
Putri menikmati sekaleng minuman soda di balkon. Sejak pulang dari kampus, kondisi hatinya tidak baik. Gadis itu menatap foto Raihan yang masih ada di ponselnya, foto berdua saat ulang tahun Raihan . Kenangan
indah itu tanpa terasa telah berlalu, kini Raihan sudah menjadi calon suami orang.
Gadis itu mencoba untuk tersenyum, menelan semua rasa pahit
yang tengah ia rasakan. Semua kenangan manis antara dirinya dan Raihan kembali
membayangi ingatannya. Semua yang terjadi saat ini seperti tamparan yang sangat
keras untuknya, bukan pipi yang sakit, tetapi hatinya.
Cairan bening itu kembali lolos dari mata indah Putri. Gadis
itu kembali terisak, sungguh ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa
dirinya harus melepaskan Raihan untuk wanita lain. Ingin rasanya Putri
berteriak melepaskan semua beban yang ada di dalam hatinya.
Cinta pertamanya telah menguap begitu saja tanpa sisa di
udara, yang tersisa hanyalah luka dan air mata. Putri telah berusaha sekuat
tenaga untuk tidak menangis, tetapi kenyataannya ia tidak bisa menahan lukanya
saat ini, sebuah kebohongan besar saat ia mengatakan ia baik-baik saja.
“Kenapa kamu tidak menjawab teleponku? Padahal aku hari ini
pulang cepat dan berniat menjemputmu...” Vian yang baru saja pulang berbicara
pada Putri sambil membuka ikatan dasi yang melingkar di lehernya tanpa melihat
keadaan Putri sekarang. Vian hanya melihat Putri yang tengah bersantai di
balkon membelakanginya.
__ADS_1
Gadis itu tidak mendengar sedikitpun perkataan Vian, hingga membuat pria itu mendatanginya. Tanpa aba-aba, Vian membalikkan tubuh Putri dan mendapati istrinya tengah berderaian air mata.
“Ada apa? kenapa kamu menangis? Katakan padaku.” Vian memegang kedua bahu Putri dan menatap wajahnya, meskipun gadis itu berusaha menghindari kontak mata dengannya. Pertanyaan Vian membuat wanita itu semakin
trenyuh dan memutuskan untuk tenggelam dalam dekapan dada bidang pria itu. Putri menangis sejadi-jadinya dan menjadikan dada Vian sebagai peredam suara tangisannya.
Putri mendekap tubuh Vian erat, mungkin saat ini hanya lelaki itu tempatnya bersandar dan melampiaskan kepedihan yang ia rasakan. Vian memilih tidak bicara lagi dan membiarkan Putri melepaskan semua kesedihannya.
Ia mengelus puncak kepala gadis itu perlahan untuk menenangkannya.
Melihat gadis yang biasanya ceria dalam keadaan berantakan seperti sekarang membuat Vian bertanya-tanya, apa yang membuatnya hingga sesedih ini. Vian ingin membuat senyum gadis itu kembali, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya.
Perlahan, Vian membawa Putri masuk ke dalam kamar mereka, merebahkan gadis itu di ranjang tanpa
melepas pelukan mereka. Putri masih mendekap Vian erat dan tangisannya belum
berakhir. Ingin rasanya Vian membalas siapa yang telah menyakiti perasaan
Putri, dia tidak bisa menerima keadaan Putri yang kesakitan seperti sekarang.
Gadis itu bisa mendengar detak jantung Vian yang teratur.
“Ceritakan semuanya, aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu.” Sahut Vian lembut, ia pun tidak membuat jarak sedikitpun dengan Putri. Saat ini gadis itu membutuhkan dukungan darinya.
“Ini tentang Raihan, Vian. Cowok yang aku sukai itu, dia di jodohkan oleh orangtuanya. Dia pernah memintaku untuk menjaga hatiku untuknya, tetapi kenyataannya dia meninggalkanku. Apakah aku terlalu buruk untuk di
cintai? Bahkan, dia tidak mempertahankan aku sedikitpun.” Curhat Putri dengan suara parau karena
terlalu banyak menangis.
