Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 55


__ADS_3

“Apa? Suami?!” seru Parman dan Marni hampir bersamaan.


Mereka berdua saling berpandangan, selama ini Putri selalu meminta izin kepada mereka untuk mengambil keputusan, tetapi sekarang, untuk hal sebesar ini, Putri tidak membicarakan terlebih dahulu kepada mereka sebagai


orangtuanya.


Sekarang Parman dan Marni menatap Vian dan Putri secara bergantian. Mereka tampak sangat kesal dan membutuhkan penjelasan dari semua ini. Seketiga suasana yang mulai mencair pun kembali menegang.  Membuat Vian menelan salivanya sndiri, jantungnya terasa akan copot dari tempatnya. Tubuhnya terasa panas dingin,


menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Kenapa kalian tiba-tiba menikah tanpa meminta restu kepada kami terlebih dahulu? Kalian tidak menganggap kami sebagai orangtua?” Parman menatap Putri dan Vian tajam. Sebagai seorang ayah, dia cukup kecewa karena


tidak menjadi wali di pernikahan anaknya sendiri.


Putri menangis, dia tahu, apa yang dia lakukan salah. Selama ini dia selalu meminta pendapat kedua orangtuanya. Meskipun sebenarnya semuanya bukan karena di sengaja. Awalnya, Putri dan Vian menikah hanya untuk keperluan kontrak, bukan untuk di jalani dengan serius seperti mereka. Putri bersimpuh di


hadapan kedua orangtuanya dengan air mata yang masih terus mengalir.


“Pak, Mak, Putri memang bersalah, Putri sudah menikah tanpa meminta restu kepada kalian berdua, tetapi kami mempunyai alasan tersendiri untuk itu. Putri ingin, Emak dan Bapak mau merestui pernikahan kami.” Putri


memohon pada kedua orangtuanya untuk merestui pernikahannya dengan Vian.


“Tidak semudah itu. jika memang benar dia mencintai dan menyayangimu, dia harus menjalani tes uji kelayakan  sebagai menantu bapak. Kalau dia tidak mau, jangan harap bapak akan menerimanya sebagai menantu.” Ujar Parman sambil menatap sinis kepada Vian.


“Saya siap melakukan apapun perintah Bapak, saya akan memenuhi semua persyaratan agar mendapatkan restu dari Bapak. “ ungkap Vian dengan bersungguh-sungguh. Dia akan membuktikan pada Putri kalau dirinya bisa


menjadi suami terbaik.


“Bagus. Tantangan pertama yang harus kamu lakukan adalah, tidur di ruang tamu. Biarkan Putri tidur di kamarnya dengan nyaman. Apakah kamu sanggup?” tanya Parman. Vian melihat ke sekeliling terlebih dahulu, keadaan

__ADS_1


rumah Putri memang sangat sederhana, lantainya yang masih tanah hanya beralaskan tikar untuk mereka duduk. Di pojok ruangan ada sebuah kasur tipis yang usang, mungkin di sana dirinya harus tidur. Membayangkannya saja membuat Vian merinding, tetapi dia tidak punya pilihan. Dia harus melakukan itu, untuk Putri.


“Baik, Pak. Saya akan melakukan apa yang bapak minta.” Jawabnya sopan.


“Lalu siapa bapak ini?” Marni menanyakan tentang Bimo.


“Dia adalah Asisten Pribadi keluarga Vian, mak.” jawab Putri singkat, Marni manggut-manggut dengan tatapan kagum.


“Pak, kasihan Nak Vian, cuaca akhir-akhir ini tidak menentu. Dia akan membeku jika harus tidur sendirian di ruang tamu.” Marni tidak tega kepada Vian. Udara malam memag terkadang sangat ekstrem apalagi dinding rumah


Putri yang terbuat dari papan, angin dapat masuk dari mana saja.


“Tidak apa-apa, Ibu. Di rumah biasanya saya menggunakan pendingin ruangan. Saya suka tempat yang dingin.” Vian beralasan, dia ingin terlihat tidak keberatan dengan keputusan yang Parman ambil.


