
Di rumah Raihan...
Suasana rumah Raihan tidak pernah sunyi dari suara lagu-lagu bertemakan islami. Semua itu karena kedua orangtuanya telah menunaikan ibdah haji, terlebih ayahnya di kenal sebagai ustadz oleh warga sekitar. Itulah kenapa, saat SMP dan SMA Raihan menghabiskan belajarnya di pondok pesantren.
Dalam hal pacaran, bisa di bilang Raihan sama sekali tidak mempunyai pegalaman. Orangtuanya melarang ia untuk berpacaran, jika memang sudah cocok, ia hanya di izinkan untuk langsung menikahi gadis pujaan hatinya. Itulah mengapa, ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Putri. Putri adalah gadis pertama yang berhasil
merebut hati Raihan.
Raihan cukup terkejut saat Putri bilang, dia harus cuti kuliah beberapa saat karena urusan pekerjaan. Berbeda dengan dulu, Putri lebih mementingkan kuliahnya di banding pekerjaan, tetapi Raihan mencoba memahami, bagaimanapun, Putri sudah bercerita banyak tentng keluargaya.
Karena sedang tidak ada kelas, di rumahnya Raihan di sibukkan dengan membaca beberapa buku yang tentu saja berhubungan dengan ilmu ke agamaan. Ia anak rumahan, jarang sekali keluar, meskipun sekedar berkumpul dengan teman-temannya, kecuali di saat yang penting dan mendesak. Meskipun bagi
orang lain membosankan, Raihan sangat menikmati kehidupannya.
“Raihan...” suara lembut ibunya memecah kesunyian dan konsentrasinya membaca.
“Iya, Umi, ada apa?” Raihan menutup bukunya dan meletakkannya kembali ke tempatnya. Lalu keluar
dari kamarnya.
“Umi mau bicara sama kamu, Nak. Mau menyampaikan amanah dari Abi. Duduk , Nak.”
Beliau ibu Raihan, namanya Aisyah. Seorang ibu rumah tangga yang sangat lembut dan memperhatikan keluarganya. Raihan adalah anak tunggal di keluarganya.
“Ada apa, Umi? Sepertinya sangat penting. Abi kemana? Kenapa bukan Abi yang menyampaikan langsung pada Raihan?” Raihan mencecar Aisyah
dengan beberapa pertanyaan setelah ia duduk di samping wanita yang telah melahirkannya itu.
“Abimu sedang ada musyawarah dengan beberapa sahabatnya. Abi memang ingin umi yang menyampaikan sama kamu, karena umi juga ingin melihat respon kamu yang sejujurnya seperti apa. abi takut kamu akan sungkan karena memang kamu kan dekatnya sama umi.” Aisyah memberikan pengertian kepada anaknya. Ia sangat berhati-hati saat berbicara dengan Raihan, karena tidak
__ADS_1
ingin sampai membuat anaknya tersinggung.
“Jadi begitu, baiklah Umi. Jadi apa yang ingin Umi sampaikan pada Raihan?” sedikitnya Raihan paham, kalau yang akan ibunya sampaikan adalah sesuatu yang sangat penting.
“Apakah kamu ingat dengan Anisa?” tanya Aisyah kemudian. Mata wanita itu memandang ke arah Raihan dengan tatapan lembut.
“Anisa anaknya Ustadz Zainal, Umi?” Raihan ingat sekali dengan gadis yang tengah di bicarakan oleh Aisyah. Anisa adalah teman sepermainan Raihan saat mereka masih anak-anak. Gadis itu merupakan anak dari sahabat ayahnya, usianya lebih muda tiga tahun darinya.
“Benar, Nak. Ternyata kamu masih mengingatnya dengan baik.” Aisyah tersenyum, lidahnya sedikit kelu untuk melanjutkan pembicaraan dengan Raihan. Menurutnya, pembicaraan ini cukup sensitif.
“Lalu, apa hubungannya, Anisa dengan pembicaraan kita, Umi?” Raihan benar-benar tidak paham kemana arah pembicaraan Aisyah.
“Abi dan Ustadz Zainal sepakat untuk menjodohkanmu dengan Aisyah, tetapi, umi akan dengar apa tanggapanmu, umi dan abi tidak akan memaksa kalau kamu tidak menyetujuinya.” Meskipun sedikit terbata dan penuh keraguan, Aisyah akhirnya dapat menyelesaikan kalimat
yang dengan susah payah ia rangkai.