“Put, kamu tahu, kita tidak pernah tahu di mana jodoh kita berada. Manusia hanya bisa berencana, tetapi tetap tangan Tuhanlah yang bisa mengabulkannya. Menghabiskan waktu sangat lama dan berjanji setia, belum
tentu dia jodohmu. Sebaliknya, pertemuan singkat tidak menutup kemungkinan bahwa dia adalah seseorang yang tepat, pemberian langsung dari Tuhan untukmu. Jangan berkecil hati, kamu cantik, kamu juga gadis yang baik, suatu hati, akan ada lelaki yang baik pula yang akan menjadi pendampingmu.” Vian mendadak menjadi sok bijak, ia berusaha menguatkan Putri, meskipun dia yakin, mungkin saat dirinya berada di posisi Putri, ia akan
lebih hancur di bandingkan gadis itu.
“Kamu benar, Vian. Aku juga ingin sekuat itu, tapi rasanya kehilangan untuk pertama kali ternyata sangat menyakitkan.” Curhatnya lagi, Putri masih enggan melepaskan Vian, setidaknya memeluk lelaki itu sudah benar ia lakukan, bagaimanapun, Vian adalah suaminya. Orang yang halal untuk dia sentuh. Terlebih lagi, Vian
__ADS_1
membiarkan gadis itu menempel padanya.
“Kalau begitu, kamu belum terlatih untuk patah hati. Kamu harus belajar banyak dari aku. Begini-begini
aku sudah cukup berpengalaman dalam hal percintaan.” Vian membual, berharap Putri terhibur dengan bualannya.
“Kamu kan buaya laut, sudah pasti berpengalaman dalam hal seperti itu. “cibir Putri, Vian tersenyum mendengar gadis itu sudah bisa mengejeknya. Baginya, itu adalah pertanda perasaan Putri sudah lebih baik di
bandingkan tadi.
“Untuk kali ini aku suka kamu menyebutku buaya laut, berarti kondisi hatimu sudah lebih baik, kelinci imutku.” Vian menarik kedua pipi Putri dengan gemas.
“Apaan sih, sakit tau..” Putri memegangi kedua pipinya setelah tangan Vian di singkirkan.
“Maaf...maaf... aku kelepasan.” Vian beralasan, padahal satu-satunya alasan yang dia punya adalah ia sangat gemas melihat pipi Putri yang mulus, awalnya ia ingin menghadiahkan ciuman, tetapi untuk menghindari prasangka Putri yang menganggapnya sebagai pria yang memanfaatkan keadaan, ia lebih memilih
memberikan cubitan padanya.
“Vian, terima kasih... kamu sudah menenangkan aku. Rasanya, perasaanku sudah jauh lebih baik.” Putri
sedikit mendongak agar bisa dapat memandang wajah Vian dengan baik tanpa melepas dekapannya pada pria itu. sehari ini saja, Putri ingin memiliki Vian.
“Jangan sungkan, aku tidak mungkin akan membiarkanmu terpuruk seperti tadi. Kamu harus tahu, wajah cantikmu hilang kalau kamu bersedih seperti tadi. Mulai sekarang, kamu harus selalu tersenyum.” Kalimat yang Vian ucapkan tampak seperti sihir bagi Putri. Gadis itu terpana saat Vian mengatakan itu semua. Seolah seperti melihat bunga merekah di tengah gunung pasir yang tandus.
“Vian..”panggil Putri pelan, sangat pelan, tetapi Vian dapat mendengarkan dengan baik.
“Ya... ada apa?” Vian tampak serius menanggapi panggilan Putri, pasalnya Putri baru sekali ini memanggil Vian lembut dan penuh perasaan.
“Aku boleh kan, tetap berada dalam posisi ini sebentar lagi?” Putri menatap Vian seakan memohon agar pria itu membiarkannya memeluknya lebih lama lagi.
Vian mengelus rambut Putri lembut, kali ini Vian tidak dpat menahan gejolak yang timbul dari dalam jiwanya, ia menarik kepala Putri perlahan dan menghadiahi kecupan panjang di bibir wanita itu, awalnya Putri
terbelalak dan mendorong Vian, tetapi akhirnya ia pasrah dan memejamkan matanya.
“Peluk aku selama yang kamu mau, jika itu membuatmu lebih baik,aku tidak akan keberatan.” Kata Vian kemudian, setelah melepaskan ciumannya, sementara Putri masih terpejam. Untuk kesekian kalinya, ia dan Vian
bersentuhan bibir, dia tahu ini salah, tetapi ia tidak menyesal melakukannya.
__ADS_1