
"Jadi kamu harus ke Malaysia?" butiran-butiran bening menggantung di mata Putri saat Vian memberitahukan perihal kepergiannya ke Malaysia.
"Aku hanya sebentar saja, Sayang. Aku janji nggak akan lama. Setelah semua urusanku di sana selesai, aku akan segera pulang. Jangan menangis. Cup, cup." Vian menghapus air mata yang mulai membasahi pipi Putri dengan kedua ibu jarinya. Ia mengecup kening Putri cukup lama lalu berpindah ke bibirnya.
"Jika Kamu pikir, perpisahan ini hanya berat bagimu, Kamu salah, Sayangku. Aku juga berat untuk meninggalkanmu, tetapi ini untuk perusahaan, untuk masa depan kita. Kamu percaya kan, padaku?" Vian menatap kedua bola mata Putri bergantian. Berharap wanita di hadapannya itu mengerti keadaan yang sedang di hadapinya sekarang. Perlahan, Putri akhirnya mengangguk.
Kalau bukan karena tugas akhir, mungkin Putri juga sudah ikut Vian. Wanita itu segera tersadar, ini bukan saatnya ia bermanja. Di saat terpuruk seperti ini, Vian pasti sangat membutuhkan semangat darinya. Mendadak, ia memeluk Vian erat.
"Jangan khawatirkan aku. Aku hanya kaget karena kamu tiba-tiba bilang akan pergi. Aku pasti akan menunggu sampai kamu kembali." katanya setengah berbisik. Putri menahan air matanya agar tidak sampai jatuh. Dia ingin meyakinkan Vian kalau dirinya akan baik-baik saja meskipun lelaki itu meninggalkannya.
"Terima kasih, Sayang. Aku akan tenang kalau kamu mendukungku seperti ini. Setelah aku pulang nanti dan kamu sudah wisuda, kita akan pergi bulan madu lagi. Kali ini, bulan madu ini benar-benar milik kita. Kamu mau, kan?" kata Vian lembut sambil membelai rambut Putri perlahan. Angin yang berhembus di balkon membuat rambut wanita itu beterbangan. Putri mengangguk.
"Bagaimana aku bisa menolakmu, bayi panda imutku." Putri menarik kedua pipi Vian sambil mengguncangkannya.
"Sayang, malam ini aku mau kita itu...," Vian memberi kode terhadap istrinya. Putri pura-pura tidak mengerti maksud dari kodenya.
"Mau apa? Mau makan?" tanyanya dengan ekspresi meyakinkan.
__ADS_1
"Bukan. Mau itu, seperti biasanya." kodenya lagi.
"Apa sih biasanya? Mau minum teh? Oh iya, dingin-dingin seperti ini kamu pasti mau minum teh kan? Sebentar, aku buatin buat kamu." Putri beranjak pergi, tetapi Vian segera menariknya ke pelukannya lalu menggendongnya masuk, tidak peduli dengan Putri yang meronta ingin di turunkan.
"Kamu sebenarnya beneran nggak tahu atau pura-pura sih, Sayang? Kamu sengaja buat aku menunggu? Kamu tahu konsekuensinya apa kalau kamu buat aku menunggu?" goda Vian, Putri membatu, dia tidak tahu harus berkata apa. Sekarang tubuh Vian sudah berada di atasnya dan menguncinya dengan kedua tangannya.
"Em.., itu, anu, aku nggak bermaksud...," melihat Putri yang gugup, Vian segera membekap bibir wanita itu dengan kecupan-kecupan kecil, kemudian kecupan itu berubah menjadi lebih intens, bibir mereka saling bertautan satu sama lain.
Putri tidak bisa menolak. Dia memilih menikmati perlakuan Vian dengan mengalungkan tangannya di leher jenjang suaminya. Matanya pun terpejam menikmati setiap sentuhan yang Vian berikan.
Mengetahui Vian melemah, Putri balik menyerang lelaki itu, posisi mereka kini tertukar, Putri yang memimpin permainan. Dia menikmati kembali bibir Vian selayaknya ia memakan lolipop, lalu ia perlahan mengendus telinga dan leher lelaki itu. Wangi parfumnya masih melekat di sana, Putri menjadi semakin gemas. Wangi parfum itu menarik dirinya untuk lebih berani.
