Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 33


__ADS_3

Saat terbangun dari tidurnya, Putri masih terlelap. Tangan


gadis itu memeluknya erat, hangat tubuhnya seakan tersalur sehingga meski tanpa


selimut, Vian tidak merasa kedinginan. Vian teringat kembali jawaban


pertanyaannya semalam. Meskipun berkata tidak, pria itu tahu, apa yang


sebenarnya ada di dalam hati Putri.


Vian bukanlah orang baru dalam hal mengenal wanita. Ia sudah


merasakan hawa ketertarikan dari Putri. Hanya saja, gadis itu tidak akan mau


bersaing dengan Vanessa. Perasaan Vian sendiri juga kurang lebih sama dengan


Putri, tetapi untuk saat ini ia juga tidak bisa meninggalkan Vanessa begitu


saja, apalagi gadis itu adalah cinta pertamanya.


Pria itu memiringkan badannya agar ia dapat memandang wajah


Putri dengan jelas. Mata pandanya terlihat jelas, sepertinya semalam gadis itu


mengalami susah tidur. Tidur Putri sangat pulas, bahkan ia tidak bergeming saat


Vian menggeser letak  tangannya.


Perlahan, Vian menjulurkan tangannya dan menyentuh pipi lembut gadis itu. ia


mendekatkan wajahnya dan mengecup sekilas kening Putri.


“Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu, Put. Meskipun


aku sadar, akulah duri itu. Aku janji, tidak akan lagi membuatmu kesal atau


marah, aku akan menyayangimu, meskipun aku mungkin tidak bisa menjadi seseorang


yang kamu harapkan. Maafkan aku.” Bisik Vian dengan sangat pelan.


Dengan sangat hati-hati, Vian turun dari ranjang,


membersihkan diri seperlunya lalu keluar dari kamar, lalu kembali lagi setelah


beberapa saat sambil membawa makanan dan Putri masih tidur dengan pulas. Vian


menuliskan sebuah pesan dan meletakkannya tidak auh dari makanan yang ia bawa


dan di taruh di atas nakas.


Sebelum pergi, Vian masih menyempatkan diri mengelus rambut


Putri pelan. Entah mengapa perasaannya menjadi lemah di depan wanita itu.


Mungkin, kebersamaan mereka selama ini telah membuat hati Vian bergeser sedikit


pada Putri. Di bandingkan dengan perasaannya kepada Vanessa, Tya dan juga


Viona, perasaan yang ia rasakan terhadap Putri benar-benar berbeda.


Sebelum kembali ke kamarnya, Vian terlebih dulu mendatangi


kamar Vanessa. Setelah mengetuknya berulang kali, kekasihnya itu tak kunjung


keluar. Vian memutuskan untuk menunggu, barangkali wanita itu tengah pergi


membeli makanan untuk sarapan.


Vian menunggu cukup lama untuk bertemu dengan Vanessa,

__ADS_1


hingga akhirnya wanita itu kembali ke kamarnya. Masih dengan pakaian yang sama


dengan yang ia gunakan semalam. Saat melihat Vian, wajahnya tampak sedikit


terkejut, tetapi ia  berusaha bersikap


seolah semuanya baik-baik saja.


“Darimana?” tanya Vian dengan sikap dingin. Ia dapat


menghirup bau alkohol yang sedikit menyengat dari pakaian yang di kenakan


kekasihnya.


“Hanya sedikit bersenang-senang.” Jawab Vanessa singkat.


Wanita itu membenarkan letak tali tasnya yang akan melorot lalu membuka pintu


kamarnya.


“Dengan laki-laki lain?” Vian mulai mencecar pertanyaan demi


pertanyaan pada Vanessa.


“Jadi kamu menuduhku? Apa kamu punya bukti?”  Vanessa cuek,  ia melenggangka kakinya dan masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Vian.


“Aku bukan menuduh, hanya bertanya. Apa itu salah? Mengapa


kamu menanggapinya dengan begitu serius? Atau jangan-jangan kamu memang benar,


bermain api di belakangku?” Vian mulai menaruh kecurigaan terhadap Vanessa.


Sementara, wanita itu sedang memutar otak, harus berbicara apa lagi untuk


menghilangkan jejak kecurigaan Vian.


“Sayang, kamu kenapa? Dari semalam kamu selalu marah-marah


bergelayut manja pada Vian. Ia memeluk pria itu erat-erat, hingga hidungnya


dapat mencium bau parfum yang tidak seperti biasa dari baju kekasihnya.