“Baiklah, kalau kamu tidak keberatan, Nak Vian. Lalu bapak itu...,”


“Saya akan tidur di mobil Nyonya, jangan khawatir.”  Sahut Bimo dengan penuh hormat.


“Jangan sungkan, Nyonya. Anda adalah besan dari Nyonya Besar, saya harus menghormati anda selayaknya saya menghormati Nyonya Besar.” Ujar Bimo ramah, lelaki setengah baya itu tersenyum kepada Marni.


***


Acara makan malam pun telah lewat. Vian merasa luar biasa dapat makan di tengah keluarga Putri. Adik-adiknya juga menerimanya dengan baik. Keluarga Putri hangat, Vian bisa membayangkan, betapa bahagianya Putri


memiliki mereka semua. Vian teringat kepada kedua orangtuanya, dan berharap, seandainya mereka masih ada, tetapi kenyataannya, mereka telah kembali untuk selamanya.


Udara malam kian menusuk. Kasur tipis tanpa selimut, hawa dingin itu merasuk melalui pori-pori kulit Vian. Dia merasa akan menggigil sebentar lagi. Seandainya ada Putri, mungkin dia akan merasa sedikit hangat.


Dia harus kuat, dia tidak bisa menunjukkan kelemahannya. Vian memaksa menutup kedua matanya, sementara hawa dingin itu hampir menguasai seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Putri juga tidak bisa memejamkan kedua matanya. Hampir tengah malam, dia yakin seluruh keluarganya telah tidur. Putri tidak bisa membiarkan Vian tidur seorang diri di ruang tamu. Sekarang, lelaki itu pasti


sedang kedinginan.  Wanita itu keluar dari kamarnya, memeriksa ke seluruh ruangan untuk memastikan keluarganya telah tidur, terutama ayahnya. Lalu, dengan langkah perlahan, Putri menghampiri Vian


yang meringkuk di ruang tamu. Dia merasa iba dengan keadaan Vian sekarang, karena dirinya, Vian sampai rela kedinginan seperti sekarang.


“Sayang, bangun. Ayo pindah ke kamarku.” Bisik Putri sangat pelan, takut Parman terbangun dan menangkap basah mereka berdua. Vian berbalik, rasanya badannya benar-benar membeku karena hal ini.


“Sayang, nanti kamu ketahuan sama ayah, sudah kamu balik lagi saja ke kamar, aku baik-baik saja di sini.” Vian kembali meringkuk, dia yakin akan kuat sampai pagi tiba. Tapi, melihat itu Putri tidak bergeming, dia


justru menangis sesenggukan karena Vian menolak ajakannya, membuat lelaki itu bangun dan duduk.


“Jangan menangis, kamu kenapa, sih? Aku kan sudah bilang aku baik-baik saja di sini, jadi nggak perlu khawatir.”  Vian menggenggam tangan Putri erat, di kecupnya punggung tangan wanita itu lama.


“Tapi aku kangen sama kamu, Vian. Nggak bisa tidur kalau nggak meluk kamu.”  Rengek Putri dengan


manjanya.


“Bilang kalau kamu kangen. Ya sudah, yuk aku temenin kamu tidur.” Vian bangkit dari duduknya, mengikuti langkah Putri masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu segera mengunci kamarnya, sementara Vian, dia segera


merebahkan dirinya ke kasur, rasanya sedikit lebih hangat di bandingkan tadi.


Putri segera naik ke atas ranjang, menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut lalu di dekapnya tubuh Vian yang dingin, lelaki itu juga membalas memeluknya erat-erat.


“Vian, maafin bapak, ya. Bapak mungkin cuma mengetes kamu, tapi caranya sedikit kejam.” Bisik Putri.


“Nggak apa, aku nggak marah, kok. Wajar kalau bapak seperti itu, apalagi kamu sepertinya anak kesayangannya. Sekarang kita tidur, yuk. Aku yakin, besok pagi bapak pasti akan kasih tugas lagi.” Vian menghembuskan napas


perlahan. Hari ini dia sangat lelah sekali.

__ADS_1


“Berikan aku ciuman di sini, baru boleh tidur.” Putri menyodorkan bibirnya, Vian mengecupnya singkat, tidak berepa lama, lelaki itu terlelap karena kelelahan.


__ADS_2