"Ma-maaf, aku hanya gemas karena bau parfum kamu, Sayang. Maaf." Wanita itu tampak merasa bersalah, tetapi sebaliknya, Vian justru tersenyum.
"Tidak apa. Aku memang sengaja memakai parfum khusus itu untuk menarik gairahmu. Teruskan Sayang. Aku mau malam ini kamu melakukan apa yang kamu mau. Jangan malu, kita sudah sama-sama tahu, bukan?." Vian menatap Putri penuh hasrat. Ia tidak peduli dengan lehernya yang sedikit terluka karena gigitan istrinya.
"Jadi kamu sengaja menggodaku? Dasar nakal!" Putri melepas satu per satu kaitan kancing baju Vian dengan cepat. Vian hanya pasrah, malam ini, dia menyerahkan dirinya di hadapan Putri.
__ADS_1
Malam ini Putri lebih berani mengekspresikan diri di hadapan Vian. Wanita yang biasanya sedikit malu-malu itu memimpin permainan dengan sangat baik. Vian suka melihat sisi lain dari istrinya.
"Untuk ke depannya, jangan menahan diri lagi, Sayang. Aku suka kamu yang sekarang, tapi bukan berarti aku tidak suka kamu yang biasanya. Malam ini, kamu sungguh luar biasa." ungkap Vian sedikit terbata karena Putri yang terus bergerak di atas dirinya.
"Sebenarnya aku malu seperti ini, tetapi ada sesuatu yang menarikku untuk lebih berani. Aku senang kamu menyukainya. Aku tidak ragu lagi untuk melakukannya." Putri mempercepat ritmenya, ia merasakan desakan dari dalam dirinya yang akan segera melesat keluar.
Tidak sampai di situ saja. Kegiatan ranjang mereka masih berlanjut hingga beberapa kali berganti posisi. Mereka berdua membiarkan pintu balkon tetap terbuka dan menjadikan angin malam sebagai penyejuk ruangan yang terasa panas meskipun telah memakai pendingin.
Di pagi harinya, Putri terkejut saat mendapati dada suaminya di penuhi banyak sekali noda merah kehitaman. Wanita itu memutar kembali ingatannya tentang semalam. Putri menggigit ujung selimut yang menutupi dirinya karena malu. Vian melakukan pergerakan, sepertinya lelaki itu akan bangun. Putri cepat-cepat memunggunginya agar lelaki itu mengira dirinya masih tidur.
Tapi semua tidak sesuai harapannya. Vian memeluknya dari belakang. Jantung Putri berdetak cepat. Dia panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia mengutuk dirinya yang terlalu nakal semalam.
"Kamu mau menghindariku setelah membuatku seperti ini, Sayang? Kemana macan cantikku yang beringas semalam? Apa kamu sudah kembali menjadi anak kucing, Sayangku?" tanyanya setengah menggoda. Vian menggingit kecil telinga Putri. Wanita itu semakin malu.
"Vian, jangan menggodaku. Semalam aku tidak percaya bisa sampai membuatmu seperti itu. Maaf." katanya tanpa menoleh ke arah Vian. Putri belum cukup berani untuk menatap suaminya pagi ini.
"Kenapa kamu harus minta maaf? Aku bilang aku menyukainya. Omong-omong, ini hari libur, bagaimana kalau kita berendam di bathup, menikmati wangi sabun lavender dan air hangat. Sepertinya itu sangat menenangkan, Sayang. Kamu bersedia?" bisik Vian. Lembut, sangat lembut. Putri merasa hari ini dan semalam Vian menjadi dirinya yang lain.
__ADS_1
"Sepertinya, aku menolak pun, kamu akan tetap memaksa. Kalau begitu, biarkan aku menyiapkan airnya. Kamu tunggu di sini dulu." Putri segera memakai asal kimono tidurnya lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.
Vian tersenyum melihat tingkah Putri yang selalu menggemaskan di matanya. Bagaimana dirinya bisa tenang nanti saat berada di Malaysia? Vian menarik rambutnya sendiri karena bimbang.