“Kamu ganti parfum?” Vanessa menatap Vian dengan tatapan


penuh kecurigaan. Vian seketika flashback  apa yang terjadi padanya dan Putri semalam, dengan pelukan erat gadis


itu, wajar saja jika bau parfumnya  melekat di bajunya.


“Ini bukan parfumku, tapi... parfum Putri.” Vian mengatakan


pa adanya, wangi parfum yang melekat memang milik wanita itu.


“Parfum Putri? Bagaimana bisa bau parfum wanita itu ada di


bajumu? Jangan-jangan kalian...” Vanessa mulai menduga-duga apa yang terjadi


antara Vian dan Putri. Meskipun sebenarnya ia juga paham, orang seperti apa


Vian itu.


“Apa aku harus menjawabnya untukmu? Jangan coba mengalihkan


pembicaraan.”  Vian melepaskan dirinya


dan memillih merebahkan dirinya ke atas ranjang. Ia mendengus kesal karena


Vanessa balik memojokkannya.


“Kamu sekarang banyak menutupi sesuatu dariku, sebenarnya

__ADS_1


aku ini siapamu? Vian, kamu sungguh membuatku frustasi...”  Vanessa duduk di samping Vian, menaruh tas


kecilnya tak jauh dari tempatnya berada.  Ia meraup mukanya sendiri, berusaha terlihat sedih dan tak berdaya di


hadapan Vian.


“Bagaimana denganmu? Apa kau sudah jujur padaku?” Vian


bangkit dari tidurnya dan duduk di samping wanita yang merupakan kekasihnya


itu. seolah kepercayaannya telah luntur, Vian menaruh curiga terhadap Vanessa.


Entah mengapa, ia merasa perkataan Vanessa  bukan yang sebenarnya terjadi.


“Aku harus apa supaya kamu mempercayaiku, Vian?”  Vanessa benar-benar frustasi karena Vian


sekarang lebih peka di bandingkan biasanya.  Dulu, saat mereka terlibat konflik biasanya Vian akan mengalah, tetapi


kali ini ia sulit untuk mempercayainya.


“Tatap aku dan jawab dengan jujur, darimana kamu dan dengan


siapa kamu semalam setelah bersamaku?”  Vian memegang erat kedua bahu kekasihnya itu, sementara Vanessa tampak


sangat ragu untuk melakukan kontak mata dengan Vian. Tentu saja Vanessa takut


kalau Vian mengetahui kebohongannya. Kali ini ia kembali memutar otak untuk


tetap mendapatkan kepercayaan Vian atau setidaknya mencari celah agar dapat


bebas dari tuduhannya yang sebenarnya adalah fakta.


“Ka-kamu meragukan aku? Kamu tidak mempercayaiku lagi? Sudahlah,


keluar dari kamarku. Aku tidak perduli kamu percaya atau tidak padaku, cepat


keluar!” Vanessa mengeraskan volume suaranya di dua kata terakhir kalimat yang


di ucapkannya sambil menunjuk ke arah pintu kamarnya yang terbuka.


“Oke, oke aku keluar. Nggak perlu ngebentak aku, tapi ingat,


kalau terbukti kamu bermain api di belakangku, hubungan kita selesai secara


otomatis.” Vanessa melangkahkan kakinya keluar dari kamar Vanessa, membawa


hatinya yang kecewa dengan wajah yang kusut. Di saat seperti itu, di pikirannya


justru timbul bayangan-bayangan Putri, membuat lelaki itu semakin bimbang.


“Terserah.” Ujar Vanessa sambil mengekori Vian, lalu ia


menutup pintunya cukup kencang setelah prianya itu benar-benar berada di luar.


Vian kembali ke kamarnya dengan penampilan yang tidak


menggambarkan dirinya seperti biasa. Kemeja putihnya lusuh, wajahnya yang


begitu kacau, di tambah langkahnya yang gontai dan tidak bersemangat.  Mungkin jika saat ini karyawan di kantornya


ada yang melihat, mereka tidak akan percaya kalau itu Vian.


Seperti sebuah styrofoam yang jatuh ke dalam air, begitulah


perasaannya terhadap Vanessa, mengambang. Setelah mencintai perempuan itu


selama bertahun-tahun lamanya,  baru


sekarang ia merasa bahwa perasaan wanita itu tidak tulus padanya. Ada apa

__ADS_1


dengan Vian? apakah ini semua karena kehadiran Putri? Atau karena sikap Putri


yang mulai lembut padanya? Entahlah, Vian tidak dapat mengartikannya.


__ADS_2