Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 21


__ADS_3

“Mak...” seorang anak lelaki merengek pada ibunya yang sedang menanak nasi di tungku yang terbuat dari bebatuan sungai yang di susun. Beliau


nampak kumal dan berkeringat, mulutnya tengah meniup api dengan potongan bambu


kecil. Asap mengepul karena kayu yang untuk memasak setengah basah. Atap serambi


belakang rumah mereka yang bolong-bolong membuat kayu tidak terlindungi dan terkena


tetesan air hujan yang masuk melalui celah-celah yang bocor.


Marni, adalah nama wanita yang telah mengandung dan melahirkan Putri. Wanita itu berusaha tegar menghadapi kehidupannya yang jauh


dari kata mewah. Ia selalu menjalankan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga di


tambah lagi harus bekerja sebagai buruh cuci meskipun seringkali kakinya terasa


sakit. Ketegaran Marni menurun pada anaknya, dari beliaulah, Putri memiliki tekad yang kuat untuk kuliah sekaligus bekerja dan membantu meringankan beban keluarganya.


“Ada apa, Nak..?”  Marni menghentikan aktivitasnya dan memandang ke arah anaknya sejenak.


“Tadi di sekolah, Adit di tagih uang SPP sama Bu Guru.  Udah nunggak lima bulan, kalau bulan ini


tidak di bayar, Adit tidak boleh ikut ujian.”  Anak lelaki yang bernama Adit itu adalah adik Putri yang masih duduk di bangku SMP. Kehidupan mereka memang sangat sulit, semuanya serba kekurangan.


Uang kiriman dari Putri telah habis untuk membayar hutang, makan sehari-hari dan untuk menebus obat ayahnya yang sakit-sakitan. Di tambah lagi,


gaji ibunya sebagai tukang cuci yang tidak seberapa.  Putri masih memiliki dua adik lainnya, satu


masih SD dan satu lagi masih balita.


Mendengar penuturan Adit,  Marni berkaca-kaca. Ia tidak memiliki uang untuk membayar tagihan SPP


itu. setelah apinya akhirnya menyala, wanita itu menghampiri anaknya yang tengah duduk di balai-balai yang terbuat dari bambu tidak jauh dari tempatnya memasak. Memegang kedua bahunya, dan menatap anaknya lembut.


“Besok, kamu bilang sama Bu Guru, uang SPP-nya sedang mak usahakan. Kamu jangan sedih ya, Nak. Maafkan makmu, sekarang mak belum punya


uang. Mak akan cari pinjaman nanti, atau nanti mak tanya sama kakakmu, siapa tahu dia punya simpanan. Mak sebenarnya tidak tega, selalu menyusahkan kakakmu...” Marni menitikkan airmata, ia menggunakan  bajunya yang  telah memudar warnanya itu untuk menyeka airmatanya.


“Maafkan Adit, Mak. Adit belum bisa bantu Mak, selalu nyusahin Kak Putri juga. Nanti, kalau Adit sudah besar, udah lulus sekolah, Adit akan kerja buat bantuin Mak...”  Adit ikut menangis dan memeluk ibunya erat. Perlahan Marni melepaskan pelukan anaknya.


“Ya sudah, jaga adikmu, lagi tidur. Nasinya juga jangan sampai gosong, emak mau ke rumah Kak Bagus, minta tolong telepon kakakmu.” Pesan Marni sebelum keluar rumah menemui Bagus, anak tetangganya yang baik hati dan selalu


membantunya terhubung dengan Putri.

__ADS_1


“Iya, Mak.” Jawab Adit patuh.


Sesampainya di rumah Bagus...


“Mak Marni, masuk mak, mau telepon Putri? “ sambut Bagus ramah. Dia dan keluarganya memang sangat dekat dengan keluarga Putri, Bagus


juga teman masa kecil Putri.


“Iya, Gus. Maaf ya, emak selalu ngerepotin kamu. “ Marni duduk di sebuah kursi kayu ukiran yang ada di dalam rumah Bagus. Keluarga bagus termasuk berkecukupan dan cukup terpandang di kampung tempat orangtua Putri tinggal.


“Tidak apa-apa, Mak.  Sebentar...” Bagus segera mencari kontak Putri dan menekan tombol


panggil.


Tuuuut...tut...tut...


Tanda panggilan tersambung terdengar nyaring karena Bagus mengaktifkan fitur loudspeaker.


“Hallo, Gus..”


“Hallo, Put. Ini, emakmu mau bicara.” Bagus menyerahkan


ponselnya ke Marni.


merindukan Putrinya. Telah lama, Putri tidak pernah kembali karena menghemat biaya.


