
Mengetahui cucu dan cucu menantu kesayangannya akan pulang, nenek mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin akan di perlukan oleh mereka, salah satunya mengganti suasana kamar mereka menjadi lebih romantis. Semua seprai dan selimut di gantikan dengan yang baru.
Nenek tua itu berharap ada perkembangan yang membuatnya bahagia saat mereka berdua tiba di
rumah. Wanita itu juga sangat merindukan bubur buatan Putri, biasanya setiap pagi gadis itu selalu memasakkannya semangkuk bubur yang menggugah selera, tetapi beberapa hari semenjak
kepergiannya, Nenek belum merasakan makanan yang dapat mengembalikan selera makannya.
Meskipun Putri seorang yang sederhana, tetapi nenek merasa sangat nyaman seperti sudah sangat mengenal Putri dengan baik. Melihat Vian dan Putri yang selalu berusaha akur saat berada di hadapannya, membuat wanita tua itu tersenyum. Ia hanya bisa pura-pura tidak mengetahui tentang apapun.
Wanita tua itu memutuskan untuk bersantai di kursi goyang klasiknya. Ia tenang setelah memastikan semuanya sesuai dengan apa yang ia inginkan. Tidak lupa ia mengingatkan Bimo agar tidak terlambat menjemput Vian
dan Putri. Nenek sangat antusias menantikan kepulangan mereka.
“Nenek...” Seorang wanita yang baru saja muncul dari pintu berlarian kecil menghampiri nenek dan memeluk wanita itu. Tidak banyak yang tahu nama wanita tua itu, sebab ia jarang mengungkapkan namanya karena
menurutnya namanya menggambarkan sosok wanita muda. Sebenarnya nama nenek Vian adalah Dewi Rosmala.
“Atika, kau sudah sampai rupanya... “ nenek mengusap puncak kepala Atika saat gadis itu mencium punggung tangan Nenek Dewi.
“Iya, Nek. Begitu Om Bimo bilang nenek memintaku untuk datang ke sini aku langsung pergi kemari. Kapan Bang Vian dan Kak Putri pulang?” tanya Atika sambil meletakkan beberapa makanan bawaannya ke meja makan.
“Mungkin besok pagi, biasanya kalau sampai ke Indonesia dini hari, Vian akan memilih mencari hotel di sekitar bandara, apalagi perjalanan mereka cukup panjang. Malam ini kamu menginap saja di sini, nenek ingin besok pagi kamu menyiapkan makanan khas penyambutan keluarga kita.” Nenek mengatakan itu semua dengan rona wajah gembira. Atika dapat melihat, bagaimana kehadiran Putri mampu mengembalikan keceriaan di wajah neneknya.
“Wah... nenek ceria sepertinya semenjak ada Kak Putri, nenek seneng banget ya, punya cucu menantu sebaik Kak Putri? Aku sudah ngobrol sama dia di kantor, orangnya asik, dan juga sangat sopan, murah senyum lagi,
pokoknya betah berlama-lama dekat dengannya.” Nenek memandang Atika dengan senyum lebarnya, ia tidak menyangka Atika juga sangat menyukai Putri. Memang gadis itu mampu merebut perhatian siapapun yang ada di dekatnya, hanya saja Vian yang belum terbuka mata hatinya untuk menyayangi Putri dan memperlakukannya
layaknya istri yang sebenarnya. Meskipun sebenarnya yang neneknya inginkan itu sudah tercapai sekarang, tetapi wanita tua itu belum mengetahuinya.
__ADS_1
“Semenjak ada Putri, aku memang merasa auh lebih baik. Perangai Putri yang lemah lembut mengingatkanku pada ibunya Vian. saat pertama kali melihatnya, aku merasakan kehangatan dari anak itu. Bahkan, aku percaya kalau dia mampu menyayangi dan menjaga abangmu lebih baik dari pada aku.” Nenek menghentikan aktivitas merajutnya dan berjalan menuju sofa tempatnya bersantai yang letaknya tidak begitu jauh dari meja makan lalu beliau duduk di sana.
“Mereka memang pasangan serasi. Satunya cantik, satunya lagi ganteng, apalagi Kak Putri cantiknya
alami, beda dengan Vanessa si Ratu Dempul itu.” Atika menghidangkan secangkir teh favorit neneknya lalu ikut
bergabung duduk di samping wanita tua itu.
