu
membawa keluar hidangan malam mereka. Setelah semuanya siap, mereka tida menunda
lagi untuk makan tidak terkecuali joko, anak Marni yang masih kelas dua SD dan
juga Tia, anaknya yang masih balita.
Di kota, hal seperti ini kerap di rindukan oleh Putri.
Meskipun keluarga mereka masuk kategori miskin, kebersamaan saat makan adalah hal
yang paling hangat yang ia lakukan bersama keluarga. Semuanya sedikit terobati
setelah menikah kontrak dan tinggal di rumah nenek.
“Masakan Mak memang paling enak,” Puji Adit, membuat Marni
tersenyum.
“Iya, Mas. Masakan Mak enak banget, aku boleh nambah nggak
Mak?” Joko ikut berkomentar.
__ADS_1
“Boleh dong, Nak. Ayo nambah semuanya. Kita harus bersyukur
pada Allah karena rezeki yang telah di berikan. Kita juga harus berterima kasih
pada Kak Putri yang sudah mengirim uang untuk makan kita hari ini. Ayo nambah
lagi, Tia mau lagi mamamnya?” Marni juga
mencoba berinteraksi dengan anaknya yang
masih balita, bocah itu hanya menggeleng, yang menandaakan ia tidak ingin makan
lagi.
“Mak, kapan Kak Putri pulang? Adit kangen Kak Putri...” mata naka lelaki itu tampak berkaca-kaca,
Marni merasa iba melihatnya dan matanya ikut berair.
“Sabar ya, Nak. Nanti Kak Putrimu itu pasti pulang.
Rencananya, Mak akan nyuruh kakakmu pulang dulu. Bapak kalian juga kangen sama
Kak Putri.” Kalimat yang di ucapkan oleh Marni sontak membuat wajah Adit
berubah ceria.
“Hore..! Kak Putri bakalan pulang, aku mau belajar di temani
Kak Putri!” Adit yang sedang makan, mendadak berdiri dan menari tidak
jelas, membuat semua yang ada di dalam
ruangan tertawa.
“Sudah-sudah, makan dulu. Kamu ini, kalau jauh dari kakakmu bilangnya kangen. Nanti kalau kakakmu
di rumah, pasti ada saja yang di ributkan.” protes Parman yang sudah hapal dengan tabiat anaknya.
“Biarkan saja to, Pak. Namanya juga anak-anak. Ibu juga tidak sabar untuk melihat Putri, dia
makin cantik apa jadi kucel karena kebanyakan kerja, ya Pak?” Marni menerawang
jauh, sebagai seorang ibu, ia juga sangat merindukan anaknya, hanya saja ia
berusaha menjadi tegar di depan anggota keluarganya.
“Bagaimanapun, Putri pasti akan tetap cantik, secantik
ibunya.” Goda Parman, membuat Marni tersipu.
“Bapak bisa saja, ayo di lanjut makannya..” wanita itu sengaa mengalihkan pembicaraan
mereka. Parman hanya memandangi lalu melanjutkan acara makannya.
“Bu, nanti kalau kesehatan bapak membaik, bapak mau cari kerja,
biar bisa bantu ibu.” Sejatinya, Parman tidak tega melihat istrinya harus
bekerja menjadi tukang cuci dari rumah ke rumah setiap hari. Ia juga ingin
dapat memberikan nafkah untuk keluarganya.
“Bapak tidak usah memikirkan bekerja. Ibu masih sanggup bekerja
untuk kebutuhan kita, meskipun hanya cukup. Terpenting saat ini Bapak sehat
dulu. Nanti setelah benar-benar sehat, baru memikirkan untuk mencari pekerjaan.”
Marni menampilkan senyum manisnya yang membuat Parman merasa tenang. Dia adalah
wanita terbaik yang pernah hadir di dalam kehidupannnya.
__ADS_1