“Putri sehat, Mak. Aku juga sudah makan siang. Mak, sudah makan?”  suara Putri terdengar ceria di sana. Samar-samar terdengar  televisi.


“Syukurlah. Kamu sedang sibuk bekerja? Apa  emak mengganggu?”  Marni khawatir menganggu jam kerja anaknya.


“Tidak, Mak. Aku bisa kerja sambil menerima telepon dari emak. Ada apa? Ada hal penting?”  Putri menangkap ada hal yang ingin di


bicarakan oleh mamanya.


“Begini, Adit minta uang SPP, mak belum punya uangnya. Bulan ini harus di bayar, kalau tidak, adikmu tidak bisa ikut ujian. Apa kamu masih


punya tabungan? Kalau tidak ada, tidak apa-apa, emak bisa cari pinjaman dulu,” Marni bicara dengan hati-hati, ia sadar, selalu menyusahkan Putri.


“Mak tenang, Putri akan usahain uang SPP Adit. Bagaimana bapak? Udah sehat?”  Putri tetap menampakkan keceriaannya, meskipun sebenarnya ia cukup cemas, apakah ia bisa mendapatkan uang untuk membayar sekolah adiknya.


“Bapakmu sudah membaik. Dia hanya harus selalu kontrol dan minum obat dengan teratur.  Maafkan emak, Put... emak selalu menyusahkan Putri, tidak bisa memanjakan Putri seperti orangtua yang lainnya.”  Marni kembali terisak. Sebagai orangtua, Marni ingin sekali membahagiakan anak-anaknya, tapi kemiskinan membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.


“Sudah, emak tidak usah memikirkan Putri, di sini Putri sudah bahagia, Putri bangga punya ibu

__ADS_1


seperti Emak.”   Putri berusaha membesarkan hati ibunya,  ia tidak ingin ibunya terus-terusan meratapi kenyataan hidup yang tengah mereka jalani saat


ini.


Mereka terus mengobrol hingga beberapa saat, sebelum akhirnya Putri harus mengakhiri  panggilannya karena mendengar suara Vian yang memanggil namanya.


Di rumah Vian...


Putri yang menerima panggilan dari Bagus di balkon segera menemui Vian yang tegah bersiap untuk kepergian mereka esok hari ke Paris di


dalam kamar.


“Ada apa, Vian?” Putri segera menanyakan tujuan Vian memanggilnya.


“Besok, kita akan berangkat bertiga. Aku mengajak Vanessa, aku harap, kamu tidak merasa keberatan.”  Putri tidak sedih mendengar pernyataan Vian, tetapi, wanita itu juga tidak merasa senang. Tetapi, lagi-lagi ia sadar, bahwa dirinya hanyalah orang


yang sedang bekerja sebagai istri bayaran, istri kontrak.


“Aku tidak keberatan dan tidak punya hak untuk keberatan. Tapi, sebelum kita pergi, apa aku boleh meminta tolong padamu?” Putri menatap Vian


dengan tatapan menghiba,  pria itu adalah


harapan terakhirnya,


“Bagus, aku suka kamu setuju aku membawa kekasihku ikut serta. Jadi, bantuan apa yang kamu butuhkan saat ini?”  Vian berbicara sambil mengecek, apakah ada barangnya yang tertinggal atau tidak.


“Aku sedang butuh uang untuk ku kirimkan pada keluargaku di kampung, bisakah kamu meminjamkanku sejumlah uang?”  Putri sedikit ragu, tetapi ia mencoba untuk optimis. Ia harus mendapatkan uang itu hari ini.


“Beri aku nomor rekeningmu.”  Vian menyodorkan tangannya seperti sedang meminta sesuatu. Putri lega karena Vian mengabulkan permintaannya. Ia segera


mencari nomor rekening yang ia simpan di ponselnya dan menyerahkan ponselnya untuk di lihat oleh Vian.


Vian segera mencatat nomor rekening Putri dan menyerahka kembali ponsel gadis itu kepada pemiliknya.


Ting..


Notifikasi M-banking masuk ke ponsel Putri, saat gadis itu membukanya ia sangat terkejut, Vian mentransfer uang ke rekeningnya sebanyak


lima belas juta. Jumlah uang yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.


“Apa itu cukup?”  tanya Vian santai seolah uang sebanyak itu bukan masalah baginya.


“Ini terlalu banyak, Vian. Aku akan transfer kembali..” Putri merasa tidak enak terhadap Vian

__ADS_1


“Tidak perlu. Anggap saja itu adalah hadiah dariku karena aku sedang bahagia.” Vian pergi keluar kamar begitu saja meninggalkan Putri yang masih tidak percaya. Ia kemudian mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening bagus dan menelepon balik sahabatnya untuk menyampaikan beberapa pesan.


__ADS_2