“Umi, sebenarnya, aku telah memiliki seorang gadis yang aku sukai.” Ungkap Raihan jujur, dia tentu saja tidak akan pernah berbohong, apalagi kepada kedua orangtuanya.
“Jadi, kamu akan menolak perjodohan ini? Tidak apa, tidak perlu sungkan. Umi akan menyampaikan kepada abimu, beliau pasti akan mengerti.” Aisyah tidak marah, dia sangat menghargai kejujuran Raihan, mengingat telah banyak hal yang Raihan korbankan untuk memenuhi keinginan keduanya, kali ini, Aisyah tidak akan memaksa Raihan, jika memang ia tidak bersedia untuk di jodohkan.
“Tidak. Raihan tidak menolak perjodohan ini. Aku percaya, pilihan abi adalah yang terbaik, lagipula tidak ada ruginya menerima Anisa, bukankah
dia taat agama? Dia juga pernah belajar di pondok sama sepertiku. Anisa gadis yang cantik dan baik, aku cukup mengenalinya, Umi.” Raihan tersenyum
manis, dia sekali lagi menerima usulan orangtuanya.
“Lalu bagaimana kamu dan gadis yang kamu sukai itu?” Aisyah mengkhawatirkan perasaan Raihan saat ini, ia sangat mengerti kalau anaknya sangat baik dan penurut.
“Aku akan membicarakan ini padanya, Umi. Aku tahu, gadis itu juga menyukaiku, aku tidak akan pernah menggantungkan perasaan seseorang.
__ADS_1
bagaimanapun, berani memberi harapan berarti berani untuk mengambil keputusan.” Ujar Raihan mantap. Ia akan membicarakan perjodohannya kepada Putri, dengan begitu, gadis yang di sukainya akan mencari pria lain dan tidak lagi berharap
padanya.
“Kamu sangat berbesar hati, Nak. Lalu, bagaimana dengan perasaanmu,apa ini tidak menyakitkan untukmu? Bukankah, kamu mencintai gadis
itu?” sekali lagi, Aisyah ingin mengetahui kondisi perasaan anaknya.
“Umi, mencintai sesama makhluk, bukannya tidak boleh berlebihan? Jika tidak bisa bersama bukankah tidak berjodoh? Allah akan memberikan jodoh terbaik untukku dan mengobati luka hatiku seiring waktu, Umi juga percaya itu, bukan?” Raihan tersenyum, menyembunyikan rasa sakit yang
sebenarnya terasa di hatinya. Aisyah tahu, anaknya tidak sedang baik-baik saa, tetapi ia sangat menghargai keputusan Raihan untuk menerima perjodohannya dengan Anisa.
“Kamu anak yang taat, semoga Allah selalu melindungi setiap langkah hidupmu, Nak.” Aisyah mengusap kepala anaknya perlahan, matanya tampak berkaca-kaca. Wanita itu sangat beruntung, memiliki anak sepatuh Raihan.
“Amin. Terima kasih, Umi. Kalau begitu, Raihan lanjut belajar lagi.” Raihan melangkah kembali ke kamarnya setelah Aisyah mengiyakan
perkataannya.
Di kamarnya, Raihan duduk dengan lesu di kursi yang ada di depan meja belajarnya. Bayangan senyum Putri membayang di pelupuk matanya. Pada
akhirnya cinta pertamanya itu telah gugur mulai hari ini. Mau tidak mau, Raihan akan menghapus Putri dari ingatannya perlahan dan mulai memasukkan Anisa di hatinya.
“Maafkan aku Putri, aku tidak bisa memenuhi janjiku. Aku berharap ada seorang lelaki baik yang menjadi jodohmu. Meskipun ini cukup menyakitkan,
aku percaya Allah sudah menggariskan jalan yang terbaik untuk kita.” Gumam Raihan perlahan, ia lalu mengambil ponselnya, ia ingin menghubungi Putri, tetapi niatnya itu ia urungkan mengingat Putri yang sedang cuti karena pekerjaan, ia takut akan mengganggu jika menghubungi Putri sekarang.
“Sebaiknya, nanti saja aku menghubunginya. Saat dia telah kembali masuk kuliah, aku akan mengatakan semuanya.masalah seperti ini bukankah
memang lebih baik di bicarakan secara langsung?” gumamnya lagi, lalu kembali membuka buku yang belum selesai di bacanya dan hanyut di dalamnya.
__ADS_1