“Daripada itu, selain wajahnya di dempul, prilakunya juga di dempul, di depan Vian dia selalu seperti malaikat, padahal diam-diam dia mempermainkan cucu kesayanganku.” Nenek tampak sangat geram. Sedikit banyaknya,
nenek tahu bagaimana kelakuan Vanessa di balik layar. Itu yang menyebabkan nenek menolaknya berulang kali.
“Ahaha, nenekku ternyata bisa melawak juga. Sepertinya sampai sekarang Vanessa masih mengejar
Bang Vian.” Atika tampak menduga-duga.
bisa tiba-tiba memberitahukan semuanya pada Vian, karena dia pasti tidak akan
percaya kalau belum mengetahui fakta itu dengan mata kepalanya sendiri” nenek tampak sangat gusar, ia meraih cangkir teh yang ada di meja, lalu menyeruputnya perlahan.
“Sudahlah, Nek. Langkah nenek untuk menahan mereka di sini sudah baik. Aku yakin, Bang Vian dan Kak Putri lama kelamaan akan saling jatuh cinta, kita hanya perlu sedikit bersabar, Nek.” Atika meraih tangan neneknya dan bersandar di bahu nenek kesayangannya itu. Sama dengan nenek, Anita juga mengetahui pernikahan Vian dan Putri bukan yang
sebenarnya.
“Kamu benar, Atika. Akan tiba hari dimana akhirnya Vian dan Putri saling jatuh cinta.” nenek kembali terlihat semangat. Sebagai seseorang yang telah merawat Vian sejak kecil, Nenek Dewi tidak ingin cucunya
jatuh ke tangan yang salah. Perempuan itu mengharapkan Vian mendapatkan pasangan yang tidak hanya mencintai uangnya.
Sejak kecil, Vian anak yang mandiri. Ia selalu berusaha meraih segala impiannya dengan caranya sendiri. Meskipun sedikit keras kepala, tetapi Vian adalah anak yang gigih dan tidak mudah menyerah. Berulang kali ia gagal, berulang kali pula ia bangkit. Akan sangat tidak adil, jika Vian telah di posisinya yang sekarang tetapi di
__ADS_1
hancurkan oleh seseorang yang mengambil keuntungan.
Sementara itu...
Vian melihat Putri mulai kelelahan dan mengantuk. Berkali-kali, ia tertunduk karena tidak tahan menahan kantuknya. Vian tersenyum mengetahui hal itu, sejak kapan jelasnya ia tidak tahu, tetapi akhir-akhir ini
apapun tentang Putri selalu tampak menarik.
“Put...” panggil Vian dengan sedikit berbisik karena takut
mengagetkan Putri yang telah terlelap.
“Hmm...” Putri menengok dengan matanya yang sudah susah untuk di buka.
“Sandarkan kepalamu di sini..” perintah Vian sambil menepuk-nepuk bahunya pelan.
Putri yang sudah di kuasai rasa kantuk hanya menurut apa yang Vian katakan, ia menyenderkan kepalanya di bahu Vian dan mulai terlelap. Vian mengecup singkat dan pelan kening Putri. Ia tidak mengerti mengapa ia
melakukan itu, Vian hanya ingin memperlakukan Putri dengan lembut. Saat di dekat Putri, ia selalu saja gagal mengontrol dirinya untuk tidak menyentuh wanita itu.
Put, kalau saja waktu kita bertemu lebih cepat, aku pasti akan lebih memilihmu. Saat bersamamu, aku menyadari banyak hal, kamu mampu membuat setiap orang yang berada di dekatmu merasa nyaman. Bahkan, nenek tampak
sangat bahagia semenjak kehadiranmu. Sesungguhnya aku menyadari satu hal, aku mulai menyukaimu. Tapi aku minta maaf, Putri... aku hanya bisa melakukan ini untukmu, aku hanya bisa selalu berusaha untuk menjagamu, walau bagaimanapun, aku tidak bisa melepaskan Vanessa begitu saja. Maafkan aku. Batin Vian.
“Sangat nyaman..” gumam Putri, gadis itu masih terlelap, kedua tangannya memeluk lengan Vian.
“Kelinci kecil, mengigau saja kamu sangat imut..” Vian mengusap kepala Putri dan mengecup puncaknya
sekali lagi.
__ADS_1